SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
257. Lebih Dekat


__ADS_3

Setelah dua malam menginap di rumah Geno, Ayana dan Dimas akhirnya kembali ke rumah kontrakan mereka. Rumah yang tidak terlalui besar. Hanya terdapat dua kamar, ruangan tamu, ruangan makan, tiga kamar mandi dan dapur. sebatang pohon jambu air di depan rumah dan sebatang pohon mangga di belakang rumah. Rumah yang terlihat asri dan nyaman.


"Ini rumah kontrakan kita?"tanya Dimas seraya melihat ke sekelilingnya.


"Hum. Ayo masuk! Coba kakak tebak dimana kamar kita,"ujar Ayana berjalan masuk ke dalam rumah seraya menarik tangan Dimas penuh senyuman.


Saat masuk ke dalam rumah itu, Dimas memang merasa familiar dan nyaman dengan tempat itu. Ayana membiarkan Dimas berjalan lebih dulu dan mengikuti kemanapun langkah kaki Dimas. Hingga Dimas membuka pintu kamar mereka. Dimas melihat foto-foto kebersamaannya dengan Ayana. Foto mereka berdua yang terlihat mesra dan bahagia. Dimas membuka lemari pakaian dan melihat pakaian pria dan wanita yang tersusun rapi di dalamnya.


"Kak, apa kakak mau pergi ke rumah Pak Parman? Di belakang toko Pak Parman ada kolam ikan dan juga kebun sayuran, aku ingin makan rame-rame di sana bersama Abang dan kak Bunga, babang dan Wulan. Kakak masih ingat, 'kan, pada Bu Lastri dan Pak Parman?"


"Iya. Aku ingat. Mereka mengunjungi aku beberapa kali di rumah sakit. Jika kamu mau pergi, aku akan menemani kamu,"sahut Dimas dengan seulas senyum.


"Okey. Aku akan menghubungi mereka dulu, kapan kira-kira bisa kumpul bareng,"sahut Ayana terlihat antusias.


Memiliki kegiatan masing-masing dan tinggal di tempat terpisah membuat Dimas, Ayana, Toyib dan Diky agak kesulitan untuk berkumpul bersama seperti dulu. Apalagi sama-sama sudah berkeluarga. Berbeda dengan ketika Toyib dan Diky belum menikah dan masih tinggal dalam satu rumah dengan mereka dulu.


Waktu terus berputar, sedikit demi sedikit akhirnya Dimas bisa kembali mengingat masa lalunya. Hal itu tidak terlepas dari usaha Ayana yang begitu telaten membantu Dimas mengingat masa lalunya. Mengulang semua hal yang pernah mereka lakukan, kecuali berboncengan motor. Karena terlalu berbahaya jika bumil yang sedang hamil besar seperti Ayana harus berboncengan motor.


Awalnya Ayana takut jika Dimas akan kehilangan ingatannya selamanya. Karena waktu itu dokter mengatakan bahwa amnesia yang diderita Dimas bisa sementara, bisa juga permanen alias selamanya. Sehingga waktu itu Ayana sempat berkecil hati. Karena waktu itu Dimas sempat enggan saat didekati Ayana. Dan tentu saja hal itu membuat Ayana merasa sangat sedih.


Selama enam bulan Ayana menunggu, merawat dan menjaga Dimas dalam keadaan koma. Sedangkan Ayana sendiri dalam keadaan mengandung yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya. Namun setelah Dimas sadar, Dimas malah tidak mengingat dirinya, bahkan nampak enggan dan canggung saat didekati Ayana. Tentu saja hal itu membuat Ayana merasa sangat sedih.


Namun sekarang Ayana dapat merasa lega dan kembali ceria serta merasa bahagia karena Dimas sudah hampir mengingat semua masa lalunya.


Dimas pun mulai pergi ke perusahaan Buston. Namun Dimas hanya setengah hari saja membantu di perusahaan Buston.Hal itu karena saat ini kandungan Ayana sudah menginjak sembilan bulan.


Dengan bangga Buston memperkenalkan Dimas kepada seluruh karyawan nya dan juga semua rekan bisnisnya bahwa Dimas adalah putra sulungnya.


Axell juga merasa bangga memiliki kakak seperti Dimas yang sudah dikenal dan dipuji-puji di kalangan pebisnis karena kecerdasan Dimas dalam berbisnis. Axell juga belajar banyak hal dari kakaknya itu. Dan Axell semakin dekat dengan Dimas karena Dimas memang orang yang supel, rendah hati dan juga tidak pelit berbagi ilmu. Axell sering meminta pendapat dan minta diajari cara berbisnis pada Dimas.Tidak sedikitpun ada rasa iri ataupun dengki di hati Axell pada Dimas. Hanya ada rasa senang dan bangga bisa memiliki kakak seperi Dimas.


Sangat berbeda dengan Delvin yang belum juga bisa menerima Dimas sebagai kakaknya. Penyebabnya adalah karena sampai saat ini Delvin masih belum bisa move on dari Ayana.

__ADS_1


Axell berjalan menuju ruangan yang khusus disediakan Buston untuk Dimas. Axell selalu antusias jika bertemu dengan kakaknya itu. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Axell pun segera masuk ke ruangan kakaknya itu. Axell melihat kakaknya sedang mengetik di laptopnya dengan gerakan jemari tangan yang sangat lincah dan cepat. Sedangkan mata Dimas nampak fokus pada layar laptopnya.


"Kak!"sapa Axell dengan senyuman cerah.


"Eh, kamu, Xell"sahut Dimas yang mengalihkan pandangannya dari laptopnya pada Axell.


"Kak, bisa koreksi proposal aku, nggak?"tanya Axell seraya meletakkan sebuah map di atas meja Dimas.


"Coba kamu jelaskan dulu isi proposal kamu ini!"pinta Dimas.


Dimas mengambil map itu dan membaca isinya sambil mendengarkan penjelasan Axell. Pria itu nampak menandai beberapa poin yang ada di dalam proposal itu.


Setelah mendengar penjelasan dari Axell, Dimas pun memberikan pendapat pada Axell tentang poin-poin yang harus diperbaiki oleh Axell. Dan untungnya Axell juga cepat mengerti dengan penjelasan Dimas.


"Terimakasih, kak! Aku paling suka kalau minta pendapat dan penjelasan dari kakak. Aku merasa lebih cepat paham jika kakak yang menjelaskan dari pada papa yang menjelaskannya padaku,"ucap Axell jujur.


"Kamu terlalu berlebihan. Mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan papa yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dalam dunia bisnis. Mungkin karena kamu merasa segan untuk bertanya pada papa, sedangkan pada ku, kau merasa lebih bebas untuk bertanya,"


"Inilah yang aku suka dari kakak. Kakak selalu saja merendah,"


"Belum ada yang cocok, kak. Apa kakak punya rekomendasi buat aku? Cewek yang mau menerima aku apa adanya, tanpa memandang siapa aku dan berapa kekayaan ku. Seperti kakak ipar yang mencintai kakak dengan tulus dan tidak meninggalkan kakak bagaimanapun keadaan kakak,"


"Aku tidak punya rekomendasi. Tapi, aku lihat kamu akrab dengan Rengganis,"ujar Dimas yang ingin tahu bagaimana perasaan Axell pada Rengganis. Mengingat Nando yang tidak berniat mendekati Rengganis karena mengira Rengganis dan Axell saling menyukai.


"Aku hanya merasa cocok aja kalau ngobrol sama dia, kak. Nggak ada hubungan spesial selain pertemanan,"


"Mungkin saja bukan, dari cocok akan jadi suka,"ujar Dimas yang ingin Axell mengatakan tentang perasaannya yang sebenarnya pada Rengganis.


"Enggak, kak. Sebenarnya, aku pernah menyukai seseorang. Tapi, dia sudah menikah dengan orang lain,"sahut Axell tersenyum kecut.


"Kamu masih menyukai dia? Atau mungkin.. kamu masih mengharapkan dia?"

__ADS_1


"Tidak, kak. Karena, sejak awal, dia memang menghindari aku. Dia mengatakan bahwa kami jauh berbeda. Jadi, sejak awal dia memang menghindar aku,"


"Yakin jika kamu tidak akan menyukai Rengganis?"


"Tidak, kak. Lagipula, Kak Nando seperti menyukai Rengganis. Kak Nando yang lebih berhak memiliki Rengganis. Kak Nando telah banyak membantu Rengganis dan berjasa bagi kehidupan Rengganis dan Bu Ningsih,"


"Tapi, sepertinya Rengganis menyukai kamu,"


"Benarkah? Aku, kok, enggak merasa, ya, kak?"


"Kalau kamu nggak ngerasa, berarti kamu nggak peka. Pantas saja jadi perjaka tua,"ledek Dimas terkekeh kecil.


"Sembarangan! Umurku belum sampai kepala tiga, kak. Jadi, aku belum tergolong sebagai perjaka tua,"


"Tapi aku dengar, mama ingin menjodohkan kamu dengan salah seorang putri pebisnis,"


"Aku lihat dulu bagaimana orangnya. Kalau kami sama-sama suka, aku akan membuat janji pranikah di depan dia dan kedua orang tuanya. Aku tidak mau, dia menikah dengan aku hanya karena harta ku. Jika mereka setuju, aku akan melanjutkan hubungan dengan dia,"


"Begitu juga bagus,"


"Kakak akan ikut kami ke perusahaan xx, 'kan?"


"Hum,"


"Kita, satu mobil saja, ya, kak? Jarang kita bisa bersama lebih lama. Kalau kita satu mobil, kita bisa berbincang lebih lama,"ujar Axell penuh harap Dimas mau satu mobil dengan dirinya.


Axell merasa nyaman jika bersama Dimas. Sayangnya Dimas ditempatkan di perusahaan induk, sedangkan Axell di perusahaan cabang. Jadi, mereka jarang bertemu. Apalagi Dimas juga cuma menginap seminggu sekali di rumah Buston.


"Okey,"sahut Dimas membuat Axell tersenyum cerah.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2