SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
55. Cari Kerja


__ADS_3

"Emang, apa bedanya nikah sama kawin, bang?"tanya Ayana yang dari tadi sudah penasaran ingin bertanya.


"Bedanya, kalau nikah itu... em.."Toyib tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Dimas langsung membekap mulutnya.


"Masuklah, Ay! Jangan dengarkan apa kata Toyib!"ucap Dimas dengan senyum yang nampak dipaksakan.


"Hum,"sahut Ayana kemudian pergi ke kamar, menuruti perintah Dimas. Walaupun sebenarnya masih penasaran dengan kata-kata Toyib tadi.


Setelah Ayana pergi dari ruangan tamu itu, Dimas pun melepaskan bekapannya di mulut Toyib.


"Jaga bicara mu! Jangan ngomong sembarangan!"ucap Dimas memperingati Toyib dengan tatapan serius.


"Istrimu polos banget, Dim,"ujar Toyib kemudian tertawa.


"Jangan mencemari otak istriku dengan kata-kata mesum kamu itu!"ketus Dimas.


"Iyaa..iya.. yang istrinya masih polos. Tapi sepertinya belum pernah dibuat polos,"sahut Toyib kembali tertawa.


"Dasar mesum!"umpat Dimas, tapi Toyib malah tertawa lagi.


Beberapa menit kemudian.


"Dim!"panggil Toyib lagi.


"Hum,"sahut Dimas yang kembali fokus pada layar handphonenya.


"Masuk sana, gih! Kelonin tuh, bini! Biar nggak kedinginan. Kalau masuk angin, 'kan ribet. Nggak ada yang masakin kita, berdua,"ujar Toyib membuat Dimas menghela napas berat.


Dimas segera beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya sebelum mulut Toyib mulai berkicau lagi.


Ayana menyusun baju ke dalam lemari saat Dimas masuk kedalam kamar.


"Tidurlah! Sudah malam. Besok saja di susun lagi,"ujar Dimas kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Udah mau selesai, kok,"sahut Ayana tanpa menoleh pada Dimas.


Setelah selesai menyusun baju di dalam lemari, Ayana mematikan lampu utama, karena melihat Dimas sudah berbaring di atas ranjang. Tidak lupa nyalakan lampu tidur. Ayana menyusul Dimas yang sudah berbaring duluan. Bahkan pria itu sudah memejamkan matanya.


"Kak.."panggil Ayana ragu-ragu.


"Tidurlah!"ucap Dimas memotong kata-kata Ayana, tanpa membuka matanya.

__ADS_1


Ayana hanya menghela napas yang terasa sesak, menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu. Walaupun mereka baru sah di mata agama. Sudah beberapa hari menikah, tapi hubungan mereka hanya meningkat ke tidur bersama di bawah atap yang sama, di atas ranjang yang sama dan satu lagi... tanpa melakukan apa-apa. Hanya sekedar tidur bersama saja.


Ayana memejamkan matanya, pura-pura tertidur walau sebenarnya belum bisa tidur. Beberapa menit kemudian, Ayana merasakan pergerakan Dimas. Saat Ayana membuka sedikit matanya untuk mengintip Dimas, ternyata Dimas merubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi miring membelakangi dirinya.


"𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨? 𝙎𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙞, 𝙆𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪. 𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙖𝙠𝙪?"gumam Ayana dalam hati.


Pagi-pagi sekali Ayana sudah bangun. Menatap Dimas yang masih terlelap. Hatinya terasa nyeri saat mengingat bahwa dirinya adalah istri yang tidak di sentuh sama sekali. Ayana kemudian keluar dari kamar dan mulai mengerjakan apa yang biasanya dirinya kerjakan. Membereskan rumah dan memasak untuk sarapan. Tapi kali ini, aku Ayana memasak agak banyak agar bisa di makan sampai nanti malam. Karena mulia hari ini, Ayana akan menginap di rumah Pak Parman.


"Waahh.. banyak sekali lauknya, Ay,"ujar Toyib menatap beberapa menu masakan yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Biar sekalian bisa sampai malam, bang,"sahut Ayana.


"Untuk makan malam? Biasanya kamu sore masak untuk makan malam. Kenapa pagi begini sudah masak untuk menu makan malam?"tanya Toyib heran. Karena biasanya Ayana masak dua kali. Pagi dan sore.


"Aku akan menginap di rumah bapak, bang,"sahut Ayana tersenyum tipis.


"Loh, kok, nginap di sana, sih, Ay! Kamu dan Dimas, 'kan baru menikah, kenapa malah menginap di rumah orang lain?"tanya Toyib yang terdengar seperti protes dan terkesan tidak setuju.


"Ayana sudah lama tidak ke sana. Lagi pula juga mumpung lagi libur,"sahut Dimas yang baru datang, seraya duduk di salah satu kursi.


"Kakak mau makan pakai apa?"tanya Ayana mengalihkan pembicaraan.


Membicarakan tentang dirinya yang akan menginap di rumah Pak Parman membuat dadanya sesak. Pasalnya Ayana merasa Dimas sengaja ingin jauh darinya agar tidak bertemu, atau mungkin agar tidak tidur seranjang dengan dirinya.


"Abang mau makan pakai apa?"tanya Ayana setelah mengambilkan makanan untuk Dimas.


"Apa saja,"sahut Toyib yang nampak tidak rela Ayana menginap di rumah Pak Parman. Toyib memang sering kali protes jika Ayana menginap di rumah Pak Parman. Karena semenjak makan masakan yang dimasak Ayana, Toyib jadi tidak berselera makan masakan dari warung.


"Ini, bang,"ucap Ayana menyodorkan piring yang sudah di isi dengan nasi dan lauk pada Toyib dengan seulas senyum tipis di bibirnya.


Toyib mengernyitkan keningnya saat menatap Ayana. Walaupun Ayana tersenyum pada dirinya, entah mengapa Toyib merasa ada kesedihan di mata jernih gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu.


Setelah selesai sarapan dan membereskan rumah, Ayana dan Dimas pun berangkat ke kampung Pak Parman. Seperti biasanya, Ayana dan Dimas berpisah di persimpangan jalan.


"Ay! Akhirnya kamu ke sini juga. Ayo, masuk!"ajak Wulan saat melihat Ayana.


"Ibu mana?"tanya Ayana karena tidak melihat Bu Lastri.


"Ibu sedang ke warung,"sahut Wulan.


"Eh, anak ibu pulang,"ucap Bu Lastri yang baru saja dibicarakan.

__ADS_1


"Ibu!"panggil Ayana langsung memeluk Bu Lastri.


"Eh, anak gadis ibu satu ini kenapa? Kok kayak lagi galau gitu,"ujar bu Lastri yang merasa Ayana berbeda dari biasanya.


"Aku galau pengen cari kerja buat kegiatan selama liburan, Bu. Buat seterusnya juga nggak apa-apa, asal nggak menganggu sekolah aku,"sahut Ayana yang memang berniat mencari pekerjaan selama liburan semester, dan jika bisa untuk seterusnya.


Sikap Dimas yang tetap memperlakukan dirinya seperti sebelumnya, padahal saat ini mereka sudah menikah, membuat Ayana ingin mencari pekerjaan. Mungkin jika Dimas sudah tidak betah bersama dirinya, Dimas akan menceraikan dirinya. Dan tidak mungkin Ayana tinggal bersama dengan Dimas dan Toyib lagi. Karena itu, Ayana akan berusaha mencari pekerjaan. Untuk bersiap-siap jika Dimas menceraikan dirinya.


"Yakin, pengen kerja?"tanya Bu Lastri.


"Yakin, Bu. Apa ibu tahu, dimana ada lowongan kerja?"tanya Ayana,"Aku serius pengen kerja, Bu,"ujar Ayana meyakinkan Bu Lastri bahwa dirinya benar-benar ingin bekerja.


"Ada, sih. Tapi di warung pecel lele. Bukanya juga sore, Ay. Berangkat pukul lima sore, pulangnya paling mentok pukul 12 malam. Tapi kalau lagi ramai, cepat habis, bisa di bawah jam 12 sudah bisa pulang,"ujar Bu Lastri.


"Malam, ya, Bu?"tanya Ayana.


"Iya,"sahut Bu Lastri.


Ayana tampak berpikir sejenak,"


𝙈𝙖𝙡𝙖𝙢? 𝘼𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙖𝙣. 𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢. 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙧𝙖𝙪𝙢𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞? 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙤𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪,"gumam Ayana dalam hati.


"Kalau kamu takut pulang malam, nanti biar di jemput sama bapak,"ujar Bu Lastri seolah mengerti kegelisahan Ayana.


"Benarkah?"tanya Ayana nampak antusias.


"Tentu saja benar. Mana mungkin bapak membiarkan anak gadisnya pulang malam sendirian?"jawab Bu Lastri penuh keyakinan.


"Baiklah, aku mau, Bu,"sahut Ayana dengan wajah yang berbinar.


"Masih ada lowongan, nggak, Bu? Aku juga mau, dong! Lumayan buat nabung,"sahut Wulan yang terlihat tertarik.


"Kebetulan butuh tiga karyawan. Jadi kalau kalian serius ingin bekerja, nanti ibu bilangin sama yang punya warung,"sahut Bu Lastri antusias.


"Serius, Bu,"sahut Ayana dan Wulan bersamaan. Kedua gadis itu nampak antusias.


Ayana juga merasa senang jika Wulan juga ikut bekerja dengan dirinya. Apalagi jika pulang nya di jemput oleh Pak Parman. Ayana akan merasa lebih tenang.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2