
Hari ini cuaca terlihat cerah, matahari pun bersinar terang. Seperti biasa, Ayana menyiapkan sarapan untuk kedua kakak ketemu gede nya.
"Ay, sudah matang belum, nasi goreng pesanan Abang?"tanya Toyib yang baru masuk ke ruangan makan.
"Sebentar lagi, bang!"sahut Ayana seraya mematikan kompor.
"Jangan lupa lalapannya, Ay!"ujar Toyib lagi seraya duduk di salah satu kursi di meja makan.
"Ay, kamu lihat kaos kakak yang warna hitam, nggak?"tanya Dimas yang ikut masuk ke ruangan makan yang tidak disekat dengan dapur itu, ikut duduk bersama Toyib.
"Belum sempat aku setrika, kak. Masih ada di keranjang pakaian bersih,"sahut Ayana seraya membawa nasi goreng yang sudah matang dan lalapan berupa timun dan kol.
"Kok, kamu belum pakai seragam, Ay? Kamu nggak sekolah?"tanya Toyib yang melihat Ayana memakai kaos oblong berlengan pendek dan celana pendek di bawah lutut.
"Hari ini, 'kan tanggal merah, bang! Kalau aku sekolah, siapa yang bakal ngajar aku?"sahut Ayana seraya meletakkan nasi goreng dan lalapan yang dibawanya ke atas meja.
"Ohh.. Abang kira kamu bangun kesiangan. Enak dong, besok Harpitnas, Hari kejepit nasional,"sahut Toyib kemudian tertawa.
"Nggak ada Harpitnas, bang. Abang lupa? Setiap hari Sabtu, aku, 'kan memang nggak sekolah,"sahut Ayana mengambil piring, sendok dan teh manis yang sudah di buatnya tadi.
"Nggak ada telur ceplok nya, Ay?"tanya Toyib mengamati nasi goreng buatan Ayana. Sedangkan Dimas nampak sedang berbalas pesan.
"Telur nya tadi tinggal dua, bang. Jadi, langsung aku campur sama nasi goreng nya aja,"sahut Ayana.
"Nanti aku belikan,"sahut Dimas masih fokus pada handphonenya.
Ayana ngambil salah satu piring dan mengambilkan nasi goreng untuk Dimas. Setelah itu mengambil lagi untuk Toyib dan terakhir, untuk dirinya sendiri. Nasi goreng dengan telur orak-arik, udang, dan juga bakso yang di potong-potong.
"Emm.. masakan kamu memang paling enak, Ay. Sayang Abang sudah punya tunangan, kalau enggak, Abang pengen melamar kamu saja,"ujar Toyib yang nampak menikmati nasi goreng buatan Ayana, mengulum senyum saat melirik ekspresi wajah Dimas yang nampak tidak suka mendengar kata-kata nya tadi. Sengaja memanas manasi Dimas.
"Males aku punya suami macam Abang. Tambah lama perutnya tambah maju ke depan,"sahut Ayana sambil menyendok nasinya.
"Terus maunya yang seperti apa?"tanya Toyib lagi.
__ADS_1
"Emm...Yang ganteng dan perutnya kotak-kotak,"sahut Ayana.
"Ya sudah, kalau begitu, sama Dimas saja. Dimas perutnya kayak roti sobek, loh!"sahut Toyib melirik Dimas yang makan dengan tenang.
"Mau, sih! Tapi sayangnya kak Dimas nggak mau sama aku. Aku cuma dianggap adik. Aku cari yang lain saja, deh!"sahut Ayana lesu. Melirik Dimas yang nampak bersikap biasa, masih fokus dengan makanan nya.
"Tenang! Nanti Abang bantu nyari. Abang juga sudah punya kandidat. Anak konsumen Abang bekerja di pelayaran. Abang dengar gajinya gede. Abang pernah bertemu dengan dia, dan badannya bagus, perutnya kotak-kotak seperti yang kamu inginkan, Ay,"sahut Toyib mengunyah makanannya sembari melirik Dimas.
"Cari jodoh jangan yang bekerja di pelayaran! Sering di tinggal lama, bahkan sampai berbulan-bulan,"sahut Dimas masih melanjutkan makannya.
"Kalau begitu yang jadi polisi aja, Ay. Gaji tetap, dan badannya juga bagus,"ujar Toyib lagi, kembali melirik Dimas yang wajahnya sudah tidak setenang tadi.
"Boleh juga, tuh. Polisi, keren juga kalau punya suami polisi,"sahut Ayana manggut-manggut sambil mengunyah makanannya.
"Kalau nggak, yang jadi dosen juga ada, Ay. Lagi nyari jodoh. Enak nanti kalau kamu kuliah ada yang ngajarin,"ujar Toyib lagi.
"Brakk"
Ayana dan Toyib terkejut saat tiba-tiba Dimas menggebrak meja dengan ekspresi wajah yang terlihat marah.
"Kenapa kakak jadi marah? Aku dan Abang, 'kan cuma bercanda! Lagian, emang kenapa kalau aku mau cari jodoh? Itu hak aku!"sambar Ayana tidak terima, kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan meja makan dengan wajah bersungut-sungut.
Dimas menghirup napas dalam-dalam, kemudian membuangnya dengan kasar. Tidak mengerti kenapa dirinya bereaksi seperti tadi.
"Barang bagus banyak yang suka. Kalau suka ngomong aja! Jangan di pendam di dalam hati. Jadi bisul, 'kan berabe! Pergi dan bujuk sana!"bisik Toyib kemudian meninggalkan Dimas sendirian
"Ketahuan lagi, 'kan, kalau cemburu,"gumam Toyib yang sudah keluar dari ruangan makan, mengulum senyum menahan tawa.
Ayana mencuci peralatan masak yang dipakainya dengan bersungut-sungut. Tersinggung dengan kata-kata Dimas yang mengatakan jika dirinya kegatelan.
Dimas membereskan piring kotor di meja makan, kemudian membawanya ke wastafel, dimana Ayana sedang mencuci peralatan memasak.
"Biar aku bantu, Ay,"ucap Dimas, tapi Ayana diam tidak menyahut.
__ADS_1
"Ay, aku minta maaf jika kata-kataku tadi menyakiti hatimu. Aku tidak sengaja. Jangan marah, ya!"ucap Dimas merasa menyesal.
"Nggak apa-apa. Aku nggak marah,"sahut Ayana tanpa menoleh pada Dimas. Menghela napas mencoba meredakan kekesalan hatinya.
"Kalau nggak marah, biar aku bantu mencuci piring,"sahut Dimas kemudian membantu Ayana mencuci piring,"Jangan cemberut lagi! Aku pengen nyubit pipi kamu kalau kamu cemberut seperti itu,"ujar Dimas yang benar-benar mencubit pipi Ayana.
"Iihh.. kakak apa-apaan, sih! Pipi aku jadi kena sabun ini!"keluh Ayana. Tapi Dimas malah mengoleskan busa sabun di wajah Ayana, lagi dan lagi.
"Kakak!"kesal Ayana kemudian membalas apa yang dilakukan Dimas padanya.
"Eh, berani membalas?"ujar Dimas kembali mengoleskan busa sabun di hidung Ayana, kemudian tertawa melihat hidung Ayana yang ada busanya.
"Kakak!"pekik Ayana lagi, kemudian mengambil busa sabun lagi, berusaha mengoleskannya di wajah Dimas.
"Nggak kena!"ledek Dimas karena berhasil menghindar.
"Oh ya?"ucap Ayana kemudian malah menggelitik pinggang Dimas.
"Berhenti, Ay! Geli!"ujar Dimas yang tertawa karena kegelian, berusaha menghindar dan menangkap tangan Ayana yang menggelitik pinggang nya.
"Kena!"ucap Ayana saat tangan kirinya sibuk menggelitik pinggang Dimas dan tangan satunya mengoleskan busa sabun pada pipi Dimas.
"Kamu curang!"ujar Dimas yang langsung menangkap sebelah tangan Ayana dan berusaha mengoleskan busa sabun di wajah Ayana.
Hingga akhirnya mereka malah saling mengoleskan busa sabun dan saling menghindar. Tertawa bersama melupakan segalanya.
"Dasar! Di kompori sedikit saja sudah kepanasan. Tapi nggak mau bilang suka. Di embat orang baru nyahok! "ujar Toyib yang mengintip keduanya yang kejar-kejaran dan tertawa bersama. Duda muda beranak satu itu pun tersenyum ikut bahagia.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued