SANG MAFIA!

SANG MAFIA!
Chapter 98


__ADS_3

Merasa tak nyaman karena sang Papa dan Mama yang seolah membocorkan satu rahasia, Michael berdiri dengan menarik tangan Chania agar ikut berdiri.


"Sebaiknya Papa dan Mama melanjutkan membayar rindu karena cukup lama berpisah." ucap Michael menggoda. "Jangan mencampuri urusan anak muda. Ok Mom! Cup!" Michael mencium singkat pipi sang Mama. "Love you, Mama!" bisiknya pada sang Mama, kemudian menarik tangan Chania untuk melenggang meninggalkan taman.


"Boy!" seru sang Mama gemas sembari menoleh putranya yang justru tersenyum nakal.


"Permisi, Tuan, eh.. maksud saya, Papa, Mama..." Chania mengangguk hormat sebelum akhirnya, tangan kembali di tarik sang suami.


"Yes, Girl.." jawab Madalena mengangguk dengan seulas senyum simpul.


"Mama tak menyangka putra kita bisa jatuh cinta." Ucap Madalena tersenyum setelah Michael dan Chania tak lagi terlihat.


"Papa bahkan tak menyangka, jika Mama bisa sembuh setelah bertemu dengan gadis itu.." ucap Frederick merangkul pundak istrinya dan mendaratkan kecupan di pelipisnya.


Tersenyum manis, "sepertinya gadis itu memang ditakdirkan untuk menyempurnakan keluarga kita, Sayang!" jawab Madalena.


"Mama benar! Papa rasa juga begitu!" sahut Frederick tersenyum manis. "Sebenarnya Papa masih tak percaya dengan penjelasan Brasco, pengacara Smith."


"Kenapa?"


"Papa hanya tak menyangka jika Selena bukan putri kandung Smith. Mengingat Smith juga terlihat sangat menyayangi Selena."


Menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan kasar. "Semoga Selena bisa sembuh. Dia gadis yang baik!"


"Selena dan Oliver. Meskipun dua gadis itu terlahir dari seorang wanita iblis, tapi Papa yakin. Mereka sebenarnya anak - anak yang baik."


"Yaa... Papa benar!"


***


Kembali pada Chania dan Michael. Mereka tengah berada di kamar yang cukup luas, megah dan lagi - lagi lukisan naga ada di atap kamar itu. Pasti tau siapa pemiliknya, ya! kamar milik Tuan muda Mafia yang berada di rumah sang Papa.


"Kamu tidak pernah menempati kamar ini?" tanya Chania berdiri di tengah ruangan setelah mengamatinya dengan detail.


"Hanya sesekali." jawab Michael yang masih berdiri di balik pintu.


Chania berjalan ke arah jendela, hingga menemukan pintu yang mengarah ke balkon. Chania membuka kuncinya, dan keluar dari sana.


"Papa dan Mama masih di sana." ucap Chania melihat kedua mertuanya yang masih duduk membelakangi rumah megah itu. Termasuk membelakangi balkon dimana Chania sekarang berdiri.


Michael turut berjalan keluar mendekati Chania yang berdiri dengan berpegang pada pagar balkon. Namun ia hanya berdiri di belakang Chania.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Mama Madalena sudah sembuh?"


"Haruskah?"


"Tentu saja! aku bahkan takut berhadapan dengan beliau tadi."


"Sebenarnya Mama sembuh setelah bertemu dengan mu, saat kita di LA!"


"Benarkah?" Chania memekik tak percaya.


"Ya! kala itu sebenarnya beliau sedang depresi, itulah kenapa aku harus ke LA saat itu. Sekaligus aku ingin memperkenalkan kamu padanya. Namun siapa sangka Mama justru mengingat segalanya dan kembali menjadi Mama yang dulu." jelas Michael. "Semua karena kehadiran kamu, Baby.."


Tersenyum kecil, antara bangga dan merasa berlebihan. "Mereka sangat romantis!" desisnya Chania kemudian.


"Seperti kita?" tanya Michael merengkuh pinggang Chania dari belakang, dan tangan melingkar sempurna di bagian bawah perut yang membuncit.


Chania justru tersenyum miris, "Romantis seperti kita?" tanya Chania melirik ke samping, dimana ia dapat melihat sedikit dagu Michael.


"Iyaa..." Michael mencium sekilas daun telinga Chania.


"Romantis dari mana?" tanya Chania dengan nada yang terdengar culas. "Aku bahkan sebenarnya tidak tau hubungan apa yang kita jalani." lanjutnya memutar bola mata malas.


"Maksudnya?" tanya Michael tak mengerti.


Sesungguhnya ia mulai lelah, karena Michael tak pernah sekalipun mengucapkan kata - kata cinta. Bahkan saat sedang bercinta sekalipun.


Dalam hatinya, rasa cinta untuk seorang Michael Xavier memang sangatlah besar. Namun bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang ingin setiap hari mendengar kata - kata cinta dari pria yang ia cintai. Meskipun hanya sekedar kata, I love you.


"Apa maksudmu, Baby?" tanya Michael tak mengerti. Dahinya berkerut, wajahnya berubah serius dengan tatapan yang tajam. Namun kali ini Chania berani melirik tatapan itu. Jika anak buah Michael, pasti sudah menunduk dalam, dari pada peluru Glock mendarat di kepala mereka.


Chania menarik nafasnya dalam, "Kamu tau apa maksudku, Tuan muda Xavier." jawab Chania tersenyum miring.


Michael mengalihkan pandang ke langit. Menatap birunya langit di kala siang yang cerah. Ia cerna kalimat Chania. Hingga ia menemukan jawaban yang tepat.


Ya! dia tau, bahwa sudah saatnya ia menyatakan cinta. Sesuai rencana yang ia ucapkan pada sang Mama semalam melalui saluran telfon saat perjalanan pulang dari Venice.


Dengan satu tangan Michael mengambil sesuatu dari kantong celana yang ia kenakan. Sebuah kotak kecil berwarna putih bening dan nyaris transparan. Ia buka kotak itu, dan kembali memeluk Chania dari belakang.


"Kamu tau, aku membeli ini saat kita di Perancis," ucapnya mengarahkan kotak cincin itu ke hadapan Chania. "Aku membelinya setelah selesai meeting. Desain terbaik, exclusive, dan hanya di buat satu saja di seluruh dunia. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Jack."


"Apa maksudnya?" tanya Chania menatap tak percaya pada kotak berisi sebuah cincin berlian dengan bunga mawar kecil di atasnya.

__ADS_1


"Saat itu dalam benakku, jika aku sudah siap dan benar - benar mencintai mu, maka aku memberikannya di hari ulang tahunmu." ucap Michael serius tepat di samping telinga Chania. "Tapi keadaan mendadak berubah. Kamu pergi, dan aku melewatkan hari ulang tahunmu."


Chania membuka mulutnya lebar. Terpaku dalam diam, seolah tak bisa mempercayai kalimat Michael. Namun semua seperti nyata.


"Kamu mengarang cerita?"


Michael menggelengkan kepalanya, "Aku mencintaimu, Chania. Aku jatuh cinta padamu." bisik Michael dengan jelas dan lugas.


Chania semakin bengong mendengar kalimat yang sangat ia tunggu selama ini.


"Maafkan aku yang terlalu egois dan pengecut, karena malu menyatakan cinta padamu. Kamu harus tau, cinta itu sudah tumbuh sejak aku memanggilmu, Baby." Michael semakin erat memeluk tubuh Chania. "Percayalah, Baby... Aku mencintaimu. Hanya kamu yang mampu membuatku jatuh cinta," ucapnya. "Cinta luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."


"Ini... ini..." Chania tak sanggup berkata - kata. Matanya tak lepas menatap cincin berlian yang terlihat begitu indah, mewah dan sangat elegan.


"Jadilah istriku selamanya, Baby. Tempatku berkeluh kesah, dan tempat untuk aku pulang. Kamu dan kedua anak kita, akan menjadi penyemangat ku di medan pertempuran. Akan menjadi tujuan untuk aku harus tetap bertahan hidup."


"Honey..." lirih Chania bersama air mata yang menetes begitu saja.


Michael mengambil cincin berlian itu, kemudian meraih tangan kanan Chania. Dengan posisi yang tak berubah, Michael menyematkan cincin berlian di jari manis tangan kanan Chania. Michael mendaratkan kecupan pada buku - buku jemari lentik Chania.


"I love you..."


Chania semakin menangis haru. Ia tak percaya akan ada adegan seperti ini di pagi menjelang siang ini. Menutup mulut menggunakan satu tangan lainnya, Chania menatap penuh cinta pada pria yang masih memeluknya dari belakang.


Sepasang saling bersilang tatap. Mata lentik beradu dengan mata tegas seorang Michael. Menyalurkan cinta melalui saluran tak kasat mata.


Michael mendekatkan wajahnya pada wajah Chania, dan entah bagaimana memulainya, kini keduanya saling berciuman. Menyalurkan benih - benih cinta yang sudah tumbuh sejak lama.


Sampai akhirnya ....


Prok prok prok!


Suara riuh tepuk tangan terdengar dari arah bawah. Tepatnya taman dimana sang Papa dan Mama tengah berada. Sontak konsentrasi keduanya buyar dan beralih menoleh ke arah bawah.


Chania menutup mulutnya yang membulat. Ia tak menyangka adegan barusan di saksikan oleh orang tua Michael, juga banyak maid dan pengawal yang entah sejak kapan berkumpul di sana.


Michael pun ikut menatap tak percaya ke arah bawah. Sungguh di luar rencana. Pasti Mamanya yang sudah mengumpulkan para pekerja di rumah utama itu dalam sekejap.


Adegan berakhir dengan tawa bahagia Michael, Chania, Madalena, Frederick juga Jack dan Dimitri yang turut serta menjadi saksi ungkapan cinta seorang Michael Xavier.


🪴🪴🪴

__ADS_1


Ok, kali ini Othor tidak menggantung cerita. Semoga suka 🥰🥰


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2