
Di janjikan akan di berikan kartu kredit perdana pada esok hari oleh sang ayah, tentu Gerald tak sabar menunggu hari esok. Beberapa hari setelah kepulangannya dari kuil, Gerald kembali menjalin kontak dengan banyak teman lamanya.
Apalagi di sekolah barunya nanti, ia akan kembali bertemu dengan beberapa di antara mereka. Terutama teman perempuan yang datang di aplikasi chat dengan sendirinya.
Beberapa tahun lalu sebelum ia berangkat ke kuil, ia sudah melirik satu teman sekolah yang cantiknya berbeda dengan yang lain. Hanya saja gadis itu cukup sulit untuk di dekati.
Semalam, ia berhasil mendapatkan nomor ponsel baru gadis itu dari anak lainnya. Setelah obrolan panjang, akhirnya janji pun di buat untuk bertemu saat hari pertamanya masuk sekolah dua hari lagi.
Di janjikan sang Daddy akan mendapat kredit card sebelum masuk sekolah perdananya, Gerald bersemangat untuk menjanjikan gadis itu sebuah hadiah pertemuan. Tentu saja demi merebut hati gadis cantik yang konon katanya berambut pirang kecoklatan seperti rambut sang Mommy.
Namun siapa sangka, ia baru saja melakukan kecerobohan, tanpa ia pikir panjang akibatnya nanti.
Secara tidak sengaja mengerjai sang Daddy, dan berakhir dengan gagalnya mendapatkan kartu kredit yang limitnya bisa membuat manusia normal melotot dan melongo. Namun bagi orang terkaya macam Michael Xavier, limit itu tentu terlihat biasa saja jika di berikan pada ABG labil seperti Gerald.
Masuk sekolah tinggal dua hari lagi. Sementara entah kapan Daddy Michael akan memberikan kartu kredit untuk dirinya. Lalu uang apa yang harus ia gunakan untuk membeli hadiah.
Uang di kantong mana cukup. Sebelum ia masuk sekolah ia sama sekali tak di beri uang. Meski begitu, ia tinggal berucap untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sebagai anak konglomerat, tentu malu jika hanya memberikan sebuah kado murahan. Meski tak semua anak perempuan melihat harga. Karena yang paling penting untuk mereka adalah ketulusan. Bukan sekedar rayuan gombal.
Di tengah kebingungan karena Kakak perempuannya ternyata mengalami hal yang sama, datanglah Kakak lainnya yang kehadirannya bagai malaikat penyelamat di tengah badai ****** beliung.
"Kak Jio.." sapa Gerald memasang wajah bersahabat dan sangat menggemaskan kaum emak - emak pastinya.
Namun bagi Jio, hanya dengan sebuah lirikan saja ia tau apa tujuan senyum sang adik bungsu.
"Hem?" tanya Jio menghentikan langkah di tengah - tengah ruangan.
"Kak! Kakak harus membantuku!" ucap Gerald menarik lengan Jio untuk duduk di sofa.
Dua lelaki beda usia 4 tahun itupun duduk berdampingan. Dan Gerald langsung melancarkan aksinya. Merayu sang Kakak agar bersedia membawanya ke mall terbesar di kota Roma, dan menemukan hadiah terbaik untuk gadis incarannya.
"Bukankah lelaki yang baik harus menepati janjinya?" rayu Gerald di ujung cerita.
Jio diam untuk sesaat, mengamati wajah adiknya yang memang terlihat pandai merayu. Ya, masa lalu seorang Michael Xavier di dunia wanita mungkin akan di ulang oleh Gerald Xavier.
Tidak mendukung, tidak pula melarang, Jio hanya akan memantau sepak terjang sang adik bungsu di dunia semacam itu. Toh pada akhirnya sang Ayah hanya mencintai satu wanita.
"Baiklah! Besok aku akan mengantarmu ke mall!" jawabnya kemudian berdiri tanpa banyak bicara lagi.
"Yeah!" seru Gerald meninju udara di atasnya.
Tenang sudah hati sang putra bungsu Tuan Mafia. Ia bisa tidur nyenyak malam ini. Bersama Jio besok, selain aman, ia juga bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.
