
"Carina, gesek gih!" ucap Gia menyerahkan sebuah kredit card dan bill atas nama Jack Black.
"Okay!"
Saat Chania menggesek kartu pada mesin, mendadak perutnya terasa mulas tak tertahankan lagi.
"Gia lanjutkan! perutku sakit!" seru Chania berdiri dan buru - buru keluar dari kursinya.
"Kamu kenapa?"
"Mules!" jawab Chania berjalan keluar area kasir menuju arah toilet.
Berjalan cepat melewati VIP room yang pintunya selalu tertutup, namun siapapun di dalam bisa melihat dirinya yang melintas.
Berjalan dengan wajah meringis menahan mulas. Kepala sedikit menunduk. Dan satu tangannya memegang perut buncitnya agar tidak goyah saat di pakai untuk berjalan setengah berlari.
Sementara di dalam ruangan, sepasang mata Jack berhasil menangkap pergerakan Chania. Sedikit tertegun, namun ia tetap berada di dalam kesadaran penuh.
"Tuan, saya permisi ke toilet." ucap Jack yang tau jika arah yang di tuju Chania adalah toilet khusus pengunjung.
"Hm." jawab Michael datar.
Jack ingin memastikan terlebih dahulu, jika yang ia lihat tidaklah salah. Keluar dari VIP room dan berjalan ke arah toilet dengan memicingkan matanya. Hanya butuh sekian detik untuk kini ia bisa berdiri di depan toilet wanita.
Beberapa wanita yang keluar dari dalam toilet tampak terpesona dengan ketampanan Jack. Dan membuat mereka mengulum senyum kagum. Apalagi Jack selalu melihat baju yang dikenakan mereka.
Namun tak sedikitpun membuat Jack merasa besar kepala. Ia sama sekali tidak peduli lirikan para wanita yang melintas di depannya. Ia hanya ingin memastikan wanita berseragam yang sama dengan Waiters yang melayaninya di VIP room.
Sampai....
"Ada berapa orang lagi di dalam?" tanya Jack dingin pada seorang gadis yang keluar seorang sendiri.
"Hanya ada satu pintu yang masih tertutup, Tuan."
"Pergilah!" ucap Jack singkat.
"Yaah! aku kira mau kenalan!" celetuk gadis itu.
Namun segera ia menunduk dan buru - buru pergi saat Jack membalasnya dengan tatapan tajam di tambah aura dingin.
15 menit Jack menunggu sampai akhirnya ia mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Ia sudah tak sabar melihat wanita yang akan keluar dari pintu utama toilet wanita.
Tiga menit kemudian, pintu utama toilet terbuka...
Seorang perempuan berpakaian seragam restoran keluar dari sana. Berjalan sedikit menunduk karena merasa ada pria yang tengah berdiri menatapnya lekat. Tetap melangkah pelan dan sopan sembari mengelus perutnya.
"Nyonya muda..."
Suara yang keluar dari pria itu membuat Chania berhenti melangkah. Membeku untuk beberapa detik. Sama sekali tidak asing di telinganya. Sebutan yang sama, yang selalu ia dengar beberapa bulan lalu.
' Benarkah nama Jack Black di bill adalah Jack bodyguard Michael? '
__ADS_1
Batin Chania bergemuruh. Jantungnya berdetak hebat, keringat dingin keluar begitu saja. Namun ia masih belum berani untuk menoleh. Kakinya mendadak bergetar.
Atau mungkin bisa saja suara itu tengah memanggil wanita lain. Dan bisa juga orang lain memiliki suara yang cukup mirip bukan?
Harapan demi harapan keluar dari pikiran Chania yang belum berani melihat siapa yang memanggilnya.
Namun seketika ingatan Chania beralih pada nama yang tertera pada bill, Jack Black. Dimana bisa saja nama Black di ambil dari nama Klan, Black Hold. Dan itu membuat Chania kesulitan menelan ludahnya sendiri.
"Selamat siang, Nyonya muda."
Suara itu semakin terdengar jelas dan dekat. Tepat berada di belakangnya. Secepat mungkin Chania berusaha untuk menguasai dirinya yang gugup.
"Maaf?" ucap Chania menoleh dan menatap Jack dengan tatapan bingung. "Anda bicara dengan saya?" tanya Chania menatap mata Jack yakin.
"Saya yakin Nyonya muda tidak lupa dengan saya." ucap Jack tetap berusaha tenang.
Melihat ke sekeliling, "Tapi maaf, Tuan. Saya tidak mengenal anda." ucap Chania datar dengan meneliti tubuh Jack dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seolah - olah tidak mengenali pria di depannya itu.
Jack tersenyum dingin, "Saya tidak mungkin salah orang, Nyonya Chania."
"Chania?" ulang Chania dengan ekspresi yang seolah bertanya dan heran. "Sepertinya anda salah orang, Tuan. Nama saya Carina Gabriella." ucap Chania tersenyum dengan menunjukkan name tag yang menempel di dada kiri bagian atas.
Masih memasang senyuman dingin, Jack menatap lekat wajah yang ia yakini sebagai Nyonya mudanya itu.
"Saya tidak mungkin salah, Nyonya!" jelas Jack sekali lagi. "Nyonya muda Chania Renata, anda perlu tau, betapa Tuan muda Xavier hampir gila mencari Nyonya muda."
"Maaf, Tuan! anda salah orang!" tegas Chania. "Nama saya Carina! bukan Chania atau siapalah itu!" ucap Chania seyakin mungkin. "Dan saya juga tidak mengenal siapa Tuan muda yang anda maksud!" lanjut Chania berpura kesal. "Permisi!" pungkas Chania membalikkan badan dan melangkah menjauh dari area toilet.
"Pulanglah, Nyonya muda! Tuan sangat merindukan kehadiran Nyonya!" ucap Jack lebih keras dan dapat di dengar oleh Chania dengan jelas.
Sesungguhnya jantungnya sedang berdetak begitu cepat. Nafasnya bahkan mulai naik turun. Cepat - cepat ia menaiki tangga dan masuk ke ruang manager untuk meminta ijin pulang lebih awal.
Sudah tidak ada lagi yang bisa ia pikirkan selain menghindari Jack, yang pasti sedang bersama Michael. Mengingat penjelasan Gia sebelumnya.
Namun terbesit dalam benaknya, apakah Michael mencarinya sampai hampir gila karena terlalu lelah di tekan wanita bernama Deborah itu?
' Nasibmu begitu buruk, Chania! kenapa mereka bisa sampai di kota ini hanya dalam kurun waktu hampir 5 bulan saja! '
Gerutu Chania dalam hati.
' Hah! aku hampir lupa siapa dia! '
***
Sementara Jack, segera bicara pada tiga bodyguard di luar menggunakan alat komunikasi di telinga yang selalu menempel. Meminta mereka untuk mengawasi pintu keluar di seluruh restauran. Ia juga mengatakan jika Chania, mengaku sebagai Carina Gabriella.
Pembicaraan Jack dan bawahannya melalui alat komunikasi khusus itu, tentu saja sampai di telinga Dimitri yang tengah bersama Michael.
"Tes! tes!" Dimitri menyalakan tombol untuk dia bisa bicara serta memberi kode pada Michael untuk ikut menggunakan alat komunikasi khusus miliki Tuannya. "Apa maksudmu, Jack?" hentak Dimitri.
"Ada apa!" sahut Michael.
__ADS_1
"Nyonya muda Chania ada di sini, Tuan!" ucap Jack singkat.
"Dimana! cepat katakan!" sentak Michael membelalakkan matanya dan segera berdiri. Menyisir seluruh ruangan yang berdinding kaca itu.
"Tunggu kepastian saya, Tuan!" jawab Jack. "Temukan keberadaan saya!"
Michael mulai mendapati keberadaan Jack yang berdiri tidak jauh dari bawah tangga.
"Aku sudah menemukanmu, dimana Chania?" tanya Michael langsung pada intinya.
"Masuk ke dalam ruang manager, Tuan!" jawab Jack. "Tuan jangan bertindak apapun dulu. Kita harus memastikan kebenarannya."
"Apa maksud mu, Jack?"
"Sepertinya Nyonya Chania memalsukan identitas, Tuan! karena sekarang dia bernama Carina Gabriella."
"What!" pekik Michael tidak percaya, ia mendekati dinding kaca agar lebih dekat dengan tangga dimana Jack tengah menunggu Chania turun.
Cukup lama, sampai akhirnya ...
Tap tap tap!
Langkah sepatu menuruni tangga membuat Jack memfokuskan padangan ke arah sumber suara.
Deg! Deg! Deg!
Seperti itulah kurang lebih jantung Michael berdetak. Lebih cepat, dan lebih kuat dari biasanya. Baru kali ini ia merasakan detak tidak normal sampai separah ini. Menunggu siapa pemilik kaki yang sedang menuruni tangga.
Sampai akhirnya Jack terlihat mengangguk hormat pada orang yang berada di tengah tangga.
Namun sial, Michael hanya bisa melihat bagian bawah tubuh wanita yang berpakaian seragam restoran itu. Tanpa bisa melihat bagian pinggul hingga kepalanya. Karena tertutup dinding.
"Selamat siang, Nyonya muda." sapa Jack. Tentu saja suara Jack terdengar oleh Michael dan yang lainnya.
"Kau ini siapa? aku tidak mengenalmu! aku bukan Nyonya muda mu!" hentak Chania.
Sementara tubuh Michael bergetar dan meremang. Keringat dingin mengucur begitu saja. Ia tahu betul siapa pemilik suara itu. Suara yang sangat ia rindukan itu ikut masuk dalam alat komunikasi yang di pakai oleh Jack.
Empat bulan tak mendengar suara indah itu, membuat matanya berkaca - kaca dan hampir meneteskan cairan beningnya.
Sementara Dimitri yang berdiri dua langkah di belakang bosnya, ikut merasakan getaran haru. Melihat bos nya akan bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
"Akting anda sangat bagus, Nyonya muda. Tapi demi apapun, Nyonya muda tidak akan bisa mengelabui saya!" ucap Jack tersenyum dingin.
"Dasar orang gila!" sentak Chania kembali mengangkat kaki untuk menuruni tangga.
Dan jantung seorang Michael Xavier semakin tidak menentu. Ia hampir lemas mempersiapkan diri untuk kembali melihat sang istri.
sampai akhirnya, perut buncit mulai terlihat oleh Michael. Jantung semakin berpacu hingga meneteslah air mata yang sedari tadi ia tahan. Sebuah gambaran antara rasa syukur dan bahagia, karena Chania tetap mempertahankan calon buah hatinya meskipun hidup seorang diri.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Oh My God, seorang Michael Xavier menangis? 😉
Happy reading 🌹🌹🌹