
Di sisi lain, Chania yang sudah terbangun dari tidurnya menghubungi dokter kandungan yang menanganinya. Membuat janji untuk bertemu secara pribadi bahkan diluar jam kerja.
Setelah melalui berbagai rintangan karena pengawal di rumah sudah mendapatkan mandat dari sang Tuan muda untuk menjaga Chania 24 jam penuh. Akhirnya ia bisa keluar dari rumah megah itu dengan alasan pil kontrasepsi yang hilang.
Tentu saja ia berangkat dengan dua pengawal di bagian jok depan, dan satu mobil berisi lima pengawal terbaik di belakang.
Sedikit risih, namun itulah syarat dari suaminya, Michael Xavier.
"Kenapa baru kembali, Nyonya Xavier?" tanya Dokter Verra yang sudah melihat hasil test pack yang di bawa Chania.
"Maaf, Dok! kami baru pulang dari LA."
"Lalu dimana Tuan Xavier? kenapa tidak ikut masuk?"
"Suami saya sibuk, Dok. Saat ini sedang meeting dengan klien penting dari luar negeri." bohong Chania.
Menghela nafas, "Baiklah, mari saya periksa." ucap Verra menunjuk bad pasien. "Kita akan melakukan USG untuk memastikan keberadaannya."
Chania mengangguk pelan, menatap tempat tidur pasien dengan berbagai alat canggih USG di sekitarnya.
Berbaring, menatap langit ruang Dokter kandungan. Jantungnya berdegup, bersiap melihat sosok lain di dalam tubuhnya.
Asisten dokter mulai mengoleskan gel di perut Chania yang masih begitu datar. Hingga akhirnya alat yang di sebut transducer bergerak pelan di atas perutnya. Berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
"Selamat, Nyonya Xavier. Ada dua janin di dalam rahim Nyonya." ucap Verra menunjukkan layar monitor.
"Serius, Dok?" tanya Chania membelalakkan matanya.
"Ya, Nyonya! dan sudah berusia 17 minggu."
"17 minggu?"
"Ya, itu terhitung sejak terakhir anda datang bulan."
Chania tersenyum senang, merasa sempurna mengingat ia akan menjadi seorang ibu.
"Saran saya lain kali, lebih baik Nyonya datang bersama Tuan Xavier. Supaya Nyonya dan Tuan kompak menjaga keberadaan dua janin di dalam rahim Nyonya."
Ucapan sang Dokter mengikis senyuman di bibir Chania secara perlahan. Teringat bahkan Michael saja belum mengetahui keberadaan dua malaikat kecil di dalam rahimnya.
***
Duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun Michael belum juga pulang. Kabar terakhir Michael tengah melakukan briefing di Markas utama Black Hold.
Chania kembali teringat akan ucapan sang dokter untuk lain kali datang bersama suami. Selain itu kembali teringat buku diary mendiang sang Mama yang tadi sempat ia baca beberapa lembar.
πΊπΊπΊ
Satu bulan sudah kalian terlahir di dunia...
Kasih sayang Mama tidak akan pernah luntur untuk kalian berdua...
Putriku...
Chania dan Shania...
Meskipun kalian akan di besarkan di tempat yang terpisah, Mama akan selalu mendo'akan yang sama untuk kalian...
Maafkan Mama, Shania...
Bukan Mama tak menyayangi mu...
Tapi kondisi Mama yang buruk, perekonomian yang sulit membuat Mama tak sanggup merawat kalian berdua bersamaan...
Jangan pernah salahkan Papa atas kondisi Mama saat ini, Nak. Sungguh Papa kalian tak tau jika istrinya yang menyabotase semua hak milik kita dari Papa Smith.
Mama diam, karena Mama ingin kalian, kita tetap bisa hidup... Maafkan Mama...
Shania Arlington...
__ADS_1
Mungkin kamu akan sering bertemu dengan Papa kandungmu, Smith Arlington.
Meskipun kita akan sulit bertemu, Nak.
Tapi hidupmu akan bergelimang harta, tak seperti saudaramu... Chania...
Chania Arlington...
Mungkin kamu tidak akan pernah bertemu ataupun melihat Papa kandungmu, Smith Arlington.
Tapi kamu selamanya akan bersama Mama.
Meskipun kita akan hidup serba kekurangan.
I love you, Chania dan Shania...
πΊπΊπΊ
Batin Chania terenyuh, ia tak menyangka terpisah dengan saudara kandungnya sejak berusia satu bulan.
Dan mendapati kenyataan masa kecilnya penuh kekurangan serasa tak sanggup membayangkan perekonomian sang ibu yang di tinggal hanya dengan dirinya.
Namun Chania kembali mengingat cerita Michael yang mengatakan jika Kimberly menikah dengan Kenzo sejak ia berusia satu bulan.
"Harusnya saat itu sudah ada Papa. Papa Kenzo." gumam Chania.
Dengan hati gelisah oleh masa lalu sang Mama, ia kembali membuka lembar baru yang belum ia baca.
