
"Kak, kenapa kakak tidak menceritakan semuanya pada kakak, sekalian pada mama dan papa?"tanya Ayana membuat semua orang menatap Ayana.
"Menceritakan semuanya pada kami? Apa maksud kamu, Ay? Apa masih ada yang belum kalian ceritakan pada kami?"tanya Hilda penasaran.
"Memang ada yang belum aku ceritakan, ma. Awalnya aku tidak ingin menceritakan tentang ini. Karena aku tidak ingin ada kecanggungan di dalam keluarga kita. Tapi, mendengar kak Nando sudah mantap mengambil keputusan, untuk menceraikan istrinya, aku akan menceritakan sesuatu yang selama ini tidak kalian ketahui. Sebenarnya, aku adalah mantan pacar Bening,"ucap Dimas menghela napas panjang.
Geno, Hilda dan Nando nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Mereka benar-benar tidak menduga jika Dimas adalah mantan pacar Bening. Pasalnya, selama ini Dimas bersikap seperti orang asing kepada Bening. Bahkan terlihat enggan untuk berinteraksi apalagi berdekatan dengan Bening. Pria itu juga terlihat sangat menjaga batasan sebagai adik ipar.
"Kamu mantan pacar Bening?"tanya Hilda menatap Dimas, kemudian beralih menatap Ayana,"Apa kamu tahu dari awal kalau Dimas adalah mantan pacar Bening, Ay?"tanya Hilda.
"Iya, ma. Aku tahu sejak kak Dimas pertama kalinya bertemu dengan perempuan itu di kota ini,"sahut Ayana.
"Baru pertama kali bertemu di kota ini? Maksud kamu?"tanya Hilda semakin penasaran.
"Dulunya, aku dan Bening tidak tinggal di kota ini, ma. Kami tinggal di kota xx. Kami bekerja di perusahaan xx. Hingga kami saling mengenal dan akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, di perusahaan itu, teman satu kantor ku ada yang selalu iri dan ingin menjatuhkan aku. Orang itu selalu bersaing dengan aku, hingga akhirnya mendekati Bening. Tapi Bening tidak menanggapinya karena waktu itu dia berpacaran dengan aku. Hingga suatu hari, kami di culik teman satu kantor kami itu. Orang itu meminta aku menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa aku telah menggelapkan uang perusahaan. Mereka mengancam akan melecehkan Bening secara bergiliran di depan mata ku, jika aku tidak mau menandatangani surat pernyataan itu. Dengan terpaksa, akhirnya aku menandatangani surat pernyataan itu dan mengembalikan uang yang tidak pernah aku gelapkan. Karena jika aku tidak mengembalikan semua uang yang digelapkan temanku itu, aku akan di penjara. Hingga akhirnya aku di pecat dari perusahaan, karena masalah itu. Namaku di blacklist dan aku jatuh miskin. Dan yang lebih menyakitkan, sejak kejadian itu Bening tidak pernah bisa aku hubungi ataupun aku temui. Dia menghilang dari kota itu. Hingga akhirnya aku pindah ke kota ini dan dibantu oleh Toyib. Toyib mengajak aku tinggal di kontrakan nya dan mengajari aku berdagang dengan sisa uang yang aku miliki. Hingga kehidupan ku berangsur membaik. Aku dan Bening tidak sengaja bertemu lagi di hotel saat Bening akan menikah dengan kak Nando,"ujar Dimas menceritakan semuanya.
"Jadi kamu sebelumnya memang pernah bekerja di perusahaan?"tanya Geno setelah mendengar cerita Dimas.
"Iya, pa,"sahut Dimas.
"Kamu menjabat sebagai apa? Dan lulusan apa?"tanya Nando yang rasa penasarannya belum juga terjawab.
"Aku lulusan S2. Dan aku menjabat sebagai COO,"sahut Dimas yang kali ini tidak menghindar lagi saat di tanya apa latar belakang pendidikannya.
"Pantas saja, kamu nampak terbiasa mengerjakan tugas kantor dan sangat mengerti soal bisnis,"ujar Geno yang akhirnya rasa penasarannya terjawab.
"Jadi, kamu tidak bisa bekerja di perusahaan manapun karena namamu di blacklist?"tanya Hilda.
"Iya ma,"sahut Dimas.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, jika dibalik wajah cantik dan tutur bahasa serta pembawaan nya yang lembut itu, teryata Bening adalah wanita munafik yang hanya mencintai harta. Aku tertipu dengan penampilan dan pembawaan nya,"ujar Nando menghela napas yang terasa berat.
"Kalian sama-sama menjadi korban wanita itu,"sahut Diky yang merasa prihatin melihat dua orang pria yang menjadi korban Bening.
