SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 170


__ADS_3

Jika di Sapienza University of Rome para anak muda tengah sibuk dengan aktivitas terbaru mereka. Maka di gedung menjulang tinggi bertuliskan Sebastian Corp, pada Videotron berukuran besar yang terpasang pada dinding gedung, karyawannya tengah di buat tegang, gugup dan takut menjadi satu.


Bagaimana tidak, sang Tuan besar Xavier tengah memapras beberapa posisi yang di duduki oleh para pengkhianat.


Pria 49 tahun yang masih tampak gagah dan tampan itu berdiri tegak dengan memasang wajah iblis khas miliknya. Jangankan untuk menatap, melirik saja, semua orang butuh nyali berlapis baja.


Audit baru saja selesai di lakukan 100% kemarin. Dan dari audit itu, beberapa karyawan di nyatakan melakukan tindak kejahatan. Yakni membocorkan beberapa data penting pada perusahaan lain.


Dua orang yang di anggap sebagai pionir permasalahan berdiri di depan ruang meeting itu. Tertunduk lesu dengan wajah babak belur, karena ia baru saja mendapat siksaan untuk menunjukkan kepada siapa ia menjual data.


Hal mengejutkan di dapat Ayah tiga anak itu, karena data di jual ke China secara aneh. Tanpa tau siapa penerima data di sana.


Sadar jika tidak akan mungkin lepas begitu saja dari hukuman Tuan Besar Xavier, maka dengan mudah mereka mengatakan sejujurnya.


Tapi Michael bukanlah Bos bodoh hang bisa dengan mudah di tipu. Ia sengaja membuat keduanya berdiri dalam keadaan seperti itu. Hanya untuk menemukan kepalanya. Karena yang di anggap orang pionir, bagi Michael hanyalah ujung ekornya saja.


"Sekali lagi hal seperti ini aku temukan, maka aku akan membuat kalian hancur lebih parah!" desis Sang Mafia menatap jengah para bawahannya.


Semua hanya menunduk, tak ada satupun yang berani untuk sekedar mengangkat kepala mereka.


"Serahkan mereka kantor polisi!" ucap Michael pada anak buah Jack yang mengamankan keduanya.


"Siap, Tuan!" jawab dua orang anak buah Jack.


Namun alih - alih mereka di bawa ke kantor polisi, mereka justru di bawa ke markas Black Hold. Untuk tujuan selanjutnya.


"Lakukan sesuai rencana!" lirih Michael pada Jack.


***


Jio duduk di dalam mobilnya. Menunggu sang adik dari balik kemudi mobilnya. Ia mengotak atik ponselnya. Ia sudah mengubah nama di aplikasi berbagi foto miliknya.


Dari sekedar @user...... Menjadi @xgeorgio. Memasang sebuah foto profil dirinya yang berfoto dengan cara di ambil dari belakang. Sehingga wajah tampannya tak semudah itu bisa di lihat orang lain hanya melalui sekedar aplikasi.


Memakai hoodie Givenchy berwarna biru muda, dengan memakai penutup kepalanya, semakin menyamarkan identitas dirinya.


Namun dari hasil jepretan itu, bisa di pastikan jika fotonya bukan sekedar di ambil oleh tangan amatiran. Melainkan fotografer profesional.


Dengan apa yang ia lakukan saat ini, menunjukkan bahwa menurutnya cukup nama singkat saja yang ia tunjukkan pada publik. Bukan tentang siapa dirinya.


Tersenyum manis, dan mungkin ia hanya akan tersenyum seperti itu saat tak ada siapapun yang melihatnya.


"Kita akan segera bertemu, Nia..." lirih Jio menatap paras cantik seorang Virginia Brown dari sebuah gambar di layar. "Aku sudah bebas..."


Membuka story sang gadis, ia melihat aktivitas hari ini sang gadis. Duduk bersama seorang teman di meja kuliah, sudah cukup untuk menjelaskan apa yang sedang di lakukan Virginia hari ini.


Virginia berpakaian selayaknya Mahasiswa tanpa terlihat berlebihan di kampus, membuat Jio semakin kagum akan kecantikan natural Virginia.


"Dimana dia kuliah?" gumamnya berfikir.


Jio melirik keluar mobil dengan tangan yang masih menggenggam ponsel di atas kemudi. Ia tampak berfikir karena tak ada note dimana sang gadis kuliah. Membayangkan dimana Virginia kuliah dan jurusan apa yang dia ambil.


Dari kejauhan, mata tajam Jio melihat sosok Mahasiswi dengan baju yang sangat mirip dengan Virginia. Kaos tanpa lengan berwarna pink.

__ADS_1


Melihat Mahasiswi itu dari belakang, membuatnya tak bisa memastikan siapa Mahasiswi itu. Jio melihat sekitar, dimana banyak Mahasiswa melihat kagum pada sosok yang berjalan membelakanginya itu. Dan beberapa juga ada yang menatap nakal.


Yang membuatnya sedikit terkekeh adalah sahabat barunya yang muncul dari lorong kampus, setelah tadi pamit kepadanya untuk mampir ke ruang administrasi sebelum pulang. Ia ingat Nikki mengagumi Mahasiswi Kedokteran yang tengah memakai baju pink.


"Jadi itu!" gumam Jio.


Nikki menatap tanpa berkedip kepada gadis itu. Seolah ingin memiliki, tapi ia bagai pungguk merindukan bulan.


Jio tersenyum, "Menyedihkan.." Jio melihat gadis itu dengan tatapan tidak suka. Karena berfikir gadis itu membeda - bedakan status sosial.


Sampai akhirnya gadis itu menghilang setelah memasuki pintu sebuah mobil Mini Cooper orange.


"Bagaimana dengan mu, Nia?" tanya Jio bergumam pada sebuah foto. "Aku yakin kamu bagian dari mereka..." lanjutnya.


"Kak!" suara Jia terdengar dari pintu penumpang yang di buka dari luar.


Jio menoleh dan melihat sang adik yang sudah bersiap masuk ke dalam mobilnya.


"Lama sekali!" gumam Jio memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Tadi mencari Kakak ke Kantin di belakang Fakultas Kedokteran. Ternyata Kakak sudah tidak ada!" gerutu Jia sembari memakai sabuk pengaman.


"Kamu kelamaan!" balas Jio bersiap melajukan Bugatti biru miliknya.


"Tunggu, Kak!" Jia menahan Jio untuk melakukan menyalakan mesin mobil.


"Kenapa?" tanya Jio menoleh heran pada adiknya.


"Sebenarnya mereka ingin berkenalan denganmu!" ucap Jia melirik Gladys dan Reena yang berdiri di samping mobil BMW X5 berwarna putih.


"Kita harus cepat pulang!" ucap Jio cuek.


"Kamu ya, Kak! Sepertinya hatimu itu sudah mati rasa!" sindir Jia melirik jengah. "Cuma ada Virginia seorang! Padahal kamu belum berani muncul di depannya!"


"Tapi aku sudah mempersiapkan diri untuk itu!" jawab Jio mulai memundurkan mobil, dan meninggalkan area parkir tanpa menoleh sedikitpun pada teman - teman Jia.


"Oh, ya?" Jia melirik tak percaya.


Jio hanya menyebikkan bibirnya acuh.


Sementara Jia menoleh teman - teman barunya. Mereka tampak berkasak - kusuk. Mungkin berharap laki - laki di dalam Bugatti keluar dengan tampannya. Namun sayangnya harapan tinggallah harapan. Tak semua keinginan visa terwujud dengan mudahnya, bukan?


***


Virginia melajukan mobil pribadinya di tengah jalan raya kota Roma. Membelah kemacetan di siang itu.


Setiap detik, setiap menit ia selalu berharap mendapat kabar tentang keberadaan sahabat masa kecilnya. Rupanya kesetiaan seorang Virginia tak luntur begitu saja.


Ia sampai di rumah, menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk miliknya. Menatap langit - langit kamar. Melukiskan wajah Jio kecil yang entah sekarang setampan apa. Ia usap gelang merah pemberian sang lelaki.


Menghela nafas berat, "Hampir delapan tahun, Jio..." lirihnya.


Ia ambil ponsel kesayangannya. Ia buka satu persatu aplikasi milikinya. Mulai dari aplikasi chat, hingga berbagi aktivitas sampai aplikasi berbagi foto.

__ADS_1


Ia mengerenyitkan dahinya, manakala membuka aplikasi berbagi foto miliknya. Sebuah like hadir dari sebuah akun dengan nama @xgeorgio.


Hati yang gundah jadi berdebar hebat. Tangan bahkan gemetar. Ia segera bangkit dari rebahan dan duduk di atas ranjang. Tubuh serasa lemas, namun darah seolah mengalir lebih cepat.


Dengan ibu jari yang masih bergetar, ia buka nama tersebut dengan mata terpejam. Berharap ia mendapat kejutan yang sudah ia tunggu hampir 8 tahun lamanya.


Pelan - pelan ia membuka mata, dan ternyata tak ada satu fotopun yang di bagikan. Hanya foto profile misterius saja yang dapat ia lihat.


"Apa ini akun Jio?" lirihnya penuh harap.


Ia buka bagian untuk mengirim pesan, namun ia kembali ragu. Menjaga diri dari pergaulan dengan lawan jenis, membuat Virginia takut untuk mengirim pesan pada lawan jenis tang belum ia kenal.


"Jio..." lirih Virginia. "Jika benar ini kamu, kenapa kamu tidak pernah muncul di hadapan ku?" tanyanya pilu. "Setidaknya beri aku kabar, Jio..."


# # # # # #


Hari berganti, dengan jam kuliah berbeda, membuat anak kembar Sang Mafia berangkat sendiri - sendiri. Jio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pagi itu. Karena harus membantu sang ayah menyelesaikan pekerjaan kantor terlebih dahulu, akhirnya ia terlambat.


Memarkirkan mobil tepat di mobil Mini Cooper milik Mahasiswi Kedokteran yang di idolakan Nikki, Jio melirik sekilas mobil orange itu saat ia keluar dan berlalu.


"Terlambat juga?" tanya Jio pada Nikki yang muncul dari gerbang parkiran motor.


"Oh My God! Aku pikir aku sendiri yang terlambat di hari kedua kuliah!"


Jio hanya tersenyum samar. Cepat - cepat mereka memasuki kelas mereka yang ada di lantai dua.


Telinga tajam Jio mendengar suara aneh yang tak mungkin di dengan oleh Nikki. Suara seorang Mahasiswi yang seolah tengah bertengkar di balik dinding salah satu kelas.


Namun karena buru - buru masuk kelas, kali ini Jio tak memperdulikan suara itu. Pertengkaran sesama Mahasiswi paling hanya karena rebutan lelaki, atau karena kalah saingan.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Jam pulang kuliah Jio telah tiba, ia berjalan keluar kelas bersama Nikki yang mengomel karena tugas rumit yang mereka dapat akibat terlambat. Bagi Nikki mungkin hal yang sulit. Tapi bagi Jio, tugas itu tidak ada apa - apanya.


"Bro, kalau kamu selesai duluan, please! Bantu aku!" ucap Nikki memohon..


"Yaa. Tenang saja!" jawab Jio enteng. Karena ia bahkan tak perlu mengerjakan untuk bisa tau jawabannya.


"Thanks, Bro! Aku pulang dulu ya! Aku harus bantu Mama ku di Cafe!"


"Ok!" jawab Jio membalas tinjuan khas mereka. Melirik sekilas pada Nikki yang masuk ke lorong parkiran roda dua. Sementara Jio sendiri terus berjalan ke tempat parkir roda empat.


Dari jarak seratus meter lebih, Jio melihat gadis yang di idolakan Nikki tampak menatap sedih mobil Mini Cooper milik gadis itu. Meski hanya dari belakang, Jio dapat menduga jika gadis itu tengah membutuhkan pertolongan.


Sebenarnya Jio cukup malas untuk berinteraksi dengan lawan jenis yang tak ia kenal. Tapi menolong perempuan yang kesulitan adalah pelajaran yang ia emban dari sang Ibu. Toh mobil mereka berdampingan.


Memperbaiki tas di pundaknya, ia berjalan sedikit lebih cepat. Jio bersiap menghampiri Mahasiswi berambut keemasan yang memakai dress berwarna terra cotta itu.


"Kenapa mobilmu?" tanya Jio datar.


Menghela nafas, gadis 18 tahun yang menjadi Mahasiswi Kedokteran itu ragu untuk menjawab. Tapi ia belum punya banyak kenalan di kampus barunya.


"Ada yang menyobek ban mobilku.." jawabnya menunduk lesu.

__ADS_1


Jio mendekat perlahan untuk mengecek ban mobil gadis itu. Namun ada desiran aneh yang ia rasakan.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2