
"Brakk"
Semua orang yang berada di ruang keluarga itu terkejut. Pintu ruangan keluarga yang tidak tertutup sempurna itu tiba-tiba terbuka. Dengan mata yang memerah karena menangis, ibu Bening masuk ke dalam ruangan itu.
"Brukk"
Ibu Bening tiba-tiba berlutut, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu semakin terkejut dengan aksi ibu Bening.
"Pak Geno, Bu Hilda, dan Nak Nando,Nak Ayana dan Nak Dimas. Saya atas nama putri saya Bening mohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan yang dilakukan oleh putri saya Bening. Saya tahu, walaupun saya mengucapkan ribuan kata maaf, saya tidak akan bisa mengubah apapun yang sudah terjadi. Yang telah merugikan kalian semua.. Tapi saya tetap ingin meminta maaf pada kalian. Saya bukan ibu yang baik. Saya tidak bisa mendidik putri saya dengan baik. Karena itu, putri saya melakukan semua kesalahan fatal ini. Tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Nak Nando. Bahkan saya tidak tahu jika putri saya membuat Nak Dimas kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin. Maafkan saya! Saya benar-benar tidak tahu,", ucap ibu Bening dengan wajah tertunduk dan air mata berlinang.
Dimas dan Nando bergegas menghampiri wanita paruh baya itu dengan perasaan sedih dan prihatin.
"Jangan seperti ini, Bu! Mari duduk dulu!"ucap Dimas duduk berjongkok di sebelah kanan ibu Bening mencoba membantu ibu Bening bangkit.
"Kita bicarakan sambil duduk, Bu!"ucap Nando yang berjongkok di sebelah kiri ibu Bening, yang juga mencoba membantu ibu Bening bangkit.
"Tidak, Nak! Saya tidak pantas duduk bersama dengan kalian. Karena saya yang tidak becus menjadi ibu ini, kalian semua menderita dan hampir celaka. Saya benar-benar minta maaf!"ucap ibu Bening masih tetap berlutut.
"Kami akan ikut duduk di bawah jika ibu tetap tidak mau duduk di kursi. Mari, kita duduk dulu!"ucap Hilda yang ikut berjongkok di depan ibu Bening.
Akhirnya ibu Bening tidak memiliki pilihan lain, selain bangkit dan duduk di samping Hilda dengan wajah yang tertunduk. Sesekali menghapus air matanya yang tidak bisa di tahan terus menetes dari pelupuk matanya. Hilda memberikan tisu pada ibu Bening, merasa prihatin pada wanita yang sekarang ini menjadi sebatang kara itu. Hilda tidak dapat membayangkan jika dirinya berada di posisi ibu Bening saat ini.
"Sebaik apapun ibu mengajari putri ibu, jika dia tidak mau menerapkan dalam hidupnya, semua akan percuma. Sia-sia. Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin yang ibu bisa untuk mengajari putri ibu. Tapi dia tetap tidak menjadi pribadi yang lebih baik, berarti itu bukan salah ibu,"ucap Hilda menenangkan.
"Benar kata mama. Bening seperti ini bukan karena kesalahan ibu. Jika ibu merasa menjadi ibu yang gagal karena Bening sampai berbuat seperti ini, berarti aku juga suami yang gagal. Karena aku tidak bisa mendidik istri aku dengan baik. Jadi, jangan lagi menyalahkan diri ibu sendiri,"timpal Nando.
"Ibu merasa malu, Nak,"ucap ibu Bening masih tetap menunduk dan menyeka air matanya.
"Kalau ibu merasa malu, saya juga merasa malu, Bu. Karena kita sama-sama gagal,"sahut Nando.
"Sekali lagi, saya mohon maaf atas semua kesalahan Bening pada kalian semua. Dan terimakasih karena telah baik pada Bening dan saya. Walaupun akhirnya putri saya hanya mengecewakan kalian semua,"ucap ibu Bening penuh rasa bersalah.
"Ibu tidak perlu meminta maaf. Dan ibu jangan khawatir! Walaupun Bening sudah tidak ada, aku akan tetap mengirimkan uang bulanan pada ibu,"ucap Nando tulus.
"Tidak perlu, nak! Nak nando tidak lagi berkewajiban untuk menafkahi ibu. Apalagi putri ibu sudah hampir membuat kalian semua celaka. Maaf!"ucap ibu Bening.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Saya ikhlas,.kok, Bu. Saya sudah menganggap ibu seperti ibu saya sendiri,"sahut Nando.
"Saya merasa tidak pantas menerima kebaikan kalian lagi. Saya akan mengembalikan kunci apartemen yang saat ini saya tinggali,"ucap ibu Bening.
"Tidak perlu seperti itu, Bu. Kalau ibu memberikan kunci apartemen itu, lalu ibu akan tinggal di mana?"tanya Nando.
"Ibu akan pulang kampung saja,"sahut ibu Bening memutuskan.
Semua orang hanya bisa menghela napas mendengar keputusan ibu Bening. Merasa prihatin pada wanita paruh baya itu. Sudah berusaha di bujuk agar tetap tinggal di kota ini, tapi tetap juga tidak mau juga. Akhirnya mereka semua membiarkan ibu Bening kembali ke kampung halamannya.
Keesokan harinya, supir pribadi Geno mengantarkan ibu Bening ke apartemen untuk berkemas. Setelah berkemas, supir Geno pun mengantarkan ibu Bening ke kampung halamannya. Butuh waktu setengah hari untuk tiba di kampung halaman ibu Bening.
"Bu, ini ada titipan dari Tuan Nando,"ucap supir itu seraya memberikan sebuah kotak yang dibungkus kertas berwarna coklat dengan ukuran yang lumayan besar pada ibu Bening.
"Apa ini?"tanya ibu Bening setelah menerima kotak yang terasa lumayan berat itu seraya menatap kotak itu.
"Saya tidak tahu. Tuan Nando hanya mengatakan agar saya memberikannya pada ibu saat ibu sudah tiba di kampung. Kalau begitu, saya pamit, Bu!"ujar Pak supir berpamitan.
"Terimakasih, karena sudah mengantar saya sampai ke sini!"ucap Ibu Bening dan supir itu pun mengangguk kecil dan tersenyum tipis, kemudian kembali mengendarai mobilnya meninggal kampung itu.
Ibu Bening menghela napas panjang, menatap rumah peninggalan kedua orang tuanya yang di tinggali oleh adik laki-lakinya. Rumah yang ditinggalkan olehnya semenjak menikah dua puluh tujuh tahun yang lalu. Ibu Bening menyeret kopernya dan memeluk kotak yang di berikan supir tadi.
"Ceklek"
Tidak lama setelah ibu Bening mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya yang kira-kira lebih muda lima tahun dari ibu Bening keluar.
"Kamu? Kamu kakak dari suamiku, 'kan?"tanya perempuan bertubuh gemuk itu seraya menelisik penampilan ibu Bening yang memakai pakaian sederhana, membawa koper dan kotak.
"Iya. Apa kabar kalian? Di mana adikku?"tanya ibu Bening dengan seulas senyum.
"Dia masih bekerja di sawah. Mau apa kamu ke sini?"tanya wanita itu nampak curiga,"Jangan-jangan dia mau minta warisan,"gumam wanita itu dalam hati, mengingat rumah yang ditinggalinya saat ini adalah rumah almarhum mertua nya.
"Bening putriku sudah meninggal, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Jadi, aku ingin tinggal di sini bersama kalian,"ucap ibu Bening penuh harap.
"Apa? Jadi kamu ke sini mau menumpang hidup pada kami? Dengar, ya! Anak kami ada empat. Satu SMP, dua SMA, dan satunya lagi sedang mencari kerja. Beban kami sudah berat. Jika kamu tinggal di sini, kamu akan menambah beban kami. Pergi sana! Jangan menambah beban kami!"usir perempuan bertubuh gemuk itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjadi beban kalian. Aku masih kuat bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup ku sendiri. Aku hanya numpang berteduh saja di rumah ini. Aku tidak akan meminta apapun pada kalian,"ucap ibu Bening lembut.
"Tetap saja. Kamu itu sudah tua. Nanti kalau sakit-sakitan, kami juga yang harus mengurus kamu. Jika tidak kami urus, kami akan di guncingkan warga. Sudah, pergi sana! Aku tidak mau menerima kamu di sini,"ujar perempuan bertubuh gemuk itu mengusir ibu Bening.
"Brakk"
"Astagaa!"ucap ibu Bening yang terkejut hingga kedua pundaknya terangkat ke atas.
Wanita itu mengelus dadanya, kemudian menghela napas kasar,"Aku lelah sekali. Aku harus mengontrak rumah untuk tempat tinggal. Tapi, apa di kampung ini ada rumah yang di kontrakan,"gumam Ibu Bening.
Ibu Bening bertanya pada warga sekitar, mencari rumah yang akan di kontrakan. Tapi sampai sore, ibu Bening tidak menemukan rumah yang di kontrakan. Akhirnya ibu Bening kembali ke rumah yang di tinggali oleh adiknya.
"Tok! Tok ! Tok!"
Ibu Bening kembali mengetuk pintu itu dan setelah pintu terbuka, seorang pria paruh baya yang lebih muda dua tahun darinya pun keluar.
"Kakak? Untuk apa kakak ke sini?"tanya pria itu terlihat tidak suka.
"Aku ingin menginap di sini. Aku sudah mencari tempat untuk tinggal di sini, tapi tidak menemukannya. Jadi, tolong ijinkan aku tinggal di sini untuk se..."
"Tidak bisa!"potong pria itu cepat.
"Tapi ini adalah rumah warisan orang tua kita. Aku juga berhak tinggal di sini,"ucap ibu Bening.
"Tapi aku yang mengurus rumah ini selama dua puluh tujuh tahun ini. Jika tidak aku urus, rumah ini pasti sudah roboh. Lagi pula, aku adalah anak laki-laki. Jadi, aku berhak atas rumah ini. Sekarang, pergi sana! Jangan pernah kembali lagi!"
"Brakk "
Pria itu menutup pintu rumah yang berdinding papan itu dengan kuat, membuat Ibu Bening terkejut. Ibu Bening hanya bisa mengelus dada. Berjalan ke arah pos ronda untuk berbaring mengistirahatkan tubuhnya.
"Terpaksa malam ini aku menginap di pos ronda,"gumam ibu Bening.
Hari beranjak gelap dan langit terlihat mendung. Ibu Bening membaringkan tubuhnya di pos ronda. Namun, tidak lama kemudian hujan turun. Wanita itu mengambil selimut dari dalam kopernya untuk menghalau rasa dingin. Hingga seorang gadis yang memakai payung nampak menghampiri pos ronda itu.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued