SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
8. Perhatian


__ADS_3

"Cie. cie. yang baru saja ngapelin janda kaya,"suara cempreng seorang gadis yang terdengar dari belakang nya itu membuat Dimas membuang napas kasar. Dimas sangat hafal dengan suara cempreng ini. Suara gadis tengil yang selalu mengolok-olok dirinya sebagai SPd, alias Sales Penjual daster. Tidak lain tidak bukan adalah Ayana.


Dimas terus melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Ayana yang meledeknya. Membuat gadis yang sedang membawa kantong plastik berisi jambu air itu kesal.


"Woi! SPd, Sales Penjual daster! Sombong amat, sih! Aku ngomong sama kamu! Apa kamu tuli?"teriak Ayana terus membuntuti Dimas dari belakang.


"Dasar sales sombong! Songong! Sok kegantengan!"umpat Ayana lagi, tapi Dimas tetap saja melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Ayana. Jangankan berhenti untuk merespon perkataan Ayana. Menoleh pun tidak. Merasa kesal diacuhkan oleh Dimas, Ayana pun mengambil buah jambu dari dalam kantong plastik. Buah jambu yang baru saja di belinya.


"Dasar sombong! Sok ganteng!"umpat Ayana lagi. Gadis itu melempari Dimas dengan buah jambu yang dibawanya dengan lemparan bertubi-tubi.


"Dasar gadis tidak waras!"geram Dimas yang merasa punggung dan kepalanya dilempari. Pria itu membalikkan tubuhnya dengan wajah merah padam. Dengan cekatan Dimas menangkap buah jambu yang hampir saja mengenai wajahnya.


"Sudah sombong, pemarah lagi! Hii.. amit-amit, deh!"ujar Ayana bergidik ngeri, kemudian tanpa rasa berdosa berlalu melewati Dimas begitu saja.


"Dasar tidak waras! Kalau saja kamu bukan perempuan, sudah aku hajar kamu,"ujar Dimas menahan emosinya, menatap tajam pada Ayana yang melewatinya.


Mendengar perkataan Dimas, Ayana pun langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghampiri Dimas.


"Apa kamu bilang? Ingin menghajar aku? Kamu pikir aku gadis lemah? Coba saja kalau berani!"tantang Ayana setelah berhenti di depan Dimas. Gadis itu menengadahkan kepalanya menatap wajah Dimas yang lebih tinggi darinya. Menampilkan ekspresi sombong di depan Dimas seraya membusungkan dadanya.


"Kau!"geram Dimas benar-benar kesal dan geram dengan gadis belia di depannya itu.


"Apa?"tantang Ayana mengangkat dagunya seraya berkacak pinggang menatap tajam pada Dimas. Tidak ada sedikit pun ketakutan di mata bulat jernih gadis itu.


Namun tanpa sengaja Dimas menatap bibir gadis di depannya itu. Bibir mungil merah muda bervolume dengan belahan di bibir bawahnya yang agak tebal terlihat seksi. Membuat Dimas menelan salivanya susah payah. Bagaimana rasanya jika mencium bibir mungil berwarna pink bervolume itu? Itulah yang ada di otaknya saat ini, namun segera ditepisnya pikiran mesumnya itu.


"Minggir! Dasar gadis tengil! Tidak waras!"bentak Dimas seraya mendorong Ayana yang menghadangnya.


"Sales mesum!"pekik Ayana.


"Bugh!"

__ADS_1


"Bugh!"


"Bugh!"


"Argh!"


Karena pikirannya yang tidak fokus setelah melihat bibir Ayana, Dimas tanpa sengaja malah mendorong salah satu bukit kembar milik gadis di depannya itu.


Terang saja hal itu membuat Ayana membulatkan matanya karena marah dan memberi bogeman mentah di wajah Dimas yang mengenai bibir Dimas. Sudut bibir Dimas pecah dan mengeluarkan darah. Tidak puas sampai di situ saja, Ayana menendang perut Dimas dan terakhir menendang pangkal paha Dimas dengan tendangan yang terbilang kuat. Pria yang membawa tas di bahu kanannya dan membawa daster serta kacamata penutup dada di lengan kirinya itu pun membungkuk, meringis menahan sakit seraya memegang benda pusaka nya yang bahkan belum pernah di pakainya untuk menusuk lawan.


"Dasar sales mesum! Rasakan itu!"umpat Ayana kemudian meninggalkan Dimas dengan wajah merah padam menahan kesal dan amarah.


"Dasar gadis tengil! Tunggu saja pembalasan ku!"ancam Dimas masih menahan rasa nyeri di pangkal pahanya.


"Coba saja kalau berani!"teriak Ayana membalikkan tubuhnya menatap Dimas dengan wajah garang. Kemudian kembali membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya.


"Dasar sales mesum! Berani sekali dia memegang dadaku! Dasar kurang ajar!Sales mesum menyebalkan! Harusnya aku tadi menghajarnya sampai babak belur! Tapi melihat wajahnya yang tampan, sayang sekali jika di buat babak belur. Haiss.. kenapa aku berpikir seperti itu? Dia itu sales mesum. Pantas jika harus di hajar sampai babak belur,"gumam Ayana sepanjang jalan menuju rumah Wulan.


Di sisi lain.


"Loh.. loh.. ini anak gadis bapak kenapa mulutnya macam tikus curut gitu,"ujar Pak Parman yang sedang duduk di teras dan melihat Ayana pulang dengan wajah suram dan bibir monyong. Gadis yang tidak terasa sudah hampir satu bulan ini tinggal di rumahnya.


"Iihh.. bapak malah ngeledek!"protes Ayana dengan suara manja langsung duduk di sebelah Pak Parman.


"Loh, bapak itu jujur, loh! Lihat di cermin sana kalau tidak percaya!"ujar Pak Parman yang terlalu jujur.


"Tau ah! Bapak malah bikin Ay tambah kesel!"ujar Ayana ingin beranjak dari tempatnya duduk. Tapi langsung ditahan oleh Pak Parman.


"Sudah, jangan ngambek! Bapak minta maaf! Ayo, cerita! Apa yang bikin anak bapak yang cantik ini kesal hingga uring-uringan seperti ini?"tanya Pak Parman lembut.


Perlakuan Pak Parman itu malah membuat mata Ayana berkaca-kaca. Pasalnya kedua orang tuanya tidak pernah membujuk nya saat dirinya merajuk. Dan akhirnya Ayana pun malah menangis. Pak Parman yang melihat Ayana menangis pun langsung memeluk Ayana. Pelukan hangat seorang ayah yang tidak pernah diberikan oleh ayah kandung Ayana sendiri.

__ADS_1


"Menangis lah jika itu bisa membuat mu merasa lega! Jika kamu ingin menceritakan keluh kesah mu, bapak akan mendengarkannya,"ucap pak Parman tulus seraya mengelus kepala Ayana, membuat Ayana semakin menangis.


Kenapa malah orang yang baru di kenalnya dan tidak mempunyai hubungan darah dengan dirinya yang malah perhatian pada dirinya? Sedangkan orang tua kandungnya sendiri tidak pernah memperhatikannya. Bahkan sudah hampir satu bulan Ayana tidak pulang ke rumah. Tapi orang tuanya sama sekali tidak mencarinya atau sekedar menelpon menanyakan kabar dan keberadaannya.


Sedangkan bagi Pak Parman, sifat dan tingkah laku Ayana sangat mirip dengan almarhum putri sulung Pak Parman. Putri Pak Parman yang meninggal karena demam berdarah. Sifat dan tingkah laku Ayana yang mirip dengan putrinya membuat Pak Parman merasakan putrinya hidup kembali dalam diri Ayana. Demikian pula dengan Wulan dan Bu Lastri yang merasakan hal yang sama. Karena itulah, selama hampir sebulan Ayana tinggal di rumah mereka, keluarga Pak Parman tidak pernah menganggap Ayana sebagai tamu, tapi sebagai putri mereka sendiri. Bahkan keluarga Pak Parman mengatakan pada orang -orang kampung bahwa Ayana adalah keponakan Pak Parman.


Setelah tangisan Ayana sudah reda, Pak Parman merenggangkan pelukannya dan mengusap air mata Ayana dengan kedua jari jempolnya.


"Anak bapak harus bahagia! Tidak boleh menangis!"ujar Pak Parman seraya merapikan anak rambut Ayana.


"Aku, cuma kesel sama seseorang, saja, Pak,"adu Ayana yang sudah mulai merasa tenang.


"Siapa yang berani membuat anak gadis bapak kesal? Berani sekali! Katakan pada bapak siapa orangnya! Biar bapak cari. Akan bapak hajar orang yang membuat anak gadis bapak kesal sampai menangis begini,"ujar Pak Parman dengan tangan kanan terkepal yang dipukul-pukul kan pada telapak tangan kirinya yang terbuka.Seolah sangat ingin menghajar orang.


"'Bapak tidak perlu turun tangan.Tadi orangnya sudah aku hajar. Aku cuma merasa masih kesal saja,"ujar Ayana yang sebenarnya bukan menangis karena kesal pada Dimas. Tapi karena merasa terharu dengan perhatian Pak Parman yang seharusnya diberikan oleh ayahnya.


"Bagus kalau sudah di hajar. Sekarang cuci sana mukanya! Biar mata kamu tidak sembab,"ujar Pak Parman.


"Iya, Pak,"sahut Ayana beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi.


Pak Parman menghela napas panjang. Merasa prihatin menatap Ayana yang masuk ke dalam rumah. Anak gadis yang cantik dan menyenangkan menurutnya. Tapi sudah hampir satu bulan menginap dirumahnya, orang tuanya sama sekali tidak mencarinya.


...🌟"Terdengar sepele, tapi sesungguhnya perhatian sekecil apapun sangatlah berharga."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2