
Games di dalam pesta yang di selenggarakan Gladys masih terus berlanjut. Namun Jia yang baru pertama kali mendatangi pesta setelah turun gunung, nampaknya tak tertarik untuk mengikuti setiap sesi yang mainkan. Sehingga ia hanya duduk di kursinya yang menghadap meja bundar. Di sebelahnya ada Reena dan Diego yang mengapit kursinya.
Jika Reena sesekali masih tertarik untuk menjawab pertanyaan. Maka Jia sekedar tersenyum untuk formalitas saja. Karena ia sudah tak sabar ingin menagih janji pada sang bodyguard. Satu pertanyaannya yang belum juga di jawab oleh sang bodyguard.
Kenapa cemburu? padahal mereka tidak ada hubungan apapun, bukan?
Mengingat pertanyaan yang ia gunakan untuk mengintimidasi Xiaoli membuat Jia menahan senyum lucu, hingga harus menggigit bibir bawahnya bagian dalam. Betapa ia gemas saat melihat ekspresi Xiaoli yang kebingungan dan salah tingkah.
Saat asyik dengan senyum - senyum tidak jelasnya, tiba - tiba MC mengatakan sesuatu yang membuat fokus Jia teralihkan.
"Ok, guys! games selanjutnya Nona Gladys akan menerbangkan pesawat kertas yang sekarang sudah berada di tangannya. Dan bagi siapa saja yang kejatuhan pesawat kertas itu, atau pun yang berada paling dekat dengan lokasi jatuhnya pesawat, wajib untuk maju ke depan dan mencari pasangan untuk berdansa!"
"What!" pekik beberapa undangan yang merasa dirinya jomblo. Salah satunya tentu saja Jia. Semua yang jomblo dan tak punya gebetan, tentu saja was - was dengan siapa mereka akan berdansa nanti.
Namun games yang di utarakan sang MC di sambut oleh sorak sorai undangan yang memiliki pasangan. Karena akan menjadi ajang keromantisan mereka di dalam pesta itu.
"Tiga!" suara MC mulai menghitung mundur. Dan semua yang jomblo tampak semakin was - was. Sedangkan yang sudah memiliki pasangan dan duduk berdampingan tak merasa khawatir sama sekali. Justru sangat senang jika sampai pesawat kertas jatuh pada mereka.
"Dua!"
Angka semakin mendekati satu. Jia berdo'a agar benda putih itu jatuh mengenai dirinya, dan juga tidak jatuh di sekitarnya. Karena tidak ada lelaki yang ia kenal akrab selain Diego di ruangan itu. Sementara ia tak mau berdansa dengan lelaki manapun, selain lelaki yang ia sukai.
Dimana lelaki yang ia sukai itu bukan bagian dari tamu undangan. Sehingga tidak memiliki topeng apapun untuk di kenakan saat memasuki pesta.
"Jangan sampai jatuh padaku, please.." Gumamnya lirih saat Gladys sudah mengangkat pesawat kertas ke atas.
'Kenapa tidak mau?" tanya Reena yang mendengar gumaman Jia.
"Aku tidak punya pasangan dan aku tidak bisa dansa!" jawab Jia seadanya.
"Aku bisa mengajari mu!" sahut Diego yang juga mendengar gumaman Jia.
Jia terdiam, "tapi aku malu.." jawab Jia lagi, beralasan.
"Tenang saja..." jawab Diego menepuk pundak Jia pelan.
"Iya, Jia... Kan ada Diego! aku juga tidak punya pasangan. Kalau aku yang dapat, aku juga akan minta bantuan Diego untuk berdansa denganku!" sahut Reena melirik Diego.
"Siap!" sahut Diego dengan mengacungkan jempolnya pada Reena.
' Emm... sepertinya bukan sesuatu yang buruk! bisa untuk memanasi Xiaoli juga...Supaya dia cepat menjawab. Kenapa cemburu! '
__ADS_1
Gumamnya dalam hati dengan disertai cekikikan penuh kemenangan.
' Eh! tapi dia kan tidak ada di ruangan ini. Percuma saja dong! '
Lanjut Jia dalam hati.
"SATU" seru MC dengan di ikuti Gladys yang langsung menerbangkan pesawat kertas ke udara.
Untuk sesaat pesawat kertas buatan MC itu mulai terbang di udara. Berputar... meliuk bagai burung yang sedang menikmati kelebihannya yang bisa terbang melintasi cakrawala. Menembus awan, juga terbang mengikuti arah angin.
Semua mata yang ada di dalam ruangan itu tentu saja melihat ke arah pesawat kertas yang sedang menunjukkan betapa indahnya bisa terbang dan melihat semua orang dari atas sana. Putaran demi putaran menjadi magnet tersendiri bagi yang sedang menanti kepada siapa pesawat kertas itu akan berlabuh.
Dan pesawat kertas mulai terbang rendah, bersiap untuk landing. Semakin rendah pesawat maka semakin membuat para tamu undangan yang ada di sekitaran pesawat kertas menahan nafas mereka.
Hingga pesawat kertas itu jatuh tepat di depan meja Jia, dengan moncong yang menghadap pada Jia. Sudah jelas bukan, siapa yang akan maju ke depan untuk berdansa.
MC bertanya pada Gladys, siapa gerangan yang mendapatkan pesawat kertas. Saat Gladys menyebutkan nama Jia. Maka saat itulah semua tamu undangan ramai - ramai ikut menyebut nama Jia untuk maju ke depan. Termasuk Reena yang duduk di sampingnya.