***
Malam telah larut, di tengah sepinya rumah sakit terbesar di kota Roma, Xiaoli membuka matanya secara perlahan. Bodyguard tampan itu tersadar untuk pertama kali pasca operasi di kepalanya.
Melihat - lihat sekitar dengan menggerakkan kepalanya pelan. Lampu malam yang tak begitu terang, tetap menyala menerangi ruangan.
Ia melihat tempat tidur di sebrang pojok ruangan. Ada seorang lelaki berbadan kekar berbaring. Ia mengenal siapa dia. Salah satu bodyguard Black Hold.
Tenggorokan yang terasa sangat kering, membuatnya ingin segera menenggak air. Ia bangkit dari berbaringnya. Menggerakkan tubuhnya perlahan untuk bisa meraih gelas kaca berisi air di meja nakas.
Dua tegukan air berhasil masuk ke kerongkongannya. Saat ia meletakkan gelas, barulah bodyguard yang menjaganya terbangun.
"Xiaoli, apa yang kamu butuhkan?" tanya bodyguard berusia sekitar 40 tahun.
"Umh.. Sudah, Paman," jawab Xiaoli, "aku hanya ingin minum."
Bodyguard itu mendekati Xiaoli, "apa yang kamu rasakan? Kamu tidak amnesia, kan?"
__ADS_1
"Hah?" Xiaoli tak percaya mendapat pertanyaan macam itu. "Tentu saja tidak, Paman!" jawab sedikit tergelak.
"Baguslah! Sebaiknya kamu tidur lagi, Xiaoli!" ucapnya.
"Rasanya punggung ku terlalu sakit jika harus tidur lagi, Paman." jawab Xiaoli.
"Lalu apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya, "apa kamu lapar? Aku akan memesankan makanan untuk mu!"
"Hem.." jawab Xiaoli, meski sebenarnya ia tak terlalu lapar.
Bodyguard itu menghubungi nomor yang tertera di daftar buku telepon untuk memesan makanan.
Sementara Xiaoli masih dalam posisi duduk di brankar pasien.
"Bagaimana keadaan Nona Jia?"
"Nona Jia hanya luka - luka kecil saja."
"Apa Tuan Michael marah besar?"
"Tadi Tuan memang sempat marah pada Nona Jia. Semua fasilitas Nona Jia di tarik, mulai dari ATM, kartu kredit dan kebebasannya untuk berjalan - jalan dengan temannya."
"Kasian..." lirih Xiaoli, "ini adalah kesalahanku karena tidak bisa mentaati aturan yang di buat Tuan Michael." ucapnya kemudian.
Bodyguard itu pun hanya bisa menghela nafas berat.
"Paman?"
"Ya?"
"Tuan bilang padaku, jika aku gagal membahayakan Nona Jia, amka beliau akan menembak kepalaku!" ucap Xiaoli. "Kenapa aku justru di rawat disini? Bukankah seharusnya Tuan sudah menembak ku?"
"Mana aku tau, Xiaoli!" jawabnya, "sepertinya Tuan Besar sudah menimbang - nimbang, siapa yang salah dari insiden itu."
"Soal hukuman mati, sepertinya iya. Tapi untuk hukuman yang lain, sepertinya akan tetap ada!"
Menarik nafas panjang, dan menghelanya berat, "setidaknya hari ini aku belum mati." gumamnya kemudian.
Bodyguard 40 tahun itu menepuk pundak Xiaoli, "Aku sudah mengabdi pada Tuan Michael sejak 22 tahun lalu. Aku tau Tuan Besar sangat adil!"
"Hemm..." Xiaoli mengangguk, "aku juga sering mendengar cerita tentan Tuan Michael dari Ayahku!"
"Tadi Nona Jia ingin menunggui mu sampai kamu sadar, tapi Tuan Michael memintanya untuk segera pulang."
"Untuk apa?" tanya Michael memekik. Ia sungguh tak enak hati jika sampai Nona muda Xavier menungguinya di Rumah Sakit.
"Untuk meminta maaf padamu, katanya!"
"Hah!" pekik Xiaoli tak percaya. "Untuk apa Nona muda meminta maaf kepadaku! Melindunginya adalah tugasku!" jawab Xiaoli. "Sangat tidak pantas jika sampai aku mendengar kata - kata itu dari Nona Jia."
"Sedikit banyak Nona Jia menurun sifat Nyonya Chania. Mereka tidak akan ragu untuk meminta maaf kepada kita, jika mereka benar - benar merasa bersalah."
"Tapi bagiku, Nona Jia sama sekali tidak bersalah!" jawab Xiaoli, "dia hanyalah anak muda yang tidak sabar untuk bisa menikmati kehidupan seperti teman - temannya."
"Entahlah, Xiaoli. Sepertinya besok Nona Jia akan datang menemui mu lagi."
"Yaa Tuhan, apa yang harus aku katakan padanya kalau sampai Nona Jia datang?"
"Tenang saja! Itu hanya dugaanku. Belum tentu pula Nona Jia akan benar - benar datang. Karena Tuan membatasi kebebasan Nona Jia!" ucap bodyguard itu. "Harus pulang tepat waktu!" lanjutnya.
Xiaoli terdiam, memikirkan Nona muda Xavier yang mungkin saja masih merasa bersalah, dan benar - benar ingin meminta maaf padanya.
__ADS_1
' Aku tidak pantas mendapat kata - kata itu dari mu, Nona... '
Gumam Xiaoli dalam hati.
***
Jika di rumah sakit, Xiaoli sudah sadar dari tidur panjangnya. Maka di istana Xavier ada Tuan Besar yang sedang mencongkel pintu balkon kamarnya sendiri.
Berulang kali memanggil sang istri dari pintu kamar, namun tak menyahut sedikitpun. Penjaga lantai dua hanya bisa saling tatap saat melihat Tuan Besar mereka tidak di ijinkan masuk ke kamarnya sendiri oleh sang istri.
"Berhasil!" serunya lirih, saat pintu berhasil terbuka.
Kaki perlahan melangkah memasuki kamarnya yang sudah gelap. Melihat ke arah tempat tidur, di mana sang istri sudah terlelap seperti kerbau.
"Sudah tidur rupanya... Baguslah!"
Maka Tuan besar Xavier menyelinap memasuki selimut tebal yang di pakai oleh istrinya. Bergabung untuk menghabiskan malam berdua.
# # # # # #
Hari telah berganti, Jia terbangun dari tidurnya. Mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah. Dan jika bisa, ia akan menemui Xiaoli di Rumah Sakit. Ini adalah kesempatan untuknya bisa keluar rumah.
Bergegas, bahkan berkemas lebih cepat dari biasanya. Kini Nona muda Xavier sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.
"Tumben kamu rajin?" tanya Jio.
"Aku ada kuliah pagi, Kak!" jawab Jia.
"Hari ini kamu tidak akan kemana - mana!" sahut Michael tanpa melihat putrinya.
"What!" pekik Jia.
"Mommy sudah meminta izin supaya kamu tidak kuliah selama tiga hari!" sahut Chania. "Karena kamu sedang terluka!"
"Oh, my God! lama sekali! Tapi Jia tidak sakit, Mommy!"
"Kamu memang tidak sakit! Tapi kamu terluka!" jawab Chania.
"Intinya kamu tidak boleh kemana pun selama tiga hari!" sahut Michael terdengar sangat tegas.
"WOAAH!" seru Gerald tanpa sadar. "Kak Jia di kuring di rumah!"
Sontak semua menoleh anggota keluarga paling kecil itu.
"Sorry..sorry!" ucapnya kemudian sembari menahan gelak tawa.
"Tapi, Daddy! Jia ada tugas yang harus di kumpulkan!"
"Tugas apapun itu, bisa kamu kumpulkan tiga hari lagi!"
"Betul!" sahut Chania membenarkan pernyataan suaminya.
"Dear, God! Ini tidak benar!" gerutunya kesal.
Maka Gerald pun semakin terkekeh melihat hukuman sang Kakak perempuannya.
Di tengah kekehannya, Jio justru menendang kakinya yang ada di bawah meja makan. Memberi kode agar adik bungsunya itu diam.
"Ouch!" pekik Gerald mengusap betisnya.
' Gagal sudah menemui Xiaoli! '
__ADS_1
Batin Jia.
...🪴 Happy Reading 🪴...