
Frederick duduk di atas ranjang dengan kepala yang masih sedikit pening. Terbangun akibat suara ribut, membuatnya pusing. Samar - samar suara wanita marah - marah menyeruak memasuki gendang telinganya.
Dan seketika itu ia membulatkan matanya lebar saat mendapati sang istri menghajar Kimberly yang hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya.
Melirik pada tubuhnya yang merasakan semilir angin tipis, Frederick seketika melompat dari atas ranjang. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Apa yang terjadi?
Cepat - cepat ia meraih celananya ya g berserakan. Bagaimana bisa ia mengalami hal gila seperti ini.
Ia ingat semalam tengah mengobrol dengan Kimberly di VIP room, kenapa sekarang bisa berada di kamar kelas terbaik di hotel itu. Dimana para bodyguardnya?
"Sekarang kau ingin menjerat suamiku, hah!!" teriak Madalena menarik rambut Kimberly yang sudah berurai air mata.
"Aku bersumpah tidak menggoda Tuan Frederick, Nyonya!" ucap Kimberly sebisa mungkin.
"Dimana ada pengkhianat mengaku, hah! walau sudah tertangkap basah sekalipun!" Madalena berulang kali mendaratkan tamparan di pipi mulus Kimberly.
"Sayang! sayang! hentikan! ini pasti salah paham!" Frederick menarik tubuh Madalena agar berhenti memukuli Kimberly.
"Diam kamu, Frederick! pengkhianat!" teriak Madalena meluapkan emosi yang menguasai dirinya. "Hiks hiks!" namun seketika itu juga air mata Madalena menetes. Berurai membasahi pipi putih nan mulus.
Mengingat suaminya yang tak kembali ke hotel semalaman, dan pagi harinya menemukan jejak keberadaan sang suami di hotel yang sama, hanya berjarak satu kamar dari kamarnya berada.
Frederick menarik pinggang dan memeluk erat tubuh Madalena yang bergetar. Tangisan penuh luka sang istri membuat hati Frederick di penuhi rasa bersalah.
Frederick, pria dengan hati melebihi jiwa iblis itu sangat mencintai istrinya. Ia bahkan pernah berjanji tidak akan pernah membuat Madalena menangis, 10 tahun yang lalu. Saat wanita itu melahirkan putra pertamanya.
"Sayang, aku yakin ini hanya jebakan!" bisik Frederick sembari mengusap air mata Madalena.
Tanpa bisa menjawab, Madalena hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Hiks hiks!" hanya suara isakan yang menggema di ruangan itu. Beserta air mata yang mulai membasahi kemeja yang di pakai Frederick secara asal.
Isakan itu bersautan dengan suara isakan lirih Kimberly yang kini di bantu asisten pribadi Madalena untuk memakai pakaiannya. Wanita itu mengalami banyak luka cakaran, memar, juga rasa sakit di kepala akibat rambut yang di tarik kuat oleh Madalena.
Beralih pada Frederick yang masih berusaha menenangkan tangisan sang istri. Pria itu masih belum bisa mengingat sepenuhnya apa yang telah terjadi semalam. Ia sama sekali tak merasa bersentuhan dengan Kimberly semalam. Bahkan berjabat tangan pun tidak.
"Kamu mengkhianati aku dan putra kita!" lirih Madalena saat suara tangisannya mulai mengecil.
"Sama sekali tidak, sayang!" Frederick menggeleng. "Please! beri aku kesempatan untuk mengungkap insiden ini. Aku berani bersumpah, bahwa aku tidak pernah menyentuh Kimberly sama sekali sebelumnya." ucap Frederick dengan penuh permohonan.
"Aku benci kamu!"
"Jangan, sayang! jangan benci aku, please!" Frederick menangkup wajah yang di basah oleh air mata itu dengan kedua tangannya, dan menciumi setiap inchi dari bagiannya.
"Jangan sentuh aku! kamu menjijikkan!" teriak Madalena.
__ADS_1
Namun Frederick tak sedikitpun melepaskan sang istri.
"Sayang, please.. aku mohon.. jangan terpancing dengan insiden ini. Kamu harus ingat kandungan kamu, sayang! kamu tidak boleh stres." Frederick mengusap lembut perut Madalena yang baru hamil 16 minggu itu.
"Kalau sampai anak kita kenapa - kenapa, itu semua karena kamu!" seru Madalena memukuli dada bidang suaminya.
Frederick yang menyadari kesalahannya, hanya bisa pasrah ketika dua tangan istrinya memukuli dadanya. Meskipun sama sekali tidak terasa sakit di fisiknya, namun batinnya bersedih. Bukan karena pukulan Madalena, melainkan karena rasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menepati janji untuk tidak membuat istrinya menangis.
"Maafkan aku, sayang... please! beri aku kesempatan untuk membuktikan fitnah ini. Aku tidak mau stress." Frederick terus merayu Madalena yang masih belum sepenuhnya berhenti dari tangisan. Sesekali air matanya kembali deras.
***
Setelah suasana berhasil membaik, Madalena duduk di ujung sofa. Menyilangkan kedua tangan di dada. Menatap ujung kaki yang ia angkat sebelah, bertumpu pada lutut satunya. Dadanya tampak naik turun, dengan ekspresi wajah bercampur aduk. Antara marah dan kecewa.
Frederick duduk di sampingnya dengan ekspresi dingin. Menghadap Kimberly yang duduk di sofa single. Serta beberapa bodyguard pribadinya yang berdiri dengan menunduk.
"Kemana kalian?" hardik Frederick.
"Kami semua tertidur Tuan." jawab salah seorang bodyguard.
"Sepertinya ada mencampuri obat tidur pada minuman kami, Tuan!"
"Bodoh kalian!" bentak Frederick melempar asbak asal. Dan berhasil mengenai salah seorang bodyguard yang diam saja. "Kenapa kalian semua minum secara bersamaan!"
Frederick meraih tangan Madalena untuk kemudian di genggam dan di usap lembut punggung tangannya menggunakan ibu jari.
"Jangan terlalu, sayang. Please!" bisik Frederick.
Semarah apapun seorang Frederick, ia akan selalu luluh oleh istrinya tercinta, Madalena Queen.
"Siapa lagi pelakunya, kalau bukan dia! Aku yakin dia sudah kehabisan uang!" ucap Madalena meneteskan air matanya kembali, mengingat suaminya yang telanjang bersama wanita lain. Jika dulu mungkin Madalena tak peduli Frederick tidur dengan perempuan manapun. Tapi semenjak menikah, sakit rasanya di khianati Frederick. Satu - satunya pria yang membuatnya jatuh cinta.
"Sayaang..."
"Jangan bela dia!" bentak Madalena pada suaminya.
Tok tok tok!
Pintu di buka oleh salah seorang bodyguard. Memperlihatkan seorang pria berusia sekitar 35 tahun dengan raut wajah yang sulit di tebak oleh orang awam.
Namun tidak untuk seorang Frederick. Hanya saja ia tak menyangka, pria yang menikahi Kimberly adalah mantan karyawannya di Sebastian Company. Yang resign sejak satu tahun lalu.
"Kenzie!" lirih Kimberly.
__ADS_1
"Semurah itukah dirimu, Kimberly!"
"Kenzie!" Kimberly berdiri dan langsung berlutut memeluk kaki pria yang menjadi suaminya hampir setahun itu. "Percayalah padaku, ini adalah jebakan!"
"Untuk apa kau mencari Tuan Frederick?" hardik pria berambut hitam legam itu.
"Aku ada urusan, Kenzie! tentang anak kita!"
"Bawa dia pulang!" perintah Frederick. "Aku akan berusaha mengungkap semua ini! percayalah ini hanya jebakan!"
"Bohong! istri mu masih saja suka menggoda suami orang!" sahut Madalena.
"Maaf, Nyonya." Kenzie menunduk.
"Pergilah!" ucap Frederick.
"Baik, Tuan!" jawab Kenzie menunduk pada mantan boss nya itu.
Kenzie menarik tangan Kimberly, dan membawa wanita itu keluar dari kamar hotel yang menjadi saksi bisu kesalahpahaman itu.
# # # # # #
Hari - hari berlalu, Frederick beserta rombongan kembali ke Roma. Namun kekuasaan Sebastian Company nyatanya tak mampu mengungkap siapa dalang dari masalah malam itu.
Siapa orang yang lebih kaya darinya? atau lebih berkuasa dari seorang penerus Sebastian?
Frederick di buat pening, karena sang istri kerap kali mendadak bersedih setiap mengingat kejadian itu.
"Aakhh!" teriak Frederick menembak langit. "Brengsek! aku akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri pengecut!" umpatnya kesal.
# # # # # #
🍄 Satu bulan kemudian . . .
Sepulang dari periksa kandungan di salah satu rumah sakit terbaik di Roma, Madalena mengajak asisten dan dua bodyguard nya berbelanja di salah satu mall terbesar di Italia.
Beberapa paper bag sudah berada di tangan bodyguard. Madalena berjalan beriringan dengan asisten pribadinya, Jennie. Sedang bodyguard di belakang mereka. Puas dengan itu Madalena mengajak untuk pulang.
Saat mobil berjalan meninggalkan mall, sepasang mata Madalena menangkap gestur wanita yang tak asing baginya berjalan di trotoar. Di tangan kirinya, ada tangan mungil yang ia genggam. Seorang balita perempuan berusia sekitar 15 bulan berjalan tertatih di sampingnya. Seperti bayi yang baru bisa berjalan. Di sisi lainnya anak itu, tampak seorang pria yang menemani langkahnya. Dengan menggandeng tangannya pula.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1