SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 40


__ADS_3

Setelah melewati momen panas yang cukup panjang. Chania langsung membawa tubuhnya untuk bergelung di balik selimut tebal. Masih dengan tubuh yang polos, ia dekap tubuh Michael yang sama - sama polos.


Saat jam menunjukkan pukul 02.45 dini hari waktu Italia. Chania menggeliat pelan, dan saat itu juga ia merasakan haus. Namun ia tak memperdulikan rasa haus itu. Lebih memilih mencari kehangatan dari tubuh suaminya.


Namun bukan dada polos suaminya yang menempel pada tubuhnya. Melainkan sebuah bantal. Lalu kemana Michael Xavier yang tadi memeluknya?


Sontak Chania membuka matanya dan mengamati kamar yang masih gelap. Chania menyalakan lampu kamar secara otomatis melalu remote control di nakas.


"Michael?" panggil Chania.


"Michael?" panggilnya setengah terduduk.


Merasa tak ada jawaban, Chania turun dari ranjang, meraih lingerie yang teronggok di sekitar meja kerja. Lalu memakainya.


Ia cari ke walk in closed, dan hasilnya kosong. Lalu mengetuk pintu kamar mandi sebagai tujuan utama sebagian manusia saat terbangun tengah malam.


"Honey?"


Namun tak ada hasil juga.


Chania memilih kembali ke kamar untuk mengambil minum di lemari es yang ada di kamar Michael. Meneguknya dengan pikiran yang kemana - mana.


Biasanya jika untuk urusan bisnis gelapnya, Michael selalu mengatakan lebih dulu sebelum ia tidur. Itu selalu di lakukan Michael sejak mereka resmi menikah.


"Apa di keluar?" gumam Chania.


Chania kembali ke sisi ranjang. Ia ambil ponsel di atas nakas, dan menggulir layar kunci ke atas. Ternyata sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nama yang sangat spesial untuknya.


My Husband ❤️


📩 Aku ada urusan mendadak, tidurlah dengan nyenyak! akan aku usahakan kembali sebelum kamu bangun.


"Kamu terlambat!" celetuk Chania kesal. Sembari mengetik nya di ponsel dan mengirimkan pada sang suami sebagai balasan.


Chania melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dan kembali membaringkan tubuhnya di sana. Mencoba untuk memejamkan matanya kembali namun sangat sulit.


Bayangan Michael berkeliaran di kepalanya. Firasatnya memburuk dalam hitungan detik saja. Seolah - olah merasa jika Michael dalam keadaan yang tidak baik - baik saja.


"Michael?" lirih Chania.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya, mencari foto - foto tentang Michael yang ia ambil secara iseng di saat - saat ia berhasil mengajak Michael Xavier untuk bercanda.


Yaa.. meskipun pria dingin itu tidak terlalu asyik untuk di ajak bercanda dan tertawa lepas. Karena muka garang khasnya cukup sulit untuk terlepas dari wajah tampannya.


Dan memang pria itu tak pernah bisa tertawa lepas hanya untuk sebuah lawakan. Selain tertawa lepas untuk menertawai musuh di medan perang.


Tapi hal itu tak membuat Chania menyerah begitu saja. Sedikit demi sedikit nyatanya ia bisa mencairkan gunung es setebal puncak Everest itu. Terbukti dengan banyaknya foto Michael di ponselnya dengan beberapa ekspresi yang berbeda. Bahkan senyuman dengan barisan gigi yang rapi ada di sana.


Chania mengusap layar yang menunjukkan sebuah foto. Dimana Michael tengah mencium pipinya. Meskipun ia mendapatkan foto itu dengan susah payah dan di bumbui bujuk rayuan. Nyatanya foto itu membuat Chania sangat berarti.


Ia tatap wajah tampan yang terlihat dari samping itu. Meskipun tak ada gurat senyum saat menciumnya, namun wajah Michael terlihat tulus mencium pipi kirinya.


Chania beralih pada nomor kontak Michael yang ia beri nama My Husband ❤️. Nomor yang tadi di gunakan Michael untuk mengirimnya pesan. Namun ternyata pesannya tadi belum di baca oleh Michael. Bahkan nomor itu terakhir Online satu menit setelah berhasil mengirim pesan padanya.


