
Liliana berniat mengunjungi menantu dan putra tirinya. Namun saat melewati taman, Liliana mendengar suara gaduh. Wanita itu sangat penasaran, hingga akhirnya mendekati tempat asal suara kegaduhan itu berasal.
Saat sudah agak dekat dengan tempat yang terdengar gaduh dan dikerumuni oleh beberapa orang, Liliana sangat terkejut melihat Axell yang memukul Delvin. Delvin berusaha menghindar, tapi Axell terus memukul Delvin hingga beberapa kali Delvin terkena pukulan Axell. Beberapa orang yang lewat di tempat itupun jadi berhenti bahkan mendekat melihat Axell yang terus menyerang Delvin. Tidak memberikan kesempatan pada Delvin untuk membalas.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!"teriak Liliana membuat Axell berhenti memukul Delvin yang wajahnya sudah lebam di beberapa bagian.
"Saya minta maaf pada kalian semuanya! Atas kegaduhan yang mereka berdua buat,"ucap Liliana menunduk sopan kepada semua orang yang ada di tempat itu, hingga akhirnya semua orang meninggalkan tempat itu.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa membuat keributan di sini? Apa kalian lupa kalau ini rumah sakit? Dan kamu Axell. Lihatlah apa yang sudah kamu lakukan pada adik kamu! Kamu memukuli Delvin Samapi seperti itu,"ujar Liliana yang terlihat kesal pada kedua putranya.
"Aku tidak akan memukul Delvin, jika otaknya waras, ma,"sahut Axell.
"Kakak yang tidak waras. Memukul aku demi membela orang lain yang bahkan tidak kakak kenal,"kilah Delvin.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Liliana yang belum tahu apa yang sebenarnya yang membuat kedua putranya berkelahi.
"Anak mama yang manja itu sudah tidak waras. Dia melamar menantu mama dan mengatakan jika suaminya tidak lama lagi bakal mati,"sahut Axell mengatakan yang sebenarnya.
"Apa maksud kamu?"tanya Liliana menatap kedua putranya bergantian.
"Dia mengejar-ngejar kakak ipar sejak kakak ipar masuk kuliah. Meminta aku mencari informasi tentang kakak ipar. Setelah aku tahu kakak ipar sudah menikah, aku melarang dia untuk mengejar kakak ipar lagi. Tapi, hari ini dia malah mengatakan pada kakak ipar, bahwa kakak harus sadar. Harus realistis dan menerima kenyataan jika kakak tidak akan pernah lagi sadar. Bahkan dia berani meminta kakak ipar untuk menikah dengan dia, ma. Apa itu bisa dibilang perbuatan orang yang waras?"jelas Axell.
Walaupun usia Ayana lebih muda darinya, tapi Axell tetap memanggil Ayana dengan sebutan kakak ipar. Karena walaupun bagaimana, Ayana adalah istri kakaknya. Sedangkan Delvin nampak enggan memanggil Ayana kakak ipar. Bahkan tidak mau memanggil Dimas dengan sebutan kakak seperti Axell. Delvin selalu memanggil Dimas dengan sebutan "DIA".
Setelah mengetahui Dimas mengalami koma dan kemungkinan sembuhnya kecil, Delvin kembali berharap bisa mendapatkan Ayana. Berdoa agar Dimas segera meninggal. Jahat bukan? Tapi, itulah keegoisan anak manusia yang dilanda cinta. Terkadang cinta bisa menutup mata dan logika. Melumpuhkan akal dan pikiran. Sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang baik dan mana buruk.
__ADS_1
Semoga kita tidak menjadi orang yang demikian. Menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa peduli dengan apapun dan siapapun.
"Plak"
Tiba-tiba Liliana menampar pipi kiri Delvin dengan sekuat tenaga hingga Liliana merasa tangannya panas dan kebas.
"Ma! Kenapa mama menampar aku?"protes Delvin seraya memegang pipinya yang terasa panas setelah di tampar Liliana.
"Kamu menang pantas di tampar. Kamu juga pantas di hajar. Bagaimana bisa kamu bersikeras ingin menikahi kakak ipar kamu di saat kakak kamu masih hidup? Apa kamu sudah tidak waras, hah?!"ujar Liliana yang jadi emosi setelah mendengar penjelasan Axell.
