
Oliver berhenti tepat di depan rumah megah dengan nuansa hitam dan putih. Ia keluar dari pintu kemudi mobilnya dan langsung di sambut oleh beberapa penjaga yang ada di depan pintu.
"Selamat pagi, Nona Oliver!"
"Hm! dimana Uncle Frederick?" tanya Oliver langsung pada tujuannya.
"Tuan besar sedang bersiap kembali ke Amerika, Nona!" jawab salah satu penjaga.
"Dimana sekarang?"
"Masih...." Penjaga saling tatap, tanpa berani menjawab.
"Hah!" Oliver melangkahkan kakinya dengan kesal, tanpa menunggu jawaban penjaga yang seperti berbelit - belit.
"Nona!" cegah penjaga itu dengan mengikuti langkah Oliver.
Oliver tak menggubris panggilan penjaga itu, dan satu kali gerakan tangan pintu utama terbuka. Oliver masuk ke dalam rumah megah dan mewah itu.
"Nona!" penjaga itu terus mengikuti langkah Oliver.
"Uncle!" panggil Oliver dengan keras sambil berjalan ke arah ruang kerja. Yang menjadi sasaran utama Oliver untuk menemukan Frederick Sebastian.
"Uncle!" teriaknya semakin keras karena tak mendapat jawaban.
"Maaf, Nona! Tuan sedang sibuk!" ucap salah seorang penjaga yang ada di depan pintu ruang kerja Frederick.
"Minggir!" bentak Oliver.
"Nona!" cegahnya lagi.
Ceklek!
"Ada apa ini?" tanya Frederick setelah membuka pintu ruang kerjanya yang hampir saja di buka oleh Oliver.
Cepat - cepat Frederick kembali menutup ruang kerjanya. Karena tak semua orang bisa masuk ke ruang kerja Frederick. Yang merupakan ruang pribadi pria berjuluk Raja Mafia itu.
"Uncle! Oliver butuh bicara sama Uncle!" ucap Oliver dengan kesal.
Frederick menggerakkan sedikit kepala dan bola mata, memberi petunjuk agar berjalan ke arah sofa ruang tengah yang di penuhi oleh kursi - kursi mahal dan besar.
"Bicara apa Oliver?" tanya Frederick setelah duduk di kursi yang selalu menjadi singgasananya jika berada di ruang keluarga.
"Michael!"
"Kenapa Michael?"
"Apa Uncle tau Michael membawa pulang seorang ******!" ucap Oliver.
"Sekretaris pribadinya?"
Oliver memutar bola matanya malas mendengar julukan sekretaris pribadi. Di matanya mereka adalah pelacur. Karena tugas mereka tak jauh dari melayani Michael di atas ranjang.
"Terserahlah, apa itu namanya!" jawab Oliver. "Kenapa Uncle tidak melarang kalau Uncle tau? bukankah orang asing di larang masuk ke rumah kita?"
"Oliver, gadis itu bukan orang lain."
"Apa maksud Uncle?"
__ADS_1
"Jika Michael sampai membawa gadis itu pulang ke rumahnya, itu artinya dia bukan gadis sembarangan!"
"Oliver tidak paham"
"Pasti Michael punya alasan yang kuat!"
"Hah!" Oliver tertawa culas. "Maksud Uncle Michael mencintai gadis itu?"
"Michael tidak mungkin jatuh cinta semudah itu, Oliver!"
"Tapi kenyataannya setiap hari mereka bermesraan, Uncle! bahkan Michael tak ragu untuk bersenda gurau dengannya! Dan semalam, mereka bermesraan di balkon kamar tanpa ragu! sungguh, Uncle! ini kali pertama Oliver melihat Michael bersikap manis pada Pelacur bayarannya!"
Frederick tak menimpali, ia hanya memasang wajah datar untuk mendengar penuturan Oliver.
"Kenapa Uncle hanya diam?"
"Oliver? kau tidak perlu ikut campur urusan Michael sampai sejauh itu. Biarkan dia melakukan apa yang ia inginkan. Yang terpenting, Michael menyanggupi keselamatan Selena!"
"Hih!" Oliver menghentakkan kakinya ke lantai dengan sangat keras. "Uncle dan Mommy sama saja! sama - sama hanya memikirkan Selena, tanpa memikirkan perasaan Oliver!"
"Oliver! Selena itu adikmu! adik kandungmu! apa kata Selena jika ia tau kakak yabg ia sayangi ternyata pengkhianat seperti mu?" tanya Frederick kesal. "Kami semua bahkan memanipulasi data agar Selena tidak tau jika kamu enggan mendonorkan sumsum tulang belakangmu!"
"Tentu saja! aku tidak mau hidup dengan siksaan rasa sakit, Uncle!"
"Untuk itulah, kami juga memikirkan hal itu, Oliver!" jawab Frederick. "Jadi lebih baik lupakan perasaan mu pada Michael! Lebih mengorbankan perasaan bukan, dari pada mengorbankan tubuhmu beserta perasaanmu?"
Telinga Oliver panas mendengar penuturan Frederick. Ia meremas bajunya dengan erat.
' *Aku harus menemukan gadis itu!
Dimana kira - kira Michael menyembunyikan gadis itu?
Ya! sekalian saja biar Selena mati, dan tidak ada lagi yang menghalangi aku dan Michael untuk bersatu*! '
Oliver tersenyum miring membayangkan rencananya.
"Apa yang kau rencanakan, Oliver?" tanya Frederick yang sadar jika Oliver merencanakan sesuatu.
"Bukan urusan, Uncle! Oliver permisi! ternyata tiada guna Oliver datang ke sini!" Oliver berdiri dan langsung meninggalkan Frederick yang menatap punggungnya dengan beberapa pertanyaan.
ð Awasi Oliver!
Perintah Frederick melalui panggilan seluler setelah memastikan Oliver meninggalkan pintu utama rumahnya.
âïļ Baik, Tuan Besar!
***
Oliver melajukan mobilnya meninggalkan rumah Frederick. Pikirannya berputar, bagaimana caranya untuk bisa menemukan gadis yang akan di jadikan pendonor untuk Selena.
Yang tak lain adalah saudara satu ayah dan beda ibu dengannya dan Selena.
"Sepertinya aku harus membayar seseorang!" gumamnya dengan jari - jari yang mengetuk kemudi.
***
Di sisi lain dari kota menara Pisa . . .
__ADS_1
"Tuan!" Chania tiba - tiba membuka pintu ruang kerja Michael dengan senyuman cerah merona. Ia baru saja mendapat notifikasi yang membuatnya lupa akan rasa sakit di bagian inti tubuhnya.
Michael yang sibuk dengan berkas - berkas di mejanya hanya melirik ke arah pintu di mana Chania terlihat mulai berjalan mendekatinya. Pandangan matanya terus mengikuti Chania yang terlihat sedang berbahagia sampai gadis itu berada di samping mejanya.
Chup!
Tiba - tiba saja Chania mengecup singkat pipi Michael. Membuat pria itu mengerutkan keningnya dengan sedikit melirik Chania.
"Terima kasih satu milyar nya!" ucap Chania tersenyum merekah. "Tuan sangat baik! hihi!"
Sepertinya Chania terlalu polos. Bagi seorang Michael uang satu milyar bukanlah uang banyak. Melainkan uang kecil saja. Karena dalam satu kali transaksi di dunia gelap saja keuntungan Michael bisa mencapai ratusan milyar atau bahkan triliun.
Belum lagi pendapatan Michael di perusahaan yang ia geluti. Sudah bisa di pastikan kekayaan Michael bukan kaleng - kaleng.
Namun pria sejuta pesona itu baru kali ini mengeluarkan uang satu milyar untuk satu kali transfer pada sekretaris pribadinya setelah melayaninya.
Michael menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi kerja, menatap Chania kemudian mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban, iya!
"Hanya itu?" Michael memicingkan matanya dengan senyuman nakal.
"Emmm...." Chania bergumam sambil menyandarkan bokongnya manja di pinggiran meja kerja Michael. Membalas senyuman nakal Michael dengan senyuman dan tatapan menggoda ala Chania.
"Hm?" Michael kembali menantang Chania untuk mengucapkan terima kasih sesuai dengan keinginannya. Ia ingin tau apakah gadis itu peka atau tidak.
Chania yang sepertinya paham akan kode Michael pun, segera bergerak manja. Berputar dengan menggoyangkan bokongnya yang hanya tertutup rok mini itu tepat di hadapan Michael. Memasuki sela - sela kaki Michael dan duduk di pangkuannya.
Ia kalungkan tangannya di leher Michael. Di iringi dengan senyuman manja dan menggoda. Ah, entahlah! darimana gadis itu belajar menggoda laki - laki. Yang jelas ia hanya mengikuti naluri untuk mendapat 3 Milyar incarannya.
"Memangnya Tuan ingin saya mengucapkan terima kasih dengan kalimat seperti apa?" tanya Chania berpura polos dengan memainkan kerah leher kemeja Michael yang di balut dasi berwarna navy bergaris miring.
"Ronde selanjutnya!" jawab Michael.
"Hihihi!" Chania cekikikan dengan gaya yang sangat manja. "Sekarang atau nanti?" tanya Chania memainkan jari nya di dada bidang Michael. Membuat gambaran abstrak di sana.
"Setelah aku meeting nanti, bersiaplah untuk ku makan!" bisik Michael dengan nada menggoda.
"Why not?" jawab Chania mengecup bibir Michael tanpa permisi.
Michael tersenyum miring menanggapi ulah Chania. Gadis itu sudah pandai menggoda rupanya, bahkan mereka baru dua kali berhubungan intim.
Ya! apalagi yang membuat Chania seperti itu, jika bukan karena cinta yang tumbuh di hatinya untuk Michael Xavier.
Namun pembalasan seperti apa yang akan diterima Chania dari tumbuhnya rasa cinta di hati kecilnya?
.
.
ðŠīðŠīðŠī
**Happy reading ðđðđðđ
...Dan.... Othor receh ini ingin mengucapkan...
...Minal Aidzin wal Faidzin ð...
...Mohon Maaf Lahir dan Batin ð...
__ADS_1
...ððĨ°ð**...