SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
164. Yakin


__ADS_3

Ayana pulang dengan hati riang. Ayana yakin jika Diky melamar Wulan, Wulan pasti tidak akan bisa menolaknya. Apalagi Bu Lastri juga nampak menyukai Diky. Bahkan setelah bertemu dengan Pak Parman, pria paruh baya itu juga mengatakan jika menyukai Diky.


Toyib membantu Ayana menyiapkan makanan yang dibawa dari rumah Bu Lastri tadi. Namun tak lama kemudian terdengar suara motor yang sangat dikenali oleh Ayana.


"Sudah, sambut sana suami kamu!"ujar Toyib yang sedang memindahkan sayur ke dalam mangkok.


"Biarin aja dulu, bang. Nanggung ini sedang menata makanan, sebentar lagi selesai,"sahut Ayana yang sedang menata makanan.


Beberapa saat kemudian, Ayana pun selesai menata makanan di bantu Toyib. Wanita muda itu bergegas menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, Ayana melihat Dimas berdiri membelakangi pintu, sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Ayana memeluk Dimas dari belakang, hingga membuat Dimas terhenyak. Pria itu menoleh ke belakang ke arah istrinya yang menyandarkan kepalanya di punggungnya. Dimas mengelus lembut tangan Ayana yang melingkar di perutnya sambil berbicara dengan orang dalam sambungan telepon.


"Iya, seperti yang saya jelaskan tadi,"ucap Dimas pada seseorang dalam sambungan telepon.


Ayana melepaskan pelukannya kemudian berpindah tempat di depan Dimas. Melepaskan dasi yang dipakai Dimas dan juga kancing kemeja Dimas. Satu persatu kancing kemeja itu terlepas. Hingga setelah seluruh kancing kemeja bagian depan dan kancing di kedua tangan Dimas terlepas Ayana membantu Dimas melepaskan kemeja itu. Ayana menatap dada dan perut Dimas yang terekspos sempurna dengan senyuman miring. Ayana meraba dada dan perut Dimas.


"Iya, nanti akan kita bicarakan dalam rapat saham yang akan di adakan tiga hari lagi,"ucap Dimas pada rekan bisnisnya.


Pria itu mencekal tangan kiri Ayana yang sedang meraba dadanya, namun Dimas tidak bisa menghentikan tangan kanan Ayana yang sedang meraba perutnya. Membuat tubuh Dimas terasa meremang.


"Baik! Terimakasih, Tuan,"sahut Dimas kemudian mematikan sambungan telepon lalu melempar handphone nya ke atas ranjang.


"Kamu benar-benar nakal, ya!"ucap Dimas mencekal tangan kanan Ayana. Tapi Ayana malah tertawa menatap Dimas.


Dinas yang merasa gemas pun melepaskan tangan Ayana lalu mengangkat tubuh Ayana hingga wajah Ayana sejajar dengan wajahnya. Dimas menahan bokong dan punggung Ayana agar tidak jatuh. Sedangkan Ayana melingkarkan kedua tangannya di leher Dimas.


Dimas mengecup bibir Ayana beberapa kali kemudian mencium Ayana lebih lama lagi. Melummat dan menyesap bibir Ayana yang disambut dengan hangat oleh Ayana.


Dimas berjalan menuju ranjang tanpa melepaskan pagutan mereka. Perlahan merebahkan tubuh Ayana, lalu menindihnya. Ayana meraba leher dan dada Dimas yang berada di atas tubuhnya. Bibir mereka masih saling bertautan saling menikmati.


"Derttt"

__ADS_1


"Derttt"


Suara getar dari handphone Dimas yang ada di samping mereka membuat Dimas melirik benda pipih itu. Melihat siapa yang menghubunginya, Dimas pun melepaskan pagutannya dan menerima panggilan masuk itu dengan posisi masih berada di atas tubuh Ayana, bertumpu pada siku dan lengannya agar tidak menimpa tubuh istrinya.


"Halo, pa!"ucap Dimas kemudian menggigit bibirnya sendiri saat Ayana mencium lehernya dengan tangan kiri yang memegangi leher Dimas dan tangan kanan yang merayap di dada dan perut rata, berotot milik Dimas.


"Halo, Dim! Bisa kamu kirimkan file tentang dokumen kerjasama kita dengan perusahaan lain?"tanya Geno dari sambungan telepon.


"I.. Iya, pa. Nanti.. akan aku kirimkan filenya,"sahut Dimas berusaha bersuara senormal mungkin. Merasakan hasratnya yang naik karena cumbuan dari Ayana.


"Iya, nggak usah buru-buru. Kamu pasti baru sampai di rumah, 'kan?"tanya Geno yang merasa curiga dengan suara Dimas.


"I.. iya, pa. A.. Ay..."ucap Dimas dengan suara berat, tergagap karena mati-matian menahan desahannya karena tangan Ayana yang nakal menggoda sesuatu di bawah sana.


Geno merasa ada yang janggal dengan suara menantunya itu, apalagi saat terdengar menyebut nama putrinya dengan suara berbeda.


"Ya, sudah papa tutup dulu,"ucap Geno segera menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Dimas,"Dasar anak muda! Pasti mereka sedang bercumbu. Aku menelepon di waktu yang tidak tepat,"gumam Geno menghela napas tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Ampun, kak! Ampun! Jangan gelitik lagi!"mohon Ayana hingga Dimas menghentikan aksinya. Ayana nampak ngos-ngosan karena terus menghindari Dimas dan terus tertawa karena merasa geli.


"Aku akan berhenti menghukum kamu. Tapi, kamu harus melanjutkan apa yang sudah kamu mulai tadi. Kali ini, kamu yang harus bekerja. Karena kamu yang memulainya dan itu adalah hukuman kamu,"ujar Dimas tersenyum smirk.


Tanpa di duga, Ayana langsung meraih tengkuk Dimas yang berbaring di samping nya. Dengan agresif Ayana mencium bibir Dimas. Dimas sempat terkejut dengan aksi Ayana yang tiba-tiba itu. Namun sesaat kemudian, pria itu mengimbangi ciuman agresif istrinya itu. Bahkan Dimas hanya menurut saat Ayana mendorong tubuhnya hingga tubuhnya terbaring terlentang di atas ranjang, dan Ayana langsung naik di atas tubuh Dimas dan kembali mencium bibir Dimas.


Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka pun teronggok di lantai dan tidak lama kemudian suara lenguhaan dan desahaan pun memenuhi kamar itu. Untung saja Toyib dan Diky sudah membuat kamar itu kedap suara, sehingga sepasang suami-isteri itu tidak perlu takut suara mereka terdengar sampai ke luar kamar.


Diky baru saja pulang, Saat masuk ke dalam rumah, Diky melihat Toyib di ruang tamu sedang menyusun dan menghitung uang hasil tagihan nya seharian ini.


"Behh.. lagi panen uang, nih!"ujar Diky seraya duduk di salah satu sofa.

__ADS_1


"Dari nagih tadi,"sahut Toyib.


"Tiap tagihan dapat segini, Yib?"tanya Diky yang melihat sudah ada tujuh juta uang yang sudah selesai di susun Toyib. Diky dengan mudah mengetahui nya karena Toyib selalu mengikat uangnya dengan karet per satu juta.


"Ya nggak tentu, Dik. Kadang lebih sedikit, kadang juga lebih banyak,"sahut Toyib masih menyusun uang dua puluh ribuan.


"Oh, ya, mana Ayana? Kamu sudah menjemput dia, 'kan?"tanya Diky yang penasaran dengan hasil investigasi Ayana di rumah Pak Parman.


"Di kamar, sama Dimas,"sahut Toyib yang hampir selesai menyusun uangnya.


"Aku penasaran bagaimana hasil investigasinya tadi,"


"Kalau mau nanya soal itu, nanti malam aja, habis makan malam. Biasanya kalau Dimas baru pulang dari kantor, mereka bakalan lama berada di dalam kamar,"ujar Toyib yang sudah tahu benar kebiasaan sepasang suami-isteri itu.


"Aku sudah penasaran banget,"


"Tenang saja! Asal kamu mengajak kami saat melamar Wulan, aku yakin 99,99%, kalau lamaran kamu pasti diterima,"sahut Toyib nampak sangat yakin.


"Sepertinya kamu yakin sekali. Apa Ayana sudah bercerita padamu tentang hasil investigasinya?"


"Belum. Tapi aku sangat yakin. Soalnya, feeling ku jarang meleset,"


"Jangan-jangan, kamu berprofesi sebagai sales pakaian keliling merangkap jadi cenayang,"ujar Diky kemudian terkekeh.


"Bisa saja kamu,"sahut Toyib kemudian terkekeh.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2