SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 135


__ADS_3

Sayu - sayu Matahari pagi mulai menyapa belahan Bumi bagian Italia. Di hotel dengan kelas terbaik, dua pasang anak manusia masih terlelap di kamar masing masing.


Oliver dan Darrel, sepasang kekasih itu tampak masih betah berpelukan di balik selimut tebal. Saling menghangatkan dengan kulit putih yang saling bersentuhan.


Di kamar lain, lebih tepatnya sebuah kamar mewah yang dijadikan sebagai kamar pengantin pun, tampak sepasang suami istri masih saling menghangatkan.


Dua pasang mata masih terpejam, seolah keduanya enggan untuk beranjak dan melepaskan malam ini begitu saja.


Hingga sayu - sayu suara getar ponsel membuat si pria yang tak lain adalah Michael Xavier itu mengerjapkan matanya. Menoleh sisi kiri, dimana ada ponsel yang menyala tanpa suara. Hanya getaran kecil yang terus membuat ponsel itu bergerak, hingga mengganggu pendengaran sensitifnya.


Michael mengambil ponsel yang ternyata milik istrinya. Ia segera membaca siapa yang menelpon istrinya sepagi ini. Siapa yang berani mengganggu pagi mereka.


Nomor tidak di kenal


Satu kalimat yang muncul di layar ponsel beserta sebuah nomor di bawahnya membuat Michael mengerutkan kening.


Rasa curiga dan penasaran merambah relung batinnya. Beruntung getaran beberapa menit itu tidak terdengar oleh istrinya.


Ia pindahkan kepala istrinya yang menindih lengannya. Dan turun dari ranjang dengan hanya meraih bokser saja dan memakainya. Ia dekati jendela dan membuka sedikit tirai berwarna emas. Cahaya mentari pagi seketika menyeruak masuk di antara celahnya.


Tanpa satu katapun, Michael menggeser tombol hijau dan mengarahkan benda pipih itu ke telinga. Ia hanya diam untuk tau siapa yang menelpon istrinya saat jarum pendek jam dinding masih menunjuk angka 7.


Sebenarnya angka 7, bukan angka yang teramat pagi. Hanya saja untuk sepasang suami istri di malam pengantin, rasanya terlalu pagi jika harus bangun jam 7 pagi. Mengingat semalam mereka mengulang ronde hingga waktu menunjukkan pukul 3 pagi.


Beberapa detik lamanya, baik Michael dan sang penelepon tidak di kenal sama - sama tak bicara. Dan beberapa detik kemudian, panggilan itu di akhiri oleh pemanggil misterius itu.


"****!" umpat Michael mengayun ponsel dengan kasar. "Siapa ini?"


Di tengah kebingungan, ia melirik istrinya. Menatap lekat wajah cantik yang masih berada di bawah alam sadarnya itu.


Adakah yang kamu sembunyikan, Baby?


Siapa yang berani mencoba mengganggumu?


Apa dia tidak berpikir dua kali untuk mencari masalah denganku?


Menghela nafas panjang, Michael kembali ke sisi ranjang. Duduk di tepi ranjang. Menghadap sang istrinya yang masih telanjang bulat di balik selimut tebal.


Rambut berantakan menambah kesan sensual di wajah cantik istrinya. Ia dekatkan wajah untuk mendaratkan kecupan di bibir manis. Namun...


Tok tok tok


Suara ketukan membuatnya mengalihkan fokus. Berencana membuat ronde ketiga bersama istrinya, justru ada yang mengganggunya.


Michael beranjak dengan malas. Ia raih handuk kimono putih dan memakainya sembari berjalan ke arah area ruang tamu. Ia intip dari celah kecil, siapa yang berani mengganggunya.


Ada Jack berdiri paling belakang, di depannya ada Reno, Sania dan ... seorang gadis cantik yang entah siapa dengan membawa sebuah paper back berukuran sedang.


Clekk!


Michael membuka pintu tidak terlalu lebar, aura dingin ia tebar begitu saja. Ia tatap Jack dan Reno penuh intumidasi. Diantara 4 orang itu hanya mereka yang berani mengetuk pintunya.


"Ada apa?"


"Ada yang ingin bertemu istrimu!" ucap Reno santai. Seolah tak takut dengan tatapan Sang Mafia.


"Siapa?" lanjut Michael datar.


Reno menunjuk gadis dengan balutan dress berwarna putih selutut. Bagian dada membentuk kimono, dengan lengan sedikit menggelembung hingga di atas siku. Sebuah tas selempang kecil, melingkar di pundak sebelah kanan.


Gadis itu membungkukkan badan hormat. Sepertinya ia mengenal betul, siapa pria yang ada di antara kusen dan daun pintu itu.


"Selamat pagi, Tuan!" sapanya. "Nama saya Gia Octarin, saya sahabat Carina, eh maksud saya Chania saat bekerja du restauran di Venice." ucap Gia.

__ADS_1


🌹 Sahabat Chania baca Gia (Gia Octarin)


🌹 Anak Chania baca Jia ( Georgia )


Michael melirik Jack di belakang mereka. Dan pria itu mengangguk, membenarkan ucapan Gia.


"Untuk apa sepagi ini kau mencari istriku?" pertanyaan Michael pada Gia langsung pada inti permasalahan.


"Em..." lidah Gia tercekat. Apa yang harus ia jawab. Menatap mata suami sahabatnya saja sudah membuatnya kesulitan bernafas. "Saya..."


"Mich! jangan menatapnya seperti itu!" celetuk Reno ketus. "Apa kau tidak sadar? hanya dengan tatapan mu saja sudah bisa mencekik leher orang - orang seperti dia!" sentaknya kemudian.


Michael tau apa yang di ucapkan Reno memang benar adanya. Ia hela nafas panjang, ia sandarkan lengan pada kusen. Pintu masih hanya ia buka selebar tubuhnya saja.


"Istriku masih tidur!" ucapnya kemudian.


"Apa Kak Michael yakin?" tanya Sania.


"Hem.." jawab Michael mengiyakan.


"Tidak biasanya Chania masih tidur di jam 7 pagi begini..."


"Kamu lupa ini malam pengantin kami?"


"Eh, iya juga sih!"


Gia melirik Reno, seolah meminta petunjuk, apa yang harus mereka bicarakan selanjutnya. Karena pria itu satu - satunya yang ia kenal dengan baik di sini.


"Kalau begitu beri tau aku ya, Kak! kalau Chania sudah bangun. Kami menunggu di Cafe bawah." ucap Sania yang tau arti lirikan Gia pada kekasihnya.


"Hemm.." jawab Michael hendak menutup pintu.


"Maaf!" sahut Gia menahan daun pintu. "Apa tadi Tuan Michael yang menerima telpon saya?"


"Ya, Tuan!"


"Kenapa tidak ada nama mu di ponsel istriku?"


"Saya ganti nomor, Tuan. Dan saya juga baru mendapatkan nomor telpon Carina, eh Chania lagi dari Chef Reno!" Menoleh Reno sekilas.


"Oh..." jawab Michael dengan sangat enteng.


"Maafkan saya jika saya mengganggu, Tuan!"


"Sangat mengganggu!" celetuk Michael tanpa basa basi dan sangat tegas.


Gia menelan ludahnya dengan sangat susah. Dalam benaknya, bagaimana bisa Chania menikah dengan pria yang sangat dingin dan menakutkan seperti ini.


"Kalau begitu kami permisi, Tuan." Gia memilih untuk mengakhiri sesi menegangkan ini. "Saya harap Tuan mengizinkan Chania untuk menemui saya." Gia kembali membungkukkan badannya. Memberi hormat pada pria yang dikenalkan Reno sebagai seorang Mafia.


"Hmm!" jawab Michael datar dan langsung menutup pintu. Bahkan sebelum mereka yang berada di depan pintu belum beranjak.


Jika bicara tentang sopan santun pada sesama, mungkin Michael Xavier sangatlah minus. Tapi mau apa dikata, sejak kecil yang ia ketahui adalah keluarganya yang sangat di takuti banyak orang. Dan yang ia tahu, ia hanya haru menghormati leluhurnya. Termasuk orang tua. Lebih dari itu, bagi Michael tidak ada lagi yang perlu ia takuti atau hormati.


Di depan pintu, tiga orang tampak saling lirik setengah bunyi pintu tertutup rapat. Saling melirik ragu juga takut dengan emosional seorang Michael Xavier.


"Kita ke Cafe saja, sambil mengobrol!" ucap Sania. "Biar kita lebih akrab!" lanjutnya.


"Ya, kami benar.. Sania!" jawab Gia.


"Kita pergi dulu, Jack!" ucap Sania pada Jack.


"Ya, Nona!" jawab Jack.

__ADS_1


Gia menoleh Jack yang masih berdiri dengan gagahnya. Ia masih sangat ingat wajah pria itu. Tak kalah tampan dari bosnya. Hanya mungkin kalah jumlah uang saja. Sehingga apapun alasannya, keberadaan bosnya jadi jauh lebih menarik perhatian kaum hawa.


"Permisi, Tuan!" ucap Gia kemudian, ia menundukkan kepalanya sekilas.


"Hmm .." jawab Jack datar. Karena baginya selain keluarga Xavier, tidak ada gadis lain lagi yang perlu ia hormati layaknya Sania dan Oliver.


' Pria itu... Tak kalah tampan dari Tuan nya... Tapi, sama dinginnya dengan suami Carina, eh, Chania... Salah terus! untung aku tidak di cekik oleh Tuan Michael! '


Gerutu Gia dalam hati, sembari melangkahkan kaki menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai dasar.


Kembali pada Sang Tuan Mafia...


Michael menjatuhkan dirinya di ranjang, tepat di sisi istrinya yang masih tempak begitu nyaman dengan mimpinya.


"Ehm..." Chania menggeliat karena hentakan tubuh suaminya.


"Good morning, Baby..." ucap Michael mendaratkan kecupan di bibir tipis.


Sepasang mata lentik terbuka sipit, menyesuaikan dengan cahaya lampu di kamar itu.


"Honey..." lirihnya menggeliat. "Kamu dari mana?" tanyanya setelah melihat tubuh suaminya yang di balut handuk kimono.


"Ada yang mencarimu..."


"Aku?"


"Hemm.."


"Siapa?"


"Coba tebak!"


"Kamu!"


"Hah? kenapa aku?"


"Ya... siapa lagi yang mencari aku kalau bukan kamu!" terkikik sembari mencubit hidung mancung suaminya.


Tergelak, "Yaa... kamu benar, aku memang selalu mencari mu, Baby... untuk...."


"Apa?" tanya Chania dengan suara serak khas bangun tidur.


"Untuk..."


"Apaa...?"


"Tentu saja untuk..."


Michael melepas handuk kimono nya, kemudian menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh t3lanjang istrinya.


"Ahh!" pekik Chania.


"Tentu saja untuk ronde ke tiga, Sayaang..." desis Michael dengan nada yang terdengar sanga nakal. Wajah mesumnya kembali mencuat saat melihat dada istrinya yang sangat menantang.


...🪴 Happy reading 🪴...


Hai, thanks ya semua... yang sudah sabar membaca sampai di episode 135 ini. 🥰


Tak terasa sudah lebih dari 150 ribu kata Author up! 🤩


Jika berkenan, mohon mampir di novel Othor yang lain ya kak... Ada 4 novel Othor Lovallena yang udah tamat! 😉


Salam hangat, Lovallena ❤️

__ADS_1


__ADS_2