SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
14. Keluarga


__ADS_3

Hari semakin sore, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Warna keemasan terlihat di langit, seiring sang surya yang mulai kembali ke peraduaan nya. Pertanda senja telah tiba dan sebentar lagi, siang yang terang akan berganti dengan kegelapan malam.


"Assalamu'alaikum! Bapak pulang'!"suara heboh seorang pria paruh baya setiap pulang ke rumah itu selalu membuat tiga orang perempuan di dalam rumah itu bergegas menuju ruang tamu dengan senyuman yang menghias bibir mereka.


"Wa'alaikumus salam!"suara sahutan dari dalam pun terdengar. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya dan dua orang gadis pun muncul. Mencium punggung tangan Pak Parman secara bergantian. Pria yang selalu membawa kantong plastik setiap pulang ke rumah.


"Bapak bawa apa?"tanya Wulan seraya mengambil kantong plastik di tangan Pak Parman.


"Bapak bawa kacang rebus,"sahut Pak Parman tersenyum tipis mengelus kepala Wulan.


Sedangkan Ayana, walaupun penasaran dengan apa yang selalu di bawa pulang oleh Pak Parman, tapi Ayana tidak berani bertanya apalagi mengambil kantong yang dibawa Pak Parman.


Ayana sadar siapa dirinya di dalam keluarga Pak Parman. Di rumah itu, Ayana hanya menumpang. Walaupun semenjak tinggal di rumah itu Ayana selalu membeli sayuran untuk di masak Bu Lastri. Bahkan membelikan kebutuhan pokok untuk keluarga Pak Parman tanpa di pinta. Keluarga Pak Parman pun sering kali mengatakan jika Ayana tidak perlu membelikan semua itu untuk mereka. Namun tetap saja, Ayana adalah orang yang menumpang di rumah itu. Jadi Ayana tetap membeli sayuran dan sesekali membelikan kebutuhan pokok keluarga tempatnya menumpang itu.


Ayana sangat bahagia karena diijinkan tinggal di rumah Wulan, bahkan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga Wulan. Tapi Ayana tidak mau Wulan merasa tersaingi dengan kehadiran dirinya. Karena itu, Ayana selalu mendahulukan Wulan dari pada dirinya. Dan berusaha menjaga perasaan Wulan.


Seperti biasanya, mereka berempat akan duduk di ruang tamu saat Pak Parman baru pulang dari bekerja. Memakan apa yang dibawa Pak Parman pulang bersama-sama.


"Pak, lusa raport kami dibagikan. Bapak bisa datang ke sekolah, tidak? Raport nya harus diambil oleh orang tua,"ujar Wulan sambil memakan kacang rebus.


"Jam berapa raport nya akan dibagikan?"tanya Pak Parman yang juga ikut memakan kacang rebus.


"Jam sembilan, pak,"sahut Wulan.


"Baiklah, akan bapak ambilkan. Besok bapak akan minta ijin setengah hari di toko, agar bisa mengambil raport kamu,"ujar Pak Parman sambil mengupas kacang rebus.


"Terimakasih, Pak,"sahut Wulan tersenyum lebar.


Sedangkan Ayana nampak tertunduk. Bahkan Pak Parman yang bekerja pada orang lain saja meminta ijin setengah hari di tempatnya bekerja agar bisa mengambilkan raport Wulan. Tapi papanya yang memiliki perusahaan sendiri selalu mengatakan tidak punya waktu, saat Ayana meminta diambilkan raport. Begitu pula dengan mamanya yang sibuk dengan butik dan teman-teman sosialita nya. Sehingga Ayana terpaksa meminta supir, atau tukang kebun yang ada di rumah nya untuk mengambilkan raport miliknya.

__ADS_1


"Ay, apa kamu juga mau raport kamu diambilkan bapak?"tanya Wulan yang tahu dari cerita Ayana, bahwa orang tua Ayana tidak pernah punya waktu untuk mengambilkan raport Ayana.


"Apa boleh?"tanya Ayana tampak merasa tidak enak hati.


"Tentu saja boleh. Iya, 'kan, Pak, Bu?"tanya Wulan menatap kedua orang tuanya bergantian.


"Tentu saja boleh,"sahut Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan.


"Terimakasih, Lan, Bu, Pak,"ucap Ayana dengan wajah yang menjadi cerah.


"Kenapa kamu jadi sungkan begitu?"tanya Wulan.


"Aku hanya takut semakin merepotkan kalian. Di ijinkan tinggal di sini saja aku sudah merasa senang,"ujar Ayana tersenyum tipis.


"Walaupun kamu menganggap kami adalah orang lain. Tapi kami sudah menganggap kamu adalah keluarga kami. Walaupun kami sadar jika status sosial kita berbeda jauh,"ujar Pak Parman jujur adanya.


'Kamu jangan berpikir seperti itu! Kami tidak pernah merasa kamu menjadi beban bagi kami, kok,"ujar Bu Lastri lembut.


"Iya, Ay. Ibu malah senang, karena semenjak kamu tinggal di sini, uang belanja ibu banyak lebihnya. Sehingga ibu semakin banyak kreditan,"sahut Pak Parman menyengir tanpa merasa berdosa.


"Bapak.!"geram Bu Lastri. Bu Lastri tidak mau Ayana salah paham,.merasa di terima di rumah ini karena Ayana selalu membelikan sayur dan kebutuhan pokok keluarga mereka.


"Maaf! Maaf! Bukan begitu maksud bapak. Bapak hanya bercanda. Walaupun kamu tidak membelikan apapun untuk kami, kami akan tetap menerima kamu dengan tangan terbuka di rumah ini.Jadi kamu jangan pernah merasa sungkan!"ujar Pak Parman meralat kata-kata nya.


"Tapi terkadang aku merasa tidak enak karena membuat Wulan harus berbagi perhatian dan kasih sayang kalian dengan aku,"ucap Ayana jujur.


"Itu hanya perasaan kamu saja. Aku tidak pernah merasa begitu, kok. Aku malah merasa senang, kamu mau tinggal bersama kami dirumah kami yang sederhana ini. Bahkan mau menganggap kami sebagai keluarga kamu. Aku tidak pernah merasa tersaingi dengan keberadaan kamu di rumah ini. Aku dulu merasa minder berteman dengan kamu. Karena aku anak orang biasa, sedangkan kamu anak orang kaya. Tapi tidak disangka, kamu mau berteman dengan aku, mau tinggal di rumah aku yang sederhana ini. Bahkan mau menganggap kami orang tidak punya ini sebagai saudara,"ujar Wulan mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Yang kaya adalah orang tuaku, bukan aku. Selain itu, orang tuaku mungkin memang kaya harta, tapi kalian adalah orang-orang yang kaya cinta. Kalian memberikan aku cinta, kekasih sayang dan perhatian yang tidak aku dapatkan dari keluarga ku,"ucap Ayana tanpa terasa menitikkan air mata.

__ADS_1


"Jangan sedih! Kami adalah keluarga kamu juga dan akan tetap menyayangi kamu,"ujar Bu Lastri memeluk Ayana.


"Benar kata ibu. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudara aku,"Wulan pun ikut memeluk Ayana.


Melihat ketiga perempuan itu berpelukan, Pak Parman pun tidak mau ketinggalan. Pria itu memeluk ketiga perempuan yang sedang berpelukan itu.


"Bapak.! Bau asem!"pekik Bu Lastri dan Wulan bersamaan saat Pak Parman memeluk mereka.


"Aih.. bapak, 'kan juga ingin berpelukan,"ujar Pak Parman melepaskan pelukannya, menampilkan ekspresi sedih yang dibuat-buat.


"Bapak mandi sana!"titah Bu Lastri.


"Iya,, cepat geh, bapak mandi!"imbuh Wulan.


"Iya, iya, bapak. mandi,"sahut Pak Parman beranjak ke kamar mandi.


Kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang. Tapi tanpa harta, hidup juga tidak akan bahagia. Bukan serakah, bukan pula materialistis. Tapi realistis. Punya cinta tapi tak punya harta tak 'kan bahagia. Punya harta tapi tak punya cinta pun tak 'kan bahagia. Ibarat tubuh yang perlu makanan dan minuman yang seimbang. Hidup pun perlu harta dan cinta. Hidup dengan cinta tanpa harta, ibarat minum tanpa makan. Dan hidup dengan harta tanpa cinta ibarat makan tanpa minum.


...🌟"Cinta dan harta sama berharganya. Karena itu, jika ingin bahagia, jangan pernah memilih satu diantara keduanya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2