SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
174. Terganggu


__ADS_3

"Deg"


Jantung Wulan terasa berhenti berdetak saat tiba-tiba tangan kanan Diky memegang dan mengangkat wajahnya hingga mata mereka saling bertatapan.


Wulan diam terpaku di tempatnya. Tubuhnya benar-benar terasa kaku dan tidak bisa di gerakkan sama sekali.


"Apa? Apa yang akan di lakukan bang Diky?"gumam Wulan dalam hati, menatap wajah Diky yang semakin mendekat ke arah wajahnya.


Sungguh, saat ini Wulan benar-benar merasa tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan. Jantungnya berdegup semakin kencang tidak beraturan. Mata Wulan terpejam saat wajah Diky hanya tinggal beberapa senti lagi dari wajahnya.


Sesaat kemudian, Wulan merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Hembusan napas hangat terasa menyapu di wajahnya. Benda kenyal yang menempel di bibirnya itu mulai bergerak memagut bibirnya.


Wulan meremas kemeja yang di pakai Diky. Merasakan tubuhnya bagai tersengat listrik saat Diky memagut dan menyesap bibir atas dan bibir bawahnya bergantian. Ada rasa nikmat, hangat, mendebarkan, sekaligus ada rasa bergejolak di dalam dadanya saat Diky terus menikmati bibirnya dengan lembut.


Lama kelamaan Wulan menikmati ciuman Diky hingga tanpa sadar sedikit membuka mulutnya hingga Diky memiliki akses untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Wulan. Mengeksplor mulut Wulan dan membelit lidah Wulan.


Diky merasakan rasa nikmat yang memabukkan saat memagut, menyesap, mengecup dan membelit lidah Wulan. Tangan kanan Diky memegangi tengkuk Wulan untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kiri Diky memeluk erat tubuh Wulan.


Beberapa saat, Diky menjeda ciumannya untuk menghirup napas, kemudian kembali memagut bibir Wulan yang setelah di nikmati malah membuat Diky merasa kecanduan.


Reflek, perlahan Wulan membalas ciuman Diky. Walaupun awalnya sedikit kaku, namun karena naluri, akhirnya Wulan bisa mengimbangi ciuman Diky.


Keduanya seakan lupa di mana mereka saat ini sedang berada. Tidak perduli dengan hujan deras, angin dan kilat yang menyambar-nyambar, serta petir yang yang menggelegar. Keduanya hanya memejamkan mata menikmati ciuman yang sesekali ter-jeda untuk menghirup udara.


Di rumah Wulan.


Pak Parman dan Bu Lastri nampak duduk di ruang tamu menunggu putri mereka pulang. Di atas meja nampak penuh dengan barang-barang yang dibelikan Diky untuk Wulan. Barang-barang itu sudah diantarkan anak buah Diky sekitar satu jam yang lalu. Tapi putri mereka belum juga pulang.


"Wulan mana, ya Pak? Kok belum pulang juga? Padahal barang belanjaannya sudah di antarkan satu jam yang lalu. Tapi orangnya malah belum pulang juga,"ujar Bu Lastri dengan mata yang terus tertuju pada jalan di depan rumahnya. Berharap putrinya segera pulang.


"Mungkin sedang berteduh, Bu. Ibu lihat sendiri, di luar sedang hujan deras,"sahut Pak Parman yang juga menatap ke arah jalan.

__ADS_1


"Ibu khawatir, Pak. Baru kali ini Wulan keluar bersama seorang pria,"sahut Bu Lastri yang memang terlihat khawatir.


"Tapi, 'kan, ada Ayana dan Nak Dimas, Bu. Apalagi, Wulan, 'kan, keluar bersama dengan tunangannya,"sahut Pak Parman menenangkan Bu Lastri dan juga dirinya sendiri.


Bagaimanapun, sebagai seorang ayah, Pak Parman juga mengkhawatirkan putrinya. Namun berusaha terlihat tenang di hadapan istrinya, karena tidak ingin membuat istrinya semakin cemas..


"Walaupun ada mereka, tetap saja ibu merasa khawatir, Pak. Bisa saja, 'kan, mereka berpisah di jalan. Masa iya, pacaran barengan. Ya, nggak nyaman lah, Pak!"sahut Bu Lastri masih fokus pada jalan di depan rumahnya.


"Kalau ibu sangat khawatir, coba telepon aja, deh, Bu!"pinta Pak Parman setelah melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Iya, Pak,"sahut Bu Lastri segera mengambil handphone jadul nya yang cuma bisa SMS dan menelepon. Memencet tombol untuk mencari kontak Wulan lalu memencet ikon berwarna hijau untuk menghubungi Wulan. Namun sudah berkali-kali dihubungi tidak diangkat juga.


