
Michael kembali ke kantor, meninggalkan Chania yang benar - benar tertidur begitu selesai bercinta. Bibir Michael tersenyum tipis melihat foto Chania yang tersimpan di ponselnya. Yang di ambil secara diam - diam.
Tepatnya foto Chania yang tertidur pulas dalam dekapannya, sebelum ia memindahkan kepala dari dadanya dan meninggalkan ibu hamil itu untuk kembali ke bekerja.
Jangan tanya soal finger lock yang rusak. Michael dengan mudah meriset semuanya. Tentu saja kamar Michael bukan kamar sembarangan.
Dorr!!!
Pyaarr!!!
Suara tembakan di susul suara kaca yang berlubang tertembus peluru membuat Michael tersadar dari lamunannya tentang sang istri tercinta.
Lebih gila lagi serpihan kaca dari bagian mobil sebelah kiri itu berhamburan di atas pangkuan Michael.
"Sh!**!" umpat Michael yang baru menyadari jika dirinya di serang.
Berbeda dengan Jack dan Dimitri yang ternyata sudah menembaki musuh dari beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa kalian tidak memberi tahu ku!" amuk Michael sembari mengeluarkan pistol glock dari balik jasnya. Dan langsung membuka pelatuknya.
"Sudah, Tuan! tapi tampaknya Tuan sedang sibuk!" sahut Jack yang berada di kursi samping kemudi.
"Sial!" sadar ia yang melamun.
Cepat ia menurunkan kaca mobil. Mengambil posisi untuk bisa menembak pengemudi mobil musuh yang berada di sisi kiri. Dimana seseorang di sebelah supirnya sudah tewas dan bersiap di dorong keluar. Akibat peluru dari Dimitri beberapa detik yang lalu.
Kaca mobil turun seluruhnya dan mobil hampir dalam posisi sejajar, dengan gerakan cepat Michael menodongkan pistol Glock kesayangannya ke arah pengemudi mobil mewah itu.
Begitu juga Jack yang entah sejak kapan sudah duduk di jendela mobil, dengan mengongkang senjata laras panjang ke arah mobil musuh sembari mendapatkan titik tembak yang tepat. Sama sekali tidak takut tubuhnya tertembak ataupun terjatuh.
Namun sedetik sebelum Michael menarik pelatuk, tiba - tiba kaca mobil bagian belakang musuh terbuka. Memperlihatkan seorang wanita dengan kaca mata hitam yang melekat di sepasang mata. Duduk cantik dan terlihat santai seolah tak sedang terjadi adu tembak.
Meskipun memakai kaca mata hitam, namun tetap bisa di pastikan jika sepasang mata Michael tengah bertemu dengan sepasang mata wanita itu.
"Brengsek!" umpat Michael mengurungkan niat menembak sang supir.
Di ikuti Jack yang berhenti membidik, namun senjata tetap pada posisinya. Antisipasi jika sang Tuan muda dalam bahaya.
Dua mobil beda tipe berjalan sejajar, dimana dua jendela di belakang memperlihatkan dua penguasa beda generasi terlibat aksi saling tatap dengan aura yang tajam dan sama - sama memiliki kejam.
__ADS_1
Wanita yang tak lain adalah Deborah itu melepas kaca matanya dengan gaya elegan khas nyonya besar. Sepasang matanya menatap Michael dengan penuh kebencian.
"Berpikirlah dua kali sebelum kau berkhianat!" desis Deborah.
Michael memicingkan matanya mendengar nada bicara Deborah. Dari wajah tampan miliknya dapat di lihat, jika ia sangat membenci wanita yang ada di depannya itu.
"Jika kau tetap nekat, Madalena sekaligus gadis tidak bersalah itu akan aku jadikan penebus atas pengkhianatan mu, bajing*n!"
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan!" balas Michael. Sama sekali tidak takut dengan ancaman Deborah. Baginya siapalah Deborah, wanita kaya raya yang hanya mengandalkan kekuatan bodyguard. Tanpa bisa melindungi diri sendiri. Selama ini Michael diam hanya karena sang Ibu berutang nyawa padanya.
"Kau tidak akan bisa menyakiti mereka!" lanjutnya menarik senjatanya kembali.
"Kita lihat saja, Michael Xavier!" balas Deborah tersenyum sinis dnegan kembali memakai kaca mata hitamnya. "Pergi!" perintahnya pada sang supir untuk melanjutkan perjalanan.
Tatapan membunuh Michael tertuju pada mobil Deborah yang berlalu dengan kecepatan tinggi, di ikuti satu mobil jeep berisi 4 orang pengawal Deborah.
Dada Michael naik turun, tatapannya kosong setelah mobil Deborah tak lagi terlihat. Namun pikirannya di penuhi oleh sang Mama dan Chania. Entahlah, apa yang akan di lakukan Michael selanjutnya. Ekspresi wajahnya sulit untuk di artikan.
Kembali teringat kalimat sang Mama saat di Los Angeles. Sesaat sebelum ia meninggalkan kota Los Angeles dan menemui Frederick di Chicago.
Flashback On . . .
"Bukankah tadi Mama sangat terlihat membenci Chania?"
Madalena menggeleng pelan. Seulas senyuman tipis terukir di wajahnya.
"Mama hanya membenci ibunya, bukan putrinya! Ingatan 21 tahun lalu membuat kepala Mama sakit mendadak. Mereka sangat mirip."
Michael terhenyak, tak menyangka sang Mama akan bersikap sebijak ini.
"Mama tau kalian sudah menikah, dan Mama merestui kalian. Jangan memikirkan Mama kedepannya. Carilah cara untuk melebur janji mu pada Deborah. Mama akan berpura tetap sakit demi dirimu, putraku."
"Mom?" panggil Michael lirih, di barengi air mata yang meluncur cepat di pipinya.
"Tidak apa, Boy!" Madalena mengusap lembut air mata Michael. "Lagi pula kehadiran gadis itu di depan Mama membuat Mama kembali pada kehidupan Mama yang dulu. Mama sembuh, Michael. Mama sudah mengingat semuanya dan sepenuhnya sadar. Dan..."
"Dan apa, Mom?"
"Dan Mama sudah tau, jika kamu mewarisi dunia hitam Black Hold. Mama juga tau segalanya tentang nasib Nona muda, Chania Renata." Madalena tersenyum menggoda sang putra. Ada rasa senang karena pada akhirnya putra tunggalnya menikah.
__ADS_1
"Dari mana Mama tau?"
"Jennie"
Michael menunduk dalam. Matanya tak berani menatap sang Mama. Selama ini dia berbohong dengan harapan sang Mama dapat sembuh. Namun nyatanya kebohongannya tak membuahkan hasil.
Justru kehadiran gadis yang sedang dalam bahayalah yang dapat menyembuhkan sang Mama.
"Maafkan Michael, Mom."
"Tidak apa, Nak. Apapun yang kamu pilih dalam hidupmu asalkan kamu bertanggung jawab, Mama akan tetap di sampingmu."
Michael menatap teduh dan dalam wanita yang sangat ia cintai itu.
"Lindungi dia, Michael. Jangan biarkan Deborah mengambil sumsum tulang belakangnya."
"Tapi bagaimana jika Mama yang menjadi sasaran balas dendam Deborah!"
"Jangan khawatir! selama Mama berpura - pura sakit, Deborah tidak akan menyakiti Mama. Ingat! cukup kamu, Jennie dan Papa yang tau jika Mama sembuh. Beri tahu Papa mu di Chicago."
"Tapi Mom, Deborah adalah wanita gila yang bisa berbuat apapun tanpa hati."
"Kamu tidak tau sesuatu yang Mama ketahui, Michael. Pergilah! jaga Chania untuk masa depanmu. Jangan pikirkan keselamatan Mama. Mama yakin semua pengawal di sini bisa melindungi Mama."
"Mom?" panggil Michael lirih.
Madalena menarik kedua lengan sang putra. Dan mengakhiri percakapan kerinduan itu dengan sebuah pelukan hangat yang sudah 21 tahun tak pernah terjadi.
Flashback Off . . .
Michael menyandarkan kepalanya, menatap atap limousin yang mulai berjalan dengan kecepatan normal. Pistol Glock kesayangan masih berada di genggaman.
Kembali teringat dengan ucapan sang Papa saat menemuinya sepulang dari Los Angeles.
"Papa akan persiapkan Chicago untuk menantu Papa! jika memang di butuhkan!"
Ucap Frederick kala itu.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