πΊπΊπΊ
Takdir...
Ternyata masih berbaik hati padaku...
Tepat hari ini, seorang pria rupawan, bersedia menikahi ku...
Yang hanya seorang janda beranak kembar yang baru berusia satu setengah bulan...
Dua minggu adalah waktu singkat dimana kami saling mengenal.
Kenzo Anata, seorang nasabah di tempat ku bekerja. Konon katanya dia baru pindah dari Roma.
Ah, Roma...
Kota dimana cinta ku dan cinta smith berkembang...
Hingga hadirlah dua putri kami...
Baiklah, berhenti bicara masa lalu...
Tuhan sudah mengirimkan seorang pangeran dengan segala kekurangan dan kelebihan...
Dia yang bersedia mengikat janji suci dengan ku di depan pendeta dan saksi...
Dia yang menungguku dengan gagah di ujung altar...
Chania...
Maaf, mulai malam ini, namamu kami rubah menjadi Chania Renata.
Reana dan Anata
πΊπΊπΊ
"Baiklah, aku benar anak Smith Arlington. Tapi siapa pria itu sebenarnya?"
Chania masih kesulitan tidur saat jam dinding mulai bergerak menuju angka sebelas, memilih untuk membuka mesin pencari. Memasukkan nama Smith Arlington yang konon katanya seorang pesohor di Italia.
Dan tercengang, karena berita yang beredar di internet menyatakan Smith Arlington meninggal karena serangan jantung.
__ADS_1
"Jelas ini hoax!"
Chania kembali mencari profil lengkap Smith Arlington. Dan jantungnya berdegup cepat, mata membulat lebar. Reflek mendekatkan ponsel ke wajahnya untuk memastikan apa yang ia baca adalah benar.
Susuan anggota keluarga, dimana ada nama Oliver Arlington yang berada di susunan anak pertama.
"Apa mungkin Oliver kepala maid itu?" gumam Chania lirih.
"Tapi nama Oliver tidak hanya satu di muka bumi ini."
Tidak mau percaya begitu saja, Chania membuka aplikasi IG dan mengetikkan nama Oliver Arlington.
Lemas sudah sekujur tubuh Chania, melihat semua foto yang berada di layarnya menunjukkan Oliver sang kepala maid di istana Michael Xavier. Dimana sampai detik ini mereka masih seperti musuh bebuyutan.
"Jadi aku dan dia..."
Tak sanggup melanjutkan kalimatnya, Chania menjatuhkan ponselnya begitu saja.
Clekk!
Pintu terbuka, memperlihat wajah suami yang ia cintai dengan penampilan yang lusuh. Seperti bukan seorang Michael Xavier.
"Kenapa kamu terlihat kusut begitu, Honey?" tanya Chania segera beranjak dan mendekati sang suami.
Namun hanya gelengan kecil yang di dapat dari Michael.
"Kenap kamu belum tidur?" Michael meraih pinggang Chania yang hanya di balut dnegan lingerie tipis.
Tubuh bersentuhan, kehangatan menjalar. Luruh sudah rasa lelah yang di rasakan Michael sepulang dari markas utama.
"Nungguin kamu." bohong Chania mengusap dada Michael yang hanya di balut kemeja hitam. Tanpa jas, bahkan dasi pun sudah tak menggantung di lehernya.
Tersenyum manis, mendaratkan kecupan di setiap inchi wajah Chania. "Aku mandi dulu." ucap Michael mengakhiri momen romantis singkat. "Setelah itu kita lanjutkan apa yang kamu inginkan." goda Michael mencuri kecupan di bibir manis Chania.
"Memangnya apa yang aku inginkan?" tanya Chania memicingkan matanya.
"Memangnya apa gunanya kamu ke dokter kandungan untuk meminta pil kontrasepsi, Baby?"
Chania tersenyum kikuk, mengingat kebohongannya sendiri.
"Oh, ya! aku ingat, aku ingin menanyakan hal ini padamu, Baby."
"Apa?"
"Apa pil kontrasepsi mempengaruhi siklus menstruasi kamu?"
"Memangnya kenapa?"
"Sepetinya hampir setiap malam kita bercinta, kalaupun tidak paling hanya berjarak satu malam saja. Kamu sepertinya tidak pernah menstruasi sejak pertama kita bertemu."
"Hah!" bingung sudah Chania. Apa yang harus ia jawab.
Jujur?
Atau mencari alasan?
πͺ΄πͺ΄πͺ΄
Happy reading πΉπΉπΉ
Selamat malam reader setia Othor Lovallena...
Salam sejahtera dan sehat selalu walau jadi tim maraton sekalipun. Hehe π
Othor pengen ngasih bocoran episode nih β€οΈβ€οΈβ€οΈ
π Episode selanjutnya, beberapa kenyataan akan terungkap di depan mata Chania.
π Di sambung dengan episode bertajuk drama di istana Michael.
__ADS_1
π Kemudian di susul dengan boom episode yang akan di kuasai Michael Xavier π.
Stay tune ya kakak π₯°π₯°π₯°