SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
213. Di Antar Ke Kampus


__ADS_3

Ayana dan Dimas akhirnya selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Walaupun Dimas hanya membantu mengupas bumbu dan memotong-motong sayuran. Namun itu sudah sangat membantu Ayana dan mempercepat waktu memasak Ayana.


"Kita mandi bareng, yuk!"bisik Dimas yang tiba-tiba memeluk Ayana dari belakang, setelah mereka menata makanan di atas meja.


"Memangnya kakak nggak ke kantor?"tanya Ayana seraya mencoba melepaskan lengan kekar Dimas yang melingkar di perutnya.


"Aku akan ke kantor setelah mengantar kamu kuliah,"sahut Dimas kemudian mengecup pipi Ayana.


"Kakak! Jangan mencium aku! Aku masih bau masakan,"ujar Ayana yang merasa tidak percaya diri berdekatan dengan Dimas. Ayana merasa tubuhnya lengket karena keringat dan bau masakan.


"Aku juga,"ucap Dimas kali ini malah mengecup bibir Ayana.


"Kak!"pekik Ayana yang terkejut saat tiba-tiba Dimas mengangkat tubuhnya. Ayana segera melingkarkan tangannya di leher Dimas.


"Kak, kakak duluan aja yang mandi. Aku nanti saja,"


"Kenapa? Apa kamu takut kalau aku akan menerkam kamu?"tanya Dimas tersenyum smirk.


"Sebentar lagi, Abang dan babang pasti sudah menunggu di meja makan. Nggak enak jika membuat orang lain menunggu,"


"Iya..iya.. kamu jangan khawatir! Kita hanya akan mandi bersama saja. Tidak akan melakukan apa-apa,"


Setelah empat puluh menit, Ayana dan Dimas keluar dari kamar mereka dalam keadaan yang bersih dan segar. Mereka benar-benar hanya mandi bersama, tidak ada aktivitas yang lain. Sepasang suami-isteri itu berjalan menuju ruangan makan. Diky dan Toyib nampak sudah menunggu di meja makan.


Empat orang itu makan dengan tenang. Menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Hingga beberapa menit kemudian mereka selesai sarapan.


"Ay, apa kamu sudah tidak menganggap aku ini Abang kamu? Kamu tidak bercerita pada Abang, jika kamu punya masalah sebesar kemarin,"keluh Toyib.


"Maaf, bang! Aku bukannya tidak lagi menganggap Abang sebagai Abang aku. Aku hanya belum ingin bercerita saja. Aku kemarin masih merasa syok,"sahut Ayana tidak enak hati.


"Ya sudah, Abang maafkan. Mulai hari ini, jika Dimas tidak mau mengantar dan menjemput kamu, biar Abang saja yang mengantar dan menjemput kamu,"ujar Toyib melirik sinis pada Dimas.


"Aku yang akan mengantar dan menjemput Ayana,"sahut Dimas.


"Kamu mau ke kantor, Dim?"tanya Diky yang


melihat Dimas sudah memakai setelan, jas. Bukannya Om Geno dan Nando sudah bekerja lagi di kantor, ya, Dim. Kenapa kamu masih ke kantor juga?"tanya Diky.


"Banyak klien yang menginginkan aku yang membicarakan kesepakatan bisnis dengan mereka. Jadi, aku mau tidak mau masih harus ke kantor papa,"sahut Dimas.


"Tapi, kalau seperti itu, kamu berarti akan tetap bekerja di perusahaan Om Geno, Dim,"sahut Toyib.


"Aku akan membicarakan lagi soal ini pada papa dan kakak,"sahut Dimas.

__ADS_1


"Oh, ya, bang, kapan Abang akan menikah?"tanya Ayana mengalihkan pembicaraan.


"Satu minggu setelah pernikahan Diky,"sahut Toyib.


"Nggak mundur lagi, nih? Kemarin katanya dua bulan lagi. Tapi nyatanya mundur. Malah aku yang mau menikah duluan,"ledek Diky.


"Kali ini sudah positif. Kemarin itu gara-gara renovasi rumah belum selesai. Mereka tidak menyelesaikan pekerjaan mereka sesuai jadwal. Karena itu, acara pernikahan aku di undur,"sahut Toyib.


"Memangnya sebagus dan sebesar apa, Yib, rumah kamu di kampus sekarang?"tanya Dimas.


"Lumayan besar. Ada empat kamar. Cukup kalau kalian nanti menginap di rumah ku. Kalau masalah bagus, jika sesuai dengan desain nya, walaupun tidak terlalu besar, rumahku pasti menjadi rumah terbagus di kampung ku,"sahut Toyib bangga.


"Pasti nyesel, itu mantan istri Abang, lihat rumah Abang jadi bagus. Apalagi kalau tahu sekarang Abang punya banyak uang,"sahut Ayana.


"Walaupun dia menyesal, aku juga nggak bakal balikan sama dia, Ay. Dia sudah jelas-jelas mengkhianati aku. Bahkan sengaja meninggalkan anak kami di rumah kedua orang tua ku,"sahut Toyib.


"Aku berangkat dulu, ya!"ucap Diky setelah menerima dan membaca pesan masuk di handphonenya.


"Iya. Hati-hat, bang!"pesan Ayana.


