SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 32


__ADS_3

Chania yang tertegun, ingin memilih untuj melanjutkan apa yang akan ia lakukan. Duduk manis, baca novel atau buku dan lepas tugas akibat tak punya baju ganti.


Namun akibat perintah Michael yang menggelitik, akhirnya ia hanya bisa duduk dengan salah tingkah.


Tatapan Michael yang mengintimidasi membuatnya hanya bisa menoleh kanan kiri tanpa tau harus berbuat apa.


Ia akui, hatinya memang telah jatuh cinta pada sosok Michael Xavier. Namun untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya pada Michael, bukankah itu sangat memalukan untuk seorang wanita?


Selain dirinya yang hanya sekretaris. Juga karena siapa yang ia cintai, seorang Michael Xavier. Seorang Mafia yang meskipun kejam, namun memiliki sisi lembut. Beberapa kali bercinta dengannya tentu membuat Chania begitu cepat jatuh hati.


' Kadang kala! '


Bantah Chania dalam hati.


"Jangan melihat ku seperti itu!" ujar Chania melirik Michael yang masih betah memberinya tatapan tajam.


Michael bergeming, pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia tak akan menggubris kalimat apapun yang keluar dari mulut Chania, selain kata - kata yang ia tunggu.


Chania semakin salah tingkah di buatnya. Helaan nafas berulang kali meluncur dari hidungnya. Sampai sebuah ide merengsak masuk ke otaknya.


Chania berdiri dari duduknya di sofa. Melepas jas hitam Michael yang tadi di gunakan. Dan meletakkannya di sofa itu. Chania berjalan mendekati Michael dengan hanya menggunakan sisa dalaman yang melekat di tubuhnya.


Bergerak manja dengan senyuman manis yang selalu berhasil membuat mata Michael berkedip. Ia duduk di pangkuan Michael tanpa permisi. Melingkarkan tangan di leher Michael. Michael tak membalas, ia hanya diam. Membiarkan Chania bergerak sesuka hatinya.


"Jadi benar, kamu tadi ngambek?" lirih Chania.


Michael membuang pandangan dari wajah Chania.


"Hihihihi!" Chania cekikikan dengan tak berdosanya. "Kok ada sih Mafia ngambek?" tanya Chania heran dengan menahan gelak tawanya.


"Tch!" Michael berdecih kesal di katai Mafia ngambek. "Minggir kamu!" desis Michael.


Hanya sebuah kata perintah dengan ekspresi kesal saja. Tapi tangan dan tubuhnya tak bergerak untuk membuat Chania menyingkir dari pangkuannya. Seperti sebuah kata yang di gunakan untuk sebatas menutupi rasa malu.


Chania yang merasa Michael memang seperti tengah merajuk layaknya anak kecil, justru menggoda Michael dengan senyuman nakal miliknya.


"Baru kali ini liat ada Mafia merajuk!" ucap Chania. "Gantengnya langsung berkurang!" lanjutnya mengikuti arah kepala Michael yang membuang muka.


Chup!


Sebuah kecupan di berikan Chania pada pipi kanan Michael. Michael tak bergeming.


"Cuma kau yang berani bilang ketampanan ku bisa berkurang, karena hal bodoh!"

__ADS_1


"Hihihi! maaf!" ucap Chania. "Michael, sudah mendekati jam istirahat loh ini!"


Michael hanya menyebikkan bibirnya malas. Chania semakin suka menggoda Michael. Namun itu hanya untuk mengulur - ulur waktu saja. Supaya ia tak di minta untuk mengucapkan kata - kata cinta.


"Uugh!" tiba - tiba Chania merasa ingin muntah, tubuhnya berkeringat dalam hitungan detik.


"Uugh!" Chania menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Kenapa kamu?" tanya Michael.


Cepat - cepat Chania beranjak dari pangkuan Michael tanpa menjawab pertanyaan Michael.


Ia segera berlari ke dalam toilet pribadi di ruang kerja Michael.


Michael yang tak paham dengan apa yang terjadi dengan Chania, hanya mengikuti pergerakan kilat Chania. Namun detik berikutnya ia mengikuti langkah Chania ke dalam toilet.


Di dalam toilet, Chania tengah berjongkok menghadap closed, dengan memuntahkan isi perutnya. Namun yang keluar hanya cairan putih.


Michael membuang muka. Sungguh! jika bisa berkata, ia sangat tidak suka melihat orang lain muntah.


Michael memilih kembali keluar, dan satu - satunya yang bisa ia andalkan saat ini adalah memerintahkan Jack untuk memanggil dokter pribadinya.


Chania keluar dari toilet di ruang setelah membersihkan mulut dan sisa muntahan. Tubuhnya terasa lemas, namun keringat sudah mulai berkurang. Ia kembali meraih jas Michael dan memakainya. Lalu tanpa izin pula ia merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mungkin masuk angin!" jawab Chania memejamkan matanya.


"Masuk angin?" Michael memicingkan matanya tak percaya.


Chania tak menjawab, matanya sudah terpejam, kepalanya pun pusing. Ia memilih mendiamkan Michael sekarang.


Michael yang melihat tubuh lemah Chania, memilih untuk mengambilkan selimut, dan menyelimuti bagian bawah tubuh Chania.


***


"Kenapa dia?" tanya Michael pada Rudolf, dokter pribadi Michael.


Seorang dokter kepercayaan Michael dan Frederick, menggantikan Ayahnya yang merupakan dokter kepercayaan Frederick dan mendiang Sebastian.


Dokter yang selalu ada saat Michael maupun Papanya terluka, begitu juga saat pengawalnya terluka di medan perang.


Kini ia tengah merapikan peralatan kedokteran yang baru saja di gunakan untuk memeriksa Chania.


"Huuffh!" Rudolf menghela nafasnya panjang. "Kau ini kaya raya! bahkan tak ada yang bisa setara dengan Papa mu di negeri ini, selain mendiang Smith!" lanjutnya.

__ADS_1


"Cepatlah! jangan bertele - tele!" bentak Michael pada dokter yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Namun tak membuat seorang Michael Xavier menghormatinya.


Rudolf terkekeh, "ada apa dengan mu ini! buru - buru sekali! apa kau menduga dia sedang hamil?" Rudolf menatap jail pada Michael yang wajahnya merah padam akibat kata hamil yang keluar dari mulutnya.


"Cepat! atau aku tidak akan membayar mu bulan ini, dan untuk kehadiran mu hari ini!" ancam Michael.


Rudolf menatap Chania yangs edang tertidur. Tapi entahlah, apa dia benar - benar tidur, atau hanya malas membuka matanya.


"Dia ini masuk angin! perutnya kosong! apa kau tidak sanggup memberinya makan!" jelas Rudolf.


"Hah! maksudmu, masuk angin karena lapar?" tanya Michael.


"Yaaah! dan kau dengan teganya meminta dia pakai dalaman saja begini!" Rudolf terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Aku tidak menyuruhnya!" bantah Michael.


"Lalu kenapa dia hanya memakai dalaman, dan jas mu ini!"


"Siapa suruh dia memakai baju menjijikkan itu!" ucap Michael malas sembari menunjuk baju yang tadi dia gunting dengan dagunya.


Rudolf dan Jack menoleh ke arah yang di tunjuk Michael. Sontak Rudolf tertawa terbahak - bahak. Sedangkan Jack menahan tawanya dengan susah payah. Ia tau Chania tadi memang mengenakan baju itu.


"Hahahaha! Michael Michael!" kekeh Rudolf. "Kau ini tidak pernah berubah! selalu saja meminta sekretaris mu memakai baju mini, dan anti dengan baju panjang!"


"Karena mereka aku bayar mahal untuk hal itu!" bantah Michael.


Rudolf tersenyum. Setidaknya ia merasa senang, Michael bukanlah pria yang suka datang ke tempat - tempat hiburan malam. Lalu bergumul dengan gadis - gadis malam yang sengaja menjajakan diri pada pria - pria hidung belang.


Michael selalu memakai satu wanita yang ia posisikan sebagai sekretaris pribadi, lebih tepatnya sekretaris ++. Dan wanita itu bukanlah datang dari wanita malam. Melainkan mereka yang memang butuh uang, dengan syarat seksi, cantik dan tidak lagi perawan.


"By the way! sekretaris mu kali ini cantik, seksi dan memang cukup menggoda. Dapat dari mana?" tanya Rudolf tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Pergi kau!" usir Michael dengan wajah yang mendadak di penuhi amarah.


.


.


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


Mampir yuk! di ❤️ Cinta Tuan Casanova ❤️

__ADS_1



__ADS_2