
Diky masih setia memeluk Wulan. Pemuda itu mengajak Wulan mengobrol untuk mencairkan suasana yang sempat terasa canggung setelah mereka berciuman tadi. Membahas berbagai macam hal, hingga mereka menjadi lebih akrab dan Wulan tidak lagi terlihat canggung. Sesekali mereka tertawa bersama. Namun Wulan masih saja terlihat malu-malu dengan pipinya yang memerah. Dan hal itu selalu sukses membuat Diky merasa gemas.
"Sepertinya, hujan sudah reda. Ayo, kita pulang, Lan!"ajak Diky seraya melepaskan pelukannya pada Wulan.
Pemuda itu beranjak dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya pada Wulan agar Wulan bangkit dari duduknya. Dengan sabar, Diky memakaikan helm di kepala Wulan. Setelah itu, Diky memakai helm nya sendiri dan naik ke atas motor. Saat Wulan sudah naik ke boncengan motornya, Diky menarik kedua tangan Wulan, kemudian memasukkan tangan Wulan ke dalam saku jaketnya.
Walaupun awalnya merasa canggung dan tidak nyaman, namun akhirnya Wulan jadi terbiasa dan malah merasa nyaman.
Kedua telapak tangannya yang masuk ke dalam saku jaket Diky dan dadanya yang menempel sempurna di punggung lebar Diky, membuat Wulan tidak merasakan udara dingin karena efek dari turunnya hujan lebat yang lumayan lama tadi.
"Pantesan Ayana suka sekali menempel pada kak Dimas. Ternyata berdekatan dengan orang yang di sukai itu memang menyenangkan. Ada rasa berdebar, malu, canggung dan juga bahagia dalam waktu bersamaan. Nano-nano rasanya. Jadi kayak permen,"gumam Wulan dalam hati.
Gadis itu senyum-senyum sendiri di balik punggung lebar Diky. Hangat dan nyaman, itulah yang dirasakan oleh Wulan saat tubuhnya menempel di punggung Diky dalam hawa dingin setelah hujan reda ini.
"Haisss.. rasanya aku tidak rela mengantarkan dia pulang ke rumahnya. Ingin rasanya aku bawa dia ke apartemen ku saja dan bermalam di sana. Tidur berpelukan dengan dia pasti akan terasa lebih hangat dan nyaman di tengah hawa dingin seperti ini. Huff.. tiga tahun setengah itu lama sekali,"gumam Diky dalam hati.
Seperti perkiraan Diky, setelah setengah jam berkendara, akhirnya Diky dan Wulan pun memasuki perkampungan tempat keluarga Wulan tinggal. Wulan melepaskan pelukannya pada Diky, karena tidak ingin kedua orang tuanya melihat dirinya dalam posisi se-intim itu dengan Diky. Diky pun membiarkan Wulan melepaskan pelukannya, karena Diky juga tidak ingin keintiman nya dengan Wulan di lihat kedua orang tua Wulan. Tidak ingin kedua orang tua Wulan berprasangka macam-macam pada mereka berdua.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat pasangan muda-mudi itu tiba di rumah Pak Parman. Bu Lastri dan Pak Parman nampak tersenyum lebar melihat putri dan calon menantu mereka sudah pulang.
"Ayo, masuk dulu! Biar ibu buatkan Suteja, alias susu, teh, jahe. Biar tubuh kalian hangat. Kalian pasti kedinginan di luar sana, apalagi saat dalam perjalanan pulang menaiki motor,"ujar Bu Lastri yang tersenyum cerah karena merasa lega putrinya pulang dengan selamat.
"Terimakasih, Bu! Nggak usah. Saya langsung pulang saja,"sahut Diky.
"Maaf! Bapak dan ibu tidak bisa menyuruh kamu menginap. Karena kamu belum sah menjadi suami Wulan,"ujar Bu Lastri tidak enak hati.
"Iya, Bu. Nggak apa-apa,"sahut Diky tersenyum tipis, padahal di dalam hatinya,"Kemarin pas aku minta di halalin sekalian nggak boleh. Padahal, 'kan, enak kalau dingin-dingin begini tidur ada yang dikelonin,"gerutu Diky dalam hati.
__ADS_1
"Iya, Nak. Kalau menginap di sini, takutnya nanti malah digerebek warga,"sahut Pak Parman.
"Iya, Pak. Saya mengerti,"sahut Diky, namun dalam hatinya,"Aku malah ngarep di grebek warga. Tapi malah tidak di gerebek juga. Padahal, di depan warung tadi, aku berharap ada warga sekitar yang melihat aku mencium, Wulan. Tapi malah sepi kayak kuburan, nggak ada orang yang melihat aku mencium Wulan, apalagi menggerebek kami berdua,"gerutu Diky memaksakan diri untuk tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan! "ujar Pak Parman.
"Iya, Pak,"sahut Diky.
Dengan berat hati, akhirnya Diky meninggalkan rumah calon istrinya. Sedangkan di rumah Pak Parman, sebegitu Diky pulang, Wulan langsung di suruh duduk di hadapan Pak Parman dan Bu Lastri, siap untuk diinterogasi.
"Kalian benar-benar berteduh di warung di pinggir jalan, 'kan?"tanya Bu Lastri tidak sabar.
"Iya Bu,"jawab Wulan.
"Kamu nggak di apa-apain, 'kan, sama Nak Diky?"tanya Pak Parman penuh selidik.
Sebagai seorang lelaki dan pernah muda, tentu saja Pak Parman tidak mudah percaya begitu saja. Hujan-hujan begini, seorang pemuda bersama dengan seorang gadis yang di suka, kemungkinannya kecil sekali jika tidak di apa-apain.
"Mendingan bohong dari pada jujur. Kalau aku jujur tadi di cium, bang Diky, entah apa reaksi bapak dan ibu. Cari aman saja, lah,"gumam Wulan dalam hati.
"Beneran, cuma berteduh doang?"tanya Pak Parman lagi, merasa belum yakin.
"Iya, Pak. Di sana, 'kan, sekitarnya banyak rumah penduduk. Masa iya, kami mau berbuat macam-macam di sana,"jawab Wulan kembali berdusta.
"Padahal aku sendiri tadi tidak ingat kalau di tempat aku berteduh bersama bang Diky tadi adalah tempat yang di sekitarnya banyak rumah penduduk. Kami beruntung sekali karena tadi tidak ada warga yang melihat kami berciuman di warung itu. Jika tidak, kami pasti digerebek warga dan dinikahkan secara paksa. Masih untung kalau nggak di arak keliling kampung,"gumam Wulan dalam hati.
"Yakin, nggak di apa-apain, dan nggak ngapa-ngapain?"tanya Bu Lastri memicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Kok, aku ngerasa di interogasi, ya? Kalau bapak dan ibu nggak percaya, bapak dan ibu tanya saja sama bang Diky. Atau kalau enggak, jangan ijinkan aku pergi, jika aku mau di ajak jalan sama bang Diky,. Biar tidak ada rasa curiga dan prasangka yang macam-macam di hati ibu dan bapak,"sahut Wulan bersungut-sungut.
Pak Parman dan Bu Lastri menghela napas panjang mendengar penuturan Wulan. Benar kata Wulan, jika mereka tidak percaya, curiga dan berprasangka macam-macam, sebaiknya mereka tidak mengijinkan Wulan pergi bersama Diky. Namun, tidak mengijinkan Wulan pergi dengan Diky itu tidak mungkin. Karena Diky adalah tunangan Wulan.
"Ini, belanjaan segini banyak. Kamu minta di beliin sama, Nak Diky?"tanya Bu Lastri mengalihkan pembicaraan. Menunjuk pada meja yang penuh oleh barang belanjaan.
"Aku nggak minta di beliin semua barang itu, Bu. Itu semua bang Diky sendiri yang membelikannya. Aku sudah menolaknya, tapi tetap saja di belikan oleh bang Diky,"jawab Wulan yang kali ini jujur.
"Ini banyak banget, Lan. Pasti ini semua barang-barang mahal,"ujar Pak Parman.
"Iya, Lan. Padahal, hadiah lamaran kemarin saja sudah banyak banget. Dari pakaian, tas, sepatu, perhiasan, bahkan pakaian dalam nya pun lengkap. Ini masih di belikan begitu banyak barang,"timpal Bu Lastri.
"Tapi aku nggak minta semua ini dari bang Diky, Bu. Mana berani aku minta di beliin apa-apa sama, bang Diky,"sahut Wulan jujur adanya.
"Ya, bagus kalau begitu. Tapi ingat! Jangan minta apapun dari Nak Diky, kecuali kalian sudah menikah nanti,"ujar Bu Lastri dengan wajah serius memperingati.
"Iya, Bu. Aku mengerti. Aku nggak bakal minta apapun sama Bang Diky, sebelum kami menikah,"sahut Wulan.
"Ya sudah, cepat di buka, gih! Apa aja yang di belikan oleh Nak Diky buat kamu. Ibu kepo, nih,"ujar Bu Lastri yang wajah serius nya langsung berubah menjadi antusias.
"Huhh . dasar ibu! Tadi memperingati Wulan agar tidak minta apapun pada Nak Diky. Tapi, giliran di beliin barang sama Nak Diky, ibu kepo dan antusias secara bersamaan dengan level maksimal"celetuk Pak Parman.
"Halahh.. kayak bapak nggak kepo aja,"cibir Bu Lastri.
"Ya enggak, lah! Maksudnya, nggak salah lagi,"sahut Pak Parman menyengir bodoh, membuat Bu Lastri dan Wulan memutar bola mata mereka malas.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued