
"Aakh!"
Gagal menjauh, ia justru terjerembab di dada Reno saat ia hendak mencoba untuk turun dari ranjang Karena ternyata Reno menarik lengan Sania yang masih berada di genggaman.
Dan itu berhasil membuat jantung Sania hampir saja melompat.
Wajah yang hanya berjarak beberapa senti, dengan nafas yang sama - sama dapat di rasakan satu sama lain. Serta dada yang menempel hanya berbatasan dengan selimut tebal, membuatnya membeku untuk beberapa saat.
Sania meringis malu. Namun saat melihat mata Reno yang masih terpejam, ia berfikir, apa mungkin Reno hanya mengigau?
Sania sedikit bergerak, mencoba melepaskan tangan Reno yang masih mencengkeram lengan kanannya dengan pelan.
Bukannya terlepas, justru tangan Reno yang satu lagi kini memeluknya erat. Melingkar di pinggangnya.
"Aaaakh!" teriak Sania sembari berusaha melepaskan diri. Memukul - mukul dada dan pundak Reno. "Buka matamu! kamu cuma pura - pura tidur, kan!" sembur Sania karena gagal melepaskan diri.
Bug bug bug!
Pukulan lemah Sania mendarat di pundak Reno beberapa kali.
"Buka matamu!" teriak Sania lagi menepuk pipi Reno kesal sekaligus gemas sendiri.
"Hahaha!" akhirnya gelak tawa terbit dari bibir tipis Reno. Mata terbuka dan melemparkan pandang pada Sania yang masih ada di atas tubuhnya. Bukannya melepas, Reno justru mengeratkan pelukannya.
"Nyaman tidak kalau seperti ini?" tanya Reno dengan kerling mata menggoda Sania. Sama sekali merasa tidak bersalah sudah membuat jantung seorang gadis hampir melompat dari sarangnya.
Sania mendelik dengan pertanyaan Reno. Jantungnya bahkan mungkin hampir bergeser, justru di tanya nyaman atau tidak. Bukan lagi nyaman ia justru merasa ingin lebih lama lagi.
Namun mana mungkin ia mengakui semua itu. Tentu saja rasa malu dan gengsi masih berada di posisi teratas kesadarannya.
"Dasar gilaaa!" sembur Sania menjauhkan tubuhnya dari Reno dengan sekuat tenaga.
Wajahnya merah merona, antara malu dan kesal bercampur aduk menjadi satu.
"Aku memang gila karena mu!" balas Reno dengan nada sedikit menghentak. Seolah menjelaskan perasaannya.
Ia raih kedua tangan Sania dan mendorongnya ke belakang. Hingga kini posisi berubah. Sania di bawah dan Reno di atas.
Dua tatap mata berada dalam satu garis lurus dengan jarak yang hanya beberapa senti saja. Jantung beradu dengan kecepatan yang hampir sama. Nafas saling menyerang satu sama lain meski terlihat sama - sama sulit untuk bernafas.
Dada Reno bergemuruh, bergerak kembang kempis menahan gejolak. Meski dada tak bersentuhan, tapi sudah berhasil membuat keduanya membeku dalam alunan desiran - desiran cinta.
"Bisakah aku memiliki mu, Sania?"
Kalimat itu hampir saja meluncur dari bibir Reno. Karena nyatanya kalimat itu hanya meluncur dari dalam hati saja. Tanpa sanggup mengungkapkan secara langsung.
"Chania mencari ku!" seru Sania mendorong dada Reno sekuat tenaga. Ia tak akan sanggup berlama - lama dalam posisi seperti itu. Bisa - bisa nafasnya akan habis dan mendadak sesak nafas.
"Saniaa!" teriakan Chania kembali terdengar melengking merdu dari luar pintu.
Mau tak mau Reno melepaskan Sania dengan sedikit tergopoh. Masih ada rasa takut jika Chania memergoki apa yang terjadi, kemudian melapor pada suaminya.
Setelah lepas dari Reno, gadis itu segera melompat dari tempat tidur. Reno tersenyum tipis, memandang punggung gadis yang terlihat salah tingkah itu.
Sania berjalan setengah berlari ke arah pintu, dengan nafas terengah. Ia berusaha untuk menormalkan nafas yang hampir saja habis. Ia sungguh ingin segera keluar dari pintu itu. Rasanya ia sudah tak sanggup menahan rasa malu pada Reno.
__ADS_1
Ketahuan memasuki kamar Reno?
' Oh! God! ini gila! '
Batin Sania.
Di tatap sedemikian lekat dalam jarak dekatz. Tangan di kunci sedemikian posesif. Membuat dunia nya seperti jungkir balik dalam waktu sekejap.
Menghela nafas...
Clekk!
"Ada apa, Chania?" tanya Sania setelah berhasil keluar dan segera kembali menutup pintu.
"Ah! di kamar itu rupanya!" Chania menoleh Sania yang berdiri di depan salah satu pintu. Sedari tadi ia menerka - nerka sembari mondar mandir mencari kamar tamu yang di tempati Reno. "Apa yang kamu lakukan di kamar Reno!"
"Emm..." Sania bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin menceritakan adegan yang baru saja terjadi. "Reno tidur, aku berniat mengerjainya! tapi ternyata dia justru bangun!"
"Lalu?"
"Lalu apa?" Sania gugup sendiri mendapat satu pertanyaan singkat itu.
"Lalu apa yang kalian lakukan?" tanya Chania menyelidik. "Aku sedari tadi memanggilmu, tapi kamu tidak keluar juga!"
"Aa..." Sania menggaruk kepala yang tertutup rambut pirang kecoklatan yang sedikit berantakan.
"Kenapa rambutmu berantakan?" Chania terus mengejar dengan beberapa pertanyaan seolah menginterogasi tersakwa.
"A... aku..."
"Apa?" mata Chania mengerling menggodan saudara kembarnya.
"Hahaha! sudahlah jangan dipikirkan!" ucap Chania. "Aku tidak masalah kok!"
"Eh! Chania. Jangan salah sangka!"
"Hahahah!" Chania justru terkekeh.
"Aku tidak melakukan apapun!" ucap Sania reflek.
"Oooh!" Chania hanya ber-O ria sambil mengangguk, mengulum senyum tak percaya. Namun ia tahan sendiri.
"Apa apa mencari ku?"
"Tidak ada! aku hanya di suruh suami ku untuk mencari mu. Dan aku sudah berhasil menemukan mu!"
"Lalu setelah ketemu?"
"Yaa.. aku hanya di minta untuk melihatmu!"
"Terus?" dahi Sania berkerut heran. Apa maksud dari perintah kakak iparnya itu.
"Ya, sudah aku mau kembali ke kamar! hehehe!" Chania tersenyum lucu. Dia sendiri bingung dengan perintah sang suami yang tidak masuk akal.
"Chaniaaa..!" lirih Sania geram.
__ADS_1
"Heheheh! Maafkan aku, Sania. Sepertinya Michael memiliki firasat yang cukup sensitif juga padamu. Mungkin ia takut terjadi hal - hal yang di inginkan Reno!" bisik Chania dengan senyum menggoda.
"What!" pekik Sania. "Yang di inginkan Reno?"
"Hahaha!" gelak Chania kemudian. "Lupakan!" Chania mengayunkan tangan di depan wajah Sania yang bingung. Kemudian berlalu dari hadapan Sania yang melihat dengan terpaku sekaligus heran.
***
"Bagaimana, Baby?" tanya Michael yang menunggunya di depan lift, sembari menyandarkan sebelah pundaknya pada dinding sebelah pintu lift.
"Hihihihi! sepertinya kamu benar, Honey... Tadi Sania keluar dalam keadaan terengah, dan rambutnya berantakan!" jelas Chania cekikikan.
Membuat sang Mafia ikut tersenyum kecil. Sebenarnya Michael dan Chania tak sengaja lewat di depan pintu kamar Reno. Telinga sensitifnya mendengar ada sesuatu yang terjadi di dalam sana.
"Menurut kamu Apa mereka sudah terlihat saling menyukai?"
"Sudah!" jawab Michael datar. "Aku hanya ingin mengulur saja, biar Reno kesal sendiri!" ucap Michael tersenyum jahil.
"Memangnya kenapa kamu begitu?" Chania mendekat, merangkul lengan Michael dengan manja. "Bukankah kamu yang ingin mereka bersama?"
"Yaa.. karena Reno menganggap aku berhutang karena kita menemukan Sania dari apa yang dia ceritakan saat aku mengembalikan ponselmu, jadi Sania aku jodohkan dengannya sebagai hadiah. Tapi aku hanya tidak ingin mereka terlalu buru - buru menjalin cinta. Setidaknya sampai kamu melahirkan!"
"Satu bulan lagi?"
"Hemm.." Michael mengangguk dengan senyum tipis. "Aku ingin kebahagiaan kita sempurna lebih dulu, sebelum mereka! hahaha!" Michael terkekeh dengan rencana jahilnya.
Kemudian Michael menghadap Chania dengan tatapan penuh cinta. Saling berhadapan dengan terhalang perut yang membuncit, membuat keduanya sulit untuk berpelukan mesra tanpa jarak.
Akhirnya Chania memiringkan tubuhnya, kemudian memeluk Michael dengan hangat. Menyandarkan kepala di dada bidang sang suami. Sandaran ternyaman yang ia miliki.
"Aku mencintai mu, Honey!" ucap Chania lirih. "Aku bangga memilikimu!" Chania mendongak dan mendaratkan kecupan di pipi Michael.
"Aku bahkan sangat mencintaimu, Baby!" balas Michael mencium dahi istrinya. "Aku tidak sabar menunggu kelahiran dua anak kembar kita."
Kembali mendongakkan kepala, membuat pandangan satu sama lain menusuk sampai jantung terdalam. Seolah sedang menambah kadar cinta yang tertanam di dalam hati masing - masing.
"Terima kasih sudah membawanya!" ucap Michael mengusap perut besar Chania.
"Aku tidak sabar mendengar kamu di panggil Daddy oleh mereka!" Chania tersenyum manis.
"Aku pun tidak sabar melihatmu menggendong bayi mungil!" balas Michael tersenyum manis.
Senyum terbit dari bibir masing - masing. Berbagai khayalan merasuki dunia angan - angan mereka.
Menjadi Daddy?
Menjadi Mommy?
Menjadi orang tua?
Mendidik anak?
Satu persatu momen akan menjadi hal terindah untuk setiap pasangan.
"Kita istirahat!" ucap Michael membawa sang istri untuk masuk ke dalam lift agar sampai ke kamar mereka tanpa menggunakan tangga.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