
Setelah tukang urut pulang, Ayana berusaha turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana?"tanya Dimas.
"Aku.. aku ingin ke kamar mandi,"ucap Ayana berusaha berdiri,"Auw.. auwh!"rintih Ayana yang merasa. kakinya nyeri saat dipakai untuk berdiri.
Melihat itu, Dimas pun menghampiri Ayana,"Biar aku gendong,"ucap Dimas langsung menggendong Ayana.
Ayana tertegun melihat wajah Dimas yang begitu dekat dengan dirinya. Wajah yang terlihat tampan dan menawan. Hidung mancung, tatapan mata yang tajam, kulit putih dan wajah yang terlihat putih terawat.
"Tidak usah terlalu lama melihatku! Nanti kamu jatuh cinta,"ujar Dimas membuat Ayana memalingkan wajahnya.
"Ogah aku jatuh cinta sama Om-Om. Mana penjual daster lagi,"sahut Ayana sinis, dengan wajah yang memerah menahan malu karena terpergok mengagumi wajah tampan Dimas.
"Jangan suka menghina! Nanti jadi suka!"ujar Dimas memperingati, mengulum senyum menatap Ayana sekilas.
"Cih, nggak akan!"ketus Ayana, tapi tangannya memeluk leher Dimas.
"Apa kamu kuat jongkok?"tanya Dimas ragu. Kaki Ayana terkilir sedangkan di kontrakan itu hanya ada WC jongkok. Ayana akan kesulitan jika akan buang air.
"Lalu aku harus bagaimana? Menyuruh kamu membantu aku buang air kecil? Yang ada, aku yang rugi dan kamu menang banyak, karena melihat tubuh ku,"ujar Ayana dengan wajah ditekuk.
"Hais, di sini aku yang rugi, bukan kamu! Aku harus mengantar kamu ke kamar mandi seperti anak kecil. Sudah, cepetan kalau mau buang air! Kalau sampai ngompol, 'kan, aku juga yang bakal repot! Aku tunggu di luar,"ujar Dimas kemudian menurunkan Ayana dan keluar dari dalam kamar mandi.
"Sembarangan saja kalau ngomong!Tutup pintunya dan jangan mengintip!"ucap Ayana memperingati.
"Aku tidak punya hobi mengintip,"ketus Dimas kemudian menunggu Ayana di depan pintu kamar mandi.
Dengan susah payah, akhirnya Ayana bisa duduk berjongkok dan buang air kecil. Tak lama kemudian, Ayana pun sudah selesai dan merasa lega.
"Hampir saja mengompol,"gumam Ayana lirih, kemudian menatap pintu kamar mandi,"SPd! Aku sudah selesai,"ucap Ayana yang masih enggan memanggil kakak pada Dimas.
"Aku tadi menyuruh kamu memanggil aku apa?"tanya Dimas penuh penekanan.
__ADS_1
"Aku sudah selesai. Tolong bantu aku kembali ke kamar,"ujar Ayana yang masih saja keras kepala tidak mau memanggil Dimas kakak.
"Kalau kamu nggak mau memanggil aku kakak, aku akan meninggalkan mu di kamar mandi.
"Kak Dimas!"panggil Ayana dengan wajah ditekuk.
Dimas tersenyum, kemudian kembali masuk ke kamar mandi dan menggendong Ayana kembali ke kamar.
"Sepertinya Pak Parman dan Bu Lastri terlalu memanjakan kamu. Tubuh mu berat sekali,"ujar Dimas tanpa dosa.
"Apa kau bilang! Maksud kamu aku gendut? Benar gitu?"tanya Ayana memelototi Dimas yang sedang menggendong nya, sedangkan tangannya memeluk leher Dimas.
"Aku tidak bilang kamu gendut. Hanya berat saja,"ujar Dimas yang jadi gemas jika berdebat dengan Ayana.
"Sama saja!"ketus Ayana yang terlihat kesal.
"Belum terlalu sembuh saja suaramu sudah seperti petir. Aku kasihan pada orang yang ditakdirkan menjadi suamimu. Dia benar-benar harus memakai pelindung telinga agar pendengarannya tidak terganggu karena suara cempreng kamu itu,"ujar Dimas sembari menurunkan Ayana di ranjang.
"Arghh..! Apa yang kau lakukan? Kamu akan membuat telinga ku putus!"pekik Dimas karena tiba-tiba Ayana menggigit telinganya. Ayana merasa kesal karena Dimas terus saja meledeknya.
"Auwh!"pekik Ayana karena Dimas jatuh menimpa tubuhnya.
Keduanya membulatkan mata mereka menyadari saat ini bibir mereka saling menempel. Karena terjatuh tadi, tanpa sengaja bibir mereka malah saling menempel. Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam dalam posisi itu. Jantung keduanya pun berdegup kencang tak beraturan.
Dimas menjauhkan bibirnya dari bibir Ayana dengan perasaan tidak rela.Masih berada di atas tubuh Ayana dan menatap Ayana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ke.. kenapa kamu menimpaku! Mi.. minggir!"ucap Ayana memalingkan wajahnya.Terlihat gugup, canggung dan juga malu. Wajahnya terlihat merona. Jika dirinya tidak menggigit telinga Dimas tadi, mungkin mereka tidak akan berasa dalam posisi saat ini.
"Ini salahmu karena menggigit telingaku,"ujar Dimas yang juga merasa canggung. Dimas turun dari atas tubuh Ayana seraya mengusap telinga nya yang terasa sakit karena di gigit Ayana,"Dasar gadis tengil!"ketus Dimas berjalan keluar kamar dengan wajah memerah.
"Dasar SPd, Sales Penjual daster!"balas Ayana tidak mau kalah.
"Hais, dia mengambil ciuman pertama ku. Aku sungguh ceroboh! Ceroboh!"gumam Ayana yang kesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ayana menghela napas berat menatap pintu kamar yang tertutup. Jika tidak ada Dimas, entah apa yang akan terjadi padanya malam itu. Dan sekarang pun dirinya harus merepotkan Dimas karena merawatnya. Bahkan harus menggendong dirinya ke kamar mandi. Tapi entah kenapa Ayana sangat suka berdebat dengan Dimas. Ada kesenangan tersendiri saat berdebat dengan Dimas. Tapi sesaat kemudian merasa malu karena insiden ciuman tak disengaja tadi.
Hari terus berganti dan kaki Ayana pun sudah bisa dipakai untuk berjalan. Ayana melihat Dimas yang sedang memasak di dapur. Wajah Dimas terlihat semakin tampan saat sedang serius memasak.
"Tampan sekali!"gumam Ayana lirih, tanpa sengaja memuji Dimas.
"Tidak usah melihatku sampai seperti itu! Aku tahu kalau aku tampan. Kamu bisa menatap ku nanti.Sekarang bantu aku memasak. Jangan bilang kamu tidak bisa memasak?"ujar Dimas melirik Ayana sekilas.
"Jangan menghina! Walaupun tidak jago memasak, aku bisa memasak beberapa menu masakan yang diajarkan oleh Bu Lastri,"ujar Ayana percaya diri.
"Bagus kalau begitu. Setidaknya kamu punya sedikit keahlian,"ujar Dimas kembali melirik Ayana.
Akhirnya mereka memasak bersama dan makan bersama. Ayana tidak menyangka jika Dimas bisa memasak. Dan masakannya juga enak.
Setelah sarapan, Dimas pun bersiap-siap untuk jualan keliling seperti biasanya. Walaupun sudah banyak saingan pedagang keliling yang lain dan juga sudah banyak yang lebih suka belanja online, tapi Dimas bersyukur karena dagangannya masih laku. Walaupun untungnya tidak terlalu banyak. Namun cukup untuk kebutuhan nya sehari-hari dan masih bisa menambah barang dagangan.
"Aku mau jualan. Kamu tidak usah keluar rumah! Kunci pintu dari dalam. Jangan sampai barang dagangan ku ada yang hilang!"ujar Dimas memperingati.
"Iya. Cerewet! Sudah, berangkat sana! Cari duit yang banyak!"ujar Ayana seperti seorang istri pada suaminya.
Setelah Dimas berangkat, Ayana melakukan apa yang dikatakan oleh Dimas. Ayana menutup pintu rumah kontrakan itu. Sudah tiga hari Ayana tinggal di kontrakan Dimas, tapi Dimas sama sekali tidak mengijinkan Ayana keluar.
Mak Er yang pernah mengurut Ayana pun berkata pada warga kampung jika Dimas memiliki adik yang sangat cantik. Karena kata-kata Mak Er itu, banyak warga, terutama pemuda dan duda yang penasaran dengan sosok Ayana. Tapi Dimas sama sekali tidak mengijinkan Ayana keluar rumah, walaupun hanya di teras. Sehingga membuat orang di kampung itu semakin penasaran, secantik apa gadis yang katanya adik Dimas itu.
Karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, akhirnya Ayana memilih menonton televisi. Mau menghubungi Wulan pun tidak bisa karena Ayana waktu keluar dari rumah tidak membawa handphone nya. Ayana juga tidak mengingat nomor handphone Wulan.
"Mereka pasti menunggu aku pulang,"gumam Ayana yang teringat dengan keluarga Pak Parman.
...🌸❤️🌸...
..
.
__ADS_1
To be continued