
Mobil Jia melaju untuk pulang dari kuliah, setelah kelas terakhir telah selesai. Duduk di kursi penumpang bagian depan, Jia tampak murung, diam, juga berfikir dengan bibir yang mengerucut.
Dan sesekali ia melirik kekasih di sampingnya dengan menghela nafas panjang dan berat.
"Xiaoli?" panggil Jia dengan sedikit ketus pada sang kekasih yang tengah fokus mengemudi.
Mendengar nada panggilan Jia, Xiaoli paham pasti akan ada yang tidak beres setelah ia menjawab panggilan sang Nona Muda yang sangat ia cintai itu.
"Iya?" jawab Xiaoli dengan nada yang lembut dan berusaha untuk tetap tenang.
"Apa.... menurut kamu Reena itu cantik?" tanya Jia melirik pada Xiaoli yang seketika mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang tak biasa dari sang Nona Muda.
' Wait! apa ini pertanyaan jebakan? '
Batin Xiaoli dalam hati.
' Jawab apa ini? jujur? atau bohong? '
Xiaoli di buat bingung dengan pertanyaan yang mungkin akan menjerumuskan dirinya ke dalam jurang ataupun semak belukar.
' Bohong sajalah! '
Xiaoli memilih berbohong untuk tetap menjaga perasaan sang kekasih.
"JAWAB DENGAN JUJUR!" seru Jia yang merasa sang kekasih tengah memikirkan untuk memberinya jawaban dusta.
' Behh... belum juga di jawab! sudah skak mat duluan! '
Gerutu Xiaoli dalam hati.
"Cantik..." jawab Xiaoli dengan nada yang datar dan biasa saja.
"APA!!" teriak Jia karena tidak terima dengan jawaban sang kekasih. Ia menoleh ke sisi kiri, dan menatap tajam pada pemuda asal China yang tampannya terlampau maksimal itu.
"Jadi Reena itu cantik?" tanyanya mendelik. "Jadi kalau dia bilang suka sama kamu, pasti kamu akan senang hati menerimanya!" tanya Jia menggebu dengan nada yang seolah-olah ia tengah berteriak.
Inilah yang di maksud Xiaoli sebagai pertanyaan jebakan. Jujur tidak jujur tetap akan mendatangkan masalah untuk dirinya.
"Semudah itu kamu di luluhkan seorang wanita?" bentak Jia dengan nada yang menggebu, seolah ingin menelan sang kekasih bulat-bulat. "itu baru Reena! bagaimana kalau di luaran sana? bagaimana kalau kamu sedang bertugas mengikuti Daddy yang kadang harus keluar negeri dan membuat kamu berjauhan dengan ku?"
__ADS_1
Telinga sensitif mendapat serangan sedemikian rupa, membuat telinga Xiaoli serasa mau pecah. Namun Xiaoli justru menggigit bibir bawahnya bagian dalam dan dengan susah payah mengulum senyumnya. Jemari meremas kemudi bundar dengan sangat erat saking gemasnya dengan gadis yang hampir berusia 19 tahun itu.
Di hajar dengan pertanyaan yang lebih mengarah pada rasa curiga sang kekasih, membuat Xiaoli ingin sekali saat ini membungkam mulut itu dengan ciuman panas. Sampai sang kekasih berhenti mengomel dan menuduhnya yang tidak-tidak.
"Jawaaaabb!" Jia memukul lengan sang kekasih dengan bibir komat-kamit seolah tengha membaca mantra. Padahal ia tengah mengomel pada sang kekasih yang justru tersenyum tanpa rasa bersalah.
Xiaoli menepikan mobilnya ketika menemukan area parkir yang cocok untuk ia bisa menjawab pertanyaan sang kekasih dengan bebas tanpa hambatan.
Menghela nafas, Xiaoli melepas sabuk pengaman yang melindungi dirinya dari insiden jalan raya yang sering kali membahayakan pengemudi dan penumpang lainnya.
