SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 140


__ADS_3

Seorang pria, berkulit sawo matang khas ketimuran, berada di dalam jeruji gelap, lembab, beralas tanah serta bau tanah yang menyengat. Tak ada air minum bersih, tak ada makanan, juga tak ada siapapun lagi. Jika haus, hanya ada aliran air yang melintas di bagian tengah penjara.


Aliran itu berasal dari anak sungai yang sengaja di masukkan ke celah dinding. Untuk kemudian melintas di penjara - penjara para tawanan.


Jika lapar, mereka hanya bisa menunggu penjaga mengantar makanan. Hanya sehari sekali di kala siang. Seonggok nasi yang mungkin sudah tak layak santap.


Hari sudah berlalu, sejak Andreas memberi kabar bahwa ia berhasil menangkap satu orang buronan. Dan masih mengejar satu buronan lainnya yang entah ada dimana.


Hiruk pikuk markas yang ramai oleh para anggota Klan Black Hold, seketika sepi tak bersuara. Itu karena sebuah mobil limousine yang membawa sang ketua Klan berhenti tepat di depan pintu markas.


Michael melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas. Hawa pengap seketika berubah menjadi dingin dan sunyi. Hanya langkah Michael, Jack dan Dimitri yang terdengar. Langkah tiga orang paling di takuti di markas itu. Teruma ia, yang berjalan paling depan.


"Silahkan, Tuan!" ucap Andreas, mempersilahkan Michael memasuki ruangan dimana ia biasa menghakimi para tawanan.


"Bawa dia keluar!" perintah dingin sang Mafia.


"Siap, Tuan!"


Andreas memberi kode perintah pada dua orang penjaga lorong penjara untuk membawa keluar tawanan.


Michael duduk di kursi goyang yang terbuat dari kayu. Bersiap untuk menonton adegan berdarah yang akan di lakukan oleh para punggawanya.


"A..ampuni sa..saya, Tuan!" ucap tertatih seorang pria yang tengah di seret oleh dua orang pengawal.


Michael melirik tajam sosok pria berambut ikal. Dengan tato yang memenuhi punggung hingga lengannya. ia mengangkat sebelah sudut bibirnya. Tersenyum sinis dengan tatapan jijik.


Bugh!


Pria berbadan gagah itu ambruk di atas tanah berpasir, setelah di dorong dengan kuat oleh dua penjaga.


Tangan masih terikat, tubuh itu terlihat begitu lemas karena tidak di beri makan sama sekali selama melalui siksaan oleh Andreas semalam. Ia hanya meminum air sungai yang mengalir di penjaranya. Yang entah itu bersih atau kotor, karena sama sekali tak terlihat di dalam kegelapan.


Jack dan Dimitri maju mendekati pria lusuh itu. Dimitri sempat meraih pisau tajam dari meja yang ia lalui. Dan memutarnya di tangan. Menatap dingin musuh, membuat yang di tatap segera bersujud memohon ampun.


Semalam ia sudah di siksa menggunakan balok kayu oleh Andreas. Mungkinkah sekarang pisau kecil itu akan melukai tubuhnya?


"Ampuni saya, Tuan! saya hanya di bayar seseorang yang tidak saya kenal!" jelas pria itu.


"Tidak ada yang bertanya!" sahut Jack dingin.


"Ha!" pekik pria itu mendongak ke atas, dimana Jack berdiri dengan gagah dan dinginnya tepat di depan tubuhnya. "La..lalu untuk apa kalian menangkap saya?"


Tersenyum mengejek, "Maksudku... aku belum bertanya... kenapa kau menjawab? apa kau terlalu bodoh?" ucap Jack santai namun sangat mengejek.


"Hahahaha!"


Gelak menggelegar dari beberapa anak buah Black Hold yang akan ikut menyaksikan pertunjukkan siang ini.


Michael tetap menatap tajam penuh selidik pria itu. Meski suara tawa terdengar, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Sepertinya jiwa iblisnya telah kembali.


Merasa keluarganya terancam, maka ia akan melakukan segala cara untuk menemukan siapa yang berani bermain - main dengannya.


Dan saat ini, tidak ada malaikat cantik di sampingnya. Lalu siapa yang berani mencegahnya melakukan apa yang ia hendaki? termasuk... mencincang manusia jika ia memang menginginkannya.


Jack berjongkok, menempelkan satu lututnya pada tanah berpasir. Raut wajahnya sama seramnya dengan wajah Michael ketika marah.

__ADS_1


"Kau tau? Tuan kami tidak pernah memberi ampunan pada mereka yang sudah menyakiti keluarganya!" ucap Jack membuat seisi ruangan ikut menunjukkan ekspresi mengerikan.


Pria itu melihat sekitar, dimana seketika hanya wajah - wajah iblis yang ia lihat. Wajah - wajah mengerikan yang seolah siap menelannya hidup - hidup.


Bugh!


"Aakh!"


Kaki Dimitri yang bersepatu hitam menendang rahang pria itu agar berhenti menoleh kanan kiri.


"Siapa namamu!" hentaknya kemudian.


"Joseph, Tuan!"


"Siapa yang menyuruhmu melukai gadis itu!" tanya Michael dingin.


"Sa..saya.. tidak tau, Tuan! saya hanya disuruh untuk..." Pria yang mengaku bernama Joseph itu menggantung kalimatnya, menatap wajah iblis Michael dengan gemetar.


"Untuk apa!" teriak Jack meninju pipi kiri Joseph. Jack sangat malas dengan hal yang bertele - tele.


Nafas terengah, "Untuk menyakiti salah satu orang yang sedang bersama istri anda, Tuan!"


Seketika darah Michael serasa mendidih. Benar dugaannya, tidak mungkin jika Gia yang menjadi sasaran utama. Semua ada kaitannya dengan keluarganya sendiri. Dan yang paling membuatnya marah, adalah sang istri tercinta yang menjadi sasaran utamanya.


"Jadi kau tau yang mana istriku!" tanya Michael dingin. Tangan saling meremas seolah siap untuk memberi tinjuan pembuka pada tawanan. Berjalan dan dingin dingin memutari Joseph.


Menyadari Tuannya hendak turun tangan. Maka, Jack beranjak dari jongkoknya. Kemudian menepi, berdiri bersama Dimitri.


"Ta...tau, Tuan!" jawabnya ketakutan. "Orang itu yang memberi tau!"


"Kau tau siapa aku?"


"Apa yang dia katakan tentang ku!" tanyanya santai namun sangat mengintimidasi. Di saat seperti ini, maka ketampanan dan kegagahan seorang Michael Xavier sangat jelas terlihat.


"Dia bilang.. Tuan.. anak seorang Mafia!”


"Lalu?"


"CEO di salah satu perusahaan."


"Lalu?"


"Katanya saya tidak perlu takut! Tuan hanya Mafia lemah."


"Hah!" tersenyum miring. Michael geli sendiri mendengar apa yang ucapkan pria itu. "Katakan dimana temanmu!" Michael terus berjalan pelan sembari memutari pria itu. Aura dingin jelas tersebar di dalam markas.


"Saya tidak tau, Tuan!"


Michael berhenti tepat di hadapan Joseph. Menatap lekat dan tajam pria itu. Membuat pria itu semakin gemetaran. Tak sedetik pun Joseph berani melihat ke arah Sang Mafia.


Rasanya mungkin lebih baik melihat hantu dari pada melihat Michael saat marah. Joseph terus menunduk dalam.


"Kalau kau bukan anggota Invisible Light, untuk apa kau berhenti di markas mereka!"


"Teman saya punya seorang kenalan di sana, Tuan!"

__ADS_1


"Jadi intinya... teman mu yang paling tau segalanya?"


"Ya, Tuan! saya bersedia karena saya di bayar 15 ribu dolar!"


"Kau pasti tau dimana teman mu biasanya tinggal, bukan?"


"Biasanya dia ada.... ada..."


Bugh!"


Jack yang tak sabar, langsung menendang lengan Joseph. Hingga pria itu tersungkur ke samping kanan.


"Dia mungkin ada di Cafe 1997! Pertama kali saya bertemu dengannya di sana. Setelah dari markas itu, dia meninggalkan saya. Saya tidak tau lagi dimana dia berada. Ponselnya di berikan pada saya!"


"Permainan yang cantik!" desis Michael kembali berjalan dingin. Dan berhenti tepat di belakang pria itu.


"Lalu kenapa semalam kau diam saja?" sahut Andreas yang merasa usahanya menghajar musuh sia - sia. Susah payah ia menggunakan balok kayu untuk menyiksa. Justru musuh mengaku hanya dengan melihat seorang Michael Xavier.


Joseph hanya menunduk. Karena tatapan Michael jauh lebih menyeramkan dari tatapan harimau sekalipun.


"Bawa dia untuk menemukan sekutunya!" titah Michael pada Andreas.


"Siap, Tuan!" jawab Andreas. "Bawa dia!" perintah Andreas pada dua anak buah di bawah kepemimpinannya.


Joseph di bawa oleh Andreas dan empat anak anak buah Andreas untuk menemukan teman Joseph yang menjadi kunci siapa yang memerintah mereka.


Sedangkan Michael, Mafia itu segera mengatur siasat penjagaan. Termasuk memerintahkan pengawal tambahan untuk istrinya yang saat ini berada di rumah sakit.


***


"Kamu tidak perlu setiap hari menjengukku, Chania!" ucap Gia.


"Kamu sahabatku, dan kamu tak punya saudara atau teman di sini selain aku dan Reno, bukan?"


"Iya, Sih!"


"Maya, kamu gantikan Jeni menjaga Gia, ya?" ucap Chania. "Setidaknya... sampai Jack kembali bisa menjaga Gia."


"Siap, Nyonya!" jawab Maya pasrah.


Menjaga rival?


OH...NOOOO!!


Tapi apalah daya, Maya hanya bisa menerima pembagian tugas dari majikannya.


"Aku pulang dulu, ya?"


"Ya, Chania.. thanks ya!"


"Hem..."


...🪴 Happy reading 🪴...


NB : Maaf ya kakak reader... Othor baru bisa up! Othor habis sakit beberapa hari. Bahkan sampai hari ini pun, kesehatan Author belum kembali membaik seperti sedia kala.

__ADS_1


Tapi sebagai Author yang kelanjutan episodenya di tunggu oleh para pembaca, jadi Author usahakan up malam ini.


Semoga kesehatan selalu menyertai kita yaa.. Aamiin 🤲


__ADS_2