"Dik! Terimakasih, ya! Kemarin kamu sudah menolong Ayana,"ucap Dimas yang semalam belum sempat berterima kasih.


"Tidak perlu berterima! Kamu adalah sahabat ku. Jadi aku tidak mungkin membiarkan istrimu dalam bahaya. Lagi pula, Ayana adalah adikku. Mana mungkin aku membiarkan orang menyakiti adikku,"sahut Diky,"Aku berangkat!"ucap Diky bergegas pergi


"Kamu kuliah pukul sepuluh, 'kan? Gimana kalau kita jalan-jalan dulu,"ajak Dimas.


"Mau!"sahut Ayana antusias.


Toyib yang mendengar percakapan mereka pun tersenyum,"Begitu mudah membuat Ayana bahagia. Kamu sangat beruntung, Dim,"gumam Toyib dalam hati.


Dimas mengendarai motornya menuju sebuah mall. Ayana yang di bonceng Dimas pun memeluk perut suaminya erat. Bahagia rasanya saat bersama dengan orang yang dicintai dan mencintainya.


Sampai di mall, mereka hanya membeli beberapa barang yang memang di butuhkan. Ayana bergelayut manja di lengan Dimas. Membeli es krim lalu kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Ayana terlihat bahagia. Sesekali bersenda gurau dengan Dimas. Saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit, Dimas pun mengantarkan Ayana ke kampusnya. Mengingat perjalanan dari mall yang mereka kunjungi ke kampus Ayana adalah sekitar tiga puluh menit.


Setelah tiba di depan kampus, Ayana pun turun dari motor Dimas. Dimas melepaskan helm Ayana.


"Kak, uang cash aku habis. Kakak masih punya uang cash tidak?"tanya Ayana yang baru ingat jika tidak memiliki uang cash.


"Kalau cuma buat jajan doang, sih, masih,"sahut Dimas, kemudian mengambil dompetnya dari saku belakang celananya.


"Seratus, cukup, 'kan? Nanti pulangnya aku jemput,"ujar Dimas yang uang cash di dompetnya memang tinggal seratus ribu.


"Cukup,"sahut Ayana kemudian membuka kaca helm full face Dimas, kemudian langsung mengecup bibir Dimas sekilas, lalu menutup kembali kaca helm Dimas.

__ADS_1


"Dasar nakal!"ucap Dimas yang sempat terkejut dengan aksi Ayana yang mencium dirinya di tempat umum. Pria itu mencubit hidung Ayana gemas,"Aku berangkat dulu!"pamit Dimas.


"Hati-hati!"ucap Ayana kemudian melambaikan tangannya pada Dimas yang sudah mulai melaju meninggalkan tempat itu penuh senyuman..


Ayana melangkahkan kakinya ke dalam universitas tempatnya menimba ilmu dengan wajah yang terlihat cerah. Menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama Dimas adalah hal yang paling disukai Ayana. Apalagi Dimas mengantarkan dirinya ke kampus dan Dimas berjanji akan menjemput dirinya nanti.


Sementara itu, ada beberapa mahasiswi yang bergosip saat tanpa sengaja melihat Ayana di depan pintu gerbang tadi.


"Eh, apa tadi itu pacar Ayana, ya?"


"Rasanya, sih, positif. Itu cowok pasti cowok Ayana. Kamu lihat sendiri, 'kan, Ayana tadi di bonceng sama tuh, cowok. Ayana sampai nempel sama tuh, cowok saat memeluk perut tuh, cowok. Mesra bet,"


"Aku malah lihat Ayana mencium tuh cowok. Sayangnya aku nggak lihat gimana wajah, tuh cowok. Soalnya, setelah mencium tuh, cowok,. Ayana langsung menutup kaca helm full face itu cowok,"


"Ah, yang bener kamu?"


"Bener. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Ayana membuka kaca helm tuh, cowok, lalu menciumnya. Setelah itu menutupnya lagi,"


"Astagaa! Ah, sayang sekali kami tidak bisa melihatnya,"


"Kalian tadi, 'kan, lihat dari seberang jalan. Aku lihat nggak jauh dari mereka,"


"Iya, sih. Kami tadi nggak bisa lihat untuk beberapa saat karena ada dua truk yang lewat. Jadi pandangannya kami sempat tertutup oleh truk,"


"Aku jadi penasaran. Seperti apa sih, wajah tuh, cocok? Sampai-sampai Ayana menolak pangeran kampus ini demi ,tuh, cowok,"


"Jangan-jangan, Ayana beneran sudah menikah. Dan tadi itu suaminya,"


"Mungkin juga. Pangeran kampus pasti patah hati kalau tahu Ayana beneran sudah menikah,"


"Ya, bagus lah. Jadi kita-kita masih punya harapan buat jadi kandidat pacar pangeran kampus,"


"Apa yang kalian bicarakan?"tanya suara bariton itu membuat beberapa orang mahasiswi yang sedang bergosip itu terkejut.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Dalam bahasa gaul sendiri, arti kata "bet" yang dimaksud disini adalah "banget" yang dipersingkat atau dalam Bahasa Indonesia kita biasa menggunakan kata "sangat". "Bet" dipakai dalam artian mengungkapkan berbagai rasa. Contohnya digunakan pada saat keadaan kaget, kagum, dan lainnya.


•Makna kandidat di KBBI adalah: calon; bakal.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2