SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 57


__ADS_3

Smith Arlington, pengusaha kaya raya dan tangguh. Bersahabat dekat dengan banyak Mafia kelas dunia. Jatuh tersungkur di lantai bangunan kosong dengan darah yang mengalir deras dari kepala bagian belakangnya.


Lalu siapa yang berani menembak pria berkuasa seperti Smith Arlington?


Dialah Deborah Arlington, istri Smith Arlington.


Semua tercengang dengan tindakan nekat seorang Deborah yang memilih mengakhiri hidup suaminya dari pada membunuh perempuan yang di anggapnya sebagai pelakor.


Mengetahui dirinya di selamatkan oleh sahabatnya, maka meneteslah air mata Madalena. Pengorbanan yang begitu luar biasa bukan?


Sedangkan seorang bodyguard Smith mengarahkan senjata pada Deborah. Dan di balas oleh todongan yang sama oleh Deborah.


"Tuan mu sudah mati! apa ku masih berani melawan ku!" desis Deborah pada pria bertubuh besar itu.


"Saya bersumpah untuk mengabdi pada beliau sampai beliau berada di liang lahat." jawab bodyguard itu. "Jika beliau masih di depan mata saya, maka saya wajib membelanya. Termasuk membalas mereka yang menyakiti bos saya!"


"Hah!" Deborah tersenyum sinis. "Jika kau menembak ku, maka hari kematian mu akan sama pada Tuan mu! pengawal yang luar biasa setia rupanya!" ucap Deborah melirik sekitar.


Bodyguard itu mengikuti melirik sekitar, dan mendapati beberapa moncong pistol mengarah padanya.


Nyali sang bodyguard menciut saat itu juga. Namun ia berusaha menutupi dengan ekspresi santai dan tubuh besarnya.


Saat aksi saling todong masih berlangsung, Kimberly hendak menghampiri Smith yang terkapar dengan mata terbuka lebar.


"Smith!" teriak Kimberly histeris. Berlari dengan menggendong putrinya, mendatangi pria yang merupakan ayah biologis putri kecilnya itu.


"Berhenti!" teriak Madalena pada Kimberly.


Tangan Kimberly pun di cekal oleh seorang bodyguard Madalena. Mau tak mau wanita lemah itu berhenti dengan air mata yang berderai. Menatap pria yang ia cintai tengah di tolong oleh seorang bodyguard setia Smith.


"Smith.." lirihnya.


"Puas kau!" bentak Madalena. "Smith jadi korban akibat kehadiran dirimu pada hidup kami!" cecar Madalena menghampiri Kimberly yang bersimpuh di lantai.


Kaki wanita itu mendadak tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Teresa lemas tak bertulang, bak jelly yang di ambil dari cetakannya.


Putri kecil Kimberly pun menangis saat melihat ibunya menangis. Dan tangisan putri Kimberly membuat Madalena semakin membenci Kimberly. Karena anak itu lahir akibat perselingkuhan orang tuanya.


"Wanita sepertimu harusnya mati saja!" teriak Madalena mendorong tubuh Kimberly, hingga Kimberly dan putrinya tersungkur.


"Hiks!" tangisan Kimberly menyayat hati mereka yang mungkin saja kasian pada wanita lemah itu.


Madalena tersenyum sinis, tak peduli pada wanita yang di anggapnya sebagai perusak rumah tangga orang itu.

__ADS_1


Madalena meraih dagu gadis kecil yang terduduk di lantai dengan tangisan bayi yang belum mengerti apa - apa.


"Kau putri seorang pelacur! apa kau juga akan menjadi seperti ibu mu, hah!" teriak Madalena pada balita yang belum tau apa - apa itu.


Membuat tangisan putri kecil Smith dan Kimberly semakin menggema di bangunan kosong itu.


"Jangan sakiti gadis itu!" sahut Deborah yang melihat Madalena tampak emosi pada putri Smith.


"Berhenti menangis! kepala ku serasa mau pecah, kau tau!" bentak Madalena pada akhirnya. Mendengar perintah sahabatnya.


Dan saat itu juga, tiba - tiba perut Madalena terasa panas dan sakit. Membuat wanita itu mendelik dengan raut wajah menahan sakit.


"Auwh!" pekik Madalena kesakitan memegangi perutnya hingga tertunduk.


"Nyonya!" teriak Jennie, di ikuti gerakan cepat Jennie dan dua bodyguardnya.


"Ke rumah sakit!" perintah Jennie mengarahkan para bodyguard untuk menggendong Nyonyanya.


Kejadian itu membuat beberapa orang yang tersisa terpaku. Setelah Smith yang di bawa meninggalkan bangunan kosong. Giliran Madalena yang di gendong meninggalkan bangunan kosong.


Menyisakan Deborah beserta pengawalnya, dan Kimberly beserta putrinya.


...🌺 Flashback Off 🌺...


"Kasian ..." lirih Chania.


"Apa Papa mu bernama Kenzie?" tanya Michael kemudian.


Chania menggelengkan kepalanya pelan, "Setahuku nama Papa itu Kenzo Anata. Dan nama Renata yang tersemat padaku itu di ambil dari nama belakang Mama dan Papa, Reana dan Anata." jawab Chania. "Apa nama wanita itu Kimberly Reana?"


Michael mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban tidak tau.


"Dan sampai saat ini pun tak ada titik terang, bagaimana bisa insiden malam itu terjadi. Padahal sejak menikah dengan Mama, Papa berhenti bermain wanita." jelas Michael. "Aku selalu merasa hancur, setiap kali bertemu dengan Mama, maka aku harus kembali memperkenalkan diri padanya. Yang ia ingat hanyalah Michael Xavier, laki - laki berusia 10 tahun. Kemudian calon adikku yang gugur. Dan Papa yang sibuk mengungkap kebenaran. Juga Kimberly yang di anggap sebagai tersangka utama."


"Jika Nyonya besar Madalena..."


"Mama! panggil dia Mama!" tekan Michael memotong kalimat Chania.


"Tapi kan..."


"Dia ibu mertua mu bukan?"


"Tapi bukankah beliau tidak tau tentang pernikahan kita?"

__ADS_1


"Bukankah kamu tadi sudah memanggilnya Mom?"


"I..iya... itu karena panik. Jadi.. aku reflek mengikuti cara kamu memanggilnya." Chania tersenyum kikuk.


Michael menghela nafas, "panggil saja Mama. Aku yakin beliau marah hanya karena teringat masa lalu."


"Tapi Michael..."


"Apa?"


"Bagaimana jika benar Kimberly yang di maksud Mama Madalena itu adalah benar Mamaku?" tanya Chania. "Mengingat kisah itu berlangsung 21 tahun yang lalu. Tepat saat aku berusia satu setengah tahun."


Michael memejamkan dalam, rasanya tak sanggup menyimpan lagi rahasia yang ia ketahui.


"Tapi jika benar, itu artinya aku bukan anak kandung Papa Kenzo?" gumam Chania, "Tapi Papa Kenzo sangat menyayangi ku!"


Michael masih memejamkan mata sembari mendengar segala gumaman Chania.


"Michael, kalau boleh tau siapa Smith Arlington?" tanya Chania menatap wajah tampan Michael.


"Seorang pengusaha yang memiliki istri tamak!"


"Oh ya?"


"Kau bahkan tau dia membunuh suaminya sendiri!"


"Iya sih!" Chania mengangguk.


Malam semakin larut, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.


"Sebaiknya kita tidur." ucap Michael memperbaiki posisinya. Kemudian menarik Chania agar ikut tidur bersamanya.


"Iya! good night honey! chup!" sebuah kecupan didaratkan Chania tepat di pipi Michael.


"Night too! chup" balas Michael mengecup singkat bibir Chania.


Beberapa saat kemudian, nafa teratur terdengar dari Michael. Sedangkan Chania, alih - alih tidur, gadis itu justru di landa rasa penasaran.


Di balik sifat tenangnya akan cerita Michael, sebenarnya ia memiliki berjuta pertanyaan. Dan semakin tidak sabar untuk kembali ke Italia dan membaca diary sang Mama.


' Kapan Michael akan kembali ke Italia? '


🪴🪴🪴

__ADS_1


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2