
"Ay!"
Dimas mengedarkan pandangannya, hingga matanya tertuju pada bathtub. Dimas bergegas berlari ke arah bathtub.
"Ay!"teriak Dimas saat melihat seluruh tubuh Ayana berada dalam air di dalam bathtub yang penuh. Dimas cepat-cepat mengeluarkan Ayana yang sudah tidak sadarkan diri dari dalam bathtub. Mengangkat tubuh Ayana dan dengan langkah cepat membawa Ayana ke atas ranjang.
"Ay! Apa yang terjadi padamu, Ay!"ucap Dimas meletakkan tubuh Ayana di atas ranjang. Dengan wajah panik, dan takut, Dimas mencoba memberikan pertolongan pertama pada Ayana. Melakukan tehnik kompresi atau pijat dada dilengkapi dengan bantuan pernapasan mulut ke mulut.
"Ay, jangan menakut-nakuti aku seperti ini, Ay!"ucap Dimas terus memijat dada Ayana, kemudian memberikan napas buatan. Tanpa terasa Dimas menitikkan air mata.
"Ay, jangan tinggalkan aku seperti ini, Ay!"pinta Dimas seraya mengusap air matanya.
Setelah beberapa kali mencoba memijat dada Ayana dan memberikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut, akhirnya Ayana terbatuk-batuk dan memuntahkan air.
"Ay, akhirnya kamu sadar juga, Ay! Jangan lakukan ini lagi, Ay! Kamu benar-benar menakuti aku, Ay!"ucap Dimas seraya memeluk Ayana erat.
Melihat Ayana tenggelam di dalam bathtub, benar-benar membuat Dimas ketakutan. Rasanya jantung Dimas ikut berhenti berdetak.
"𝙎𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙨𝙞𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠? 𝙆𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙡𝙞𝙢𝙥𝙖𝙝𝙞 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙞𝙣𝙙𝙖𝙧 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪? 𝙃𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞, 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙠𝙝𝙖𝙬𝙖𝙩𝙞𝙧 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪. 𝘼𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙖𝙠𝙖𝙠?"gumam Ayana dalam hati.
Setelah beberapa saat memeluk Ayana, akhirnya Dimas melerai pelukannya. Memegang kedua pipi Ayana dan menatap wajah Ayana.
"Kenapa sampai tenggelam di bathtub? Hemm? Apa ada yang sakit?'"tanya Dimas lembut masih dada kekhawatiran di wajahnya.
Ayana tidak menjawab pertanyaan Dimas. Gadis itu hanya menundukkan pandangannya, tidak mau menatap Dimas. Dimas bingung dengan reaksi Ayana, namun tidak ingin memaksa Ayana untuk menjawab. Tidak ingin membuat Ayana tertekan.
"Tidak apa jika kamu tidak ingin menjawabnya sekarang. Biar aku bantu untuk mengganti pakaian kamu. Pakaian kamu basah semua,"ucap Dimas yang bajunya sendiri juga basah.
"Tidak usah, aku bisa sendiri,"tolak Ayana dengan wajah sendu, beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan lagi mengunci pintunya, Ay!"pinta Dimas, menatap Ayana yang masuk ke dalam kamar mandi,"Ada apa dengan kamu, Ay? Aku merasa ada yang kamu sembunyikan dariku,"gumam Dimas.
Ayana menyandarkan kepalanya di balik pintu kamar mandi. Air matanya kembali menetes,"Aku tidak akan memaksa kakak untuk bertahan denganku,"gumam Ayana menghapus air matanya.
Setelah kejadian Ayana tenggelam di dalam bathtub tadi, Ayana lebih banyak diam. Walaupun Dimas sudah mencoba mengajak Ayana mengobrol, Ayana nampak tidak bersemangat.
"Ay, ini gaun kamu. Apa kamu suka?"tanya Dimas menunjukkan gaun berwarna golden. Mengeluarkan gaun itu dari dalam kotak. Gaun yang simpel, tapi terlihat indah dan elegan.
"Aku suka,"sahut Ayana tersenyum tipis yang nampak dipaksakan. Tidak ada keceriaan lagi di wajah cantiknya.
