SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 73


__ADS_3

🌹 Dimanakah Chania? #part 2


Keesokan harinya, saat pagi mulai menyapa. Bersama dengan pengacara sang Papa, Chania pergi ke salah satu Bank besar di Roma Italia, guna mencairkan dana 3 milyar miliknya.


Dalam beberapa saat, 3 Milyar sudah berada di dalam 3 koper hitam. Satu koper dalam genggaman sang Pengacara, dua lainnya di tangan dua orang bodyguard yang di sewa.


Sedangkan Chania menyimpan seluruh sisa dari rekening miliknya, yang hanya berkisar 50 juta.


"Sebaiknya sementara kamu tinggal di rumah saya, Chania." ucap Joe saat mobil yang membawanya menuju kantor dimana banyak pekerjaan menumpuk.


"Tapi Chania tidak mau merepotkan Om Joe dan Tante lagi."


"Sudahlah jangan begitu, Nak. Setidaknya sampai kamu punya rencana kedepannya."


Chania tersenyum miris. Mengingat ia bahkan belum punya rencana apa yang akan dia lakukan kedepannya.


"Om?"


"Ya?"


"Om bisa bantu Chania?"


"Apa?"


Chania mengarang sebuah cerita, yang pada intinya ia tidak ingin di temukan oleh seseorang yang tak dia sebutkan namanya.


Karena menyebut nama Michael Xavier di depan orang lain, sama saja menyerahkan diri kembali pada Michael.


Apalagi Joe William adalah seorang pengacara yang cukup terkenal. Nama Michael Xavier tentu saja tidak perlu mengingat dua kali untuk bisa tau seperti apa wajah pemilik nama itu.


Atau bisa saja pengacara seperti Joe justru akan berusaha menaikkan pamor melalui Chania punya hubungan dengan orang ternama seperti Michael Xavier.


Joe mengangguk paham masalah yang sedang di alami Chania. Anak mantan klien yang ia anggap seperti anaknya sendiri.


Berpikir cepat, sampai akhirnya ia menemukan ide dan tempat terbaik untuk Chania memulai hidup untuk kedepannya.


Dengan bantuan Joe, dalam dua hari Chania berhasil meninggalkan kota Roma tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Sebuah nama samaran di siapkan Joe untuk identitas palsu Chania selama di tempat yang baru.


Mereka menggunakan jalur darat untuk bisa sampai pada tujuan. Terlalu beresiko menggunakan pesawat atau pun kereta api. Karena bisa saja terdeteksi melalui tiket.


Sebuah rumah kecil dan sederhana sesuai keinginan Chania yang di siapkan oleh Joe melalui rekannya, telah menyambut kedatangan mereka.


Rumah yang di sewa untuk dua tahun ke depan itu akan menjadi tempat tinggal baru bagi Chania selama di kota itu. Bertempat di dekat pantai akan membuat Chania merasa lebih nyaman. Meskipun berada di rumah yang sangat kecil.


"Terima kasih untuk semua bantuan Om dan Tante." ucap Chania setelah melihat keseluruhan rumah yang ukurannya nyaris sama dengan kontrakannya dulu.


Di kamar berukuran 2x3 hanya ada sebuah tempat tidur single dan almari sederhana dua pintu untuk baju - baju Chania yang hanya satu koper.


Di ruang tamu dengan ukuran 2 x 3 meter hanya ada sebuah meja pendek tanpa kursi, di bagian tengah ruangan. Yang artinya jika ada tamu hanya bisa duduk bersimpuh di lantai beralas karpet sederhana.


Di samping ruang tamu ada sebuah dapur sempit, berukuran 1,5 x 1,5 meter. Di sebelahnya ada kamar mandi dengan ukuran yang sama.

__ADS_1


Rumah dengan total panjang 6 meter, lebar 3 meter yang berada di perkampungan kecil di sekitar jalan menuju pantai itu akan menjadi saksi bisu kesepian seorang Chania Renata kedepannya.


Menghela nafas, "Chania, apa kamu akan betah tinggal di rumah sekecil ini?" tanya istri Joe.


"Ini sudah jauh lebih cukup, Tante."


"Chania, Jika kamu mau Om tidak keberatan untuk menyewakan rumah yang lebih layak untuk kamu."


"Iya, Chania! jujur, Tante tidak tega lihat kamu tinggal di rumah kecil seperti ini, bahkan sudah tua begini, apalagi di kota ini sendirian."


"Om dan Tante jangan khawatir. Bukankah tidak selamanya hidup itu indah dan bergelimang harta," ucapnya, "mulai sekarang Chania akan belajar untuk hidup apa adanya, berdasarkan kemampuan keuangan Chania. Dan rumah ini menggambarkan kemampuan Chania untuk sekarang ini."


Menarik nafas dalam dan menghelanya dengan sedikit resah, "Baiklah, Nak. Sepertinya kamu memang sekarang sudah benar - benar dewasa. Bukan Chania yang manja dan hanya tau cara menghabiskan uang. Haha" kekeh Joe mengingat Chania beberapa tahun silam.


"Hahaha, Om bisa aja!" senyum merah dan malu merekah di wajah cantik Chania.


"Baiklah, kalau begitu. Om dan Tante harus kembali ke Roma. Jaga diri baik - baik disini. Kabari Om jika butuh bantuan, ataupun kehabisan uang. 3 Milyar mu akan segera Om berikan pada mereka."


"Hemm," mengangguk paham. "Terima kasih, Om."


"Ya. selamat menjalani hari baru, Nak."


"Hehe, siap! Om!"


"Bye, Chania."


"Bye, Tante! hati - hati."


Mobil mewah yang mengantar Chania, mulai melaju pergi. Meninggalkan gubuk kecil yang akan menjadi tempat ternyaman untuk Chania selanjutnya.


Setelah semua rapi, Chania duduk di atas tempat tidurnya dan mengeluarkan tas yang berisi sisa uang dari menyewa rumah. Dua gebog dan ratusan ribu yang sudah berantakan.


"Mungkin hanya sisa 25 juta!" gumamnya. "Aku harus segera mencari pekerjaan."


Chania kembali memasukkan uang itu ke dalam tasnya. Tidak mau juga berlama - lama bersedih dengan nasibnya di depan. Kemudian beralih pada diary sang Mama.


"Aku di sini, Mom." lirihnya mencium diary usang milik sang Bunda.


🌺🌺🌺


Happy Birthday, My baby girl...


Chania Renata dan Shania Arlington yang kini entah ada dimana.


Meskipun kalian di besarkan di tempat tang berbeda dan tak pernah bertemu.


Mama yakin wajah kalian masih mirip dan tetap sama.


Sudah lama tidak menulis di buku ini.


Lebih tepatnya setelah Mama dan Papa Kenzo Menikah.

__ADS_1


Anak - anakku? dunia bisa saja berubah dalam hitungan detik.


Nasib dan takdir bisa saja bekerja cepat dan kilat.


Seperti saat ini, Usaha Papa Kenzo sedang pailit.


Maafkan kami Chania, untuk sementara kita akan hidup sederhana.


Hidup apa adanya.


🌺🌺🌺


Chania mengerutkan keningnya saat membuka halaman selanjutnya. Ada bekas beberapa lembar kertas tampak sengaja di sobek. Entah kapan.


Akhirnya mau tak mau, Chania membaca lembar bertuliskan di halaman selanjutnya. Menutup bekas lembar yang di sobek.


🌺🌺🌺


Smith Arlington...


Maafkan aku...


Karena aku kamu meninggal akibat peluru istrimu...


Dan aku? perempuan tidak berguna ini hanya bisa menangis saat darah mengalir...


Smith Arlington.. Maafkan aku...


Roma, akan menjadi kota paling menyedihkan untuk ku dan kedua putri kembar kita.


Maafkan aku, Smith...


Namamu akan tetap terukir indah di dalam hatiku...


Di sisi lain, saat belum terisi Kenzo...


🌺🌺🌺


Di lembar itu tampak banyak sekali bekas tetesan air mata yang mengering.


"Semua memang sangat mirip dengan yang di ceritakan Tuan Michael." gumamnya.


"Michael..." lirihnya merasa rindu akan suami yang ia tinggalkan.


Menyentuh perutnya, mengusapnya dengan lembut. Dimana, di sanalah benih cinta mereka bersatu.


"Benih cinta kami? hahaha" tertawa sumbang setengah miris. "Siapalah diriku mengakui di cintai seorang Michael Xavier."


Tersenyum hambar, di barengi setetes air mata yang menetes dari pelupuk mata lentiknya.


"Jika aku tidak pergi bisa saja besok atau lusa aku akan di serahkan pada Nyonya Deborah itu!" gerutunya menghela nafas.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2