
Pagi sudah menyapa. Ayana sudah selesai memasak dan juga sudah memakai seragam sekolah. Menu sarapan pagi juga sudah tersedia. Ada capcay, ayam mentega, tempe, tahu, perkedel kentang, dan juga perkedel jagung. Tidak lupa kerupuk udang kesukaan Dimas.
"Waahh.. banyak banget menunya. Kamu masak ini sendirian, Ay?"tanya Diky yang nampak menelan ludah saat melihat menu yang tersaji bermacam-macam dan menggugah selera.
"Tadi di bantuin kakak,"sahut Ayana dengan senyuman cerahnya.
"Abang tadi juga bantuin, Ay,"sahut Toyib yang bergegas duduk.
Mendengar perkataan Toyib, semua orang pun menatap ke arah Toyib.
"Masa iya, kamu bantuin Ayana? Nggak yakin aku,"ujar Diky seraya memicingkan sebelah matanya.
"Harus percaya, karena aku bantuin Ayana lewat doa,"sahut Toyib dengan gayanya yang santai.
Mendengar jawaban Toyib, Ayana hanya menghela napas panjang, sedangkan Dimas hanya tersenyum tipis seraya menggeleng-nggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau itu, aku juga bisa,"sahut Diky membuang napas kasar,"Kamu nggak capek, Ay, setiap hari masak buat kami? Belum lagi harus bersih-bersih rumah dan juga sekolah,"ujar Diky yang merasa kagum dengan Ayana.
"Aku, 'kan tidak melakukannya sendiri, bang. Bang Toyib sering bantuin aku beres-beres rumah. Soalnya kalau Abang bantuin masak, yang ada dapur ku jadi kapal pecah,"sahut Ayana tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mengingat bagaimana saat Toyib membantunya memasak. Tepung, air, dan bahan masakan yang dipegang Toyib pasti berceceran. Bahkan wajah Toyib sudah belepotan oleh tepung. Membuat Ayana geli jika mengingatnya. Namun Ayana selalu menghargai bantuan yang Toyib berikan.
"Tapi, 'kan Abang bereskan Ay,"sahut Toyib yang benar adanya.
"Iya.. iya.. aku selalu menghargai bantuan Abang. Udah, ayo sarapan! Aku nggak mau terlambat sekolah,"sahut Ayana yang sudah selesai mengambilkan nasi untuk ketiga pria itu.
"Eh, bukankah kamu tidak suka masakan dari olahan daging ayam, Dim?"tanya Diky saat melihat Ayana mengambilkan ayam mentega untuk Dimas.
"Aku bisa makan masakan dari olahan daging ayam, jika yang memasaknya adalah Ayana. Karena ayam yang di masak Ayana tidak berbau amis yang bikin perut ku mual,"sahut Dimas seraya memakan ayam yang baru diambilkan istrinya.
__ADS_1
"Benarkah? Wahh.. kamu benar-benar hebat, Ay. Dimas jadi bisa makan olahan daging ayam karena kamu,"ujar Diky yang melihat Dimas yang terlihat biasa saja saat makan daging ayam yang diambilkan Ayana.
"Aku cuma merebus ayamnya, lalu membuang air rebusannya, setelah itu baru memasaknya. Dengan begitu, ayamnya tidak akan berbau amis,"sahut Ayana.
"Kamu benar-benar pintar masak, Ay!"puji Diky.
"Aku cuma bisa beberapa menu masakan saja, bang,"sahut Ayana dengan seulas senyum.
"Ay, manggil Diky jangan Abang, dong! Abang, 'kan Abang kamu satu-satunya. Abang nggak mau di duakan dengan Diky,"protes Toyib yang memang merasa cemburu jika Ayana memanggil Diky Abang.
"Eleeh.. gitu aja cemburu,"cibir Diky seraya mengambil lauk.
"Terus aku harus panggil bang Diky apa, dong? Di rumah ini yang akan aku panggil kakak hanya kak Dimas,"sahut Ayana seraya mengambil kerupuk.
"Terserah, kamu, Ay! Yang penting jangan Abang. Abang kamu cuma satu, yaitu bang Toyib,"tegas Toyib yang sudah mulai sarapan.
"Ya sudah, babang Diky, aja. Boleh nggak?"tanya Ayana.
"Iya, senior,"sahut Diky membuat Dimas dan Ayana tersenyum.
Sarapan pagi yang diselingi obrolan ringan yang terkesan hangat pun akhirnya selesai. Dimas mengantarkan Ayana ke sekolahnya, kemudian pergi bekerja.
