SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 123


__ADS_3

Koma sekian tahuan dan kembali terbangun di usia yang sudah menginjak 26 tahun, membuat Selena Arlington mendapati kenyataan - kenyataan yang beberapa di antaranya sulit untuk ia terima. Bahkan di bayangkan saja sudah membuat dadanya sesak.


Dari Michael yang sudah menikah, sampai kenyataan jika ia bukan putri kandung Smith Arlington. Pria yang ia anggap sebagai cinta pertamanya itu.


Yang membuatnya semakin sulit menerima, ialah istri pria yang ia cintai ternyata anak tiri ibunya, Chania Arlington. Dan lebih parah lagi, Oliver menjelaskan jika Michael begitu mencintai istrinya. Hingga rela melakukan apapun demi sang istri.


Hari ini adalah hari ketiga ia membuka mata. Setelah dua hari kemarin ia menangis sepanjang malam karena mendengar kabar pernikahan Tuan Mafia yang ia cintai sejak usia mereka satu angka saja.


Hari ini pun ia mendapatkan penjelasan, saat ia bertanya kenapa ia bisa koma sedemikian lama tanpa mendapatkan pendonor. Hingga ia melewatkan masa remaja bersama Michael dan Kakaknya Oliver. Yang dulu pernah ia bayangkan akan sangat indah.


Tau jika sumsum tulang belakang saudaranya tak sama, membuatnya terus bertanya dan menghajar ibu dan Kakaknya dengan berbagai pertanyaan yang sebenarnya cukup berat untuk di jawab.


"Jangan paksakan dirimu untuk terus mengetahui semuanya, Selena. Kamu harus benar - benar pulih terlebih dahulu.." ucap Oliver membelai rambut hitam legam dan panjang Selena.


Oliver mulai menyadari jika warna rambut mereka yang berbeda adalah tanda jika mereka berasal dari ayah yang berbeda. Namun pikiran itu hanya tertahan dalam benaknya saja. Ia tak mau membuat sang adik semakin sedih dengan perbedaan yang tak pernah mereka sadari sebelumnya.


Kehidupan pada akhirnya membawa Oliver menjalani hidup selayaknya dengan usianya saat ini. Menjadi lebih baik, dan selalu berfikir rasional sebelum bertindak.


"Aku harus tau semuanya, Kak!" jawab Oliver menatap kosong ke arah depan. "Begitu banyak momen dan kejadian yang sudah aku lewatkan. Termasuk kehilangan kesempatan untuk memiliki Kak Michael!" lirihnya meneteskan air mata. "Aku benci kenyataan ini.. hiks!"


Air mata yang dua hari ini sudah berjatuhan kembali deras membasahi pipi mulusnya. Langit seakan runtuh saat membayangkan Michael Xavier bersanding dengan seorang wanita yang belum pernah ia lihat wajahnya, kemudian ada sepasang anak kembar di sekelilingnya.


"Aku benci... hiks..hikss!" lirihnya begitu dalam. Tak ada teriakan namun jelas rasa sakit yang ia rasakan begitu di tahan.


"Selena... Jika kamu tau, begitu banyak hal yang Mommy dan kakakmu juga lakukan untuk mempertahankan Michael tetap bersama kita. Tapi takdir tidak ada yang tau akan berjalan seperti apa, Girl..." ucap Deborah mengusap tangan putri keduanya.


"Dulu kak Michael sangat perhatian dan baik padaku, Mom! Dia bahkan menghajar mereka yang menggangguku! apa itu namanya jika bukan cinta?" tanyanya terdengar begitu sendu.


"Tidak semua perhatian berarti cinta, Selena. Kadang mereka perhatian dengan kita karena mereka menganggap kita bagian penting dari hidupnya, tapi bukan sebagai cinta yang menguasai hatinya." jelas Oliver. "Ada perhatian yang melambangkan cinta layaknya adik kakak. ada perhatian layaknya sahabat dekat."


"Seperti Kakak dan Darrel, kami bahkan lama sekali tidak bertemu. Sekalinya bertemu kami begitu mudah untuk jatuh cinta dan saling mencintai satu sama lain." jelas Oliver begitu pelan dan lembut. Berharap sang adik paham akan maksud dari penjelasannya yang memang sulit untuk di terima oleh mereka yang hatinya patah.

__ADS_1


"Ini sangat sulit, Kak!" jawab Selena menghapus air matanya. Berusaha bersikap kuat, tapi hati kecilnya semakin terasa sakit dan hancur, seperti bawang bombay yang di rajam dengan cepat. Hancur berhamburan tanpa bisa di satukan kembali.


"Kamu pasti bisa, Selena... seperti Kakak!" ucap Oliver menunduk dalam.


"Maksud Kakak?"


Oliver terdiam, ia kembali mengingat jika ia pernah berjuang untuk mendapatkan hati seorang Michael Xavier saat adiknya tengah terbaring tak berdaya selama bertahun - tahun. Bahkan sempat terlintas dalam benaknya untuk mengkhianati sang adik.


Tapi kini semua sudah berubah, dan tak mungkin ia menceritakan semua itu pada sang adik. Karena sejak kecil ia tau jika sang adik menyimpan rasa cinta untuk Michael. Meskipun dirinya sendiri pun menyimpan rasa yang sama.


"Bukan apa - apa!" jawab Oliver tersenyum hambar pada Selena, kemudian menoleh sekilas pada ibunya yang tau maksud dari kalimatnya.


Deborah pun mengangguk samar dan tersenyum. Semua sudah berlalu, ia sendiri pun kini mulai menerima kenyataan jika ia tak memiliki apapun. Semua yang ia gunakan sekarang adalah fasilitas yang di berikan oleh Oliver, putri pertamanya.


Hatinya yang dulu keras, lambat laun mulai melunak. Meskipun sampai detik ini ia masih tak mau muncul di hadapan keluarga Frederick, terutama Chania dan Sania, dua anak tirinya.


Tok tok tok


"Selamat sore!"


Oliver pun tersenyum ramah, dan menyambut baik kehadiran orang - orang yang ada di depan pintu ruang rawat VIP sang adik.


"Sore... masuklah!" ucap Oliver menyingkir dari tengah pintu, memberi jalan untuk para tamu.


Sedangkan Deborah dan Selena menatap tak berkedip pada pintu. Deborah tau siapa yang datang meski belum terlihat. Sedangkan bagi Selena, suara itu sangat asing.


"Selamat Sore, Nyonya Deborah!" sapa Chania mengangguk hormat, layaknya menghormati seorang ibu.


"Selamat sore, Nyonya!" Sania ikut menunduk dan berdiri di samping saudara kembarnya.


"Sore.." jawab Deborah datar. Kemudian ia mundur dan duduk di sofa. mengalihkan diri dari para tamu.

__ADS_1


Sedangkan Selena, gadis itu terpaku menatap empat orang tamu yang selayaknya dua pasang kekasih. Ia menatap lekat dua perempuan yang wajahnya begitu mirip. Ia yakin, merekalah anak tiri sang ibu. Yang salah satunya adalah istri Michael.


Dan begitu menyakitkan, saat melihat tubuh kekar seorang pria yang ia yakini sebagai Michael Xavier berjalan mendekat dari belakang dua perempuan itu. Kemudian dengan santainya tangan kirinya terangkat dan mendarat di pinggang salah satu di antaranya.


' Kak Michael ... '


Lirihnya dalam hati. Sekuat hati ia menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Menatap lekat wajah yang begitu ingin ia lihat saat pertama kali membuka mata.


Garis wajah itu, sudah terlukis dengan tegas sejak mereka kecil. Sudah tampan sejak pertama kali mereka berkenalan dan bermain. Mata tajam itu, sudah terlihat indah sejak ia belum tau rasa apa yang menyelinap di hati kecilnya. Ekspresi dingin itu sudah sering terlihat sejak kanak - kanak. Namun tak sedikitpun membuatnya takut kala itu.


Dan saat ini, dimana saat pria itu sudah berusia 31 tahun semua terlihat semakin jelas dan mendebarkan jiwa setiap kaum hawa yang melihat atau bahkan sekedar mencuri pandang saja.


Namun sayang, tubuh itu telah menjadi milik perempuan lain. Milik sosok perempuan yang terlihat begitu sepadan untuk bersanding dengan pria yang merupakan keturunan klan terbesar di Italia, Black Hold.


Dengan sekali lihat saja, Selena tau jika kini teman kecilnya itu benar bergelut di dunia Mafia. Sebagai penerus tunggal Frederick Sebastian.


Tangan kekar yang sedari tadi mengalihkan pandangannya, bergerak semakin posesif di pinggang ramping perempuan yang ia anggap sebagai perempuan paling beruntung di Italia.


Hati semakin remuk rejam. Air mata yang sudah susah payah ia tahan, akhirnya menggelincir bebas meski tanpa suara sesenggukan.


"Selana..." panggil Oliver menenangkan. Ia tau apa yang di rasakan oleh adiknya itu.


"Selena, perkanalkan. Aku Sania, dan ini saudara kembar ku, Chania!" Sania menebar senyuman ramah. "Dan ini untukmu.." Sania menyahut sembari meletakkan rangkaian bunga di dalam kotak yang terbuat dari rotan di atas meja nakas. Ia mencoba menghibur gadis yang ia kira menangis karena terharu kembali bisa melihat dunia.


Selena memaksakan bibirnya untuk tersenyum tipis. Meskipun itu sangat sulit untuk hati kecilnya. Tapi tetap ia lakukan. Kemudian mengangguk perlahan.


Tapi... tangan kanan yang berada di atas perutnya tanpa sadar terkepal lemah.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2