
Diky menghela napas panjang melihat Dimas yang menggendong Ayana masuk, lalu menatap Toyib.
"Istri Dimas sepertinya sangat dekat dengan kamu, Yib?"tanya Diky seraya mengambil bolu yang ada di atas meja.
"Iya. Dimas menemukan Ayana dalam cuaca hujan deras, angin dan kilat petir yang menggelegar dalam keadaan kaki terkilir dan hendak di lecehkan tiga orang preman. Dimas menyelamatkan Ayana dan membawa pulang Ayana ke kontrakan kami yang lama. Sejak saat itu, Ayana tinggal bersama kami. Dia mengalami trauma karena hampir dilecehkan tiga orang preman itu. Hingga Ayana tidak percaya pada lelaki manapun selain pada aku dan Dimas. Ayana menjauhi semua laki-laki selain kami berdua. Setelah sekitar enam bulan dia tinggal bersama kami, Ayana di bawa pulang secara paksa oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua Ayana hendak mempertemukan Ayana dengan Noval yang notabene adalah orang yang secara tidak langsung telah menyebabkan Ayana trauma. Saat berada di rumah kedua orang tuanya, Ayana sakit. Ayana meminta pertolongan dokter yang memeriksanya agar mengatakan bahwa dia hamil. Dengan alasan itu, Ayana membawa orang tuanya untuk menemui Dimas. Dia memaksa Dimas untuk menikahinya. Bahkan mengancam akan bunuh diri karena waktu itu Dimas tidak mau menikahi dia. Padahal, selama menikah sekitar empat bulan, baru sebulan terakhir Dimas menyentuh Ayana. Konyol sekali,"ujar Toyib panjang lebar, kemudian terkekeh.
"Aku tidak mengira jika mereka menikah dengan cara seperti itu,"sahut Diky ikut terkekeh.
"Iya. Itulah kenyataannya,"sahut Toyib menghela napas panjang.
Sementara itu, setelah masuk ke dalam kamar, Dimas merebahkan Ayana di atas ranjang, kemudian memeluknya.
"Jangan takut! Aku pastikan, dia tidak akan bisa menganggu kamu atau menganggu siapapun lagi. Kejahatan nya sudah sangat banyak, dia tidak akan lolos dari jeratan hukum. Dan klub malam nya itu, pasti akan segera di tutup,"ujar Dimas menenangkan Ayana.
Ayana hanya diam. wanita muda itu hanya memeluk erat Dimas, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Dengan lembut, Dimas mengelus kepala Ayana, hingga beberapa menit kemudian Ayana pun terlelap. Namun Dimas belum berani meninggalkan Ayana. Dimas menunggu hingga tiga puluh menit dari Ayana mulai tertidur tadi, setelah itu, Dimas baru beranjak dari tempatnya berbaring. Dimas melepaskan pelukannya dengan perlahan, kemudian turun dari ranjang dan pelan-pelan keluar dari kamar itu.
Di ruangan tamu,"Ngomong -ngomong, sepertinya Dimas dan Ayana saling mencintai,"ujar Diky yang melihat interaksi antara Dimas dan Ayana barusan.
"Iya, cinta mereka tumbuh seiring waktu. Dimas sangat perhatian pada Ayana, dan Ayana sangat penurut serta menghormati Dimas. Semenjak pertama kali bertemu dengan kami, Ayana sudah banyak berubah ke arah yang lebih baik. Dimas benar-benar menjadikan Ayana sebagai istri idaman. Ayana juga sangat menghormati aku dan memperlakukan aku seperti keluarganya sendiri. Karena itu, aku sangat menyayangi dia. Aku sudah menganggap dia seperti adikku sendiri,"sahut Toyib penuh senyuman.
"Iya. Aku melihat kalian benar-benar seperti keluarga. Kalian terlihat sangat harmonis dan saling menyayangi. Aku iri pada kalian,"sahut Diky tersenyum hambar.
__ADS_1
"Setelah mereka menikah, aku sempat takut mereka tidak mau lagi tinggal bersama aku. Aku sudah terlanjur nyaman hidup bersama mereka. Untung saja mereka tetap mengijinkan aku tinggal mereka. Sering-seringlah kemari! Masakan Ayana sangat enak,"ujar Toyib tersenyum tipis.
"Jangan-jangan, kamu nggak rela pisah sama mereka karena kamu mau makan gratis,"canda Diky kemudian terkekeh.
"Sembarangan! Aku memang sangat suka dengan masakan Ayana, tapi aku tidak makan gratis. Kami membayar kontrakan bersama-sama, memenuhi kebutuhan dapur pun bersama-sama. Tapi aku memang terlanjur cinta dengan masakan Ayana, jadi aku nggak rela berpisah dengan mereka. Lagian, tinggal sendiri itu nggak enak, sepi. Kalau tinggal sama mereka itu asyik, rame. Walaupun akhir-akhir ini sering mendengar suara-suara berisik yang bikin merinding bulu roma,"ujar Toyib.
"Suara berisik yang bikin merinding bulu roma? Memangnya di sini angker,? Ada setan'nya?"tanya Diky mengernyitkan keningnya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Bukan suara setan! Tapi suara mereka yang baru merasakan indahnya surga dunia,"ujar Toyib kemudian terkekeh.
"Ada-ada saja kamu,"sahut Diky ikut terkekeh.
"Ngobrol apa, sih? Seru banget. Sepertinya kalian cepat sekali akrab. Sudah seperti sahabat lama yang sudah lama nggak berjumpa,"ujar Dimas membuat Diky dan Toyib menatap Dimas.
"Toyib memang cepat akrab dengan siapapun. Sama mertuaku yang baru bertemu beberapa kali aja langsung akrab,"sahut Dimas.
"Oh, iya. Siapa yang akan membuat laporan tentang si brengsek Noval ini ke polisi?"tanya Diky terlihat serius.
"Aku, sih terserah kamu saja. Yang penting, kasus ini harus segera dilaporkan ke pihak yang berwajib. Agar tidak bertambah banyak korban lagi. Karena, walaupun saat ini Noval di penjara, anak buahnya tetap bekerja seperti biasanya, 'kan?"tanya Dimas.
"Iya. Kalau aku boleh memberi usul, biar aku saja yang melaporkan kasus ini pada polisi. Alasan pertama adalah, aku sudah dekat dengan banyak polisi, terutama dengan kepala polisi. Karena aku memang sering mengungkap kasus yang berkaitan dengan masalah yang merugikan publik seperti ini. Alasan kedua, agar kamu tidak diincar oleh orang tua Noval. Dan alasan ke tiga adalah, waktu kamu akan banyak terbuang untuk mengurus kasus ini. Ujung-ujungnya akan tetap melibatkan aku. Tapi jika kamu ingin melaporkan sendiri kasus ini pada polisi, aku juga tidak keberatan,"ujar Diky panjang lebar.
__ADS_1
"Aku setuju jika kamu saja yang melaporkan Noval pada polisi. Alasannya adalah seperti kata kamu tadi. Kamu lebih mudah mengurus masalah ini karena kamu sudah mengenal banyak polisi, bahkan kepala polisi. Dan keduanya, aku memang sedang sibuk mengurus perusahaan mertua aku. Bukan karena aku takut diincar oleh orang tua Noval,"sahut Dimas.
"Oke, deal! Aku akan melaporkan kasus ini. Aku benar-benar tidak suka pada orang-orang brengsek seperti ini. Menindas orang lemah demi keuntungan pribadi mereka sendiri, tanpa peduli dengan nyawa orang lain. Aku akan membuat orang ini membusuk di penjara,"ujar Diky dengan sorot mata yang berbahaya.
"Terimakasih banyak, Dik! Aku akan tetap.membayar jasamu,"sahut Dimas.
"Tidak perlu, Dim. Aku pasti mendapatkan penghargaan warga teladan sekaligus detektif teladan jika aku mengungkapkan kasus ini dan memberikan bukti-bukti yang aku miliki pada polisi. Aku sudah merasa di untungkan,"sahut Diky.
"Jangan menolak, Dik! Aku malah senang jika sahabat ku menjadi orang terkenal. Aku malah merasa bangga. Kita sama-sama untung dalam masalah ini. Kamu tambah terkenal dan aku jadi nggak ribet mengurus masalah ini. Anggap saja kita melakukan ini karena kita perduli pada sesama. Kamu mengungkapkan kasus ini dengan keahlian kamu, dan aku memberikan biaya operasionalnya,"sahut Dimas.
"Aku setuju dengan Dimas, Dik.
"Baiklah. Jika kalian memaksa, aku akan menerimanya. Masalahnya, kalau aku tolak nggak enak, tapi kalau aku terima enak,"ujar Diky kemudian terkekeh.
"Dasar!"ujar Toyib ikut terkekeh.
"Bisa saja,"sahut Dimas juga ikut terkekeh.
"Ngomong-ngomong, kata Toyib, istri kamu pintar memasak. Sesekali undang aku, dong, buat makan di rumah kalian. Aku ini yatim piatu yang sebatang kara, loh! Apa kalian tidak kasihan sama aku. Syukur-syukur kalau aku boleh tinggal di sini bersama kalian. Dari pada aku ngontrak sendirian, dan kesepian. Aku yang bayar uang kontrakan rumahnya, deh! Boleh, ya, aku tinggal di sini bersama kalian? Please! Kasihanilah anak yatim piatu ini!"rayu Diky menatap Dimas dan Toyib bergantian dengan memasang wajah memelas.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued