
Setelah berhasil menjebak Rengganis, ternyata Tony kembali membeli barang terlarang dan malam harinya menjual barang terlarang itu di klub malam. Anak buah Diky menyamar menjadi pelanggan baru Tony dan mendapatkan beberapa bukti jika Tony adalah pengedar.
Semua itu karena sebegitu Nando menelpon, Diky langsung menggerakkan anak buahnya untuk menyelidiki Tony, sehingga bisa mendapatkan bukti dengan cepat.
Setelah malam itu Diky mengantongi bukti bahwa Tony adalah seorang pengedar, keesokan harinya Diky memasuki kampus tempat Wulan menuntut ilmu dengan beberapa orang anak buahnya. Tentu saja Diky dan anak buahnya tidak memakai pakaian layaknya detektif ataupun pakaian formal yang akan mengundang perhatian semua orang. Diky dan anak buahnya menyamar dengan berbagai modus. Dari sales yang menawarkan produk makanan ke kantin kampus, petugas kebersihan, pengantar air mineral, teknisi komputer dan juga ada yang menyamar sebagai mahasiswa. Dan salah satu yang menyamar sebagai mahasiswa adalah Diky.
Mereka semua bekerja dengan cepat mencari bukti. Dan yang pasti adalah, mereka meretas cctv yang ada di kampus itu. Informasi yang diberikan Nando kemarin sangat membantu Diky dalam penyidikan. Hingga hari ini tinggal mencari bukti di kampus tempat Rengganis menuntut ilmu.
Wulan nampak keluar dari toilet seraya melihat handphonenya karena terdengar ada suara notifikasi pesan masuk. Setelah membaca pesan masuk itu, Wulan pun memasukkan handphonenya ke dalam tasnya.
"Emp.. em.."
Tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulut Wulan dan menarik tubuh Wulan ke arah tempat yang sepi. Wulan berusaha berontak, namun tidak bisa.
"Siapa orang ini? Apa yang akan dilakukan orang ini padaku? Ya Tuhan.. tolonglah hamba-Mu ini!"gumam Wulan dalam hati, masih berusaha melepaskan diri.
"Brugk"
Tiba-tiba orang yang membekap Wulan itu memojokkan Wulan di dinding dengan sebelah tangan yang masih membekap mulut Wulan. Wulan melihat seorang pria berambut gondrong, berkacamata tebal dengan tahi lalat di bibirnya, tersenyum smirk padanya.
"Aroma ini.. aku merasa familiar dengan aroma tubuh ini,"gumam Wulan dalam hati. Mengamati pria yang ada di depannya itu.
Tiba-tiba pria itu membuka bekapan tangannya di mulut Wulan dan langsung mencium Wulan agresif. Wulan sempat terkejut dengan tindakan tiba-tiba pria di depannya itu. Namun sesaat kemudian, Wulan malah membalas ciuman orang di depannya itu. Bahkan dengan nakal tangan kanan Wulan mulai merayap di leher pria di depannya itu. Sedangkan tangan kirinya mulai merayap di dada, membuka tiga kancing kemeja bagian atas dari pria di depannya itu. Sesekali ciuman mereka terlepas, kemudian kembali bertautan lagi. Tangan Wulan terus merayap ke bawah dan bergerak dengan nakal membuka resleting celana pria yang sedang berciuman dengan dirinya itu.
"Ughhh.."lenguuh pria itu saat Wulan mengelus sesuatu di bawah sana.
__ADS_1
"Karena Abang begitu jahil, maka selesaikan saja sendiri!"bisik Wulan di telinga pria di depannya itu setelah berhasil membuat sesuatu di bawah sana berdiri dengan tegak.
"Auwh" pekik pria yang tidak kain adalah Diky itu, saat Wulan menginjak kakinya lumayan kuat.
Diky meringis memegangi kakinya yang diinjak Wulan. Sedangkan Wulan langsung berlari meninggalkan Diky.
"Rasain, tuh, Abang! Siapa suruh ngerjain aku? Abang pikir aku ini bisa di tipu apa? Menyamar, lalu mendatangi aku. Membekap aku sudah seperti mau menculik orang. Abang pikir, aku tidak bisa mengenali dia, apa?"gerutu Wulan seraya berjalan menuju ruangan kelasnya,"Eh, kenapa aku tadi begitu berani, ya?"gumam Wulan malu sendiri saat mengingat dirinya tadi dengan sengaja menggoda suaminya.
Karena kesal pada Diky Wulan mengerjai balik suaminya itu. Wulan malah tanpa sengaja bertindak agresif menggoda Diky yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya.
"Shiitt! Awalnya aku mau mengerjai dia, kenapa malah aku yang dikerjainnya? Apa penyamaran ku sekarang benar-benar buruk? Selama ini tidak ada yang bisa mengenali aku, jika aku sedang menyamar. Kenapa Wulan dengan mudah bisa mengenali aku? Sepertinya aku harus memperbaiki penyamaran ku,"gumam Diky kemudian merapikan pakaiannya. Mengancingkan kembali.kemejanya dan menaikkan resleting celana nya.
"Kenapa tadi dia begitu berani? Biasanya dia malu-malu. Tapi aku suka,"gumam Diky dengan senyuman di wajahnya,"Tunggu saja! Akan aku habisi kamu malam ini!"gumam Diky seraya mengelus sesuatu di bawah sana yang sempat terbangun karena ulah nakal Wulan.
Diky kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena tadi melihat istrinya dan terlintas ide untuk menjahili istrinya. Namun nyatanya malah berakhir dengan dirinya yang dikerjai balik oleh istrinya.
Setelah keluar dari kampus itu, Diky bergegas menuju kantor polisi. Diky selalu datang ke kantor polisi dengan menggunakan topi, kacamata berwarna hitam, dan jaket kulit. Para polisi itu hanya mengenali Diky seperti itu. Tidak bisa melihat wajah Diky yang asli. Hanya para petinggi kepolisian saja yang tahu persis wajah Diky.
Kedatangan Diky selalu di sambut dengan baik oleh pihak kepolisian. Dengan koneksinya yang mengenal para petinggi kepolisian, Diky meminta hasil sidik jari di tas Rengganis dan di barang terlarang yang ditemukan di dalam tas Rengganis.
Walaupun Tony sudah menghapus sidik jarinya di barang terlarang itu, tapi polisi menemukan sidik jari Tony di tas Rengganis. Belum lagi bukti-bukti yang di dapatkan oleh Diky tentang Tony yang ternyata berhubungan dengan seorang pengedar barang terlarang.
Malam itu juga, pihak kepolisian melakukan penangkapan terhadap Tony. Sedangkan Rengganis akhirnya dibebaskan karena tidak ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa gadis itu seorang pengedar. Selain barang terlarang yang ada di dalam tasnya. Para mahasiswa yang melihat Tony mendatangi Rengganis dan sempat berdebat dengan Rengganis pun ikut memberikan kesaksian. Dan bukti kuat bahwa barang terlarang itu bukan milik Rengganis adalah rekaman cctv di depan kelas Rengganis yang menunjukkan tas Rengganis sempat terjatuh karena di tabrak mahasiswa lain. Semua isi tas itu keluar dan tidak ada barang terlarang di dalamnya. Namun setelah Tony masuk ke dalam kelas itu dengan gerak gerik yang mencurigakan, barang terlarang itu malah di temukan di tas Rengganis, namun tanpa ada sidik jari Rengganis.
Belum lagi konflik yang terjadi antara Rengganis dan Tony sebelumnya juga menjadi bukti kuat Tony menjebak Rengganis. Bahkan Axell pun di panggil polisi untuk memberikan kesaksian tentang Tony yang berniat melecehkan Rengganis.
__ADS_1
"Syukurlah! Akhirnya kamu bebas, Nis. Ibu sangat senang,"ucap Bu Ningsih memeluk Rengganis penuh rasa haru. Lalu menatap Nando, Diky, dan pengacara yang membantu Rengganis bebas."Terimakasih Nak Nando, Nak Diky, pak pengacara! Ibu tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kalian,"ucap Bu Ningsih tulus.
"Ini memang tugas saya, Bu,"sahut sang pengacara yang masih penasaran pada wajah Diky. Ingin sekali pengacara itu melihat wajah Diky tanpa dihalangi topi dan kacamata hitam yang lumayan besar itu. Agar bisa melihat wajah asli Diky. Tapi tidak berani mengungkapkan keinginannya, karena Diky memang tidak ingin wajah aslinya di ketahui banyak orang.
"Tidak perlu sungkan seperti itu, Bu,"sahut Nando.
"Iya, Bu. Tidak perlu sungkan,"sahut Diky.
"Terimakasih kak Nando, kak Diky, pak pengacara!"ucap Rengganis tulus.
"Sama-sama. Oh, ya, Nis, istriku dan adik kami juga kuliah di universitas yang sama dengan kamu. Istri ku bernama Wulan, dan adik kami bernama Ayana,"ujar Diky.
"Oh, aku tahu mereka. Tapi kami tidak saling kenal. Ayana gadis tercantik di kampus, dan Wulan adalah sahabat Ayana. Itu yang aku tahu,"sahut Rengganis.
"Ayana adalah adik kandung Nak Nando, dan adik angkat Nak Diky,"sahut Bu Ningsih menjelaskan.
"Ohhh.. begitu ternyata,"sahut Rengganis.
"Nak Nando ini adalah suami almarhum putri Ibu. Kamu harus banyak berterima kasih kepada Nak Nando. Sebab, semua uang yang ibu miliki saat ini adalah pemberian Nak Nando. Karena uang dari Nak Nando lah, kita bisa tinggal di kota, membuka usaha dan menguliahkan kamu. Dan sekarang, Nak Nando juga membantu kamu keluar dari penjara,"ujar Bu Ningsih apa adanya.
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Saya hanya memberikan hak Ibu, kok,"sahut Nando yang merasa Bu Ningsih terlalu melebih-lebihkan kebaikannya yang baginya tidak seberapa, tapi luar biasa bagi Bu Ningsih.
Rengganis yang mendengar penuturan Bu Ningsih pun terkejut. Tidak menyangka jika pria yang ada di depannya saat ini ternyata secara tidak langsung memiliki peran besar atas kehidupan nyaman yang didapatkannya akhir-akhir ini.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued