SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
109. Najis


__ADS_3

Malam semakin larut. Dimas, Toyib dan Ayana masih berada di ruang keluarga. Dimas melirik ke arah Ayana yang sudah beberapa kali menguap.


"Tidurlah, Ay! Sepertinya kamu sudah mengantuk,"ujar Dimas seraya mengelus kepala Ayana.


"Kakak belum mau tidur?"tanya Ayana seraya membereskan semua buku-bukunya,. karena memang merasa sudah mengantuk.


"Ada yang masih harus aku selesaikan. Tidurlah lebih dulu!"pinta Dimas kembali fokus pada laptopnya.


"Iya, Ay. Itu mata kamu sudah merah gitu. Mendingan tidur sekarang, mumpung Dimas belum mau tidur sekarang. Kalau Dimas ikut ke kamar sekarang, kamu nggak bakal bisa tidur,"ujar Toyib tersenyum penuh arti menatap Dimas.


"Memangnya kenapa aku nggak bisa tidur kalau kak Dimas ke kamar bersama aku?"tanya Ayana dengan wajah polosnya.


"Sudah! Jangan di dengar kata-kata Abang kamu itu! Sudah, sana, tidur!"ujar Dimas yang tidak ingin Toyib bicara macam-macam lagi.


"Takut amat,"ujar Toyib kemudian tertawa.


"Abang memang nggak jelas, deh!"celetuk Ayana kemudian bergegas menuju kamarnya.


Toyib menatap Ayana yang berjalan menuju kamarnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Dim, istri kamu itu bener-bener lucu dan polos,"ucap Toyib kembali tertawa.


"Diam! Berisik! Suka sekali kamu menertawakan Ayana. Nanti kalau dia tahu, dia bakal malu, karena sudah menjadi bahan tertawaan kamu,"ujar Dimas merasa kesal.


"Iya.. iya.. yang cinta mati. Eh, apa kabar mantan pacar kamu yang jadi kakak ipar kamu itu?"tanya Toyib,"Kata Ayana dia pengen bikin cerita yang berjudul 'Kakak Iparku Adalah Mantan Pacar Suamiku' terus dikirim ke salah satu stasiun televisi,"ujar Toyib kemudian terkekeh.


"Ada-ada saja,"sahut Dimas menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya pelan,"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dia? Apa kamu naksir sama dia?"tanya Dimas seraya memicingkan sebelah matanya.


"Kenapa? Kamu cemburu?"tanya Toyib ikut memicingkan sebelah matanya.


"Buat apa aku cemburu? Aku sudah tidak mencintai dia lagi. Saat ini hidupku hanya berfokus pada Ayana saja. Bagiku, Ayana adalah dunia ku, segalanya bagiku. Tidak ada tempat di hatiku untuk perempuan lain. Hatiku hanya milik Ayana,"sahut Dimas kembali fokus pada laptopnya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba nanya aku naksir sama dia atau enggak?"tanya Toyib lagi.


"Aku takut kamu suka sama dia. Setelah aku bersama Ayana, aku baru tahu jika dia itu perempuan munafik. Aku beruntung karena dia meninggalkan aku, hingga aku tidak sampai menikahi perempuan munafik seperti dia. Berpura-pura baik, lemah lembut dan tidak berdaya. Tapi nyatanya menghina dan memojokkan Ayana dengan pura-pura tidak berdaya. Aku tidak suka dengan perempuan munafik seperti dia. Kami sudah sama-sama punya pasangan, tapi dia masih saja berusaha mencari cara buat mendekati aku. Dia itu membuat Ayana nggak nyaman. Dan aku tidak suka itu,"ujar Dimas panjang lebar. Tergurat jelas kekesalan di wajah pria tampan itu.


"Aku tidak mungkin naksir sama dia, Dim. Aku sudah memiliki tunangan. Lagi pula, aku sudah tahu jika dia meninggalkan kamu saat kamu terpuruk, buat apa aku suka sama perempuan seperti dia. Perempuan yang tidak setia. Lagi pula, dia nggak bakal suka dengan pria keren tanpa N seperti aku,"ujar Toyib kemudian terkekeh.


"Pria keren tanpa N? Maksudnya?"tanya Dimas nampak bingung.


"Pria keren tanpa N, berarti ya, kere,"ujar Toyib kembali terkekeh.


"Sialan! Tinggal ngomong kere aja pakai berbelit-belit segala,"gerutu Dimas membuang napas kasar.


"Yah..yahh.. sewot!"ledek Toyib kembali terkekeh.


