SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 261


__ADS_3

Jellow melajukan mobil Bugatti Divo berwarna biru milik sang putra mahkota Klan Black Hold. Di sisi kanannya ada sang pemilik mobil yang duduk seperti patung es di kutub utara. Sampai Tuan Muda Harcourt ragu untuk sekedar menyentuh apalagi bertanya.


Bisa-bisa bagai iklan shampoo, Sikat abis!


Karena sang pemuda diam membisu dengan posisi yang sama, dan tatapan yang terus saja melihat ke arah luar jendela. Menatap gelap malam, di antara tepian jalanan kota yang mulai berangsur sepi. Karena malam semakin larut, dan ini bukanlah malam minggu.


Tak ada sama sekali tubuhnya yang bergerak, kecuali kelopak mata yang kadang berkedip untuk mengusir rasa kering dan perih di matanya. Sesekali terlihat terpejam dengan gusar.


Selain kelopak mata, ada dada yang kembang kempis menahan gejolak dan resah yang ada di dalam sana. Berulang kali sang sepupu mendengar deru nafas resah seorang Georgio Xavier Sebastian. Hingga berulang kali Jellow mencuri pandang ke arah sang sepupu.


"Lebih cepat sampai, lebih baik! tidak usah melihat ku seperti itu!" ketus Jio membuat Jellow terkesiap dan reflek menghadap ke arah depan. Kembali fokus mengendalikan kemudi bundar di tangannya, dan menekan lebih dalam pedal gas mobil mewah yang tak kalah mewah dengan Lamborghini miliknya.


Citt!


Ban mobil berdecit di area parkir istana Xavier. Jio turun dari mobilnya tanpa menyapa sang sepupu lagi. Malam semakin mendekati pagi, bukannya Jio masuk ke dalam rumah, ia justru berjalan cepat dan tegap menuju salah satu gedung yang ada di belakang istana.


Melewati para penjaga malam yang menyapa dirinya dengan acuh.


Tuan Muda Xavier tidak sedang baik-baik saja!


Merasa ada yang tidak wajar, reflek Jellow mengikuti langkah sepupunya. Hingga tubuh tinggi dan tegap masuk ke dalam gedung tembak yang kosong. Jellow masih mengekor, ia tak mau ada hal buruk dengan sang sepupu yang sedang dalam mode tidak baik-baik saja. Ia bahkan menghempaskan rasa kantuknya di jam satu dini hari seperti ini.


Melihat Jio memakai peredam suara di telinga, tentu Jellow ikut memakai peredam di telinga demi keamanan pendengarannya. Berdiri di samping Jio, Jellow menoleh pada sang sepupu yang sangat lihai memasukkan peluru ke dalam senjata api berjenis desert eagle favoritnya. Tangan sudah terlatih dari sekian tahun. Tidak salah jika tanaga Jio bergerak bagai kecepatan cahaya saat mengisi senjata api itu.


Jellow pun melakukan hal yang sama. Malam ini ia memutuskan untuk menemani sang pemuda yang hatinya tengah berantakan, sampai esok hari. Atau sampai sang pemuda terlelap.


DORR! DORR! DORR!


Suara rentetan peluru yang melesat dari pistolnya, tak ada satupun yang meleset. Semua sampai di tengah dahi manekin, maupun di urat nadi yang ada di leher manekin yang di jadikan Jio pelampiasan. Beberapa juga masuk ke dalam dada bagian bawah, hingga melubangi bagian letak jantung.


Jellow tak ingin hanya diam saja, ia pun melakukan hal yang sama. Setiap selesai satu tembakan ia akan berucap, di saat Jio berhenti menembak.


DORR!


Suara tembakan dari Glock yang di gunakan oleh Jellow terlihat mendarat di dada sebelah kiri manekin.


"Aku yakin dia akan kembali mengingat semuanya..." gumamnya yang yakin masih di dengar oleh sang sepupu. Meski sang sepupu tampak diam membisu.

__ADS_1


DORR!


"Jodoh itu takdir yang sudah di gariskan Tuhan..." gumam Jellow lagi tanpa melihat Jio yang dirasa sangat cuek dengan apapun yang ada di sekitarnya.


DORR!


Lagi Tuan Muda Harcourt kembali menembakkan Glock di tangannya. Dan selalu presisi mengenai target yang bergerak.


"Aku yakin dia tidak akan pernah terlepas dari genggamanmu... Meski ia tak mengingat, tapi kalian punya hati yang selalu bertaut!"


DORR! DORR! DORR! DORR! DORR!


Kali ini lima peluru beruntun meluncur dari Desert eagle milik sang Tuan Muda Xavier yang sedang melampiaskan segala sesak di dalam dada.


Lima butir peluru itu mendarat tepat pada satu target, dan semua melesak pada dahi manekin. Hingga bagian dahi itu berlubang.


"Kamu tidak tau rasanya di lupakan secara terpaksa seperti ini!" ujar Jio kembali mengisi peluru Desert Eagle di genggaman.


"Hentikan, Jio.." Jellow meletakkan Glock yang ia gunakan, lau memegang pundak sang sepupu. Merebut Desert Eagle dengan terpaksa.


"Ya!" jawab Jio datar, menatap kosong ke arah depan, pada manekin yang berputar untuk berganti dengan manekin khusus latihan tembak yang baru. Kedua tangan bertumpu pada meja panjang di depan tubuh mereka.


"Sekarang giliran mu yang harus berjuang untuk menunggu dia kembali mengingat semuanya..." ujar Jello menatap lekat pada Jio yang tampak sedang melamun.


"Buktikan, bahwa kamu sesetia seorang Virginia Brown, yang rela menunggumu pulang dari kuil selama  tujuh tahun tanpa kabar yang pasti."


"Buktikan, kamu sekuat Virginia!" ulang Jellow menepuk pundak Jio. Menyadarkan sang sepupu dari kegilaan yang ada.


Beberapa saat kemudian, barulah Jio menoleh ke kanan, di mana Jellow masih menatap lekat dan keduanya saling bersilang tatap.


***


Sementara... saat Jellow melajukan mobil Jio menuju istana Xavier, jauh di belakang sana ada mobil Virginia yang di kemudikan oleh Xiaoli.


Di antara suasana pilu yang menerpa sang saudara kembar, sepasang kekasih itu juga ikut merasakan hal yang tak jauh berbeda. Rasa prihatin membuat keduanya tak bisa menikmati lagi momen romantis di detik-detik terakhir menuju waktu untuk kembali pada posisi awal. Nona Muda dan bodyguard nya.


Melihat mobil yang di kemudikan Jellow melaju cepat, tak membuat Xiaoli menambah kecepatan. Namun kini sang pemuda dan Nona Muda sudah berada di titik terakhir, sebelum jalanan terpantau oleh kamera CCTV Klan Black Hold. Mobil mewah itu berhenti di sisi kanan jalan.

__ADS_1


Xiaoli menurunkan setengah kaca pintu bagian depan, mematikan mesin mobil tepat di bawah cahaya remang lampu jalanan kota yang mulai sepi. Udara dingin mulai menyeruak masuk ke dalam mobil sang Nona Muda.


Untuk sesaat suasana masih sunyi dan syahdu. Keduanya masih diam membeku. Bingung, mau mengawali pembicaraan seperti apa.


Jia menoleh ke kiri, di mana sang kekasih masih menatap lurus ke depan. Entah apa yang dilihat sang bodyguard. Didepan hanya ada jalanan sepi menuju komplek elit yang menjadi hunian keluarga Xavier dan para konglomerat lainnya.


Merasa sang kekasih masih betah menatap dirinya, Xiaoli pun akhirnya menoleh ke sisi kanan. Untuk sesaat keduanya hanya diam dalam adegan saling tatap.


Tangan kekar yang sudah terbiasa melakukan latihan keras, terangkat untuk menyentuh rahang indah seorang Nona Muda Xavier. Membelai lembut menggunakan ibu jari, dan berucap...


"Aku tidak ingin kamu mengalami apa yang di alami oleh Tuan Muda," ucap Xiaoli lirih. "Kalau sampai aku lupa ingatan, apalagi melupakan kamu, pukul aku sesuka hatimu... Buat aku secepatnya mengingat dirimu, Bao Bao..." ucap Xiaoli lirih namun terucap dari lubuk hati yang terdalam.


"Kalau perlu pukul kepalaku sampai aku sadar kembali hingga mengingat kamu adalah wanita yang paling aku cintai. Karena aku tidak mau, ketika aku sadar ternyata kamu bukan milikku lagi..."


Sendu merasuk di dalam dada, mendengar suara khas sang pemuda berucap sedemikian menyentuh.


"Lakukan hal yang sama, jika aku yang lupa ingatan..." balas Jia tak kalah syahdu dari sang kekasih.


Xiaoli tersenyum kecil dan tipis, mana mungkin ia bisa menyakiti sang wanita. Walau secuil pun tak akan pernah ia lakukan. Tangan yang semula membelai rahang dan pipi Jia, kini beralih mengusap lembut rambut hitam kecoklatan sang kekasih.


"Aku sangat mencintaimu... mana mungkin aku bisa menyakiti mu walau seujung kuku sekalipun..."


"Aku juga sangat mencintaimu... aku tak ingin kehilangan cinta mu, walau hanya 5 menit!" balas Jia meraih tangan Xiaoli di kepalanya, dan membawanya ke bibir, untuk kemudian di kecup dengan sangat lembut. Bahkan sang gadis sampai memejamkan matanya, ketika mencium jemari yang sudah di latih untuk sekuat baja sejak dini itu.


Melihat punggung jemarinya di cium oleh sang Nona Muda, hati sang bodyguard benar-benar berdebar hebat. Bagaimana tidak? Tangan yang ia anggap kasar, karena tangannya adalah tangan pejuang hidup, merasa sangat tidak pantas di cium sedemikian dalam oleh seorang gadis cantik yang di matanya tiada tandingan lagi.


Puas mencium tangan Xiaoli, Jia menatap sang kekasih dengan sangat lekat. Menyalurkan segala perasaan yang bahkan tidak bisa dengan mudah di ucapkan melalui kata-kata.


Hingga jarak pandangan mata itu akhirnya semakin menyusut dan terkikis. Dan berakhir dengan dua pasang mata yang sama-sama terpejam di jarak yang sangat dekat. Bahkan hidung keduanya menempel dengan sempurna.


Semua itu terjadi karena kini...


Ya, tentu kalian tau apa yang sedang mereka lakukan sebelum mengakhiri momen romantis ini. Sebelum Jia harus kembali duduk di belakang, untuk kembali menjadi Nona Muda, dan Xiaoli kembali menjadi seorang bodyguard yang di percaya untuk menjaga seorang Georgia Xavier Sebastian seorang diri.


Di  bawah lampu jalanan yang temaram, dua hati menyatu menjadikan cinta keduanya semakin kuat dan kokoh.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2