"Gimana, Bu? Apa belum diangkat juga?"tanya Pak Parman yang sudah beberapa kali melihat Bu Lastri memencet handphonenya, lalu menempelkan handphonenya di telinganya. Tak lama kemudian kembali mencet handphonenya dan kembali menempatkan nya di telinga.


"Nyambung, tapi nggak di angkat juga, Pak. Coba bapak hubungi Nak Diky! Ibu akan terus menghubungi Wulan,"sahut Bu Lastri.


"Baiklah, bapak akan menghubungi Nak Diky,"sahut Pak Parman kemudian mengambil handphonenya yang sama jadulnya dengan handphone Bu Lastri, untuk menghubungi Diky.


Diky merasakan handphone di saku celananya bergetar. Tapi tidak dihiraukan nya karena tidak ingin menyudahi pagutan bibirnya pada bibir Wulan yang semakin lama semakin membuatnya merasa candu. Namun karena handphone nya terus menerus bergetar, akhirnya dengan perasaan tidak rela, Diky melepaskan pagutannya di bibir Wulan dan melepaskan pelukannya pada Wulan.


Wulan nampak canggung setelah Diky melepaskan ciuman dan pelukannya. Gadis itu membenahi duduknya, dan juga membenahi rambut dan pakaiannya.


"Astagaa.. kenapa aku bisa seperti ini? Aku seperti kehilangan akal sehat dan kesadaran ku saat bang Diky mendekati aku. Apalagi saat bang Diky mencium aku. Bodohnya aku!"gumam Wulan dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang diam saja saat di cium Diky. Dan yang lebih parahnya lagi malah membalas ciuman Diky.


Diky mengambil handphone di dalam saku celananya dengan perasaan kesal karena merasa targanggu. Diky melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Bapak?"gumam Diky agak terkejut mengetahui siapa yang menghubunginya.


Diky langsung menerima panggilan masuk itu saat mengetahui yang menghubunginya adalah calon mertuanya.


"Halo, Pak!"ucap Diky sopan.Wulan nampak mempertajam pendengarannya karena penasaran dengan siapa Diky berbicara melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Nak Diky, kalian sekarang ada di mana?"tanya Pak Parman yang sedikit merasa lega saat Diky mengangkat telponnya. Bu Lastri juga merasa sedikit lega saat Pak Parman berhasil menghubungi Diky. Sedangkan Wulan tidak menyadari jika handphone di sling bag nya tadi terus bergetar karena Wulan meletakkan sling bag nya di atas kursi.


"Kami masih berteduh di depan sebuah warung, Pak. Mungkin sekitar setengah jam perjalanan lagi akan sampai di rumah. Nanti jika hujannya reda, kami akan segera pulang. Sepertinya, sebentar lagi hujannya akan segera reda,"sahut Diky seraya menatap langit. Saat ini hujan memang sudah tidak sederas tadi.


"Apa bapak yang menelpon bang Diky?"gumam Wulan dalam hati.


"Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan!"pesan Pak Parman.


"Iya, Pak,"sahut Diky kemudian panggilan telepon itu di akhiri oleh Pak Parman.


"Apa yang menelpon barusan adalah bapak, bang?"tanya Wulan menatap Diky sekilas kemudian menunduk.


"Iya. Bapak bertanya kita ada di mana. Setelah hujan reda, kita akan pulang,"ujar Diky yang baru saja memasukkan handphonenya di saku celananya. Diky menoleh pada Wulan, lalu kembali memeluk Wulan.


"Bang.."Wulan berusaha melepaskan pelukan Diky.


"Diam! Atau aku akan mencium kamu lagi!"ancam Diky membuat Wulan diam tidak berkutik.


"Kenapa bang Diky seperti ini? Apa orang pacaran itu, memang seperti ini? Jantung ku jadi tidak sehat setiap berdekatan dengan bang Diky,"gumam Wulan dalam hati.


"Shiitt! Bibirnya nikmat sekali. Aku jadi kecanduan untuk mencium bibirnya itu. Aihh.. rasanya ingin aku terkam saja gadis ini,"gumam Diky dalam hati. Merasa kecanduan setelah mencium bibir Wulan.


...🌟"Cinta bisa membuat candu lebih dari narkoba dan lebih memabukkan dari minuman keras. Bahkan cinta bisa membuat orang menjadi tidak waras."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2