
Ayana terbangun dari tidurnya dengan wajah yang terlihat cerah. Gadis yang sudah bersuami, tapi masih perawan itu menatap wajah suaminya yang tampan dengan senyuman merekah di bibirnya. Mengingat ungkapan perasaan suaminya semalam, Ayana benar-benar merasa bahagia. Ayana mengecup bibir dan pipi suaminya yang masih terlelap itu.
"Em.. Ay.."gumam Dimas yang terbangun karena kecupan Ayana di bibir dan pipinya.
"Aku akan memasak untuk kakak,"ucap Ayana.
"Hum,"sahut Dimas tanpa membuka matanya karena merasa masih mengantuk.
Ayana kembali mengecup bibir dan pipi Dimas, kemudian turun dari ranjang. Dengan mata yang masih terpejam kedua sudut bibir Dimas nampak tertarik ke atas.
Ayana berjalan menuju dapur dengan hati yang riang. Gadis itu memeriksa isi kulkas dan memilih bahan masakan yang diinginkannya. Dengan cekatan dan senyum yang tersemat di bibirnya, Ayana mulai memasak.
"Eh, non Ayana sudah bangun,"sapa pelayan di rumah Ayana.
"Iya, Bik. Aku ingin memasak untuk sarapan pagi ini,"ucap Ayana dengan riang.
"Mau masak apa, non?"tanya pelayan paruh baya itu.
"Mau masak nasi uduk, Bik,"sahut Ayana.
"Boleh, bibi bantu?"tanya pelayan itu.
"Boleh, Bik. Boleh, pakai banget,"sahut Ayana dengan senyuman manis.
"Apa saja lauk pelengkap nasi uduknya, non?"tanya pelayan itu.
"Kering kentang, tempe kacang orek, bihun goreng, tempe goreng tepung, sambal goreng ati ampela, perkedel kentang, telur dadar, kerupuk udang. Terus, karena nggak ada Ayam di lemari es, aku mau bikin telur balado aja,"sahut Ayana dengan lancar mengatakan apa saja yang ingin dimasak nya.
"Baik, apa yang bisa bibi bantu?"tanya pelayan itu.
"Tolong rebus sebagian kentang dan sebagian lagi diiris tipis-tipis. Rebus telur dan bihunnya. Potong-potong tempe untuk orek nya, lalu digoreng. Setelah itu, nanti saya kasih tahu lagi,apa yang bisa bibi bantu buat saya,"ucap Ayana menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh pelayan di rumahnya itu.
Dengan cekatan, Ayana meracik semua bumbu untuk masakan yang akan dibuatnya. Pelayan di rumahnya itu nampak kagum pada Ayana. Gadis yang masih belia itu melakukan pekerjaannya dengan cepat dan terlihat lihai.
Sekitar dua jam kemudian, semua yang dimasak oleh Ayana telah matang. Ayana menata masakan nya dengan penampilan yang terlihat menggoda dan menggugah selera.
"Bik, semuanya sudah selesai. Tolong tata di meja makan, ya, Bik! Aku mau mandi dulu. Badanku rasanya lengket dan bau bawang,"ujar Ayana.
"Iya, non. Serahkan saja pada bibi. Non Ayana mandi saja sana! Nggak enak kalau Tuan Dimas mencium non Ayana, tapi non Ayana malah bau bawang,"ujar pelayan itu kemudian terkekeh.
"Iya, Bik,"sahut Ayana ikut terkekeh,"Eh Bik, tolong bungkus sebagian masakan ini untuk saya, ya, Bik! Nanti pengen saya bawa pulang,"pinta Ayana menunjukkan masakan yang masih tersisa banyak di dapur.
__ADS_1
"Baik, non,"sahut pelayan paruh baya itu.
Setelah berpesan pada pelayan untuk membungkus sebagian masakan untuk dibawanya pulang, Ayana bergegas kembali ke kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Ayana melihat Dimas masih terlelap. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat Ayana keluar dari kamar mandi, Dimas baru saja bangun.
"Kakak sudah bangun?"tanya Ayana seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hum,"sahut Dimas kemudian menguap. Pria itu terlihat masih mengantuk.
"Ya sudah, mandi sana, gih! Kita akan sarapan bersama,"ujar Ayana.
"Hum,"sahut Dimas beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Di lantai bawah, pelayan yang membantu Ayana memasak tadi sudah selesai menata masakan Ayana di atas meja makan. Pelayan itu kemudian mulai membersihkan dapur di bantu pelayan yang lain.
Tidak beberapa lama kemudian, Geno, Hilda, Nando dan Bening nampak masuk ke ruangan makan itu. Empat orang itu menatap hidangan yang tersusun rapi di meja makan itu dengan wajah berbinar. Hidangan yang tersaji di meja makan itu terlihat menggoda dan menggugah selera.