Chania ragu untuk melakukan panggilan. Ia semakin khawatir pada suaminya. Karena jika Michael keluar malam untuk urusan pekerjaan, sudah pasti itu berurusan dengan dunia hitam yang di geluti suaminya. Bisa - bisa panggilan darinya justru membuat sang suami dalam bahaya. Mengingat dunia hitam sangat sensitif dan rawan.


Chania melirik jam dinding. Jarum jam sudah sampai di angka 03.35 Waktu Italia. Itu artinya hampir satu jam ia mengkhawatirkan Michael tanpa ada tanda - tanda pria itu akan datang. Biasanya Michael akan datang di kisaran jam 02.30 sampai 03.30.


"Aku akan menunggumu, Honey!" gumam Chania lirih. Perasaannya semakin tidak karuan karena sudah lewat lima menit. Ya! hanya selisih lima menit sudah membuat Chania begitu sedih.


Detik demi detik terus berlalu. Jarum panjang pada jam dinding terus bergerak memutar. Sampai jarum pendek berada di angka empat.


Chania mulai meneteskan air mata. Namun buru - buru di hapusnya. Ia tak berani menghubungi Michael. Waktu di bawah nama suaminya pun belum berubah. Pertanda pria itu belum bisa di ganggu.


✉️ Are you Okay, Honey? Aku harap kamu baik - baik saja. I love you ❤️


Walau tak pernah mendapatkan balasan, Chania tetap sering melontarkan kata - kata cinta untuk Michael. Termasuk panggilan Honey yang tak pernah terbalas setara.


Chania masuk ke dalam selimut yang sudah berantakan, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Namun dengan posisi yang tidak beraturan, bahkan tanpa bantal.


Cukup lama Chania menatap pesan yang ia kirim. Terakhir ia menatap pojok layar atas yang menunjukkan pukul 04.17. Sampai akhirnya mata Chania terlelap tanpa disadarinya. Ponsel masih berada di tangannya yang lemah akibat tertidur.


***


Pelan - pelan mata Chani kembali terbuka. Saat sayu - sayu merasakan gerakan tangan seseorang membelai rambutnya yang berantakan di wajah cantiknya.


Menyadari itu pasti tangan Michael, ia segera membuka mata lebar, dan mencari sosok yang sangat ia khawatirkan. Begitu mendapatkan Chania segera bangkit dan memeluknya erat.


"Michael!" serunya bahagia kembali melihat pria tampan itu.

__ADS_1


Michael membalas pelukan Chania dengan mengusap punggung Chania dengan satu tangan. Tangan yang ia gunakan untuk membelai wajah Chania.


"Kenapa? hm?" tanya Michael lirih.


"Aku khawatir! aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu." ucap Chania di pundak Michael.


Michael tak menjawab, ia hanya mencium beberapa kali daun telinga Chania yang tertutup helaian rambut pirang kecoklatan miliknya.


"Kamu baik - baik saja, kan?" tanya Chania.


"Hm"


Chania tak menyangka sesingkat itu jawaban Michael. Chania melepas pelukannya di tubuh Michael dan menatap wajah Michael yang menatapnya datar.


Chania menelisik dari setiap inchi wajah Michael, lalu turun ke bawah. Dan matanya terbelalak saat melihat lengan kanan Michael yang di perban. Dengan darah yang seolah menembus perban.


"Kenapa di perban?" tanya Chania panik.


"Hanya luka kecil" jawab Michael datar, seolah tak merasakan sakit sama sekali.


"Ini parah, Michael!" seru Chania menyentuh perban Michael. Seketika itu juga air matanya meleleh.


"Jangan menangis!" ucap Michael mengusap air mata Chania yang berjatuhan.


Chania menggeleng, seolah menolah perintah Michael.


"Aku tidak mau melihat kamu terluka begini!" ucap Chania di tengah tangisan.


"Sudahlah, Baby! ini hanya luka kecil."


Mendengar Michael memanggilnya Baby ada rasa tersendiri yang berterbangan di hatinya. Ini kali pertama Michael memanggilnya Baby di luar momen bercinta. Air matanya kembali menetes.


Selemah itu hati seorang Chania Renata?


.


.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


Jika berkenan, boleh dong tinggalkan Vote nya 🤩


__ADS_2