
"Kak!"panggil Ayana pelan.
"Hum,"sahut Dimas tanpa melirik, apalagi menatap Ayana. Masih setia menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan yang di lipat di bawah kepala, dijadikan sebagai bantal..
"Apa.. apa kakak merasa tidak nyaman tidur dengan ku?"tanya Ayana terlihat ragu. Tidak berani menatap wajah pria di sampingnya yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Dimas menoleh menatap Ayana yang menunduk, menggigit bibirnya sendiri membuat Dimas kesulitan menelan salivanya.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"tanya Dimas memalingkan wajahnya. Enggan menatap Ayana yang membuat dirinya kesulitan mengendalikan diri.
"Kakak merasa terganggu karena aku tidur bersama kakak?"tanya Ayana tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"Aku tidak merasa terganggu karena kamu tidur bersama ku. Sudah malam. Tidurlah! Jangan berpikir yang macam-macam!"ujar Dimas tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan mereka.
"𝙏𝙚𝙣𝙩𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙧𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚𝙨𝙪𝙡𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙣𝙩𝙪𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪,"gumam Dimas dalam hati.
"Jika kakak tidak merasa terganggu tidur bersama ku, kenapa kakak selalu tidur membelakangi aku?"tanya Ayana mengungkapkan perasaan yang mengganjal di hatinya selama ini. Jangankan memeluknya, setiap malam Dimas selalu tidur membelakangi dirinya.
"Aku memang biasa tidur seperti itu,"sahut Dimas beralasan,"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥 𝙢𝙪, 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙝𝙞𝙡𝙖𝙛 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙢𝙪,"gumam Dimas dalam hati.
"Tapi, 'kan, kakak bisa miring menghadap ke arah ku. Kenapa harus membelakangi aku?"ujar Ayana yang lebih terdengar seperti protes.
"Aku tidak terbiasa tidur berhadapan dengan orang lain,"sahut Dimas.
"Deg"
Ayana terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dimas.
"Jadi...jadi kakak masih menganggap aku sebagai orang lain?"tanya Ayana dengan suara pelan. Ada sesak di dadanya saat Dimas mengatakan tidak biasa tidur berhadapan dengan orang lain.
"Bu.. bukan begitu maksudku,"sanggah Dimas yang menyadari perkataan nya tadi salah.
"𝙃𝙖𝙞𝙨𝙨..𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣,"gumam Dimas dalam hati, menghela napas mencoba berpikir, kembali mencari alasan dan kata-kata yang tepat. Tidak mungkin bukan, dirinya mengatakan alasan sesungguhnya kenapa dirinya tidur membelakangi Ayana?
"Lalu apa maksud kakak?"tanya Ayana dengan dada yang terasa sesak.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku tadi salah bicara. Sudah, tidurlah!"ucap Dimas tidak ingin salah berkata lagi.
"Kakak selalu menghindar jika aku ajak bicara. Apa kakak juga malas bicara dengan aku?"tanya Ayana dengan mata yang berkaca-kaca. Ayana beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
"Kamu mau kemana?"tanya Dimas. Pria itu dapat melihat jelas kekecewaan di wajah Ayana.
Tanpa menjawab pertanyaan Dimas, Ayana keluar dari kamar itu. Dimas yang merasa bersalah pun bergegas menyusul Ayana yang tidak mau menjawab pertanyaan nya itu.
"Ay!"panggil Dimas yang mengikuti Ayana keluar dari kamar. Tapi Ayana tidak menjawab apalagi menoleh pada Dimas.
Dimas berhenti mengikuti Ayana, saat Ayana masuk ke dalam kamar mandi. Menghela napas berkali-kali, dan mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar.
"Haiss.. kenapa aku bisa salah bicara? Sepertinya dia marah padaku,"gumam Dimas lirih, menatap pintu kamar mandi.
Ayana menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙝𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩, 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙨𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙣𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙡𝙖𝙮𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞-𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙖𝙙𝙞.. 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣. 𝘼𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣?"gumam Ayana dalam hati dengan butiran kristal yang melai berjatuhan dari pelupuk matanya
"Ay! Kamu ngapain di dalam sana?"tanya Dimas yang tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar mandi.
Ayana menghapus air matanya, kemudian mencuci wajahnya. Setelah itu keluar dengan wajah tertunduk, karena tahu jika Dimas menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"Kamu mau apa?"tanya Dimas semakin gusar.
Ayana tidak menjawab, gadis itu mengambil selimut dari dalam lemari dan juga bantal dari atas ranjang.
"Kamu mau apa?"tanya Dimas memegang lengan Ayana.
"Aku mau tidur,"sahut Ayana masih menundukkan wajahnya yang cemberut. Melepaskan bantal yang dipegangnya dan perlahan melepaskan tangan Dimas yang menegang lengannya, tapi Dimas tidak mau melepaskan pegangan nya di lengan Ayana.
"Lepaskan tanganku, kak! Aku mau tidur,"ucap Ayana pelan, masih berusaha melepaskan tangan Dimas dari lengannya.
"Kamu ingin tidur di lantai?"tanya Dimas dengan suara berat,"Aku minta maaf jika kata-kataku tadi menyinggung perasaan kamu. Aku tidak bermaksud begitu,"ucap Dimas menatap Ayana yang menundukkan wajahnya dengan bibir yang mengerucut. Tiba-tiba Dimas menjadi gemas melihat bibir Ayana yang mengerucut itu.
"Lepaskan tanganku, kak! Aku lelah, aku ingin tidur,"ucap Ayana.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo kita tidur!"ucap Dimas menarik Ayana, bermaksud mengajak Ayana untuk naik ke atas ranjang. Tapi Ayana malah diam tidak bergerak.
"Ay!"seru Dimas karena Ayana diam di tempatnya berdiri.
"𝙃𝙖𝙞𝙨𝙨.. 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙧𝙚𝙥𝙤𝙩 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝘼𝘽𝙂,"gumam Dimas dalam hati.
"Ay, aku minta maaf jika aku menyinggung perasaan kamu. Ini sudah malam. Ayo, tidur!"ajak Dimas lagi dengan suara lembut. Namun Ayana tetap diam mematung. Dimas membuang napas kasar. Tatapan nya kembali tertuju pada bibir Ayana.
"𝙇𝙖𝙢𝙖-𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙠𝙝𝙞𝙡𝙖𝙛 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Dimas dalam hati.
"Akkh!"pekik Ayana yang terkejut saat Dimas tiba-tiba menggendong nya.
Di kamar sebelah,"Aihh..apa yang dilakukan mereka berdua?"gumam Toyib dalam kamarnya dengan mata yang terpejam. Toyib baru saja akan terlelap saat mendengar Ayana memekik, hingga mengagetkan dirinya yang hampir menuju alam mimpi.
Dimas membaringkan tubuh Ayana di atas ranjang. Namun baru saja Dimas membaringkan tubuh Ayana di atas ranjang, gadis itu malah turun dari ranjang dan berjalan ke arah tikar yang telah di gelarnya tadi.
"Astagaaa.. istri ku memang benar-benar ABG labil,"gumam Dimas lirih, mengusap wajahnya kasar, berjalan menghampiri Ayana yang sudah berbaring di atas tikar dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut,"Kamu benar-benar membuat aku menjadi gemas,"gumam Dimas lirih.
"Ay, jangan seperti ini! Ayo tidur di ranjang! Kamu bisa masuk angin jika tidur di lantai,"bujuk Dimas menatap selimut yang dipakai Ayana, karena gadis itu benar-benar menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut.
Ayana tetap diam tanpa mengatakan sepatah katapun, membuat Dimas semakin gemas. Entah mengapa Dimas tidak bisa marah melihat Ayana yang sedang merajuk itu. Dimas malah merasa gemas.
Dimas merengkuh tubuh Ayana dari lantai dan langsung menggendongnya.
"Kak Dimas! Turunkan aku!"teriak Ayana sambil meronta-ronta.
Di kamar sebelah,"Haiiss! Kenapa lagi dengan mereka berdua,"gumam Toyib masih dengan mata yang terpejam karena mengantuk.
Dimas menurunkan Ayana di atas ranjang. Saat Ayana ingin kembali turun dari ranjang, Dimas langsung mengungkung tubuh Ayana dan memegang kedua tangan Ayana.
"Masih ingin turun?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued