SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 163


__ADS_3

Kembali dari pusara sang Kakek dan Neneknya, Jio berdiri di balkon kamarnya. Kamar yang terakhir ia tempati sekitar empat tahun yang lalu. Berada di lantai tiga istana Michael.


Jio menatap lurus ke arah depan. Di kejauhan sana terlihat gedung bangunan menjulang tinggi. Bertuliskan Zilvenare International School. Sekolah terbaik dan termahal, bertaraf international.


Di sanalah hampir 10 tahun lalu dia mulai mengenal seorang gadis cantik bernama Virginia Brown. Putri seorang pengusaha bernama Irgee Brown.


Gadis itu, menghilang sejak dua tahun lalu. Nomor yang di janjikan tak dapat di hubungi kembali di tahun ketiga. Jio tak bisa lagi bertanya kabar saat ia mendapat kesempatan untuk berbicara dengan keluarga melalui saluran telepon. Yang hanya bisa dia dapatkan satu kali setiap tahunnya.


Sedangkan jauh di sebrang sanalah gadis itu tinggal. Terhalang oleh gedung sekolah. Ingin rasanya Jio melihat secantik apa Virginia sekarang, jika di lihat secara langsung.


Namun Daddy nya melarang untuk meninggalkan rumah. Karena bahaya masih mengintai mereka semua. Sedangkan esok ia harus kembali ke kuil. Kembali menempa ilmu - ilmu yang belum ia dapatkan.


Hal itulah yang membuatnya urung menghubungi nomor Virginia. Sepanjang di istana Xavier, ia hanya mengotak - atik ponsel yang lama ia tinggalkan. Mencari tahu tentang kehidupan Virginia sekarang sembari mentransfer data - data atau kenangan penting.


Di tangan satunya, ponsel keluaran terbaru sudah di berikan oleh Chania untuk sang putra.


Pergi empat tahun lalu, saat sebuah aplikasi pertemanan belum tercipta, dan kembali hadir saat aplikasi itu sudah di perkenalkan selama dua tahun terakhir, tak membuat anak jenius seperti Jio kesulitan memainkannya.


Melalui aplikasi berbagi aktivitas melalui media sosial, Jio berhasil menemukan sebuah nama. Nama yang sangat ia cari dan sangat ia rindukan.


Ia usap kalung naga yang selalu menggantung di lehernya. Ia juga berulang kali mengusap beberapa foto yang di pajang di sana. Virginia kecil tumbuh semakin cantik. Rambutnya tetap terlihat sama namun lebih panjang dari saat mereka berpisah.


Berbagai foto dengan gaya dan background berbeda - beda, memperlihatkan jika gadis itu senang berbagi aktivitas di media sosial.


Bisa saja Jio berkomentar, ataupun mengirim pesan sebagai tanda bahwa dia ada. Tapi sekuat hati Jio menahan diri. Ia tak bisa muncul begitu saja. Ia bahkan harus menggunakan data palsu untuk mendaftar dan bisa melihat deretan foto Virginia.


Foto terakhir yang di unggah memperlihat tanggal dua hari yang lalu. Dimana Virginia tampak bersama seorang teman perempuannya sedang berada di sebuah mall. Berjalan - jalan santai ala gadis remaja.


Jio dapat melihat dengan jelas, jika gelang yang ia berikan masih melingkar di pergelangan tangan kiri Virginia.


Jio selalu tersenyum saat melihat gelang pemberiannya masih di pakai oleh gadis cantik itu.


"Aku tidak akan pernah melepas kalung ini, Nia.." lirih Jio.


***


Di kamar remaja satu lagi, Georgia Xavier Sebastian. Gadis itu membuka sebuah kotak yang ia simpan empat tahun yang lalu. Tersenyum melihat sesuatu yang sudah lama ia simpan secara diam - diam.


Anak remaja memang penuh rahasia.


"Dimana dia sekarang?" gumamnya lirih.


"Jia!" suara memanggil bersamaan dengan suara ketukan pintu di kamar Jia membuat gadis 14 tahun itu segera merapikan kembali kotak yang baru ia buka.


"Ya, Mommy!" jawab Jia sudah membuka pintu.


Chania mencuri lihat ke arah dalam. Mencari tau apa yang di lakukan putrinya sedari tadi.


"Daddy menunggu untuk makan siang di bawah." ucap Chania dengan lembut.


"Ok, Mommy!" jawab Jia segera keluar dari kamarnya. Mengikuti langkah Mommy nya yang mendekati pintu kamar Jio.

__ADS_1


# # # # # #


Hanya satu hari untuk bisa tinggal, setelah empat tahun tidak menginjakkan kaki di kota Roma, Jia dan Jio harus kembali ke kuil. Jellow yang juga ikut pulang pun, juga harus kembali.


Kembali ke kuil, meninggalkan lagi negara kelahiran mereka dengan membawa asa baru. Untuk kembali menempa ilmu - ilmu baru.


Di sisi kota Roma, di sebuah kamar bernuansa pink muda, seorang gadis belia duduk di kursi belajarnya. Mengotak atik ponsel yang entah sejak kapan ia miliki.


Ia berusaha untuk menghubungi satu nomor yang ia catat. Namun selalu gagal tersambung. Karena suatu kecerobohan, membuat ponsel lamanya hilang dua tahun lalu.


Virginia, gadis cantik itu masih setia menunggu kembalinya Georgio Xavier. Laki - laki yang meninggalkan negeri empat tahun lalu.


Iseng ia membuka aplikasi berbagi foto miliknya. Dahinya berkerut saat melihat sebuah nama asing yang meninggalkan satu jejak merah pada lambang love.


Foto yang mendapat love itu menarik perhatian Virginia, lantaran itu foto saat ia masih berusia 10 tahun. Saat ia memakai seragam sekolah, dan menunjukkan gelang yang di berikan oleh Jio.


Ia buka sang pemilik nama, dan kosong. Tak ada satu hal pun yang memberi petunjuk resmi tentang siapa pemilik akun itu.


"Aku kira kamu, Jio..." lirihnya sendu. "Sudah empat tahun kamu pergi.. dan sudah dua tahun kita tak berhubungan sama sekali, semua itu karena kecerobohanku!" gumamnya.


"Akankah tiga tahun lagi kamu akan benar kembali?" Virginia terus bergumam. Mengungkapkan kegundahan, mengutarakan rindu yang tak pernah terjawab.


"Aku tidak tau tentang cinta, Jio... tapi aku selalu mengingat dan melihat mu di setiap hari ku..."


Virginia menghela nafas panjang. Remaja 14 tahun yang mulai mengerti bagaimana tertarik pada lawan jenisnya. Dan hanya satu nama yang selalu menjadi magnet akan perasaan itu. Ya, Georgio Xavier Sebastian.


Anak laki - laki pertama yang membuatnya memiliki sahabat lawan jenis. Dan membuatnya menunggu kembalinya sang lelaki.


# # # # # #


Tak lupa ia berpesan pada sang putra mahkota, jika saat genap 15 tahun nanti, Jio harus turun pada sebuah pertandingan tersembunyi. Ilegal dan nyawa adalah taruhannya.


"Istana di sadap!" desis Jack yang hari itu di tugaskan untuk menjaga keluarga Xavier.


"What!" pekik Chania.


"Nyonya Chania masuklah ke dalam ruang kerja Tuan Besar. Di sana aman! Antonio akan menjaga Nyonya!"


"Baiklah!" jawab Chania menarik tangan Sania untuk memasuki ruang kerja suaminya.


Tak lupa ponsel selalu ia bawa sebagai penerangan. Sekaligus memberi kabar pada sang suami tentang apa yang terjadi.


📞 "Aku dalam perjalanan!" seru Michael dari kejauhan.


Suasana istana Xavier semakin genting. Baru saja Antonio menutup pintu, suara ledakan terdengar dari luar rumah. Membuat Chania dna Sania berpelukan dalam gelap.


Jack bersama banyak anak buahnya segera keluar, menghalau pasukan musuh yang datang tanpa undangan.


"Siapa mereka?" desis Jack kejam. Menatap jauh dalam kegelapan.


Sosok tinggi besar, dengan baju perang khas negara China berjalan diantara gelap malam. Samurai panjang dan besar menempel pada punggung kokohnya. Banyak pasukan berjalan di belakangnya.

__ADS_1


Bom yang terdengar tenyata untuk menghancurkan gerbang istana Xavier. Sehingga pasukan musuh berhasil memasuki istana Xavier.


Seorang Jack Black tak akan gentar oleh gertakan musuh yang di rasa hanya serangan kecil.


Jack Black, bodyguard dengan kedudukan tertinggi itu akan memimpin perang malam ini. Karena Sang Tuan Besar belum kembali.


Tak ingin musuh semakin mendekat. Maka Jack arahkan para anak buahnya untuk maju. Mendekati musuh yang pantang mundur.


Sampai pada satu titik, Jack dapat melihat sosok tak asing yang pernah ia lihat. Ia melirik Noel yang ada di sisi kirinya.


"Mereka yang menyerang rumah Tuan Besar Frederick!" ucap Noel pada Jack. Noel yang ikut dalam misi penyelamatan masih bisa mengingat sosok itu.


"Hem.." Jack mengangguk dingin. Ia melirik leher musuh. Dimana hanya dengan mengandalkan sinar cahaya bulan, Jack dapat melihat ukiran tato di sana.


"Mereka kembali!" desisnya kemudian.


"Hahahaha!" tawa menggelegar dari pria bertato menyongsong malam itu. "Kami kembali untuk mu, Jack Black!" ucapnya dingin. Dengan sepasang mata memicing, menusuk ke dalam gelap. Namun terasa hanya sebuah sentilan untuk seorang bodyguard andalan seperti Jack.


"Kau mengenalku rupanya!" sahut Jack.


Jarak hanya menyisakan empat meter saja, saat keduanya memilih untuk berhenti. Di tempat yang luas itu, akan menjadi saksi pertumpahan darah malam ini.


"Kami datang untuk menawar nyawamu!"


"Sayangnya nyawaku tidak di perjual belikan pada orang sepertimu!" jawab Jack dengan gigi yang mengerat.


"Hemm.. benarkah?" sahut musuh tersenyum miring.


Tak menjawab, Jack hanya menebar aura dingin pada musuhnya.


"Kita lihat! masihkan esok kau bisa melindungi Tuan mu yang pecundang itu!"


"Beraninya kau mengatai Tuan kami pecundang!" seru Noel tak terima.


"SERRAAANGG!" suara sang pemimpin musuh memecahkan kesunyian malam.


Sontak semua maju, saling beradu samurai dan senjata masing - masing. Sedangkan Jack langsung mengincar pria yang menjadi pimpinan pasukan musuh itu.


"Siapkan alasanmu bisa mati di medan perang!" ucap Jack dingin.


"Kau lah yang harus bersiap meninggalkan istri cantikmu itu!" balas pria bertato itu.


"Hiiaaak!" suara Jack mendominasi saat ini. Menjadikan diri sebagai pemimpin yang harus bisa melindungi keluarga majikannya.


Sreettt!


Satu sayatan mengenai kulit putih berbalut baju hitam. Darah mengalir dari sana. Rasa perih menjalar hingga membuat yang terluka murka. Merasa diri tak boleh kalah, dan membuat sang penyayat menyesal.


...🪴 Happy Reading 🪴...


Ok guys! bocoran saja..

__ADS_1


Next episode kita akan lompat pada beberapa tahun berikutnya. Dan kita kembali beromansa. 🥰🥰🥰


__ADS_2