SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
160. Respon Positif


__ADS_3

Setelah beberapa menit menempuh perjalanan sambil mengobrol ringan, akhirnya Diky pun sampai di rumah Pak Parman.


"Kita sudah sampai,"ujar Diky seraya melepas helm nya.


"Kok, Abang tahu, kalau rumah aku di sini?"tanya Wulan yang merasa aneh karena sebelumnya Diky belum pernah ke rumahnya, tapi Diky bisa tahu dimana rumahnya tanpa bertanya padanya.


"Ya, tahu, dong! Masa nggak tahu rumah calon istri sendiri,"sahut Diky mengulum senyum seraya melepaskan helm yang di pakai Wulan.


"𝙄𝙞𝙞𝙝𝙝𝙝, 𝙗𝙖𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙠𝙮 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙖𝙟𝙖 𝙜𝙤𝙢𝙗𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙤 𝙨𝙬𝙚𝙚𝙩 𝙡𝙖𝙜𝙞! 𝘼𝙠𝙪, '𝙠𝙖𝙣, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙂𝙍,"gumam Wulan dalam hati.


Kata-kata dan perlakuan Diky itu sukses membuat Wulan tersipu malu hingga pipinya kembali memerah. Dan hal itu kembali membuat Diky merasa gemas.


"𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙞𝙡𝙢𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙏𝙤𝙮𝙞𝙗 𝙙𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙧𝙖𝙠𝙩𝙚𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙠𝙡𝙚𝙥𝙚𝙠-𝙠𝙡𝙚𝙥𝙚𝙠. 𝘼𝙠𝙪 𝙜𝙚𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙥𝙞𝙥𝙞 𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙞𝙩𝙪. 𝘼𝙞𝙨𝙝𝙝.... 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙘𝙚𝙥𝙚𝙩-𝙘𝙚𝙥𝙚𝙩 𝙠𝙖𝙬𝙞𝙣, 𝙚𝙝 𝙩𝙮𝙥𝙤, 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙘𝙚𝙥𝙚𝙩-𝙘𝙚𝙥𝙚𝙩 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝,"gumam Diky dalam hati, merasa sangat bahagia.


"Eh, pak! Siapa pemuda yang mengantarkan Wulan pulang? Kok kelihatan mesra banget sampai membantu Wulan melepaskan helm,"ujar Bu Lastri dari dalam ruang tamu.


Pak Parman baru saja pulang sesuai dengan perhitungan Dimas. Dan sedang istirahat di ruangan tamu bersama Bu Lastri. Pak Parman langsung melihat ke luar rumah melalui kaca jendela mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Lastri.


"Ayo, kita samperin! Bapak juga belum pernah melihat pemuda itu. Sepertinya bukan ojol, deh, Bu,"sahut Pak Parman kemudian keluar dari rumah bersama Bu Lastri.


"Lan, sudah pulang? Siapa ini?"tanya Bu Lastri membuyarkan lamunan Wulan dan Diky.


"Pak, Bu!"sapa Diky langsung menyalami dan mencium punggung tangan Pak Parman dan Bu Lastri, membuat sepasang suami-isteri itu nampak bingung karena merasa tidak mengenal Diky.


Diky selalu mengikuti Dimas, Ayana dan Toyib menyalami dan mencium punggung tangan Geno dan Hilda. Karena itu, Diky juga melakukan hal itu pada kedua calon mertuanya ini. Dan tentu saja hal itu membuat nilai plus di mata Pak Parman dan Bu Lastri. Tampan, menghormati orang tua, dan juga berpakaian rapi serta sopan. Orang tua mana yang tidak akan respect pada pemuda yang seperti itu?


"Ini, bang Diky, Pak, Bu. Sahabatnya kak Dimas dan bang Toyib, kakak angkatnya Ayana,"ujar Wulan memperkenalkan Diky.


"Ohh.. begitu. Ayo, ayo, masuk!"ajak Pak Parman ramah.


"Iya, Pak,"sahut Diky mengulas senyum, kemudian mengambil barang bawaan Wulan yang masih berada di atas motornya.


"Lan, sejak kapan kamu kenal sama dia? Sepertinya dia naksir, loh, sama kamu,"bisik Bu Lastri pada putri semata wayangnya.


"Sudah lumayan lama, Bu,"sahut Wulan yang juga berbisik.


Bu Lastri bergegas membuatkan minuman untuk tamunya, sedangkan Wulan duduk di samping Pak Parman.

__ADS_1


"Sudah, letakkan di situ dulu, Nak Diky,"ujar Pak Parman mengarahkan Diky agar meletakkan barang bawaan Wulan di atas kursi.


"Iya, Pak,"sahut Diky.


"Bapak berterima kasih sama Nak Diky. Karena Nak Diky sudah mau repot-repot mengantarkan Wulan pulang. Bapak tidak bisa menjemput Wulan karena bapak harus bekerja dan ibu nggak bisa naik motor,"ujar Pak Parman tersenyum ramah.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya lagi senggang, kok,"sahut Diky sopan.


"Ini, Nak Diky! Di minum, teh nya!"ucap Bu Lastri dengan seulas senyum ramah.


"Terimakasih, Bu! Jadi merepotkan,"ucap Diky dengan seulas senyum.


𝙒𝙖𝙝𝙝.. 𝙧𝙚𝙨𝙥𝙤𝙣 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙩𝙞𝙛. 𝙍𝙚𝙨𝙥𝙤𝙣 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙩𝙞𝙛. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞 𝙜𝙖𝙨 𝙥𝙤𝙡 𝙞𝙣𝙞,"gumam Diky merasa senang. Karena ternyata respon Wulan dan kedua orang tuanya sangat positif.


"Jadi Nak Diky ini sahabatnya Nak Dimas dan Nak Toyib. Ibu baru tahu,"ujar Bu Lastri.


"Saya sahabat lama Dimas, Bu. Cuma beberapa tahun terakhir kami tidak bertemu. Dan baru bertemu beberapa bulan terakhir ini,"sahut Diky jujur adanya.


"Ohh.. begitu. Pantesan Ayana tidak pernah bercerita tentang Nak Diky,"sahut Bu Lastri.


"Semenjak menikah, Ayana memang masih sering ke sini, tapi tidak lagi menginap,"sahut Pak Parman menghela napas panjang. Merasa rindu dengan Ayana yang sudah di anggapnya sebagai putrinya sendiri.


"Iya, ya, Bu. Ini gara-gara bapak jarang ketemu Ayana. Bapak pulangnya sore, dan Ayana kalau sore harus segera pulang. Jadi, walaupun bisa bertemu dengan Ayana juga cuma sebentar,"sahut Pak Parman.


"Ya, maklum saja, Pak. Namanya juga sudah berkeluarga. Ibu sudah bersyukur karena Ayana tidak melupakan kita. Tetap menganggap kita seperti orang tuanya sendiri,"sahut Bu Lastri yang merasa terharu karena Ayana memperlakukan dirinya dan Pak Parman seperti orang tuanya sendiri.


"Oh, iya, sudah berapa lama, Nak Diky kenal dengan Wulan?"tanya Pak Parman mengalihkan pembicaraan yang jadi melo itu.


"Lumayan lama, Bu,"sahut Diky jujur.


Atensi Diky teralihkan saat handphone di saku celananya berdering.


"Maaf, Pak, Bu, saya angkat telpon dulu,"pamit Diky.


"Oh, iya, silahkan, Nak,"sahut Pak Parman.


Diky keluar dari rumah itu, kemudian menerima panggilan masuk di handphonenya. Pemuda itu nampak berbicara serius dengan orang yang menelpon nya.

__ADS_1


"Lan, apa pekerjaan Nak Diky itu?"tanya Bu Lastri pelan.


"Aku nggak tahu, Bu. Soalnya nggak enak mau nanya pekerjaannya apa. Karena kami belum terlalu dekat,"sahut Wulan yang juga bicara pelan.


Selama ini Wulan dan Diky hanya berkomunikasi lewat chat, itupun cuma menanyakan tentang kabar dan sesekali Diky menanyakan soal apa kesukaan Wulan. Mereka tidak terlalu banyak mengobrol karena Diky terlalu sibuk.


"Memangnya, kamu nggak nanya sama Ayana? Ayana pasti tahu apa pekerjaan Nak Diky, Lan,"ujar Pak Parman yang juga ikut berbicara pelan.


"Aku selalu lupa, Pak,"sahut Wulan yang sebenarnya enggan bertanya pada Ayana karena takut Ayana mengatakan pada Diky jika Wulan kepo soal Diky. Mengingat Diky yang tinggal serumah dengan Ayana. Jadi, Wulan tidak bertanya soal Diky jika Ayana tidak bercerita sendiri.


"Pak, Bu, saya pamit pulang,"ucap Diky setelah kembali masuk ke dalam rumah.


"Nggak makan malam di sini dulu Nak?"tanya Bu Lastri.


"Terimakasih, Bu. Lain kali saja. Saya ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda,"sahut Diky yang memang harus pergi untuk bekerja.


"Wah, sayang sekali. Ya, sudah, lain kali main ke sini, Nak! Dan terimakasih sudah mengantarkan Wulan pulang,"ujar Pak Parman.


"Iya, Pak, sama-sama. Lain kali saya akan kesini lagi,"sahut Diky dengan seulas senyum,"𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙗𝙖𝙥𝙖𝙠,"lanjut Diky dalam hati.


Entah mengapa, baru sekali bertemu dengan kedua orang tua Wulan, tapi Diky langsung merasa cocok dan nyaman. Dan hal itu semakin membuat Diky semakin mantap untuk segera melamar Wulan.


"Ya sudah, hati-hati di jalan, Nak!"ucap Bu Lastri tulus.


Iya, Bu,"sahut Diky kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Pak Parman dan Bu Lastri bergantian. Dengan perasaan senang Diky melajukan motornya meninggalkan rumah Pak Parman.


"Bapak suka sama Nak Diky itu, Bu. Anaknya tampan, sopan, dan juga menghormati orang tua,"ujar Pak Parman setelah mereka masuk ke dalam rumah.


"Ibu juga langsung suka, Pak. Kalau kamu gimana, Lan?"tanya Bu Lastri menatap Wulan.


...🌟"99% orang akan menghormati dan menghargai kita, sebagaimana kita menghormati dan menghargai mereka."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


Kalau ada typo, spill aja! Biar nanti aku revisi.🙏🙏🙏


__ADS_2