"Pantas saja Bening selalu ingin memojokkan dan mencari masalah dengan Ayana. Aku rasa, dia cemburu sama kamu, Ay,"sahut Hilda.
"Bening bahkan mencari alamat kontrakan kami, Tan. Untungnya dia tidak menemukan kontrakan kami yang baru. Entah apa tujuannya mencari Dimas di rumah kontrakan kami,"sahut Toyib yang sedari tadi hanya diam.
"Dia sampai mencari Dimas ke rumah kontrakan kalian?"tanya Nando yang tidak menyangka jika Bening akan sampai mencari Dimas ke rumah kontrakan Dimas.
"Benar. Aku tahu dari tetangga kami di kontrakan lama kami dulu. Dia bahkan bersedia memberikan uang dua ratus lima puluh ribu untuk mencari informasi tentang rumah kontrakan Dimas yang baru,"jawab Toyib.
"Pantas saja, waktu itu dia bertanya kepada ku dimana Dimas dan Ayana tinggal,"ujar Nando yang teringat saat Bening menanyakan alamat rumah kontrakan Dimas.
"Kita lihat saja aktingnya jika dia pulang nanti. Kapan dia akan pulang, Nan?"tanya Hilda.
"Katanya, sih, besok, ma,"jawab Nando.
"Baiklah. Aku juga ingin melihat bagaimana dia menyembunyikan semua yang terjadi kemarin.
"Bagaimana jika besok kalian semua makan malam di sini?"tanya Hilda menatap Dimas, Ayana, Toyib dan Diky,"Kita lihat bersama-sama bagaimana dia akan berakting,"ujar Hilda.
"Bagaimana, dik?"tanya Toyib.
"Aku belum bisa memutuskannya. Besok aku mempunyai pekerjaan. Jika kalian ingin makan malam di sini, kalian duluan saja! Jika pekerjaan aku sudah selesai, aku akan ikut makan malam di sini,"sahut Diky.
"Oke, kami harap, kamu bisa ikut makan malam bersama kami,"sahut Nando.
"Kakak tidak patah hati setelah mengetahui semua tentang istri kakak?"tanya Ayana yang tidak melihat Nando frustasi setelah mengetahui kebenaran yang bagi Ayana sangat menyakitkan bagi seorang suami.
__ADS_1
"Aku memang menyukai Bening. Tapi aku tidak tergila-gila pada dia. Aku menjadikan dia pelabuhan terakhir ku karena aku pikir dia wanita yang baik. Namun semenjak kecelakaan waktu itu, rasa sukaku padanya semakin memudar. Karena aku merasakan dia berubah dan nampak tidak ikhlas merawat aku. Jadi, saat ini aku hanya merasa kecewa, tidak dihargai dan benci pada dia. Aku tidak menyangka jika dia ternyata adalah wanita munafik yang menjijikan,"ujar Nando yang benar-benar tidak menyangka bahwa wanita yang dianggapnya baik, ternyata adalah ular berbisa.
"Syukurlah kalau begitu. Aku merasa lega. Karena sebelumnya aku takut jika kakak mengetahui semua ini, sikap kakak padaku akan berubah, dan kembali membenci aku,"sahut Dimas mengungkapkan isi hatinya.
"Itu bukan kesalahan kamu. Dan kamu juga menjadi korbannya, sama seperti aku. Lalu kenapa aku harus membenci kamu?"ujar Nando yang memang tidak menyalahkan Dimas dalam masalah ini, karena Dimas juga korban Bening, sama seperti dirinya.
"Ngomong-ngomong, siapa sebenarnya orang yang sudah menolong kamu, Dim?"tanya Geno mengalihkan pembicaraan.
"Aku juga tidak tahu, pa. Diky sudah menyelidikinya, tapi belum mengetahui siapa orang itu. Tapi Diky menduga, orang di balik orang-orang misterius itu adalah Tuan Buston,"sahut Dimas.
"Tuan Buston?"tanya Geno dan Nando bersamaan.
"Iya, pa,"sahut Dimas.
"Kenapa kalian berpikir bahwa orang itu adalah Tuan Buston?"tanya Geno.
"Karena aku pernah menolong Tuan Buston dan keluarganya saat mereka mengalami kecelakaan dan hampir tewas terpanggang di dalam mobil,"sahut Dimas.
"Jadi karena balas budi. Masuk akal. Jadi karena itu pulalah Tuan Buston tiba-tiba mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita? Karena kamu pernah menolong dia?"deduksi Geno.
"Kemungkinan begitu, pa,"sahut Dimas.
"Oh, iya. Apa tidak sebaiknya kalian menginap di sini saja?"tanya Hilda.
"Besok, aku harus sekolah, ma,"sahut Ayana.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi besok, usahakan untuk makan malam di sini, ya!"pinta Hilda penuh harap.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued