SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 101


__ADS_3

Private jet mengudara, menembus cakrawala menuju kota penuh cinta yang menjadi pusat fashion dunia, ialah Paris.


"You're so beautiful!" puji Michael mencium pipi Chania yang saat ini tengah duduk bermanja di pangkuannya.


Senyum merekah di bibir manis, dan pipi merah merona, Chania membalas ciuman Michael dengan ciuman yang sama. Pipi dengan garis rahang yang tegas, ia jadikan landasan darat kecupan bertubi - tubi. Seolah enggan membuat bibirnya menjauh.


Dalam hati ia mengucap ribuan terima kasih pada Tuhan juga dunia dan seisinya. Ia mendapatkan cinta seorang Tuan Mafia, Michael Xavier.


Jika di tanya, apa tidak takut menjadi istri seorang Mafia yang terkenal kejam?


Sudah pasti dulu ia akan berkata iya. Takut, jika sewaktu - waktu ia melakukan kesalahan, lalu dengan mudahnya sang Mafia melukai atau bahkan membunuhnya. Pasti akan terbesit dalam benak siapapun yang berurusan dengannya.


Namun sekarang Tuhan telah berbaik hati padanya. Dengan menjadikan Tuan Mafia tanpa ampun itu mengucapkan kata cinta padanya. Dan hanya untuknya.


Sisi lain yang begitu lembut dari seorang Michael Xavier, selalu membuat Chania semakin jatuh cinta pada Tuan Mafia yang sudah membunuh banyak musuh dengan tangan dinginnya.


"Kami juga laki - laki paling tampan dan gagah yang pernah aku kenal!" balas Chania memasukkan jemari lentik di antara rambut hitam legam Michael.


Bibir tipis tersenyum miring, "Memangnya ada yang berani menandingi ketampanan ku?" ucapnya sombong dengan tatapan yang menyeringai.


Namun sesungguhnya dalam diri Michael, ia tak pernah membanggakan ketampanan sempurna yang ia miliki sejak lahir.


Di puji dan di puja - puja banyak wanita sudah menjadi hal yang biasa bagi Michael. Itu semua pun tak akan ia dapat jika tanpa ada embel - embel Sebastian di ujung namanya. Nama yang mendompleng atas apa yang ia miliki saat ini. Harta, tahta dan jabatan yang membuat banyak orang lebih memilih untuk menunduk dari pada harus berurusan dengannya.


Sehingga baginya kadar ketampanan yang ia miliki, bukanlah sesuatu yang membuatnya sombong dan besar kepala.


Namun demikian, ketika mendengar istri sendiri yang mengatakan dirinya laki - laki paling tampan yang pernah di kenalnya, ada rasa bangga tersendiri dalam hatinya. Menjadi suami yang tampan dan gagah untuk sang istri, adalah kebanggaan tersendiri.


Chania memukul pelan dada bidang Michael yang berbalut jas mahal. Bibirnya tidak mampu untuk menahan senyum akibat terlalu gemas dengan wajah suaminya yang semakin tampan saat menyeringai seperti saat ini.


"Dasar Tuan Mafia sombong!" celetuk Chania.


"Tapi kamu suka 'kan?"


"Hahaha!" tawa renyah Chania memenuhi seisi kabin bagian tengah, dimana hanya ada dua anak manusia itu saja. "Suka sekali, Honey!" jawab Chania mengeratkan tangan yang melingkar di leher sang suami. Kemudian dengan cepat menyatukan bibirnya pada bibir tipis sang suami.


Reflek kepala Michael terdorong ke belakang, hingga membentur sandaran empuk. Tangannya langsung merengkuh tubuh sang istri yang sudah menempel seutuhnya di dada, hingga keduanya sama - sama memejamkan mata.

__ADS_1


Ciuman terasa semakin memanas, manakala setiap inchi dari bibir masing - masing menjadi bagian yang tak boleh di lewatkan.


Desiran - desiran yang di timbulkan oleh ciuman membuat sekujur tubuh ikut menegang. Memberikan reaksi - reaksi intim secara perlahan.


Tak tahan dengan reaksi alami yang timbul, tangan Michael mulai merayap ke punggung. Mencari kepala resleting dress yang di kenakan sang istri. Rasanya tak ingin mengakhiri ciuman panas hanya dengan sebuah usapan di bibir saja.


Menemukan kepala resleting, Michael segera menurunkannya secara perlahan. Setelah berhasil turun sampai di ujung, tangan merayap di punggung Chania. Mengusapnya lembut dan penuh gairah.


Tak mampu lagi menahan gejolak di bawah sana yang mulai bergerak, Michael menurunkan kedua lengan dress Chania. Dengan cepat pula tangannya bergerak untuk melepas pengait br* warna pink yang di kenakan.


Melepas pagutan, Michael beralih menciumi leher putih, mulus nan jenjang. Ia tinggalkan satu titik merah di sana. Tentu saja untuk menunjukkan pada dunia, jika leher itu hanya miliknya seorang.


Gerakan kepala semakin turun ke bawah. Yang artinya bibir dan lidahnya juga semakin turun hingga menimbulkan ******* - ******* halus yang tak tertahankan dari bibir Chania yang masih memejamkan mata. menikmati setiap jilatan dan kecupan - kecupan lembut dari sang suami.


Tali bra sudah jatuh di kedua lengannya, tangan Michael mulai menariknya semakin ke bawah. Hingga kini bagian atas tubuh Chania sudah tak lagi tertutup sehelai benang pun.


Dada kembang kempis merasakan hawa di dalam tubuh yang semakin memanas. Melirik ke bawah, di mana Michael tengah asyik menjilati area di sekitar p*t*ng. Ia sungguh tak tahan dengan hasrat yang di timbulkan.


Ingin rasanya bibir itu segera menghisap bagian paling sensitif di tubuhnya. Namun Michael justru semakin menggoda. Ia dekatkan lidah tepat di ujung dada, namun tak segera menyentuhkan atau bahkan menghisapnya.


"Honey... jangan menyiksaku.." rintih Chania tak lagi mampu menahan hasrat.


"Hisap, Honey! aku sudah tidak tahan!" rancau Chania dengan dada yang kembang kempis. Tangannya meremas kuat rambut Michael yang berada di genggaman.


Tersenyum puas, "Dengan senang hati, Sayang..."


Pulp!


Bak singa kelaparan, Michael menghisap puncak dengan penuh nafsu. Bermain - main dengan ganas. Menyesap bergantian, dan juga meremas dengan penuh gairah.


Ibu jari dan jari telunjuk saling bekerja sama untuk memutar dan memainkan puncak pink. Saat lidahnya asyik bermain dengan puncak satunya.


"Ah! Honey...Aahhh!" rancau Chania semakin tidak karuan. Perutnya bergetar, sesuatu yang nikmat meledak dari bawah sana. Ia tak sanggup menahan untuk waktu lebih lama lagi.


Melihat puas tubuh Chania yang bergetar di pangkuannya, Michael segera menurunkan sisa baju sang istri yang masih menempel. Hingga tubuh dengan perut buncit itu kini tel*njang bulat.


Michael yang masih sangat bergairah, memasukkan jarinya ke bagian inti, dan mengocok dengan tempo yang membuat sang empunya tubuh semakin menggila.

__ADS_1


"Honeey... ayolah.."


"Apa, Baby?" tanya Michael menggoda.


"Lakukan sekarang..."


"Lakukan apa, hemm?" tanyanya menggoda dengan dua jari yang mengobrak - abrik bagian bawah dengan tempo yang cepat.


"Masukkan sekarang!" sergah Chania segera membuka ikat pinggang sang suami.


Michael tersenyum melihat sang istri yang di bakar gairah. Ia menikmati dengan penuh kepuasan.


Chania yang sudah menggila kini turun dari pangkuan sang suami. Duduk di bawah dengan bertumpu pada dua lututnya. Menurunkan resleting Michael. Mengeluarkan ular berbisa yang sudah menegang dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.


"Aaassh!" rancau Michael. "Istriku benar - benar hot!" desisnya.


Seperti yang bisa di duga. Permainan terus berlanjut. Bercinta di udara, membuat keduanya semakin merasa saling mencintai dan membutuhkan.


Hentakan - hentakan yang terdengar, seolah menambah kadar cinta keduanya, menguatkan dinding - dinding pertahanan yang di bangun di atas kertas catatan sipil.


Hingga tanpa di rasa keduanya kini kembali dengan pakaian lengkap. Seperti sebelum terjadi gempa pesawat. Kembali duduk berdampingan, Chania bersandar di pundak, hingga tanpa terasa matanya kian lama kian terpejam, tanpa sanggup di tahan lagi.


***


📞 "Nona Sania saat ini tengah berada di salah satu kamar hotel, Tuan!"


📞 "Dengan siapa?"


📞 "Sendiri! Nona Sania hanya menunggu Nona Margareth yang semalam bersama dengan Tuan Darrel!"


📞 "Hemm.. baiklah!"


Jack mengakhiri panggilan. Dan segera melapor pada Michael yang kini berjalan di depannya bersama sang istri menuju mobil jemputan. Mereka baru saja turun dari pesawat.


ðŸŠīðŸŠīðŸŠī


Happy reading ðŸŒđðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


Sebelumnya Othor mengucapkan terima kasih, pada semua reader yang selalu meninggalkan jejak. Mulai dari Like, Komentar, Bintang bahkan Vote nya.


Semoga kita semua di beri kesehatan dan limpahan rezeki. Aamiin...


__ADS_2