SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
105. Teman Lama


__ADS_3

Mendengar kata-kata Bening yang seolah sangat tahu tentang Dimas, semua orang pun menoleh pada Bening dengan tatapan penuh tanda tanya. Bening menelan salivanya susah payah mendapatkan tatapan dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Wanita itu nampak tersenyum canggung.


Bening tidak sengaja keceplosan saat melihat Ayana memberikan suwiran ayam pada Dimas. Sedangkan Bening tahu pasti, jika Dimas selalu merasa mual saat memakan olahan daging ayam. Dan sekarang karena mulutnya yang keceplosan itu, semua orang menatapnya. Bening merasa terintimidasi dengan tatapan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Benarkah kak Dimas tidak suka ayam? Selama ini aku merasa sudah mengenal dan me-li-hat kak Dimas lu-ar dan da-lam. Apakah kakak ipar lebih mengenal kak Dimas lebih dari aku?"tanya Ayana sinis, menekankan kata melihat, luar dan dalam. Secara tidak langsung ingin memberitahu sejauh apa hubungannya dengan Dimas. Bahkan Ayana sengaja ngibaskan rambutnya ke belakang, hingga semua orang yang ada di ruangan itu melihat beberapa kiss mark di lehernya yang dibuat oleh Dimas semalam.


"Kamu sepertinya sangat tahu tentang Dimas,"ujar Hilda tersenyum sinis.


Hilda masih sangat ingat dengan perkataan Bening di dapur semalam. Walau bagaimanapun, Ayana adalah anak yang dikandung dan dibesarkannya. Tentu saja Hilda merasa tidak suka jika putrinya dikatai menderita penyakit mental. Apalagi jika dipikir pikirnya, sepertinya Bening memang berusaha mendekati Dimas, yang notabene adalah menantunya.


"Apa kamu sudah mengenal Dimas sebelumnya?"tanya Nando dengan tatapan curiga.


"Dari kata-kata kamu, sepertinya kamu sangat mengenal Dimas,"imbuh Geno yang juga merasa penasaran. Geno jadi teringat saat mereka berada di rumah sakit dan Ayana marah karena tidak ingin Bening pergi berduaan dengan Dimas. Bahkan waktu itu Ayana seperti menuduh Bening sengaja ingin berduaan dengan Dimas.


Sedangkan Dimas hanya menghela napas mendengar pembicaraan di meja makan yang membicarakan tentang dirinya dan Bening. Sebenarnya Dimas tidak ingin keluarga Ayana tahu tentang hubungannya dengan Bening di masa lalu. Dimas ingin menjaga perasaan semua orang, terutama perasaan Nando.


"Em, Ka.. kami adalah teman lama,"sahut Bening gugup.


"Oh, begitu, ya? Ingatan kamu bagus sekali, sampai-sampai masih ingat dengan makanan yang tidak di sukai oleh teman lamamu,"ujar Hilda tersenyum sinis.


Perkataan Hilda itupun sukses membuat Nando semakin curiga. Kata-kata Hilda itu seolah mengatakan, tidak wajar jika seorang teman lama sampai masih ingat apa yang disukai oleh temannya.

__ADS_1


"Sayangnya kak Dimas, teman lama kak Bening ini sudah berubah. Kak Dimas yang sekarang bukanlah kak Dimas yang kakak ipar kenal dulu,"sahut Ayana tersenyum sinis seraya bergelayut manja di lengan Dimas. Sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis pada Ayana seraya mengelus lengan Ayana yang sedang bergelayut di lengannya.


"𝘼𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙜𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙮𝙖𝙢?"gumam Bening dalam hati.


Bening merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayana. Pasalnya selama berpacaran dengan dirinya, Dimas sangat sensitif dengan makanan dari olahan daging ayam. Bahkan saat dibuat bakso pun, Dimas tetap tahu jika baksonya itu di buat dari daging ayam.


"Ah.. begitu, ya? Aku tidak tahu kalau Dimas sudah berubah. Soalnya kami memang sudah beberapa tahun tidak bertemu,"sahut Bening tersenyum tipis mencoba bersikap biasa saja.


"𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩, 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙧𝙚𝙖𝙠𝙨𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙮𝙖𝙢 𝙨𝙪𝙬𝙞𝙧 𝙞𝙩𝙪. 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙪𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖?"gumam Bening dalam hati.


"Aku menyukai semua makanan yang di masak oleh Ayana,"ujar Dimas yang dari tadi hanya diam. Pria itu tersenyum saat melihat Ayana tersenyum pada dirinya, dan reflek mencubit hidung Ayana dengan gemas.


"Dasar pengantin baru,"ujar Hilda tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan saat melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh menantu pada putrinya.


"𝘼𝙥𝙖, 𝙨𝙞𝙝, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙪𝙠𝙖𝙞 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖? 𝘼𝙠𝙪 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙚𝙨𝙧𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙘𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝘿𝙞𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣. 𝘼𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪,"gumam Bening dalam hati yang masih yakin bahwa Dimas masih mencintai dirinya.


"Sudah! Ayo, sarapan! Papa sudah lapar banget, nih!"ujar Geno mengurai suasana canggung di meja makan itu.


"Mama tidak menyangka, kamu benar-benar pintar masak, Ay. Setiap kamu yang masak, semua orang pasti langsung berselera makan,"puji Hilda tulus, sekaligus membanggakan Ayana.


"Papa dulu juga jatuh cinta pada mama karena masakan mama. Sayangnya, semenjak mama sibuk di butik, mama tidak lagi memasak untuk keluarga kita,"keluh Geno kembali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Iya, maaf, pa. Mama benar-benar sibuk. Mama jadi malu sama Ayana yang mau menyempatkan diri bangun pagi buat masak. Biasanya, pengantin baru, 'kan malas bangun pagi. Apalagi buat masak,"sahut Hilda seraya melirik Bening.


Bening nampak menunduk saat melihat Hilda meliriknya. Pasalnya selama menikah dengan Nando, belum pernah sekalipun Bening memasak untuk keluarga mertuanya itu.


"Aku sudah terbiasa bangun pagi untuk memasak, ma. Aku juga cuma bisa memasak beberapa menu masakan saja,"sahut Ayana yang selalu merendah.


"Tapi masakan kamu selalu enak, Ay. Papa langsung lapar jika melihat dan mencium aroma masakan kamu,"imbuh Geno.


Nando hanya diam, tapi sesekali melirik Bening. Entah mengapa Nando semakin merasa hatinya tidak tenang setelah mengetahui bahwa Dimas adalah teman lama Bening. Nando merasa hubungan Dimas dan Bening di masa lalu tidak sekedar teman. Karena Bening sampai tahu dan ingat apa yang tidak di sukai Dimas. Bening sesekali melempar senyum pada Nando saat tanpa sengaja mereka bertatapan. Bening takut Nando curiga mengenai hubungannya dengan Dimas. Walaupun pada kenyataannya, sampai saat ini Bening masih mencintai Dimas dan tidak rela Dimas bersama wanita lain, apalagi dimiliki wanita lain. Entah apa yang diinginkan wanita itu. Dulu meninggalkan Dimas walaupun masih cinta. Bahkan menikah dengan Nando, tapi masih mengharapkan Dimas. Serakah. Mungkin itu kata yang tepat untuk Bening. Menginginkan Nando yang kaya, tapi juga menginginkan Dimas yang lebih gagah dan tampan.


"Papa benar. Masakan yang di masak Ayana selalu enak dan bikin lapar. Sampai-sampai Toyib selalu tidak rela jika Ayana menginap di sini atau di rumah Pak Parman. Bahkan meminta Ayana memasak banyak sebelum Ayana menginap di sini atau di rumah Pak Parman,"sahut Dimas tersenyum tipis karena mengingat Toyib selalu saja menggerutu jika Ayana menginap di rumah orang tuanya ataupun di rumah Pak Parman.


"Abang memang tukang makan,"sahut Ayana terkekeh kecil. Mengingat bagaimana kakak angkatnya itu saat melihat makanan.


"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙖𝙮𝙖𝙢 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖? 𝘿𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙢𝙪𝙖𝙡 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙮𝙖𝙢? 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖?"gumam Bening yang rasanya tidak percaya Dimas terlihat baik-baik saja walaupun sudah memakan suwiran ayam yang diambilkan Ayana tadi.


...🌟"Jangan harap hatinya akan tetap sama, setelah kamu meninggalkannya. Dan jangan mencoba untuk kembali, setelah kamu memutuskan untuk pergi."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2