"Waahh.. pagi ini menu sarapannya terlihat menggiurkan dan aromanya juga begitu menggoda,"ujar Nando yang nampak berselera menatap masakan yang tersaji di atas meja makan.
Keempat orang itu kemudian duduk di depan meja makan. Tak lama kemudian, Ayana dan Dimas pun masuk ke ruangan makan. Sepasang suami-isteri itu memakai celana jeans berwarna biru, dipadukan dengan kaos berwarna putih. Sepanjang suami istri itu juga memakai jaket kulit dengan warna yang senada. Ayana nampak bergelayut manja di lengan Dimas seperti biasanya. Bening yang melihat kemesraan sepasang suami-isteri itu pun menjadi iri.
Seperti biasanya, Ayana mengambilkan makanan untuk Dimas. Melihat itu, Geno pun meminta Hilda mengambilkan makanan untuknya. Bening yang melihat apa yang dilakukan kedua perempuan itu pun akhirnya ikut mengambilkan makanan untuk Nando.
Seperti kemarin, Bening masih saja mencuri pandang pada Dimas. Perempuan itu membulatkan matanya saat tanpa sengaja melihat kiss mark yang di buat Ayana di leher Dimas semalam. Kiss mark itu terlihat sangat jelas di leher Dimas karena berwarna merah keunguan.
"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙟𝙖𝙡*𝙣𝙜! 𝘽𝙞𝙨𝙖-𝙗𝙞𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙞𝙨𝙨 𝙢𝙖𝙧𝙠 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙙𝙞 𝙡𝙚𝙝𝙚𝙧 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"umpat Bening dalam hati.
Ayana mengulum senyum, merasa senang saat melihat wajah Bening menjadi suram setelah melihat leher Dimas. Rencananya membuat panas hati Bening berhasil.
Pagi itu semua makan dengan tenang. Masakan yang terasa pas di lidah, membuat mereka enggan bicara. Lebih memilih menikmati makanan yang tersaji dari pada berbincang sambil makan. Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai menyantap sarapan pagi mereka.
"Bik, mana pesanan aku tadi, Bik?"tanya Ayana pada pelayan yang membantunya memasak tadi.
"Ini, non. Sudah siap,"sahut pelayan itu memberikan satu kantong plastik pada Ayana.
"Terimakasih,"Bik,"ucap Ayana tersenyum manis.
"Sama-sama, non,"sahut pelayan itu.
"Apa itu?"tanya Nando yang penasaran melihat kantong yang berikan pelayan pada Ayana.
__ADS_1
"Makanan. Sama seperti yang kita makan tadi,"sahut Ayana.
"Kalian mau pulang pagi ini?"tanya Geno.
"Iya, pa,"sahut Dimas.
Dimas dan Ayana pun menyalami dan mencium punggung tangan Geno dan Hilda secara bergantian. Kemudian pamit pulang.
"Bik, semua menu masakan ini masih ada, nggak?"tanya Geno menunjuk ke meja makan.
"Masih, Tuan,"sahut pelayan itu.
"Tolong buatkan saya bekal dari menu sarapan pagi ini, Bik!"pinta Geno.
"Buatkan juga untuk saya, Bik!"pinta Hilda.
"Aku juga mau, Bik,"sahut Nando,"Kamu mau, sayang?"tanya Nando pada Bening.
"Hum,"sahut Bening tersenyum tipis pada Nando. Beningnya masih merasa kesal setelah melihat kiss mark di leher Dimas tadi.
"Baik, akan saya buatkan,"ucap pelayan itu bergegas membuatkan bekal untuk majikannya.
Tidak lama kemudian, pelayan itupun kembali membawa empat bekal makanan untuk majikannya.
"Lain kali masak lagi seperti ini, ya, Bik!"pinta Nando.
"Maaf, Tuan. Ini semua bukan saya yang memasak. Ini semua dimasak oleh nona Ayana. Bibi hanya membantu saja,"sahut pelayan itu.
"Ayana yang masak semua ini, Bik?"tanya Hilda dan Nando bersamaan dengan ekspresi tidak percaya.
"Iya, Tuan, nyonya,"sahut pelayan itu.
Geno tersenyum mengetahui yang memasak adalah Ayana. Geno sudah menduga sebelumnya. Karena pelayan di rumahnya tidak pernah memasak menu seperti tadi, dan Geno tahu jika Ayana pandai memasak.
"𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙡"𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙨𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙞𝙣𝙞,"gumam Bening yang tidak terima Ayana bisa memasak seenak tadi.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1