SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
43. Anak Durhaka


__ADS_3

Ayana yang masih pingsan di bawa ke dalam mobil oleh dua orang pria suruhan Hilda. Setelah lumayan alot Hilda bicara dengan Pak Sugeng yang takut jika siswinya di culik di depan sekolah di depan matanya.


"Kita di tipu gadis ini habis-habisan. Dia memakai jaket masker dan topi hingga kita sulit mengenalinya,"ujar pria berkumis.


"Iya. Untung saja tadi kita melihat pas dia buka masker,"ujar pria berkepala plontos.


Tadi pagi saat Ayana baru turun dari ojek, tanpa sengaja kedua pria itu melihat Ayana membuka maskernya karena merasa ada semut yang merayap di wajahnya. Karena itulah kedua pria itu akhirnya tahu jika gadis yang mereka cari selama ini selalu memakai jaket, masker dan topi. Hingga sulit untuk mereka kenali.


Kedua pria itu memang lebih gencar mencari Ayana setelah di ancam Hilda tidak akan di beri gaji sebelum mereka bisa menemukan Ayana. Dan mereka sangat senang karena hari ini bisa menemukan Ayana. Dengan ditemukannya Ayana, artinya mereka berdua akan tetap gajian.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Hilda, ternyata Hilda sudah menunggu mereka di depan pintu. Salah seorang pria itupun mengangkat tubuh Ayana yang masih pingsan.


"Ternyata selama ini kalian memang makan gaji buta, ya? Begitu di ancam nggak bakal di kasih gaji, baru benar-benar berkerja,"sarkas Hilda.


"Selama ini kami benar-benar bekerja mencari nona, nyonya. Tapi karena nona menyembunyikan diri, kami jadi kesulitan mencarinya,"sahut pria berkumis.


"Banyak alasan! Cepat bawa masuk Ayana ke kamar nya. Tugas kalian adalah menjaga dia agar tidak kabur lagi. Jika sampai dia kabur lagi, aku akan memecat kalian berdua!"ancam Hilda.


"Kami akan bekerja dengan baik Nyonya,"sahut keduanya, lalu membawa Ayana ke kamar Ayana. Membaringkan gadis itu di atas ranjang. Setelah itu, mereka pun mengunci Ayana dari luar kamar.


Beberapa saat kemudian, Ayana pun sadar. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ayana mengamati tempatnya berada saat ini.


"Aku di kamar ku? Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Aku harus pergi"gumam Ayana kemudian beranjak dari tempat tidurnya, menghampiri pintu,"Sial! Aku di kunci di dalam kamar!"umpat Ayana setelah beberapa kali mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa. Ayana membuang napas kasar kemudian duduk di tepi ranjang.


"Ceklek!"


Tiba-tiba pintu kamar Ayana di buka dari luar dan Hilda muncul dari balik pintu.


"Sudah bangun?"tanya Hilda datar.


Hilda tidak menanyakan kabar apalagi memberikan Ayana sebuah pelukan setelah hampir enam bulan tidak bertemu dengan Ayana. Malah bertanya dengan nada datar dan ekspresi wajah yang terlihat kesal. Sangat berbeda jauh dengan keluarga Pak Parman, Dimas dan Toyib yang selalu memberikan kehangatan keluarga saat mereka bersama.


"Ijinkan aku pergi dari rumah ini. Aku tidak akan meminta apapun dari mama dan papa. Tidak akan menjadi beban mama dan papa. Aku juga tidak akan meminta warisan serupiah pun dari kalian,"ujar Ayana yang memang sama sekali tidak mempunyai niat untuk kembali ke rumah kedua orang nya atau pun meminta uang apalagi warisan.

__ADS_1


"Oh, begitu? Kamu sudah merasa mampu tinggal di luar sana tanpa bantuan mama dan papa. Apa yang kamu lakukan di luar sana hingga kamu bisa bertahan selama enam bulan? Apa kamu menjual diri, hah?!'sarkas Hilda.


Ayana mengepalkan kedua tangannya. Matanya sudah di penuhi kabut yang sebentar lagi akan jatuh. Tidak menyangka jika mamanya bisa menuduh dirinya seperti itu. Mengatakan kata-kata yang begitu kasar dan menyakitkan pada putrinya sendiri.


"Apa mama pikir aku serendah itu? Teganya mama menuduh aku seperti itu. Walaupun diluar sana aku tidak bisa makan sekalipun, aku tidak akan pernah menjual diriku,"tes, akhirnya butiran kristal itu jatuh juga.


"Bagus kalau kamu masih punya harga diri. Setidaknya tidak merusak nama baik keluarga. Sekarang bersihkan dirimu! Nanti Noval akan datang ke sini untuk mengajakmu jalan-jalan,"ujar Hilda masih dengan nada yang datar.


Mendengar kata-kata mamanya, Ayana pun langsung membulatkan matanya. Mamanya ingin dirinya pergi dengan Noval yang bermaksud ingin melecehkan dirinya waktu itu?


"Aku tidak mau! Aku tidak mau pergi dengan bajingan brengseek itu lagi!"tolak Ayana tegas.


"Mama tidak minta persetujuan dari kamu. Kamu harus menuruti kata-kata mama. Pergi dan ambil hati Noval agar kelak dia mau menikahi kamu!"bentak Hilda yang nampak emosi karena Ayana menentang perintahnya.


"Tidak! Aku tidak mau pergi dengan pria brengseek itu. Apa mama tahu? Dia memiliki niat buruk padaku, ma! Dia berniat melecehkan aku,"ujar Ayana dengan butiran kristal yang berjatuhan dari kelompok matanya.


"Jangan mencari alasan! Noval itu pemuda yang baik, mandiri, bertanggung jawab dan kaya. Malam saat kamu kabur, dia langsung melapor pada mama dan papa. Bahkan dia ikut mencari kamu dalam hujan lebat waktu itu,"tukas Hilda.


"Mama dan papa di tipunya. Dia itu punya maksud buruk, ma,"ujar Ayana meyakinkan mamanya.


"Mama boleh meminta apapun padaku selama itu baik dan positif. Tapi menyuruh aku untuk pergi dengan Noval, itu berarti mama mendorong aku ke jurang kehancuran. Mama boleh membunuh aku. Tapi aku tidak akan pernah mau pergi dengan Noval,"ujar Ayana tetap teguh dengan pendiriannya.


"Dasar anak tidak berbakti! Anak kurang ajar! Anak durhaka! Beraninya kamu menentang mamamu. Sepertinya kamu harus di berikan pelajaran agar jera,"ujar Hilda penuh amarah.


Wanita paruh baya itu bergegas keluar dari kamar Ayana dan mengunci pintu kamar Ayana dari luar. Tak lama kemudian Hilda pun kembali dengan membawa penyapu.


"Sekarang mama tanya sekali lagi, kamu mau pergi dengan Noval apa tidak?'tanya Hilda dengan nada tinggi.


"Tidak! Walaupun mama membunuh aku, aku tidak akan pergi dengan Noval,"sahut Ayana.


"Plak"


"Akkh!

__ADS_1


Pekik Ayana saat Hilda memukulnya dengan penyapu.


"Mau pergi dengan Noval apa tidak?"tanya Hilda lagi.


"Tidak!'"Ayana tetap kukuh dengan pendiriannya.


"Plak! Plak ! Plak!"


Hilda kembali memukul Ayana dengan gagang penyapu. Tapi kali ini Ayana menutup mulutnya agar tidak bersuara. Namun air matanya menetes tanpa henti.


"Mau pergi dengan Noval atau tidak?"lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar dari mulut Hilda.


"Tidak!"Ayana pun masih menjawab dengan jawaban yang sama.


"Plak! Plak! Plak!"


Hilda terus menanyakan pertanyaan yang sama dan Ayana pun terus menjawab dengan jawaban yang sama. Hilda yang merasa sangat emosi karena sikap Ayana yang keras kepala itu pun terus memukul Ayana hingga merasa kelelahan.


"Rasakan itu! Dasar anak tidak berbakti! Anak durhaka! Mama tidak akan memberikan kamu makan dan minum sampai kamu bersedia pergi dengan Noval,"ancam Hilda yang sudah kelelahan memukul Ayana dan merasa sangat kesal dengan Ayana.


"Brak"


Hilda menutup pintu dengan kasar, kemudian menguncinya dari luar. Sedangkan Ayana duduk meringkuk di lantai, menangis tanpa suara. Hampir seluruh tubuhnya sudah di pukul oleh Hilda hingga membiru.


"Kenapa mama tidak membunuh aku saja dari pada memberikan aku pada pria brengseek seperti Noval,"gumam Ayana dengan air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.


...🌟Di dunia ini bukan cuma ada anak durhaka. Tapi nyatanya juga ada orang tua durhaka."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


Yo be continued


__ADS_2