"Dan ini sepatunya,"ucap Dimas setelah meletakkan gaun yang dipegangnya, menunjukkan sepatu di dalam kotak, yang berwarna senada dengan gaun tadi,"Jika tidak suka, katakan saja! Masih ada waktu untuk mencari yang lain,"ucap Dimas.
"Aku menyukainya,"sahut Ayana kembali tersenyum tipis.
Dimas kembali meletakkan sepatu itu. Reaksi Ayana yang tidak seantusias seperti biasanya membuat Dimas bingung sendiri.
"Aku ingin bertanya banyak hal pada kakak, tapi aku yakin, kakak tidak akan menjawabnya. Jadi, aku rasa aku tidak perlu menanyakannya lagi pada kakak. Aku ke kamar mama dulu. Mama. bilang, kami.akan di rias di kamar mama,"ucap Ayana, kemudian keluar dari kamar itu meninggalkan Dimas yang tertegun.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada Ayana selama aku pergi tadi? Kenapa dia jadi berubah seperti itu. Dan menanyakan pertanyaan yang pasti tidak akan aku jawab?"gumam Dimas yang benar-benar gelisah karena sikap Ayana yang berubah drastis.
Tidak ada lagi istri kecilnya yang ceria, penuh semangat dan menggemaskan. Yang selalu bermanja dan menempel pada dirinya. Dimas merasa ada yang hilang dari diri Ayana, dan Dimas merindukannya.
Ayana membawa dua kotak yang berisi gaun dan sepatu itu ke kamar mamanya. Ayana mengetuk pintu kamar hotel yang ditempati oleh mama dan papanya itu. Tak lama kemudian, mamanya pun membukakan pintu.
"Masuk!"ucap Hilda, setelah Ayana masuk, Hilda pun menutup kembali pintu kamarnya. Ayana melirik sepintas ke arah Bening yang sedang di rias.
"Mama sudah menyiapkan gaun untuk kamu,"ucap Hilda seraya berjalan ke arah stand hanger gawang. Mengambil sebuah gaun berwarna peach dan menunjukkan nya pada Ayana.
"Kakak sudah menyiapkan gaun untuk aku, ma. Aku akan memakai gaun yang disiapkan kakak untuk aku,"ucap Ayana.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Ayana, Bening menatap Ayana dari cermin di depannya.
"𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙜𝙖𝙪𝙣?"gumam Bening dalam hati.
"Yang kamu bawa itu?"tanya Hilda,"Sini biar mama lihat,"ujar Hilda mengambil kotak yang di bawa Ayana.
Hilda nampak terkejut melihat gaun yang dibawa Ayana, namun cepat-cepat menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Ini apa?"tanya Hilda mengambil kotak satunya.
"Sepatu,"sahut Ayana.
Hilda kembali membuka kotak satunya. Wanita paruh baya itu kembali terkejut. Sepatu yang dibawa Ayana, selain berwarna senada dengan gaun yang dibawa Ayana, sepatu itu juga bisa dipastikan Hilda harganya mencapai puluhan juta.
"𝙐𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙚𝙨 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙞𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙗𝙞𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝘼𝙏𝙈 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙥𝙖𝙥𝙖? 𝙏𝙖𝙥𝙞, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙞 𝙜𝙖𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙖𝙩𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙛𝙖𝙨𝙝𝙞𝙤𝙣. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣, '𝙠𝙖𝙣, 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙛𝙖𝙨𝙝𝙞𝙤𝙣? 𝘼𝙝, 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝𝙡𝙖𝙝! 𝙉𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙚𝙨 𝙥𝙖𝙠𝙖𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪,"gumam Hilda dalam hati, merasa penasaran.
Notebook
CPR (Resusitasi jantung paru-paru) adalah salah satu pertolongan pertama gawat darurat secara medis yang dilakukan pada orang yang mengalami henti jantung karena sebab-sebab tertentu.
CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada dada. Memberikan napas bantuan dari mulut ke mulut, dengan cara menjepit hidung korban menggunakan tangan. Berikan udara dari mulut Anda sebanyak 2 kali ke pasien.
CPR yang pertama dilakukan dengan menggunakan teknik kompresi atau pijat dada dilengkapi dengan bantuan pernapasan mulut ke mulut. Pada pasien dewasa, umumnya kompresi dada dilakukan dengan kecepatan 100-120 tekanan per menit. Tekanan pada dada dilakukan dengan kedalaman 5 sentimeter ke bawah.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1