Sedangkan Toyib mengarahkan Diky untuk bersih-bersih dan beres-beres rumah. Semenjak tinggal bersama Ayana, Toyib memang hidup lebih teratur dan bersih. Tidak akan menyentuh sarapan sebelum mandi, tidak menggantung pakaian sembarangan dan membuang sampah pada tempatnya.
Toyib yang dulunya suka menggantung baju sembarangan, jarang mencuci baju, sarapan sebelum mandi dan makan cemilan dengan bungkus yang berserakan sudah tidak ada lagi. Toyib yang sekarang adalah orang yang hidup teratur dan bersih. Dan semua itu adalah berkat Ayana. Ayana selalu memperhatikan Toyib seperti saudara nya sendiri hingga akhirnya semua kebiasaan buruk Toyib hilang. Karena itulah, Toyib sangat menyayangi Ayana.
"Kamu belum dapat orang buat bantu bersih-bersih rumah, Yib?"tanya Diky. sambil mengelap piring yang baru saja di cuci oleh Toyib.
"Aku merasa tidak nyaman jika ada orang luar masuk kerumah ini. Masalahnya, yang bantu bersih-bersih, 'kan, pasti cewek. Di rumah ini yang cewek cuma Ayana. Dan Ayana baru ada di rumah saat sore. Kalau ada perempuan luar berada di rumah ini tanpa ada Ayana, aku merasa risih. Makanya kami minta orang bersih-bersih rumah pas hari minggu saja, pas ada Ayana. Buat bersih-bersih seperti kaca jendela dan pekarangan rumah aja,"sahut Toyib.
__ADS_1
"Setelah selesai, aku keluar sebentar, ya?"pamit Diky.
"Mau kemana?"tanya Toyib.
"Nanti kamu lihat saja!"ujar Diky antusias.
Setelah selesai beres-beres rumah bersama Toyib, Diky pun pergi mengendarai motornya. Satu jam kemudian, Diky kembali bersama mobil pick up. Supir pick up menurunkan barang belanjaan Diky dan membantu Diky membawanya ke dalam rumah.Toyib mengernyitkan keningnya menatap semua barang yang di beli Diky.
"Kamu mau ngapain dengan semua barang-barang ini, Dik?"tanya Toyib yang tidak mengerti dengan fungsi barang-barang yang di beli oleh Diky.
"Kita akan membuat Ayana senang dengan mendekorasi kamarnya dan kita aman dari suara erotis yang bikin tubuh meremang dan otak traveling. Kita akan membuat kamar orang yang sedang di mabuk cinta ini kedap suara. Agar kita bisa tidur dengan nyenyak dan nggak perlu donor darah di bawah pohon jambu di depan rumah lagi,"ujar Diky antusias.
"Wahh.. ide yang bagus. Ayo, aku bantuin! Uang yang kamu keluarkan untuk membeli semua alat ini, bagi dua saja dengan aku,"ucap Toyib antusias.
"Oke. Sip!"ucap Diky.
Dua orang pria itu pun mulai bekerja di dalam kamar Ayana dan Dimas.Memasang beberapa panel busa akustik pada dinding kamar. Menutup celah pintu dengan menempelkan weatherstripping berbahan karet ke bagian bawah pintu. Menggantung busa akustik awan di langit-langit ruangan untuk menghilangkan gema dan menyerap suara. Melapisi dinding dengan rubber mat, dan juga memasang tirai kedap suara. Apapun yang bisa membuat ruangan menjadi kedap suara di beli dan di aplikasikan Diky di kamar Dimas dan Ayana.
Diky yang seorang detektif pun dengan cepat bisa mengetahui apa yang di sukai dan tidak di sukai Ayana dari pengamatan nya dan juga dari informasi yang di berikan oleh Toyib. Dan sebagai sahabat lama Dimas pun tahu dengan apa yang di sukai dan tidak di sukai Dimas. Sehingga Diky yakin, jika Ayana dan Dimas akan suka dengan penampilan baru di kamar mereka.
"Waahh.. kamar ini semakin estetik. Ayana pasti akan merasa senang jika melihatnya,"ujar Toyib merasa puas dengan hasil kerjanya bersama Diky.
"Aku habis ini harus pergi, Yib,"ucap Diky yang melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Aku juga. Kita makan siang dulu! Ayana tadi sudah menyiapkan makanan untuk makan siang kita,"sahut Toyib.
Akhirnya kedua pria itu pun membersihkan diri, lalu makan siang. Tidak berapa lama kemudian mereka pun berangkat bekerja.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued