
Jia berpura menyapa salah satu kucing peliharaan di istana Michael, ketika bodyguard yang baru saja menyapanya ternyata mencari Xiaoli yang baru saja membawanya pulang.
"Tuan besar dan Tuan muda sudah menunggumu sejak tadi..." lanjut sang bodyguard melengkapi perintah.
Tubuh tegap yang semula terlihat tenang, kini terasa tegang. Jika biasanya ia akan sangat pandai menutupi segala ekspresi asli yang sedang ia rasakan, beda dengan kali ini.
Ada gurat kegelisahan yang menusuk-nusuk jantungnya yang dapat di lihat oleh orang-orang tertentu yang pandai membaca ekspresi wajah. Terutama para petinggi Klan Black Hold, dan salah satunya Jia.
"Baik!" jawab Xiaoli singkat. "Tolong bawa ke tempat parkir mobil Nona Jia!" perintahnya pada bodyguard itu.
"Ok!" jawabnya.
Jika Xiaoli yang sangat pandai menyembunyikan ekspresi saja bisa merasakan tegang yang terbaca oleh Jia. Apalagi Jia yang tidak terlalu pandai menyembunyikan ekspresi wajah?
Mendengar apa yang di ucapkan oleh bodyguard itu, Jia reflek menoleh pada Xiaoli yang masih berdiri di samping mobilnya.
Dengan raut wajah yang jelas terlihat tegang, Jia menatap wajah kekasihnya, di mana saat itu juga Xiaoli pun menatap matanya dengan tatapan lirih dan penuh kekhawatiran.
' Apakah ini tentang....? '
' Apa Daddy tau? '
' Atau Kak Jio...? '
Gumam Cla dengan sepasang mata yang sedikit terbelalak.
' Oh my God! '
Pekik Jia dalam hati begitu mengingat siapa seorang Georgio Xavier Sebastian. Selain seorang pendekar, juga seorang Hacker handal dengan IQ di atas rata-rata yang tak mudah untuk di kelabui.
' Kak Jio pasti sudah tau! Apa dia meretas ponsel ku? '
Sang gadis petarung terus bertanya-tanya dalam hati dengan tangan yang nyaris bergetar.
Dengan sekuat hati, sebulat tekat, Xiaoli melangkahkan kakinya mendekati pintu utama istana Michael. Di mana di dekat pintu itu Jia masih mematung dengan menggendong kucing putih di lengan kirinya. Hanya bola mata saja yang bergerak mengikuti pergerakan Xiaoli yang semakin dekat dengannya.
Xiaoli mengangguk, seolah tengah menyapa Nona Muda Xavier yang membeku dan tak bisa menjawab apapun juga selain menunjukan ekspresi gelisah nya.
"Do'a kan aku..." lirih Xiaoli nyaris tak terdengar oleh siapapun.
"Hmm..." Jia mengangguk pelan, sangat pelan sebagai jawaban.
Xiaoli membuka pintu raksasa yang menjadi pintu utama kediaman sang mafia. Kemudian meminta Jia untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu. Membuat sang gadis meletakkan kucing tadi di tempat semula.
Kini, Jia berjalan di depan Xiaoli, dan ketika sampai di depan tangga ruang tengah, Xiaoli meminta Jia untuk naik ke kamarnya. Sedang ia langsung berbelok ke arah ruang tengah untuk menghadap para penguasa.
Satu langkah, dua langkah, semakin banyak langkahnya terhitung, maka semakin dekat lah ia dengan ruangan yang mungkin akan menjadi saksi di mana ia di hakimi atas kesalahannya.
Kesalahan yang memang sangat fatal.
Sebelum muncul di ruang tengah, Xiaoli berhenti dan menarik nafas panjang. Menghelanya dengan pelan. Melunturkan segala gugup dan gelisah yang ada di dalam diri nya.
Setelah yakin siap, maka bodyguard dengan pakaian yang selalu serba hitam itu kembali melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang lebih tenang. Ia tidak main-main dengan Jia, untuk itu ia harus siap dengan segala resiko yang harus ia terima.
__ADS_1
Jika Xiaoli bisa bersikap demikian dalam satu tarikan nafas, lain halnya dengan Jia. Sejak tadi ia masih berdiri di anak tangga ke tujuh. Menatap punggung kekasihnya yang seolah siap menuju medan perang.
Ekspresi tegang, gelisah dan tidak tenang nampak jelas di wajah cantiknya. Dan semakin terlihat jelas ketika Xiaoli sudah menghilang di balik dinding yang membatasi ruang tengah khusus dan ruang tengah di mana ada tangga yang meliuk dengan sangat indah untuk mengantarkan siapa saja menuju lantai dua.
' Hanya Mommy yang bisa menyelamatkan Xiaoli! '
Gumam Jia sembari melepas sepatunya dan kembali mengendap-endap untuk turun, dan memilih untuk duduk di ruang tengah yang tertutup sekat dinding. Sehingga sedikit banyak ia bisa mendengar apa yang akan di bicarakan di dalam sana.
Dan tibalah Xiaoli di ruangan yang entah bagaimana tiba-tiba terasa sangat pengap. Padahal semua AC masih menyala dan semua yang ada di ruangan tidak ada yang terlihat seperti dirinya. Mengeluarkan keringat dingin.
Yang menjadi titik pertama dari pandangan Xiaoli adalah Tuan Besar Xavier yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Jika ekor matanya berusaha melihat siapa saja yang ada di ruangan itu, maka fokus utama Xiaoli akhirnya jatuh pada Glock yang ada di atas meja, tepat di depan Tuan besar Xavier.
' Akankah Glock ini yang akan menghabisi ku? '
Batin sang bodyguard.
"Selamat sore, Tuan besar..." sapa Xiaoli menunduk hormat.
"Hemm!" jawab Michael dingin.
"Selamat sore, Tuan muda..." lanjutnya menyapa Jio yang duduk di sofa samping kursi kebesaran Michael dan berdampingan dengan seseorang yang tidak asing.
"Hemm!" jawab Jio menirukan kedinginan sang Ayah.
"Selamat sore, Tuan muda Harcourt..." lanjut Xiaoli.
"Ya, Xiaoli!" jawab Jellow lebih ramah dan santai.
Gumam Jia dalam hati.
Selain menyapa para penguasa klan, Xiaoli juga mengangguk hormat pada Jack dan Dimitri yang duduk berdampingan di sofa sisi kanan Michael.
"Duduklah!" perintah Michael pada Xiaoli.
"Terima kasih, Tuan!" jawab Xiaoli duduk di sofa yang cukup jauh dari kursi Michael, namun berhadapan langsung dengan sang penguasa Klan.
Untuk sesaat ruang tengah yang luasnya tida terkira dengan jumlah tempat duduk melingkar yang cukup banyak dengan berbagai jenis sofa itu tampak hening. Tak ada yang membuka pembicaraan sebelum ketua klan berbicara lebih dulu.
"Aku memanggilmu karena hal penting, bahkan sangat penting!" ucap Michael pada akhirnya.
"Hal apa itu, Tuan?" tanya Xiaoli mencoba untuk bersikap datar. Melihat dari ekspresi Tuan besar, sepertinya tidak ada gurat emosi berlebih di dalam sana. Meski ekspresi itu tak bisa ia baca dari Jio yang duduk dengan menebar hawa dingin.
"Aku pernah memerintahkan Jio untuk mencari sendiri seseorang yang bisa mendampingi nya seperti Jack mendampingiku!" ucap Tuan besar kemudian.
Dan apa yang di ucapkan Michael membuat jantung Jia yang tengah menguping merasa lega. Jantung yang semula bagai hendak melompat dari sangkarnya itu kini kembali berdetak dengan normal. Meski tidak seratus persen tenang.
Berbeda dengan Jia, Xiaoli masih sangat tidak tenang. Ada Jio di sini, dan ia yang sedang dalam ancaman. Sehingga bisa saja beberapa menit ke depan, semua itu akan di ungkap oleh sang putra mahkota.
"Apa yang bisa saya batu, Tuan besar?" tanya Xiaoli.
"Aku tidak ingin orang yang baru meneruskan posisi Jack!" jawab Michael. "Jadi aku mau, kau menggantikan posisi Jack! Dengan menjadi bodyguard dan asisten pribadi untuk generasi putra ku, Jio!" ucap Michael tegas membuat jantung Xiaoli ingin melompat dari sarangnya.