"JIA! JIA! JIA!" seru mereka semua dengan di iringi tepuk tangan semua tamu undangan yang hadir.
Dengan salah tingkah dan senyum yang teramat kaku, Jia mengambil pesawat kertas itu.
Diego satu - satu kandidat yang bisa Jia pilih secara terpaksa untuk saat ini. Karena tak ada laki - laki lain lagi yang bisa di pilih Jia.
"Kamu mau menemani aku berdansa, aku tidak punya pasangan malam ini?" tanya Jia pada Diego. Meski terpaksa, Jia tetap berusa bertanya dengan sopan pada Diego.
"Tentu saja, girl!" jawab Diego dengan suara yang lembut.
Diego, pemuda yang tumbuh besar di keluarga kaya raya tentu sudah biasa berdansa dan menghadiri jamuan super mewah seperti ini. Dan ia tau cara terbaik memperlakukan seorang gadis di hadapan banyak mata konglomerat.
Dengan gagah ia berdiri untuk keluar dari kursi, dan mengulurkan tangannya untuk di sambut oleh Jia yang masih duduk di kursinya.
Jemari lentik terangkat dengan ragu. Kemudian ia letakkan di atas telapak tangan kekar sang lelaki. Dengan anggun ia berdiri dan keluar dari kursinya.
"Ciyeeeee!!!!"
Sorak sorai dari para undangan yang tidak mendapatkan pesawat kertas membuat pipi JIa merona. Bukan Karena malu di sandingkan Diego yang notabene nya juga termasuk dalam jajaran Mahasiswa incaran Mahasiswi. Tapi karena ia tak pernah berada pada situasi semacam itu.
Dengan lembut Diego membawa Jia untuk maju ke depan podium untuk mengembalikan pesawat kertas pada Gladys. Dan berdiri berdampingan untuk menunggu momen selanjutnya.
Dan MC kembali berucap, "Okay! selamat untuk Jia dan Diego!" serunya. "Sekarang mari kita cari pasangan selanjutnya!"
__ADS_1
Pesawat kertas kembali di luncurkan oleh Gladys setelah MC kembali berhitung. Dan kali ini pesawat kertas itu mendarat pada sepasang kekasih yang duduk berdua di salah satu kursi barisan tengah.
Dan Ballroom kembali ramai oleh sorak sorai dari mereka yang tak mendapatkan pesawat kertas. Hal itu terjadi sampai tiga pasang muda - mudi berdiri di depan dan bersiap untuk berdansa.
"Musik! mainkan!" seru sang MC.
Siapa sangka lagu yang di nyanyikan adalah lagu romantis yang mendayu nan syahdu. Membuat sepasang kekasih yang tadi terpilih terlihat semakin romantis. Sedangkan Jia dan satu pasang lainnya yang bukan kekasih tampak canggung dan ragu. Namun semua berusaha untuk profesional dalam permainan.
Diego mengangkat kedua tangan Jia untuk berada di pundaknya. Jia sanga tidak nyaman dengan apa yang sedang ia lakukan. Sedangkan tangan Diego sudah berada di pinggang ramping berbalut gaun rose gold yang sangat sempurna.
Sungguh, jika boleh menjerit, maka Jia akan melakukannya. Ia sungguh risih dengan tangan seorang lelaki yang menyentuh pinggangnya sedemikian intim. Namun jika ia melakukan, sudah pasti pesta mewah ini akan bubar dan hancur oleh ulahnya.
Meski topeng menutupi sebagian wajah mereka, nyatanya aura cantik dan anggun Jia tetap terpancar dengan sempurna. Hingga membuat Diego yang memang sejak awal tertarik pada Jia, hanyut oleh mata bundar sang gadis.
"Rileks..." ucap Diego lirih dengan senyum menawan.
"Hm..." jawab Jia tersenyum kaku. Meski ia sudah berusaha untuk santai.
"Anggap saja kita sepasang kekasih..." ucap Diego mencoba untuk mengirim sinyal - sinyal cinta pada Jia. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan..."
Sontak Jia terkekeh sendiri, karena yang ada di dalam pikiran Jia ketika Diego berucap demikian adalah.... KABUURRR.
Ya! Jia ingin kabur dari acara pesta yang seolah mengunci dirinya di dalam ruangan beku itu. Pesta yang menurutnya sangat membuang waktu. Karena ia sudah tak sabar dengan satu hal yang sangat ia tunggu.
"Kenapa tertawa?" tanya Diego dengan kening yang berkerut.
"Tidak apa..." jawab Jia menggeleng pelan.
Jika di lihat dari kejauhan, tanpa bisa mendengar aoa yang sedang mereka bicarakan, tentulah keduanya terlihat sangat romantis. Sama seperti sepasang kekasih yang ada di belakang Diego.
Tapi jika ada yang bisa mendengar dan memperhatikan betapa tangan Jia terlihat sangat tidak nyaman berada di pundak Diego, serta betapa risih merasakan tangan Diego di pinggangnya. Mungkin mereka akan menertawakan pasangan Jia dan Diego yang sangat kaku.
***
Tanpa di ketahui oleh Jia, sepasang mata Xiaoli ada di antara barisan bodyguard yang di ijinkan masuk untuk mengawasi majikan mereka.
' Kau belum tau.. aku bisa membunuhmu tanpa siapapun yang tau ... '
Desis Xiaoli dari kejauhan...
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1