"Kenapa kalian lebih membela orang lain dari pada aku?"protes Delvin,"Lagi pula, sebentar lagi dia juga bakalan mati, ma. Malah baik bukan, jika aku mengambil tanggung jawab untuk melindungi dan merawat anak dan istrinya?"ujar Delvin tanpa dosa.
"Plak"
"Orang lain kamu bilang? Dia adalah kakak satu ayah dengan kamu. Dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan darah mu. Dia adalah orang yang telah menyelamatkan kita sekeluarga. Orang yang sudah menyelamatkan kakak kamu Axell dan mama dua kali. Dia menyelamatkan mama saat nyawanya sendiri dalam bahaya. Bahkan sampai saat ini, dia tidak tahu jika yang dia selamatkan adalah keluarganya sendiri. Dan kamu masih berani mengatakan jika dia orang lain? Walaupun seandainya dia adalah orang lain, kamu juga tidak pantas merebut istri orang yang sudah menolong kamu. Apa kamu ingin menggigit tangan orang yang sudah menolong kamu? Apa kamu bukan lagi manusia? Hingga kamu tidak punya lagi tata Krama, adab serta etika. Menginginkan istri orang yang telah menolong kamu, sekaligus orang yang merupakan kakak satu ayah dengan kamu. Orang yang bahkan sekarang masih hidup,"sarkas Liliana yang masih berusaha memelankan suaranya agar tidak menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu.
"Aku hanya mencintai dia, ma. Apa aku salah?"tanya Delvin dengan wajah tertunduk.
"Cintamu tidak pernah salah, jika kamu mencintai orang yang tepat,"sahut Liliana.
"Aku tidak bisa menentukan pada siapa hati ku jatuh cinta, ma,"kilah Delvin.
"Kita memang tidak bisa menentukan pada siapa hati kita jatuh cinta. Tapi kita punya akal, pikiran dan logika. Hingga kita bisa memilih berhenti mencintai, jika orang yang kita cintai sudah menjadi milik orang lain,"sahut Liliana.
"Mencintai seseorang itu sah-sah saja. Asal tidak merusak hubungan dan kebahagiaan orang lain. Apalagi merusak hubungan suci sebuah pernikahan. Apa kamu merasa bangga, jika kamu mendapat gelar sebagai orang ketiga? Seorang pebinor. Jangan merendahkan dirimu dengan menjadi perusak hubungan orang lain! Apapun alasannya, bagaimana pun cerita, situasi dan kondisnya, kamu tetap akan menjadi orang yang hina jika kamu menjadi orang ke tiga,"imbuh Axell.
__ADS_1
"Benar kata kakak kamu. Jangan merendahkan dan mempermalukan diri mu sendiri dengan menjadi orang ke tiga. Apa kamu sudah tidak laku lagi, sehingga harus merebut pasangan orang lain untuk mendapatkan pasangan?"timpal Liliana.
"Jangan sampai hal ini didengar oleh papa. Jika papa mendengar hal ini, kakak pastikan, kamu akan dikirim papa ke luar negeri,"ujar Axell mengingatkan.
"Obati lukamu! Dan mulai hari ini, jangan pernah kamu temui Ayana lagi!"tegas Liliana pada Delvin lalu meninggalkan tempat itu.
Liliana meninggalkan Delvin menuju ruangan Dimas.Terlihat jelas kekecewaan di wajah wanita paruh baya itu pada Delvin. Axell pun mengikuti mamanya meninggalkan tempat itu. Seperti Liliana, Axell juga merasa sangat kecewa pada Delvin. Setelah tahu bahwa Ayana sudah menikah, Axell sudah mewanti-wanti Delvin agar berhenti mendekati, apalagi mengejar-ngejar Ayana. Namun hari ini adiknya itu malah nekat melamar Ayana, bahkan setelah tahu jika Dimas adalah kakak satu ayah dengan mereka.
"Arghhh!"pekik Delvin dengan suara tertahan. Menjambak dan mengacak-acak rambutnya sendiri.Merasa frustasi karena tidak ada satupun dari keluarganya yang mendukung dirinya.
...πππ...
...Majulah tanpa menyingkirkan orang lain, Naiklah setinggi mungkin tanpa menjatuhkan orang lain....
...Jadilah tinggi tanpa harus menginjak orang lain....
...Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain Jadilah benar tanpa menyalahkan orang lain...
...Dan berbahagialah tanpa harus menyakiti orang lain....
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1