
"Papa?"ucap Ayana nampak terkejut, namun langsung menghampiri Geno, meraih tangan Geno dan mengecup punggung tangan Geno. Dalam hati bertanya-tanya, ada apa gerangan papanya datang kerumah kontrakan mereka yang sederhana itu?
Geno merasa sangat dihormati anak dan menantunya saat sepasang suami-isteri itu menyalami dan mengecup punggung tangannya dan menyambutnya dengan ramah. Bahkan selama ini, baru kali ini Ayana menyambutnya dengan mencium punggung tangannya. Karena memang di rumahnya tidak ada yang melakukan hal itu. Dan yang pastinya tidak diajarkan melakukan hal seperti itu.
Sedangkan Ayana yang sudah pernah tinggal di rumah Pak Parman menjadi terbiasa melakukan hal itu. Tidak cuma pada Pak Parman dan Bu Lastri, tapi sekarang saat Dimas dan Toyib pulang pun, Ayana selalu menyalami dan mencium punggung tangan mereka.
"Duduk, pa!"ucap Dimas menarik salah satu kursi di meja makan itu untuk ayah mertuanya,"Ambilkan piring untuk papa, Ay!"pinta Dimas dengan suara lembut seperti biasanya.
"Iya, kak,"sahut Ayana bergegas mengambil piring untuk papanya.
Geno menatap menu masakan yang tersaji di atas meja. Ada sayur capcay, ayam mentega, perkedel kentang dan juga tahu serta tempe. Nampak sederhana, tapi penampilan dan aromanya begitu menggugah selera Geno.
"Papa ingin makan lauk apa?"tanya Ayana seraya memegang piring.
"Apa saja,"sahut Geno karena memang semua masakan yang ada di atas meja nampak menggiurkan.
Ayana mengambilkan nasi dan berbagai macam lauk yang ada di atas meja, lalu memberikannya pada papanya. Dan seperti biasanya, Ayana mengambilkan nasi dan lauk untuk Dimas dan Toyib, baru setelah itu untuk dirinya sendiri. Geno memperhatikan semua yang dilakukan oleh Ayana. Dan hal seperti ini tidak pernah dilakukan Ayana maupun Hilda saat mereka makan bersama.
Keempat orang itu makan dengan tenang menikmati makanan yang ada di piring mereka.
"Ay, apa sayur capcay nya masih ada?"tanya Toyib yang melihat sayur di dalam mangkok tinggal sedikit.
"Masih, bang. Biar aku ambilkan dulu,"ucap Ayana.
"Nggak usah, Ay. Biar Abang aja yang ambil,"ucap Toyib membuat Ayana tidak jadi beranjak dari tempat duduknya.
"Papa mau sayur capcay lagi?"tanya Dimas setelah Toyib kembali dari dapur membawa sayur capcay. Karena Dimas melihat sayur capcay di piring ayah mertuanya itu tinggal sedikit.
"Boleh,"sahut Geno yang kelihatannya menyukai sayur capcay buatan Ayana, dan kali ini Dimas yang mengambilkan sayur capcay untuk ayah mertuanya itu.
Tidak berapa lama kemudian, keempat orang itu pun selesai menyantap makan malam mereka.
"Di mana kalian membeli semua masakan ini?"tanya Geno yang merasa masakan yang dimakannya malam ini sangat cocok di lidahnya.
"Kami tidak membelinya, Om. Ini semua Ayana yang masak,"sahut Toyib bangga.
Entah mengapa Toyib merasa bangga dengan kelebihan memasak yang dimiliki oleh Ayana yang notabene adalah orang asing yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri itu.
__ADS_1
"Ayana yang masak?"tanya Geno nampak tidak percaya menatap Ayana. Anak yang hanya bisa makan, bandung, keras kepala, dan jarang pulang kerumah itu bisa memasak? Geno sungguh tidak percaya.
"Ayana hobi memasak, pa. Dia rajin mencoba berbagai macam menu masakan,"jelas Dimas.
"Papa tidak menyangka kamu bisa memasak seenak ini,"puji Geno tulus.
"Aku hanya bisa masak sedikit-sedikit, pa,"sahut Ayana yang memang merasa belum banyak menguasai berbagai macam menu masakan.
"Ayana terlalu merendah, Om. Dia sudah bisa memasak banyak menu masakan. Dan semua masakan selalu enak, Om,"celetuk Toyib.
"Rasanya papa tidak percaya, anak badung papa ini bisa masak,"ujar Geno tertawa renyah.
Ayana menatap papanya dengan penuh rasa haru. Seumur hidupnya, baru kali ini Ayana melihat sikap papanya begitu hangat seperti saat ini.
"Ayana jago masak, Om,"sahut Toyib membuat suasana di meja makan itu terasa semakin akrab.
"Abang terlalu memuji,"sahut Ayana tersenyum tipis.
"Oh, iya, Ay. Kamu belum pernah mengajak Dimas pulang ke rumah. Ajaklah Dimas pulang ke rumah,"pinta Geno.
"Iya, pa,"sahut Ayana.
"Saya Toyib, Om,"sahut Toyib.
"Oh, nak Toyib. Ikutlah bersama Ayana dan Dimas pulang. Biar tahu rumah Om,"sahut Geno.
"Iya, Om. Terimakasih atas ajakannya,"sahut Toyib dengan seulas senyum.
Keempat orang itu mengobrol santai beberapa lama hingga akhirnya Geno pun pamit pulang. Karena malam juga sudah semakin larut.
"Ini punya kamu,"ucap Geno menyodorkan kartu ATM pada Ayana. Karena niat Geno datang menemui Ayana memang ingin memberikan kartu ATM milik Ayana, sekaligus ingin melihat keadaan putrinya itu. Bagaimanapun, Ayana adalah putrinya. Dan tidak mungkin Geno tidak memperdulikan putrinya itu.
"Tidak usah, pa. Kak Dimas sudah memberikan uang untuk semua keperluan aku,"tolak Ayana secara halus, melirik Dimas sekilas.
Ayana takut Dimas tersinggung jika dirinya menerima ATM pemberian papanya. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, Dimas seperti marah pada dirinya saat mengetahui Ayana bekerja. Dimas bertanya apakah uang yang diberikannya kurang hingga Ayana sampai bekerja tanpa sepengetahuan dirinya. Karena itu, Ayana enggan menerima kartu ATM yang diberikan Geno. Selain itu, uang yang diberikan Dimas juga baru dipakai sedikit oleh Ayana.
"Ini adalah hak kamu. Kamu jangan menolaknya,"ujar Geno kemudian menatap Dimas,"Tidak apa-apa, 'kan, Dim, jika papa memberikan uang pada Ayana? Ayana adalah putri papa satu-satunya. Kamu tidak keberatan, 'kan?"tanya Geno yang nampaknya mengerti jika Ayana enggan menerima pemberiannya karena Dimas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, pa,"sahut Dimas yang mengerti ayah mertuanya tidak ingin Ayana menolak pemberian nya,"Ambillah Ay.!"ucap Dimas menatap Ayana.
"Terimakasih, pa,"ucap Ayana menerima kartu ATM yang diberikan Geno, setelah mendapatkan persetujuan dari Dimas.
"Hum. Papa tunggu kalian pulang,"ujar Geno berjalan menuju mobilnya.
"Iya, pa,"sahut Ayana dan Dimas bersamaan.
"Yib, main ke rumah Om, ya!"ucap Geno pada Toyib.
"Iya, Om,"sahut Toyib dengan seulas senyum.
"Hati-hati, pa!"ucap Ayana, dan Geno pun mengangguk dengan senyuman tipis.
Geno melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Senyuman tipis masih terlihat di bibirnya.
"Kamu sangat berubah, Ay. Disana Kamu menjadi sosok yang lebih baik. Kamu nampak nyaman dan bahagia tinggal bersama mereka. Mungkin karena itu kamu nekat ingin meninggalkan rumah dan menikah dengan Dimas. Ternyata selama ini papa belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk kamu,"gumam Geno menghela napas berkali-kali. Akhirnya Geno tahu, mengapa putrinya memilih tinggal bersama Dimas dan Toyib di bandingkan dengan keluarganya sendiri.
Beberapa jam bersama Ayana, Dimas dan Toyib, membuat Geno mengetahui betapa hangatnya kebersamaan yang di jalin Ayana, Dimas dan Toyib. Hanya sepintas saja Geno dapat melihat Dimas adalah seorang suami yang bertanggung jawab, penyayang, perhatian dan bisa mendidik Ayana dengan baik. Sedangkan Toyib juga nampak sangat menyayangi Ayana, bahkan lebih dari Nando yang notabene adalah kakak kandung Ayana sendiri.
Saat datang pertama kali di rumah Dimas waktu itu, Geno dapat melihat kekhawatiran di wajah Dimas dan Toyib saat Ayana mengancam ingin bunuh diri. Bahkan Geno masih ingat bagaimana kemarahan Toyib pada Dimas, saat Dimas menolak untuk menikahi Ayana.
***
Setelah Geno pulang, Toyib membereskan meja makan. Sedangkan Dimas dan Ayana mencuci peralatan memasak dan peralatan makan yang mereka gunakan tadi. Setelah selesai, ke-tiga nya memilih masuk ke dalam kamar karena malam sudah larut.
Dimas dan Ayana tidur terlentang di atas ranjang kecil mereka. Menatap langit-langit kamar mereka.
"Kak!"panggil Ayana pelan.
...π"Definisi bahagia bagi setiap orang berbeda-beda. Karena cara berpikir setiap orang pun berbeda ."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
.
To be continued