
"Boleh duduk di sini?"tanya seorang pemuda yang tiba-tiba duduk di sebelah Ayana.
Ayana menatap sekilas pemuda yang duduk di sebelahnya itu, kemudian kembali menunduk. Pemuda itu tersenyum penuh arti mendapatkan reaksi acuh dari Ayana.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu?"tanya pemuda itu lagi. Walaupun Ayana tampak acuh.
"Lagi sariawan, ya? Kok, diam aja,"goda pemuda itu setelah beberapa saat menunggu jawaban dari Ayana.
Dimas yang baru saja selesai mengambil makanan terkejut saat melihat seorang pemuda duduk di sebelah Ayana. Pria itu bergegas menghampiri Ayana.
"Ay!"panggil Dimas, kemudian menarik tangan Ayana lembut. Membawa Ayana ke kursi lain. Tidak suka istrinya di dekati pria lain.
"Sayang sekali sudah ada yang punya. Tapi kalau hanya pacaran... bisa putus, 'kan?"gumam pria itu menatap Ayana yang di bawa Dimas ke tempat lain.
"Ayo makan dulu! Aku tidak mau kamu sakit,"ujar Dimas seraya mengelus kepala Ayana dengan senyuman manis di bibirnya.
"Aku nggak selera, kak,"sahut Ayana terlihat lesu.
"Aku juga tidak akan makan, jika kamu tidak makan,"ujar Dimas yang meletakkan piring berisi makanan yang dipegangnya di atas meja.
"Baiklah, aku makan,"sahut Ayana yang tidak ingin lagi membuat Dimas melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya demi dirinya.
Mendengar sahutan Ayana, Dimas pun tersenyum dan kembali mengambil piring yang baru saja diletakkannya. Pria itu makan satu piring berdua dengan Ayana. Menyendok makanan untuk Ayana, kemudian untuk dirinya sendiri. Sesekali membersihkan makanan yang menempel di bibir Ayana. Terlihat sangat mesra, membuat orang-orang yang melihat sepasang suami-isteri itu menjadi iri.
"𝙎𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙪. 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙡𝙖𝙞𝙣. 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪, 𝙖𝙥𝙖 𝙥𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜? 𝘼𝙥𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙨𝙚𝙣𝙜𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙧𝙖𝙩 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙢𝙚𝙬𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨? 𝙈𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙥𝙪𝙩𝙪𝙨 𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙩𝙪?"gumam Bening sesekali menatap Dimas dari kejauhan secara diam-diam.
__ADS_1
Sebenarnya, Bening sangat mencintai Dimas. Namun, mengingat nama Dimas sudah di blacklist, Bening tidak yakin jika Dimas bisa memiliki pekerjaan yang bagus. Pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itulah, waktu itu Bening memilih pergi meninggalkan Dimas ke kota ini. Selain itu juga karena Bening ingin menghindari orang yang mengejar-ngejar dirinya di kota tempat Bening dan Dimas tinggal sebelumnya.
Tapi, tidak di sangka, Bening malah bertemu lagi dengan Dimas di kota ini. Dan lebih parahnya lagi, saat ini Dimas menjadi adik iparnya.
"Ay, aku ingin pergi ke toilet dulu. Kamu tidak apa-apa, 'kan, jika aku tinggal sebentar? Kamu bisa berkumpul dengan para perempuan yang ada di tempat ini,"pamit Dimas.
"Aku di sini aja, kak,"sahut Ayana yang sebenarnya juga tidak suka berada dalam pesta seperti saat ini.
"Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali,"ucap Dimas kemudian meninggalkan Ayana. Bergegas menuju toilet, bahkan pria itu berlari kecil ke toilet agar bisa secepatnya kembali pada Ayana.
Sebenarnya Dimas enggan untuk meninggalkan Ayana sendirian. Baru di tinggal mengambil makanan sebentar saja sudah ada yang mendekati istrinya, apalagi kali ini harus di tinggal ke toilet. Pasti akan agak lama. Namun tidak mungkin, Dimas menahan dirinya untuk pergi ke toilet.
Andai saja Toyib ikut menghadiri acara ini, pasti Dimas akan lebih tenang menitipkan Ayana pada Toyib. Namun Toyib menolak untuk hadir di pesta pernikahan Nando, karena merasa tidak biasa berkumpul dengan orang-orang kalangan atas. Toyib takut mempermalukan dirinya sendiri. Lagi pula, tidak ada yang Toyib kenal selain Dimas dan keluarga Ayana.
Menitipkan Ayana pada Hilda? Dimas takut Ayana akan dikenalkan dengan pria lain. Menitipkan pada Geno yang menyapa para rekan bisnisnya juga sama saja. Yang ada nanti ada rekan bisnis Geno yang naksir istrinya. Bukan posesif, hanya saja takut kehilangan.
"Hei! Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Sulit sekali menemui kamu,"ucap seorang pria yang langsung duduk di tempat duduk Dimas tadi.
Mendengar suara pria yang tiba-tiba duduk di sebelahnya, Ayana yang dari tadi menunduk pun mengangkat wajahnya menatap wajah pria di sampingnya. Seketika Ayana berdiri dari duduknya. Wajah Ayana menjadi pucat, tangannya mengepal erat. Gadis itu berjalan mundur.
"Ohoo.. kenapa reaksi kamu seperti itu?"tanya pria yang tidak lain adalah Noval. Pria itu agak terkejut melihat reaksi Ayana yang nampak ketakutan melihat dirinya.
Sudah lama Noval ingin bertemu Ayana, tapi tidak pernah berhasil. Dan saat mendapatkan undangan pesta pernikahan dari Nando, Noval sangat berharap bisa bertemu dengan Ayana. Namun dari tadi, Dimas tidak kunjung meninggalkan Ayana. Namun tadi Noval tidak sengaja melihat Ayana sendirian. Noval pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menghampiri Ayana.
"Pe.. pergi! Pergi! Ja.. jangan dekati aku!"ucap Ayana ketakutan, gadis itu terus berjalan mundur. Namun Noval malah beranjak dari duduknya dan berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Aku sudah berulang kali datang ke rumah kamu, tapi orang tuamu selalu memberi banyak alasan agar aku tidak bisa menemui kamu. Ternyata mereka menyembunyikan kamu,"ucap Noval terus berjalan mendekati Ayana.
"Per..pergi! Ja.. jangan mendekat!"ucap Ayana yang kini mulai menitikkan air mata.
Melihat Noval, membuat Ayana kembali teringat peristiwa yang membuat dirinya mengalaminya trauma. Pria ini lah yang menjadi titik awal terjadinya peristiwa yang membuat Ayana trauma sampai saat ini.
"Prang"
Ayana yang berjalan mundur pelan, tanpa sengaja menyenggol gelas kosong di atas meja. Suara gelas pecah itu pun mengundang perhatian orang-orang yang dekat dengan tempat Ayana berada. Perhatian mereka pun terarah ke pada Ayana dan Noval.
"Hati-hati! Kamu bisa terluka,"ucap Noval yang tidak ingin orang-orang berpikir macam-macam tentang dirinya. Walaupun tidak banyak orang yang memperhatikan mereka karena tidak terlalu mendengar suara gelas pecah tadi karena suara musik yang diputar di ruangan itu.
"Akkhh! Pergi! Pergi!"pekik Ayana saat Noval memegang tangannya. Gadis itu berusaha menghempaskan tangannya yang di pegang Noval.
Gadis itu semakin histeris dengan airmata yang sudah membasahi pipinya. Hingga semakin mengundang perhatian banyak orang.
"Hei! Ada apa dengan kamu? Kenapa kamu seperti itu. Kamu membuat semua orang salah paham padaku,"ucap Noval yang merasa tidak nyaman melihat tatapan semua orang yang melihatnya dengan tatapan curiga.
Mendengar ada keributan dan kerumunan orang di pojok ruangan itu, Hilda dan Geno pun bergegas menuju kerumunan orang itu. Sedangkan Nando dan Bening juga penasaran dengan apa yang terjadi di pojok ruangan itu.
"Pergi! Pergi!"pekik Ayana terus mundur dengan air mata yang terus menetes. hingga akhir gadis itu terjatuh. Memeluk lututnya dengan tubuh yang bergetar.
"Ada apa ini?"
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued