SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 156


__ADS_3

"Virginia memang cantik, tapi aku tidak suka padanya!"


Ucapan Jia berhasil membuat Jio menoleh padanya. Dimana menurut Jio, Virginia adalah satu - satunya gadis sempurna yang cukup pantas untuk ia kagumi.


Meski usia baru sepuluh tahun, rasanya Jio cukup mengenal tentang perasaannya. Cukup tau untuk mengenali, jika ada yang berbeda di hatinya mengenai gadis kecil itu.


"Apa maksudmu?"


"Dia terlalu pendiam! terlalu manja! harusnya dia seperti aku! juara 1 bela diri putri!" jawab Jia membuat Jio menghela nafas berat. "Masak di tarik Lussio sedikit saja langsung jatuh dan menangis! kalau aku, pasti Lussio sudah babak belur tanpa harus kamu turun tangan, Kak!" lanjut Jia.


"Tidak semua anak perempuan berjiwa petarung sepertimu Jia!" sahut Jio. "70% jiwa mereka adalah gadis manja! karena ingin di lindungi!"


"Hemm.. Kak Jio lebay!" jawab Jia tak setuju.


"Lagi pula, kamu seperti ini karena kamu anak Daddy, bukan?" tanya Jio berjalan mendekati Jia. "Coba kalau bukan anak Daddy! pasti manja juga!" lanjut Jio sembari meraih botol air minumnya.


"Yaa.. mungkin saja! hihihi!" Jia cekikikan sendiri setelah berhasil membuat kakaknya berhenti berlatih.


***


Hari dimana pertempuran dua Klan Mafia telah tiba. Bangunan stadion tua di tepi kota yang sudah belasan tahun tak terpakai, dijadikan lahan untuk pertempuran malam ini.


Rumput liar dan berbagai coretan tangan - tangan jail bertebaran di dinding - dinding usang yang bahkan sudah berlumut.


Chan Lee memilih pertempuran malam di bangunan tanpa pencahayaan demi mengurangi resiko kekalahan mereka. Karena mereka beranggapan Klan Black Hold adalah Klan yang hanya bisa bertarung jika hari terang saja.


Sama - sama berasal dari klan Mafia yang terbiasa dengan pertempuran, kedua klan pasti tau apa yang harus mereka lakukan. Yaitu sama - sama mengirim mata - mata ke lokasi. Untuk mengetahui apa ada kecurangan nantinya, atau untuk mengetahui strategi apa yang akan di gunakan musuh nantinya.


Michael mengirim Dimitri, sebagai salah satu dari dua bodyguard terbaik yang ia miliki. Memiliki pendengaran yang baik, dan mampu bergerak dalam senyap bahkan di tengah malam gelap gulita, tentu Dimitri layak untuk di kirim bersama seorang anak buahnya sebagai pengintai jarak jauh, yaitu Antonio.


Dengan teropong night vision nya, Dimitri berhasil menemukan dua orang yang juga mata - mata dari pihak lawan. Mereka bersembunyi di antara rumput liar yang jumlahnya tak terhitung dengan tinggi setengah sampai 1,5 meter.


Dua orang dari pihak Chan Lee mengirim seorang pengawal terbaiknya, bernama Billy yang berasal dari negara Afrika. Billy dikenal cukup lihai untuk bertempur di tengah malam dengan senjata golok besarnya. Tubuhnya besar namun kulitnya hitam, membuat musuh kesulitan menemukannya saat malam.


Namun tidak untuk Dimitri. Di wilayah seluas itu, Dimitri bahkan berhasil menemukan keberadaan Billy 15 menit setelah dia sampai.


Dimitri sampai di lokasi tepat pukul 6 sore. Saat hari mulai gelap, melalui perjalan senyap yang entah bagaimana caranya dia bisa sampai tanpa kuda besi yang mendominasi.


"Target juga sudah mengirim mata - mata, Tuan!" ucap Dimitri lirih melalui alat komunikasi khusus milik mereka.


"Apa yang di lakukan nya?"

__ADS_1


"Mereka...." Dimitri menceritakan panjang lebar apa yang sedang di lakukan Billy dan anak buahnya dengan lirih. Agar tak ada yang bisa mendengar selain anak buah di sampingnya.


"Pantau terus!" titah Michael. "Aku akan sampai 15 menit lagi!"


"Siap, Tuan!" jawab Dimitri yakin.


***


Michael dan pasukannya sudah berada di dalam kuda besi yang melaju dengan kecepatan di atas rata + rata. Dan mereka tiba sesuai dengan jam yang diminta Chan Lee. Jam delapan malam menjadi waktu yang di tentukan Chan Lee untuk kehadiran Michael dan pasukannya di stadion itu.


"Seperti rencana, kau melawan seseorang yang di maksud Dimitri tadi." ucap Michael pada Darrel. "Aku yakin, kau bisa!"


"Tentu!" jawab Darrel tersenyum percaya diri.


"Dimitri melawan mata - mata musuh. Dan kau Jack, kau harus membawa kepala bodyguard yang selalu di sisi kanan Chan Lee." ucap Michael sebelum turun dari hummer. "Sedang aku, aku sendiri yang akan menebas kepala Chan Lee!" ucap Michael dengan gigi yang mengerat.


"Siap, Tuan!" jawab Jack.


"Mereka harus tau, siapa Black Hold!" desisnya dengan raut wajah mengerikan.


Michael dan semua pasukan tempurnya, memastikan alat komunikasi khusus terpasang dan berfungsi dengan baik.


"Sesuai info dari Dimitri, Chan Lee ada dalam stadion!" ucap Michael.


"Ayo kita turun!" sahut Darrel.


Sebagai paman yang juga harus melindungi keponakannya, tentu ia tak ragu untuk berdiri di barisan paling depan bersama Michael.


Dimitri keluar dari persembunyian secara senyap pula. Dan bergabung bersama Michael dan para pasukannya tanpa di sadari musuh. Dimitri terlihat seolah juga baru turun dari hummer, sama seperti yang lain.


"Selamat datang, Black Hold!" seru suara seseorang yang muncul dari dalam gelap.


Tak menjawab, Michael dan Darrel sama - sama berdiri sejajar. Tatapan iblis Michael kembali berkobar. Begitu juga Darrel, Mafia asal Perancis itu juga terlihat ikut terbakar emosi.


Pria dengan tubuh besar, berkulit hitam berdiri tegak beberapa meter di depan mereka. Golok berukuran besar menggantung di tangan kirinya. Busur dan anak panah ada di punggungnya.


Sorot dari lampu - lampu kendaraan masih menyala. Cahaya itu yang akan menjadi satu - satunya penerangan malam ini.


Dialah Billy, mata - mata yang sebelum dikirim oleh Chan Lee, ternyata juga bertugas untuk menyambut kehadiran Klan Black Hold di medan pertempuran.


"Dialah Billy yang saya maksud!" lirih Dimitri di belakang Michael dan Darrel.

__ADS_1


Mendengar bisikan Dimitri dan ingat apa yabg di ceritakan Dimitri, maka kedua pemimpin sama - sama tersenyum sinis. Namun senyuman itu nyaris tak terlihat oleh musuh.


"Di mana bos mu?" tanya Michael berbasa - basi. Meskipun ia sudah tau dimana posisi Chan Lee berada.


Tersenyum sinis, "Tuan kami mengirim ku di barisan paling depan untuk menyambut mu, wahai pecundang!" seru Billy dengan lantang. "Tidak perlu Tuan Chan Lee yang maju di dalam gelap seperti ini! Hahahah!" serunya lagi.


Kata pecundang terdengar sangat menggelitik di telinga Michael. Sepertinya pria itu tidak mengenal jelas siapa lawan mereka.


"Hah!" tersenyum sinis, "sepertinya kau belum tau siapa Tuan kami!" seru Jack dengan lantang. Ia berucap sembari berjalan maju. Berdiri tegap di depan Tuannya, seolah melindungi keberadaan sang Pemimpin Klan.


"Tubuh sekecil itu tidak akan mungkin bisa melawanku!" ejek Billy.


"Untuk dirimu! tidak perlu Tuan kami yang turun tangan! biarkan aku yang memenggal kepalamu!" sahut Dimitri ikut maju dan berdiri sejajar dengan Jack.


"Hahahaha!" tawa menggelegar Billy mengaung bagai serigala mengaung di tengah malam. "Kalian berdua melawanku!" tantang Dimitri menunjuk Jack dan Dimitri.


"Kau hanya perlu aku, untuk menyeret kaki mu ke kandang buaya Tuan kami!" sahut Dimitri yakin.


Soal postur, memang Jack dan Dimitri bukanlah tipe bodyguard berbadan besar dengan lengan besar. Tubuh mereka ideal layaknya pria gagah pada umumnya. Tapi jangan tanya kekuatan mereka, karena mereka adalah bodyguard - bodyguard terlatih yang menguasai berbagai ilmu bela diri dan kepekaan panca indera. Berguru dari satu guru ke guru lainnya, tentu membuat keduanya memiliki banyak ilmu yang di serap.


"Jangan banyak bicara!" sahut Billy, "Lebih baik kalian buktikan!" desisnya. "Atau aku yang akan menggantikan posisi mu di ranjang istrimu! hahah!" seru Billy tertawa mengejek.


Darah Jack dan Dimitri terasa mendidih. Menggantikan posisi mereka? Jangan mimpi! seru keduanya dalam hati dengan mata yang saling melirik melalui ujung ekor mata mereka.


Tapi dua pria tampan itu cukup pandai untuk mengolah ekspresi wajah. Hanya senyuman sinis setengah mengejek yang terbit dari keduanya.


"SERRAAAANG!" Seru seseorang di belakang Billy.


Kubu Chan Lee mulai bergerak dengan memamerkan senjata mereka. Seolah menunjukkan seberapa kuat pasukan mereka.


Pasukan Black Hold sudah maju dengan senjata Mereka. Menyisakan para pimpinan saja yang masih diam tak bergerak.


Tak ada senjata api dalam setiap pertempuran. Semua hanya boleh menggunakan senjata seperti golok, panah, samurai, belati dan sejenisnya.


Billy berjalan dingin dengan mengayunkan golok di tangan kanannya ke sisi kanan dan kiri. Memberi ancaman pada sasarannya, yakni Jack dan Dimitri yang masih terlihat sangat santai.


Keinginan Billy tak lain dan tak bukan adalah menebas kepala Jack dan Dimitri. Untuk kemudian menghabisi Tuannya. Di dalam gelap


"HIIIIAAAAAKKKK!!" Teriak Billy menggelegar, berlari lebih cepat untuk menghantamkan golok tepat di leher Dimitri sebagai sasaran pertamanya.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2