__ADS_1
Kalimat ini, sungguh bagai petir yang menyambar pohon di bawah terik matahari. Menggantikan posisi seorang Jack Black, itu artinya ia kelak akan menjadi kepala bodyguard yang tidak bisa di remehkan oleh bodyguard manapun juga.
Xiaoli yang masih tidak menyangka dengan kalimat dan perintah Tuannya tampak masih membeku di tempatnya duduk. Namun sekian kalimat sudah bersarang di kepalanya.
' Berita macam apa ini? Siapa aku, sampai di beri kedudukan sekian tinggi? '
Batin sang bodyguard resah.
' Tapi... Aku seorang pengkhianat! Aku mengencani putri beliau. Apa mungkin beliau masih akan menerimaku jika tau tentang...? '
Wajah Xiaoli seketika memucat dengan pemikirannya sendiri.
Bukan hanya Xiaoli, Jia yang tengah duduk di sofa ruang sebelah juga membulatkan matanya lebar sembari reflek menutup mulutnya yang membentuk huruf O besar supaya tidak mengeluarkan suara.
' Xiaoli di minta mendampingi Kak Jio seperti Paman Jack mendampingi Daddy? '
Tanya Jia dalam hati.
' Ini sungguh sulit di percaya! Bagaimana kalau ternyata Daddy tau selama ini kami berdusta? '
' Xiaoli pasti akan di bunuh di tempat! '
Jantung Jia yang baru beberapa detik yang lalu membaik kini kembali berdetak lebih kencang.
Untuk bisa menjadi seorang Jack Blak bukanlah hal yang mudah. Bukan pula di pilih secara acak. Sumpah dan janjinya lebih berlipat di banding dengan bodyguard yang lain. Karena selain memimpin pasukan Klan Black Hold, juga mengetahui semua aset perusahaan di bawah naungan Sebastian Corporation.
"Ada apa?" tanya Michael dengan nada sedikit ketus dan penuh dengan bobot, seperti wibawa nya seorang Michael Xavier.
Xiaoli mengatur nafas yang menggebu seiring dengan pertanyaan Tuan besar yang terdengar cukup mengintimidasi dirinya.
Xiaoli menoleh pada Jio yang tampak masih duduk dengan aura dinginnya. Kemudian menoleh Jellow yang tampaknya tidak tau kesalahan yang sudah ia lakukan.
' Ini saatnya untuk mengakui semuanya... Jika aku harus mati, mungkin mati hari ini lebih baik. Sebelum akau mengecewakan banyak orang karena posisi yang di tawarkan Tuan besar! '
Gumam Xiaoli penuh keyakinan.
"Cepat katakan, kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Michael mengulang.
Namun yang ada Xiaoli menarik nafas dengan susah payah untuk memunculkan semua keberanian yang ia miliki.
"Ada apa, Xiaoli!" Kesabaran sang naga hitam telah habis.Hingga membuat Michael bertanya dengan sebuah bentakan yang membuat Jellow sampai hampir saja melompat dari tempatnya duduk.
Dengan penuh kemantapan hati, Xiaoli berdiri dari sofa tempat ia duduk. Berdiri dengan gerakan yang cukup pelan, namun sungguh mengundang rasa penasaran bagi yang lain kecuali Jio yang sudah tau kenapa dengan sikap Xiaoli.
"Saya memohon ampun, Tuan!" ujar Xiaoli langsung bersimpuh dengan menekuk kedua kakinya. Satu lututnya menyentuh lantai, dan kedua telapak tangannya bersentuhan untuk memohon ampun.
"Saya telah melakukan kesalahan besar!" ucap Xiaoli menunduk dalam.
Sontak semua yang ada di dalam ruangan itu mengerutkan kening mereka, kecuali Jio.
Bukan hanya mereka, di ruangan sebelah justru ada dada yang mungkin sekarang sedang tidak baik-baik saja.
Michael menarik nafas dalam begitu mendengar kalimat yang paling tidak sukai keluar dari mulut anak buahnya.
__ADS_1
"Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Michael dingin, teramat dingin.
...🪴 Bersambung ... 🪴...