SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
115. Menjemput


__ADS_3

"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan informasi yang aku inginkan?"tanya Noval pada pria berambut gondrong yang baru saja duduk di sebelahnya..


"Sudah, bos. Dia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama dua orang pria. Yang satunya bernama Toyib, berprofesi sebagai sales pakaian keliling. Dan yang satunya bernama Dimas. Saat ini Dimas bekerja di perusahaan Tuan Geno. Tapi sebelumnya orang yang bernama Dimas ini juga berprofesi sebagai sales pakaian keliling. Dimas ini sepertinya orang yang cerdas dan saya merasa agak aneh jika seorang sales pakaian keliling bisa menggantikan Tuan Geno memimpin perusahaan. Tapi sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan informasi lebih tentang pria yang bernama Dimas ini, bos,"jelas pria berambut gondrong itu.


"Kenapa kamu tidak bisa mendapatkan informasi lebih tentang pria bernama Dimas itu?"tanya Noval seraya mengernyitkan keningnya.


"Saya juga tidak tahu, bos. Data tentang Dimas ini dilindungi, dan tidak bisa di bobol,"sahut pria berambut gondrong.


"Mencurigakan sekali. Lalu bagaimana dengan Ayana?"tanya Noval lagi.


"Gadis itu sekolah di SMA xx. Setiap pagi di antar orang yang bernama Dimas, dan pulangnya di jemput seorang wanita yang bernama Nur. Gadis itu tidak keluar sama sekali jika tidak bersama salah satu dari kedua pria itu dan juga perempuan yang bernama Nur itu,"jelas pria berambut gondrong.


"Baiklah, kita susun rencana,"ucap Noval, kemudian berdiskusi dengan pria berambut gondrong itu.


***


Ayana nampak berjalan bergandengan tangan dengan Wulan. Keduanya baru saja keluar dari kelas. Hingga akhirnya keduanya berpisah. Wulan berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motornya sedangkan Ayana berjalan ke arah gerbang sekolah, dimana Bu Nur sudah menunggunya seperti biasa.


"Sudah lama menunggu, ya, Bu? Maaf, tadi masih ada pengarahan dari wali kelas,"ujar Ayana merasa tidak enak hati pada Bu Nur, karena terlambat sepuluh menit dari biasanya.


"Nggak apa-apa, Ay. Santai saja,"sahut Bu Nur seraya menyerahkan helm pada Ayana.


"Non Ayana, ya?"tanya seorang pria berambut gondrong yang menghampiri Ayana.


"Iya,"sahut Ayana menelisik penampilan pria gondrong di hadapan nya itu, Ayana terlihat curiga.


"Saya di suruh Tuan Geno untuk menjemput nona,"ujar pria itu sopan.

__ADS_1


Ayana mengernyitkan keningnya mendengar kata-kata pria di depannya itu. Nampak semakin curiga dengan pria di depannya itu.


"Om duluan saja. Saya akan menyusul,"sahut Ayana.


"Baik, Nona,"sahut pria itu berlalu dari hadapan Ayana.


"Tolong antar saya ke rumah kedua orang tua saya ya, Bu,"pinta Aurora.


"Baik, Ay,"sahut Bu Nur.


Ayana merasa janggal dengan pria yang menghampiri dirinya tadi. Apalagi saat melihat pria itu masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Mobil yang tergolong mewah.


"Bagaimana? Kenapa kamu tidak membawa dia ke mobil kita?"tanya seorang pria yang tidak lain adalah Noval. Sedari tadi,.noval mengawasi Ayana dari dalam mobilnya. Menunggu pria gondrong itu membawa Ayana masuk ke dalam mobilnya.


"Dia tidak mau ikut ke dalam mobil kita, Bos. Katanya kita di suruh duluan. Saya tidak mungkin memaksa dia ikut dengan saya. Ini tempat umum, bos. Jika saya memaksa dia, saya bisa digebukin massa,"ujar pria berambut gondrong itu.