Menoleh sang kekasih yang seketika menghempaskan punggungnya pada jok mobil, Xiaoli langsung merubah posisi dengan menghadap Jia dengan mendekatkan tubuh dan kepalanya ke sisi Jia. Meletakkan tangan kananya di atas sandaran kepala Jia, sementara tangan kiri siap membelai.
Kemudian ia menatap sang Nona Muda dengan tatapan gemas dan penuh cinta. Siang itu di dalam mobil ia berikan seluruh pandangan matanya pada Jia yang terlihat enggan melihat wajahnya.
Xiaoli mengangkat tangan kirinya untuk membelai rambut hitam sang kekasih, namun dengan sigap di tepis oleh sang Bao Bao. Membuat Xiaoli akhirnya hanya bisa menggenggam udara dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Semakin gemaslah ia pada Jia yang terlihat jelas tengah cemburu buta.
"Pantas saja tadi kamu sempat melihatnya!" ketus Jia. "Ternyata menurutmu dia memang cantik!" lanjut Jia bersungut-sungut kesal.
"Kamu bilang aku harus menjawab jujur..." ucap Xiaoli lirih dan lembut. Sama sekali tidak ada nada emosi di dalam kalimat pembukanya itu.
"Jadi benar kamu bisa semudah itu tertarik pada Reena atau gadis yang lainnya?" tanya Jia melirik tajam sang kekasih. Nafasnya semakin terdengar kasar di telinga Xiaoli yang sensitif. Bahkan dada sang gadis terlihat kembang kempis saking emosinya.
Ia tak bisa menahan ledakan emosi di dalam hatinya. Hingga air matanya ingin sekali menetes. Ketika mulut tak sanggup lagi berucap, hanya air mata yang bisa mewakili apa yang sedang di rasakan oleh manusia.
Mengenai ucapannya, mungkin Jia memang tidak akan pernah bisa membunuh lelaki yang ia cintai, meski ia bisa membunuh musuhnya dengan mudah. Tapi jika pengkhianatan benar terjadi, entah apa yang bisa di Jia lakukan.
Sedangan Xiaoli semakin terkekeh gemas dengan sikap sang kekasih. Ia biarkan saja sang kekasih yang masih betah meneriaki dirinya dengan tuduhan-tuduhan tidak masuk akalnya.
Padahal jawaban yang ia berikan hanya jawaban singkat. Belum pada inti dari jawaban yang sesungguhnya. Tapi Jia sudah serasa ingin membuangnya ke kandang buaya di belakang istana.
Melihat Xiaoli yang justru tergelak, Jia membuang wajah ke arah luar jendela dengan gerakan yang sangat kasar. Seolah benar-benar muak dengan wajah Xiaoli Chen.
"Bao Bao...?" panggil Xiaoli dengan sangat lembut. Tak ingin membuat sang kekasih semakin emosi dengan pemikirannya yang salah.
"Aku hanya menjawab Cantik. Aku belum bilang, kenapa aku menyebutnya cantik..." ucap Xiaoli dengan sangat lembut. Namun Jia belum terlihat akan luluh.
Menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan, "Kamu meminta aku menjawab jujur, aku sudah jujur, Sayang... Reena memang cantik, wajarnya seorang gadis adalah cantik. Dan wajarnya seorang laki-laki adalah tampan." lanjutnya. "Bukankah begitu?"
"Alasan!" sahut Jia dengan melilitkan tangan di depan dada. Matanya masih enggan untuk melihat wajh Xiaoli yang kini sebenarnya tengah terlihat sangat tampan, karena senyum manis yang jarang terlihat jika tengah berada di luar.
__ADS_1
"Kamu tau... mata lelaki tidak selalu hanya tertarik dengan kecantikan semata..." ucap Xiaoli. "Tapi mereka juga melihat dari hati. Dan aku melihat kamu dari hatiku, Sayang!" Xiaoli mentoel hidung mancung sang gadis yang masih betah cemberut.
"Jadi sebanyak apapun gadis di luaran sana yang cantik, bagiku tetap kamu yang paa...ling cantik!"
"Jadi maksud kamu, sebenarnya Reena lebih cantik dari aku?" desis Jia melirik tajam sang kekasih dengan pandangan mata yang membulat lebar.
Xiaoli semakin tergelak, "Bisa tidak, Sayang? kamu coba mengolah jawabanku memakai otak jernih kamu?" tanya Xiaoli menatap penuh damba pada wajah cantik rupawan.
Jia memicingkan matanya, seolah bertanya apa sebenarnya yang di maksud oleh sang bodyguard yang sudah berulang kali bibirnya ia kecup hari ini. Tentunya sebelum memasuki kantin tadi.
"Aku bilang semua gadis itu sudah sewajarnya cantik. Dan laki-laki itu sudah sewajarnya tampan. Dan karena di mataku hanya ada kamu yang paling cantik. Jadi aku jawab saja kalau Reena itu cantik, dan itu jujur sesuai kenyataan takdir. Karena sudah sewajarnya dia sebagai seorang gadis itu cantik."
"Tanpa di lihat, asal suaranya seorang perempuan sudah pasti aku akan mengatakan mereka cantik! Dan jika yang aku dengar adalah suara laki-laki aku akan reflek mengatakan jika dia tampan."
"Aku sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang lebih cantik. Karena di mataku yang paling cantik adalah kamu..." bisik Xiaoli lirih dan sangat dalam tepat di telinga Jia yang sejak ia berucap sudah membuang mukanya kembali.
Suara Xiaoli di telinga terdengar bagai sebuah sengatan listrik. Karena rasa geli ketika bibir tipis Xiaoli samar-samar menyentuh daun telinganya.
"Aku sudah tidak bisa menilai gadis cantik lagi selain kamu... Bao-Bao," bisik Xiaoli dengan mencuri satu kecupan mesra di pipi. "Toh, jika aku menjawab Reena jelek, kamu juga pasti tetap marah, bukan? karena menganggap aku bohong, atau bahkan aku munafik!" lanjut Xiaoli menatap wajah cantik yang kini seolah tengah berfikir.
"Aku mencintaimu, Sayang... percayalah, aku sudah tidak bisa lagi berpaling darimu. Aku tidak bisa lagi melihat gadis cantik selain kamu..." lirih Xiaoli semakin mendekatkan wajahnya, kemudian berulang kali pipi putih mulus tak bercelah itu ia cium dengan lembut dan mesra.
Dikecup secara berulang tanpa jeda, membuat Jia lama-lama tidak bisa lagi menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Akhirnya ia dorong manja dada bidang Xiaoli yang berjarak begitu dekat dengan dirinya. Seolah ia enggan di dekati.
Padahal mah maunya lebih dari itu! itulah wanita! suka jual mahal, padahal mau!
"Enak saja cium-cium!" sembur Jia dengan nada yang berbeda dari yang tadi. Kali ini ada senyum yang dia coba untuk di tahan. Agar sang kekasih tidak tau jika ia sudah tidak lagi marah. Tapi sang Nona Muda juga tidak mau semudah itu terlihat mudah di taklukkan.
"Aw!"
Xiaoli yang di dorong dengan lemah oleh Jia itu, berpura-pura kehilangan tulangnya. Ia mengikuti dorongan Jia yang mengarahkan tubuhnya ke belakang hingga menyentuh pintu. Padahal dia adalah seorang petarung yang tidak akan mungkin semudah itu terdorong mundur.
"Maafkan hamba wahai, Ratu..." gurau Xiaoli memegang dadanya yang baru saja di dorong oleh sang kekasih. Seolah baru saja di jejak kaki sang kekasih dengan kekuatan penuh.
Melihat tingkah Xiaoli yang ternyata cukup pandai bergurau, Jia tidak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya. Dan meledak lah tawa sang Nona Muda sambil memukuli pelan dada dan lengan sang kekasih yang terus saja berakting kesakitan.
"Dasar kamu, ya!" seru Jia mencubit pinggang Xiaoli dengan gemas dan setengah kesal karena ia masih dalam mode pura-pura merajuk.
Untuk kesekian kalinya, obrolan mereka berakhir dengan sebuah ciuman yang hangat dan sama-sama menginginkan. Sehingga semua terasa begitu indah dan mendebarkan hati keduanya.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...