"Kenapa tiba-tiba nanya soal dia?"tanya Dimas, kembali ke inti pembicaraan.


"Belakangan, aku tahu dari warga sekitar kontrakkan kita yang dulu, dia nyari kamu di kontrakan lama kita. Tepatnya satu hari setelah kita pindah ke sini. Dia bertanya pada orang-orang di sekitar kontrakkan kita dulu untuk mencari tahu kemana kamu pindah. Bahkan bertanya pada orang yang nungguin kontrakan kita dulu. Sampai-sampai ngasih uang dua ratus lima puluh ribu pada orang yang nungguin kontrakan lama kita buat nyari tahu dimana kamu pindah,"jelas Toyib.


"Apa dia tahu kalau kamu lebih kaya dari yang dulu dia kenal?"tanya Toyib terlihat serius.


"Tidak ada yang tahu selain kamu dan Ayana. Bahkan papa mertua aku juga tidak tahu berapa aset yang aku miliki,"sahut Dimas jujur.


"Lalu apa sebenarnya keinginan perempuan itu? Dia sudah menikah dengan Nando, bahkan sedang mengandung anak Nando. Tapi dia juga mengejar-ngejar kamu. Aku jadi bingung apa maunya,"ujar Toyib tidak mengerti.


"Aku juga tidak mengerti apa maunya,"sahut Dimas menghela napas panjang.


"Jangan-jangan, dia ingin menjadikan kamu sebagai simpanannya. Biasanya perempuan yang sedang hamil itu, 'kan lebih ganas. Pengen di angetin mulu. Sedangkan keadaan Nando sekarang tidak mungkin untuk memuaskan kebutuhan biologis dia. Mungkin karena itu dia mengejar-ngejar kamu, Dim,"ujar Toyib menerka-nerka.


"Isss.. najis. Aku nggak nafsu sama dia atau perempuan manapun selain Ayana. Aku nggak bakal pernah mengkhianati Ayana. Aku tidak akan pernah menyakiti hatinya,"ujar Dimas bersungguh-sungguh.


"Aku juga nggak bakal suka kalau kamu selingkuh. Kita ini teman, sahabat yang sudah seperti saudara, aku nggak akan biarin kamu melakukan kesalahan. Apalagi aku juga sudah menganggap Ayana seperti adikku sendiri. Nggak rela aku kalau sampai ada yang nyakitin dia. Walaupun itu kamu, aku tetap nggak rela dan nggak terima,"ujar Toyib serius.

__ADS_1


"Aku juga nggak ingin nyakitin Ayana, Yib. Karena kebahagiaan Ayana adalah kebahagiaan aku juga. Sudah malam, aku tidur duluan, Yib,"pamit Dimas, seraya menutup laptopnya.


"Mau tidur, apa mau meniduri?"celetuk Toyib tersenyum penuh arti.


"Dasar otak ngeres! Kalau sudah kebelet, cepetan nikah sana!"ketus Dimas membuang napas kasar, tapi Toyib malah tertawa.


"Dasar pengantin baru. Baru tahu rasanya, jadi penasaran melulu,"gumam Toyib dengan senyuman di bibirnya.


Dimas membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Setelah masuk, pria itu mengunci pintu kamarnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat Ayana yang sudah terlelap. Biasanya gadis itu, eh salah, wanita muda itu tidak akan bisa tidur jika tidak ada Dimas. Tapi kali ini Ayana bisa tidur tanpa Dimas.


"Apa dia sangat lelah? Biasanya dia tidak bisa tidur tanpa aku peluk,"gumam Dimas beranjak ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dan perlahan naik ke atas ranjang. Ranjang mereka di rumah ini termasuk besar, walaupun bukan ukuran king size. Dimas membaringkan tubuhnya di samping Ayana dengan posisi miring menghadap Ayana. Saat melihat bibir Ayana, pria itu mengecup bibir Ayana beberapa kali.


"Kakak!"gumam Ayana memiringkan tubuhnya, memeluk Dimas. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Apa sangat mengantuk, hm?"tanya Dimas seraya membelai rambut Ayana


"Hum,"sahut Ayana tanpa membuka matanya.


Dimas menghela napas panjang membalas pelukan Ayana. Memaksakan memejamkan matanya, walaupun sebenarnya sebelum tidur ingin bercinta dengan Ayana. Namun melihat Ayana yang kelelahan, Dimas jadi tidak tega untuk mengajak Ayana bercinta.


Di sisi lain, Bening diam-diam mengambil handphone Nando yang beberapa menit yang lalu baru saja terlelap.


...🌟"Dia yang mencintai mu, akan selalu menjaga hati mu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2