"Ya sudah, kita ikuti mereka saja. Nanti kita hadang di tempat yang sepi. Dari sini ke rumah Tuan Geno ada jalanan yang sepi. Aku sudah tidak sabar mencicipi tubuh gadis itu. Sudah lama aku menginginkan dia. Apalagi saat bertemu dia di pesta pernikahan kakaknya waktu itu. Dia benar-benar sangat cantik,"ujar Noval menatap Ayana dari dalam mobilnya dengan tatapan mesum.


"Ckiiitt '


"Akhh"


"Brakk"


Ayana dan Bu Nur memekik bersamaan karena terkejut. Bu Nur membanting stir mendadak saat tiba-tiba mobil yang sedari tadi mengikuti dirinya dan Ayana memotong jalan dan menghadang motor yang di kendarainya. Keduanya terjatuh karena Bu Nur menabrak pohon yang ada di pinggir trotoar.


"Ay, ada apa ini? Mengapa mereka tiba-tiba menghadang kita?"tanya Bu Nur terlihat masih terkejut dan juga menjadi khawatir. Wanita itu berusaha bangun, begitu pula dengan Ayana.

__ADS_1


"Bu, cepat kita pergi dari sini, Bu!"pinta Ayana yang menjadi takut dan panik. Apalagi saat melihat pintu mobil yang menghadang nya terbuka.


"Iya,"sahut Bu Nur berusaha menegakkan motornya yang terguling dibantu oleh Ayana.


Dua orang pria keluar dari dalam mobil itu. Dan Ayana sangat terkejut saat melihat salah satunya adalah Noval. Ayana terdiam di tempatnya. Sedangkan Bu Nur berusaha men-starter motornya, tapi motornya tidak kunjung menyala.


"Hai! Kita bertemu lagi,"ucap Noval tersenyum lebar menghampiri Ayana.


"𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖,"gumam Noval dalam hati. Senyuman penuh arti terbit di bibirnya.


Ayana terdiam di tempatnya dan menatap Noval dengan penuh kebencian. Kedua tangannya terkepal erat. Sedangkan Bu Nur masih terus berusaha men-starter motornya, bahkan meng-engkol motornya agar bisa hidup dengan perasaan panik dan takut.


"Kamu tidak seperti kemarin yang histeris saat melihat aku. Kenapa saat di pesta kemarin kamu pura-pura histeris saat melihat aku? Apa kamu sengaja ingin mempermalukan aku di depan umum?"tanya Noval, tersenyum sinis, terus mendekati Ayana.


Noval jadi membenarkan kata-kata penelpon misterius yang menghubunginya beberapa hari yang lalu. Penelpon misterius yang mengatakan bahwa Ayana hanya berpura-pura histeris di depannya. Buktinya, gadis yang ada di depannya saat ini tidak merasa ketakutan apalagi histeris karena melihatnya kali ini.


Ayana tetap diam, bergeming di tempatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Menatap tajam pada Noval. Ayana mengingat apa yang dikatakan oleh psikolog yang selama ini membantunya menyembuhkan traumanya.


"Jangan takut pada para pria mesum itu! Jangan tunjukkan bahwa kamu lemah rx6 .! Kamu harus berani! Jika kamu takut, mereka akan semakin bersemangat menindas mu. Tendang benda pusaka yang mereka banggakan! Tendang tulang kering mereka. Hajar para pria bejat itu. Jangan beri ampun, agar mereka tidak lagi menindas mu!"


Itulah kata-kata motivasi yang selalu ditanamkan oleh psikolog pada Ayana setelah trauma Ayana sempat kambuh karena melihat Noval di acara pesta pernikahan Nando dan Bening waktu itu.


"Mau apa kalian?"tanya Bu Nur yang merasa semakin takut dan panik. Bu Nur yakin, kedua pria yang menghampiri mereka itu pasti punya maksud tidak baik pada Ayana.


Noval dan pria berambut gondrong itu semakin mendekat ke arah Ayana dan Bu Nur. Sedangkan Ayana masih bergeming di tempatnya dengan tatapan tajam penuh kebencian, dan amarah.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2