
Wulan menghela napas panjang. Ayana memuji Dimas? Jawabannya adalah"Tidak Mungkin". Setahu Wulan dari Ayana sendiri, sahabatnya itu selalu bertengkar jika bertemu dengan Dimas. Bahkan tadi juga bercerita jika keduanya baru saja bertengkar. Melihat ekspresi Dimas yang kesakitan dan ekspresi Ayana yang terlihat tersenyum tapi terlihat aneh. Wulan yakin Ayana sengaja menginjak kaki Dimas. Wulan juga yakin jika suara ribut tadi adalah suara Ayana dan Dimas. Wulan sangat hafal dengan suara keduanya. Entah apa yang keduanya ributkan, Wulan tidak terlalu mendengar perdebatan keduanya. Mungkin masih melanjutkan perdebatan mereka di jalan tadi. Itulah yang ada di kepala Wulan.
"Kak Dimas mau nagih cicilan pakaian, ya?"tanya Wulan mencairkan suasana yang nampak tidak kondusif.
"Iya. Saya juga membawa celana panjang untuk bapak yang di pesan ibu,"sahut Dimas kemudian mulai membuka tasnya. Sedangkan Pak Parman memilih duduk di kursi teras rumah itu.
"Sebentar, ya! Ibu ambil uangnya dulu. Bapak lihat saja dulu celananya,"ujar Bu Lastri kemudian masuk ke dalam rumah. Wulan yang masih mengantuk pun memilih ikut masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamarnya.
"Ini, Pak. Ini adalah celana Cardino. Celana ini terbuat dari bahan yang ekstra adem dan nyaman dipakai dengan perpaduan 98% katun dan 2% spandex. Cocok sekali dipakai untuk beraktivitas.Bapak pasti semakin gagah jika memakai celana ini. Bapak bisa memilih warnanya. Saya membawa beberapa macam warna pilihan,"ujar Dimas mempromosikan barang dagangannya, memberikan celana panjang pada Pak Parman dengan beberapa pilihan warna.
"Dasar sales! Pinter banget merayu konsumen,"cibir Ayana yang berdiri di samping tempat duduk Pak Parman, masih setia melipat kedua tangannya di depan dada.
Pak Parman hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan mendengar cibiran Ayana pada Dimas. Masih memilih warna celana yang akan dibelinya. Sedangkan Dimas melirik sinis pada Ayana. Mendapatkan lirikan sinis dari Dimas, Ayana malah menjulurkan lidahnya pada Dimas.
Semakin ke sini, entah kenapa Dimas malah suka melihat berbagai ekspresi yang ditampilkan Ayana. Saat komat-kamit marah, jutek, sinis, mencibir, bahkan saat gadis itu menjulurkan lidahnya seperti tadi. Semakin lama semakin terasa menarik saat berdebat dengan gadis itu. Karena nya Dimas malah sengaja membuat gadis itu marah dan kesal padanya. Ingin rasanya Dimas mencium gadis itu sangking gemasnya.
"Bagaimana? Bapak suka tidak dengan celananya? Mau mengambil warna apa?"tanya Bu Lastri yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Bapak suka, Bu. Bapak pengen ngambil warna hitam saja, Bu. Warna hitam, 'kan netral. Mau dipadukan dengan warna apapun pasti cocok. Kayak ibu sama bapak. Bapak hitam manis dan ibu putih. Kalau ibarat kopi, bapak kopinya dan ibu gulanya. Jadilah secangkir kopi pahit manis yang rasanya selalu ngangenin. Kayak bapak yang selalu kangen sama ibu jika sehari saja tidak bertemu,"gombal Pak Parman pada istrinya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Bu Lastri dengan senyuman genit. Sedangkan Ayana dan Dimas nampak mengulum senyum mendengar gombalan Pak Parman.
Kulit Pak Parman memang hitam manis, sedangkan kulit Bu Lastri memang putih. Jadi gombalan Pak Parman memang tepat. Tepat sasaran karena Bu Lastri langsung tersipu malu.
"Ah, bapak bisa saja menggombal nya. Ibu, 'kan jadi malu sama anak gadis kita. Apalagi sama, Nak Dimas,"ucap Bu Lastri senyum-senyum dengan pipi yang memerah seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
__ADS_1
"Bapak tidak menggombal, Bu. Ibu beneran manis seperti gula. Apalagi kalau bapak dibelikan celananya dua,"ujar Pak Parman tersenyum genit kembali mengedipkan sebelah matanya.
Mendengar kalimat terakhir Pak Parman, senyum Bu Lastri pun seketika pudar. Langsung menatap tajam pada Pak Parman bagaikan harimau yang sedang mengincar mangsanya.
"Ohh.. jadi bapak sengaja gombalin ibu karena pengen di belikan celana dua? Bulan ini bapak sudah memotong uang belanja ibu dua ratus ribu. Masih berani minta dibeliin celana dua, hah?"geram Bu Lastri langsung menjewer telinga Pak Parman. Dimas mengulum senyum, mati-matian menahan tawa melihat Pak Parman yang di jewer Bu Lastri. Demikian pula dengan Ayana yang tidak jauh berbeda dengan Dimas.
"Aduh! Aduh! Ampun, Bu! Sakit! Bisa putus ini, telinga bapak. Malu dilihat sama anak gadis bapak, Bu. Malu dilihat Nak Dimas. Bapak mengurangi uang belanja ibu untuk ganti oli dan servis motor, Bu. Ampun, Bu! Sakit ini,"keluh Pak Parman sambil memegang tangan Bu Lastri yang menjewer telinganya.
"Kenapa kemarin tidak bilang kalau uangnya dipakai buat ganti oli dan servis motor?"tukas Bu Lastri melepaskan telinga Pak Parman.
"Ibu, kan nggak nanya, jadi bapak, ya, nggak ngasih tau ibu,"sahut Pak Parman menyengir kuda, seraya mengelus telinganya yang di jewer Bu Lastri tadi.
Bu Lastri hanya bisa membuang napas kasar mendengar jawaban dari suaminya itu.
"Ya sudah! Bapak boleh ngambil celana dua,"ujar Bu Lastri memutuskan.
"Dasar genit!"ketus Bu Lastri.
"Tenang saja, Bu. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Karena ibu sudah mau membelikan bapak dua celana, malam ini, bapak akan memberikan ibu servis yang memuaskan. Full servis, lah, buat ibu,,"ujar Pak Parman penuh antusias.
"Bapakkk..!!"geram Bu Lastri yang merasa malu karena suaminya malah membahas soal ranjang di depan orang.
Sedangkan Pak Parman langsung lari ke dalam rumah saat melihat macam betinanya sudah mulai menunjukkan taringnya. Namun tak lama kemudian, Pak Parman kembali menyembulkan kepalanya dari pintu utama dan berkata,"Nanti malam posisi 71/21, ya, Bu! Posisi lotus juga boleh, deh! Eh, posisi apa saja, lah! Posisi apapun bakalan bapak jabanin,"ujar Pak Parman kembali mengedipkan sebelah matanya pada Bu Lastri.
__ADS_1
"Bapakkk..!!"teriak Bu Lastri semakin geram. Dengan cepat mengambil sendal jepit yang dipakainya, kemudian melemparkannya pada Pak Parman. Namun Pak Parman dengan sigap menangkap sendal jepit yang dilempar istrinya itu dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Dimas dan Ayana pun tidak bisa lagi menahan tawa mereka, hingga akhirnya tawa keduanya pun pecah. Dimas dan Ayana sampai memegangi perut mereka sendiri karena sangking gelinya melihat kelakuan konyol Pak Parman.
Walaupun sudah hampir satu bulan Ayana tinggal bersama keluarga pak Parman, tapi Ayana selalu saja tidak bisa menahan tawa jika kelakuan konyol Pak Parman sudah kumat. Sedangkan Dimas sendiri merasa sangat terhibur melihat tingkah konyol Pak Parman.
Bu Lastri hanya bisa menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa malu pada Dimas dan Ayana karena kelakuan konyol suaminya. Entah mengapa suaminya itu sering bertingkah konyol tanpa tahu tempat, situasi dan kondisi. Tapi anehnya Bu Lastri tetap saja cinta pada Pak Parman.
"Huhh.. bapak dan ibu selalu saja begitu,"gumam Wulan yang berbaring di dalam kamarnya. Sudah tidak kaget lagi mendengar bapak dan ibunya ribut. Tapi tidak pernah benar-benar berantem. Dan itu semua karena ulah konyol bapaknya.
...π"Canda dan tawa akan membuat hidupmu jadi berwarna."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Notebook :
-Posisi 71 atau 21 ini adalah kata lain dari 'doggystyle'. Gaya bercinta ini dilakukan saat wanita sedang dalam posisi hendak merangkak sedangkan di belakangnya pria melakukan penetrasii.
-Posisi lotus. Posisi ini dilakukan dengan pria duduk bersila sedangkan wanita duduk di atasnya. Untuk menjaga keseimbangan dan mendekatkan diri, pasangan bisa saling berpelukan.
.
__ADS_1
.
To be continued